Universitas Indonesia Library
The Crystal of Knowledge
 Collection Type : UI - Pidato
Title UT Taxonomiam Defendamus
Call Number PGB 0307
Main Entry-Personal Name
Added Entry-Corporate Name
Keyword
Subject
Publisher
Year

Cataloguing Source none
Content Type
Media Type
Carrier Type
Physical Description 38 pages ; 21 cm.
Language Bahasa Indonesia
General Note Guru Besar Luar Biasa - Taksonomi
Record of Work
Holding Institution Universitas Indonesia
Location Perpustakaan UI, Lantai 3
none
 
  • Availability
  • Digital Files: 1
  • Review
  • Cover
  • Abstract
Call Number Barcode Number Availability
PGB 0307 PGB 0307 TERSEDIA
Review:
No review available for this collection: 77478
Seandainya tidak dibesarkan di alam Indonesia merdeka, tidaklah mungkin akan terbuka peluang bagi saya buat menekuni bidang biologi dengan spesialisasi taksonomi yang menurut anggapan beberapa orang membaurkan batas ilmu dan seni. Di bawah kungkungan belenggu kolonial saya tidak akan mendapat kesempatan mendalami seluk-beluk penamaan (naming), pencirian (characterizing), dan penggolongan (classifying) sekelompok makhluk tak berarti seperti jamur yang ketersohorannya hanyalah kemuskilan bentuknya guna pemuas dahaga kemelitan (curiosity), serta kemolekan penampilannya untuk dipandang mata. Jika Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 tidak berkesaktian, pastilah bidang ilmu dan objek penelitian memikat tadi akan tetap menjadi monopoli ilmuwan dari kalangan penjajah bumi nusantara kita nan indah permai sehingga tertutup buat saya dan bagi kaum pribumi lainnya. Bukankah beberapa ilmuwan barat meragukan kemampuan orang Indonesia untuk berpikiran abstrak sehingga bisa menghayati dan menemukan makna dalam kesimpangsiuran kaitan berbagai disiplin ilmu dan pengetahuan budaya seperti yang diperlukan oleh taksonomi?
Pada pihak lain, sekarang adalah era ketika kepesatan bioteknologi menyita tajuk utarpa surat-surat kabar, karena pesona terobosan rekayasa genetikanya sangat.menakjubkan sehingga seakan-akan penuh mukjizat seperti dongeng seribu satu malam saja layaknya. Oleh karena itu memang pantas dipertanyakan keperluan bagi perguruan tinggi kenamaan seperti Universitas Indonesia untuk mengangkat seorang guru besar berspesialisasi dalam cabang ilmu yang dalam beberapa tahun terakhir dijauhi orang karena dianggap ketinggalan zaman. Buat apa membebani otak mahasiswa Indonesia dengan lika-liku penamaan, pencirian dan penggolongan makhluk yang penguasaannya dalam waktu dekat tidak akan mampu menghasilkan produk teknologi untuk membuat hidup lebih layak dan lebih nyaman dijalani-sedangkan pengembangan pemanfaatannya ditentukan oleh terobosan ilmu dan teknologi pada tingkat molekul?
Bukankah pengekstrakan, pengisolasian, pemurnian dan pengidentifikasian substansi bioaktif yang diperlukan industri dapat dilakukan tanpa mengetahui nama ilmiah makhluk tertulis dalam bahasa Latin yang dapat mematahkan lidah bila diucapkan? Mengapa memusingkan penggolongan ilmiah .ruahan khazanah keanekaragaman hayati yang serba pelik, jika dari zaman dulu nenek moyang kita telah berhasil mendayagunakan sumber daya alam tersebut dengan tidak kurang suatu apa? Dengan tersedianya teknologi untuk langsung mengotak-ngatik DNA, yang memungkinkan penjalinan gen (gene splicing) ikan dari kutub utara ke dalam kromosom tomat tropik sehingga kini orang dapat bercocok tanam tomat di daerah bersalju, apa masih perlu mempelajari kekerabatan jenis-jenis makhluk bernilai ekonomi untuk keperluan pemuliannya secara konvensional?
Pertanyaan-pertanyaan mengusik tersebut telah mengilhami dan menuntun saya untuk menggunakan kesempatan baik yang terbuka ini buat mengajukan suatu pleidooi bagi taksonomi.
, || User : Universitas Indonesia Library || Best view with  Firefox