UI - Laporan Penelitian :: Kembali

UI - Laporan Penelitian :: Kembali

Judul Wetu Telu dalam Sistem Religi Orang Sasak
Nomor Panggil LP 1999 60
Subjek
Penerbitan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia,
Kata Kunci Wetu Telu, System, Religion, Sasak, Bayan, Lombok, Islam, 1999 ·
 Info Lainnya
Sumber Pengatalogan none
Tipe Konten none
Tipe Media none
Tipe Carrier none
Deskripsi Fisik none
Lembaga Pemilik none
Lokasi
  • Ketersediaan
  • File Digital: 1
  • Ulasan
  • Sampul
  • Abstrak
  • Tampilan MARC
Nomor Panggil No. Barkod Ketersediaan
LP 1999 60 TERSEDIA
Ulasan:
Tidak ada ulasan pada koleksi ini: 75707
Agama Islam masuk ke Pulau Lombok diperkirakan pada abad ke-16. Dugaan ini diperkuat dengan adanya peninggalan Mesjid Kuno Sayan Beleq yang terletak di Dusan Karang Baja, Desa Bayan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Barat Keberadaan dan fungsi mesjid tua ini masih tetap dipertahankan seperti semula.



Mesjid Kuno Bayan Beleq bukan hanya merupakan bangunan peninggalan sejarah dalam syiar agama Islam, tetapi juga menjadi idenlitas kekhasan Islam Wetu Telu yang merupakan sinkretisme antara kepercayaan asli Sasak, agama Hindu yang dibawa dari Bali, dan agama Islam yang datangnya kemudian.



Penelitian di Desa Bayan didasarkan atas pertimbangan bahwa saksi sejarah yakni mesjid keno yang masih berfungsi dalam berbagai kegiatan keagamaam Islam Wetu Telu. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan, wawancara, dan studi pustaka.



Perjalanan yang cukup panjang dalam proses syiar agama Islam dimulai dengan kedatangan Pangeran Prapen, putera Sunan Giri dari Jawa. Mulanya orang Sasak mengenal agama Baru ini sebagai agama kerajaan yang kemudian mengharuskan rakyat taklukannnya untuk memeluk agama Islam. Selanjutnya, datanglah Pangeran Pengging atau lebih dikenal dengan Pangeran Mangkubumi yang juga menyiarkan agama Islam dengan beberapa penyimpangan. Ia menetap di Bayan dan menyebarkan agama Islam Wetu TeIu. Orang Bayan sendiri percaya pada mitologi tentang kebenaran Islam Wetu Telu.



Selanjutnya, masuknya pengaruh asing yang dibawa oleh Belanda membuat antipati dari golongan yang ingin mempertahankan adat Sasak dan membentuk gerakan Dewi Anjani, sehingga agama Islam Wetu Telu kelak menolak segala bentuk pembaharuan.



Namun, syiar agama Islam terus berupaya untuk menyempurnakan ibadah umatnya di negeri Putri Mandalika hingga saat ini. Tak dapat dipungkiri pula bahwa keberadaan Islam Wetu Telu masih bertahan. Hal ini dapat diamati dengan masih berfungsinya mesjid kuno untuk shalat para kyai dan peringatan-peringatan hari-hari besar Islam yang berbaur dengan adat Sasak. Keberadaan Islam Wetu Telu ini justru menjadi aset pariwisata Palau Lombok yang mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.

(Dana Rutin DIKTI No. 059/23/1 9981LPUI;...50 hal, peta, into)


004
020
022
040
041Bahasa Indonesia
049
053
082
090LP 1999 60
100
110
111
240
245|a Wetu Telu dalam Sistem Religi Orang Sasak |c
246
250
260
260|a |b Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia |c
270
300
310
321
336
337
338
340
362
490
500
502
504
515
520Agama Islam masuk ke Pulau Lombok diperkirakan pada abad ke-16. Dugaan ini diperkuat dengan adanya peninggalan Mesjid Kuno Sayan Beleq yang terletak di Dusan Karang Baja, Desa Bayan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Barat Keberadaan dan fungsi mesjid tua ini masih tetap dipertahankan seperti semula.

Mesjid Kuno Bayan Beleq bukan hanya merupakan bangunan peninggalan sejarah dalam syiar agama Islam, tetapi juga menjadi idenlitas kekhasan Islam Wetu Telu yang merupakan sinkretisme antara kepercayaan asli Sasak, agama Hindu yang dibawa dari Bali, dan agama Islam yang datangnya kemudian.

Penelitian di Desa Bayan didasarkan atas pertimbangan bahwa saksi sejarah yakni mesjid keno yang masih berfungsi dalam berbagai kegiatan keagamaam Islam Wetu Telu. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan, wawancara, dan studi pustaka.

Perjalanan yang cukup panjang dalam proses syiar agama Islam dimulai dengan kedatangan Pangeran Prapen, putera Sunan Giri dari Jawa. Mulanya orang Sasak mengenal agama Baru ini sebagai agama kerajaan yang kemudian mengharuskan rakyat taklukannnya untuk memeluk agama Islam. Selanjutnya, datanglah Pangeran Pengging atau lebih dikenal dengan Pangeran Mangkubumi yang juga menyiarkan agama Islam dengan beberapa penyimpangan. Ia menetap di Bayan dan menyebarkan agama Islam Wetu TeIu. Orang Bayan sendiri percaya pada mitologi tentang kebenaran Islam Wetu Telu.

Selanjutnya, masuknya pengaruh asing yang dibawa oleh Belanda membuat antipati dari golongan yang ingin mempertahankan adat Sasak dan membentuk gerakan Dewi Anjani, sehingga agama Islam Wetu Telu kelak menolak segala bentuk pembaharuan.

Namun, syiar agama Islam terus berupaya untuk menyempurnakan ibadah umatnya di negeri Putri Mandalika hingga saat ini. Tak dapat dipungkiri pula bahwa keberadaan Islam Wetu Telu masih bertahan. Hal ini dapat diamati dengan masih berfungsinya mesjid kuno untuk shalat para kyai dan peringatan-peringatan hari-hari besar Islam yang berbaur dengan adat Sasak. Keberadaan Islam Wetu Telu ini justru menjadi aset pariwisata Palau Lombok yang mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
(Dana Rutin DIKTI No. 059/23/1 9981LPUI;...50 hal, peta, into)
533
534
536
546
590
650RELIGIOUS LIFE
653Wetu Telu, System, Religion, Sasak, Bayan, Lombok, Islam, 1999
700
710
711
850
852
856
866
900
902
903