Artikel Jurnal :: Kembali

Artikel Jurnal :: Kembali

Judul Pengembangan emotional intelligence dan system thinking untuk menggapai kebijaksanaan / Balthasar Elu
Nomor Panggil 330 ASCSM 42 (2018)
Pengarang
Subjek
Penerbitan The Ary Suta Center, 2018
Kata Kunci emotinal intelligence · system thinking · perilaku organisasi ·
 Info Lainnya
ISSN19797001
Deskripsi Fisiknone
Catatan Umumnone
VolumeVol. 42, No. 1, Juni 2018: Hal. 89-120
Akses Elektronik
Institusi Pemilik Universitas Indonesia
Lokasi Perpustakaan UI, Lantai 4, R. Koleksi Jurnal
  • Ketersediaan
  • File Digital: 0
  • Ulasan
  • Sampul
  • Abstrak
  • Tampilan MARC
Nomor Panggil No. Barkod Ketersediaan
330 ASCSM 42 (2018) 03-18-065976461 TERSEDIA
Ulasan:
Tidak ada ulasan pada koleksi ini: 20470270
Konstelasi dan dinamika politik pasca pilpres 2014 dan pilkada DKI 2017 yang mengusung politik identitas masih menyisakan fragmentasi kelompok di masyarakat. Berbagai serangan politik pun masih kita saksikan di berbagai media sosial hingga saat ini. Diakui atau tidak, hal ini bisa diakibatkan oleh minimnya penguasaan emosi dan sistem berpikir yang kurang bijaksana sehingga bermuara pada ucapan, perilaku dan sikap yang selalu bertentangan dengan nilai-nilai keutamaan. Pendidikan yang tinggi tidak otomatis menjamin seseorang dapat mengendalikan emosi dalam berperilaku, bersikap, dan bertindak secara bijaksana. Pengembangan inteligensi emosional (emotional ontelligence-EI) dan sistem berpikir penting dikembangkan di lembaga-lembaga pendidikan formal dan non formal, organisasi-organisasi masyarakat dan partai politik, serta organisasi-organisasi pemerintah dan organisasi-organisasi modern lainnya di berbagai level sehingga menghasilkan generasi-generasi muda yang berkarakter dan berintegritas. EI berperan dalam proses negosiasi, kerjasama dan perbaikan hubungan kerjasama yang sebelumnya kurang harmonis. Bukan sekedar bagaimana memperbaiki dan membangun hubungan baik dengan orang lain, tetapi bagaimana memahami dan mengelola emosi kita dalam bertindak di dalam sistem dan nilai-nalai yang terdapat dalam kelompok masyarakat tertentu atau memaksakan kehendak kita agar orang lain mengikuti kita. Sedangkan sistem berpikir (system thinking-ST) menyangkut perilaku dan sikap dalam bekerja yang didasarkan kepercayaan terhadap komponen dalam sistem dalam hubungannya dengan yang lainnya. ST adalah usaha untuk memahami suatu perilaku dengan memeriksa secara holistik sebab-sebab dari perilaku tersebut serta kaitan diantara sebab-sebab tersebut. Proses ini melibatkan komunikasi berkesinambungan antara pimpinan dan karyawan, baik secara formal maupun informal. Bila diterapkan dalam upaya untuk menciptakan mutu organisasi, berpikir sistem akan menuntut anggota organisasi untuk lebih berkonsentrasi pada kecendrungan-kecendrungan besar untuk perubahan, bukan pada kejadian-kejadian kecil sehari-hari. Sehingga, dengan ST akan memberi inspirasi bagi anggota organisasi untuk melihat pola hubungan natra berbagai hal dalam satu kesatuan. Dengan adanya pengembangan dan penerapan EI dan ST di berbagai level organisasi, diharapkan dapat menciptakan generasi-generasi muda yang berkarakter, berintegritas, optimis, serta beretika dan bermoral sehinga mampu berperilaku dan bertindak secara arif dan bijaksana. EI dan ST berhasil dikembangkan akan menghasilkan orang-orang yang mampu mengendalikan diri, berperilaku jujur, hidup sederhana, memberikan keteladan, memiliki kepekaan, memiliki kedisiplinan, menghargai kesetaraan, memberikan keadilan, dan berperilaku toleran terhadap sesamanya. Berkelanjutan menghasilkan generasi-generasi yang optimis dalam mengarungi berbagai pemasalahan kompleks dan kompetisi yang ketat di berbagai bidang.
004
020
02219797001
040LibUI indeng rda
041ind; eng
049[03-18-065976461]
053[03-18-065976461]
082
090330 ASCSM 42 (2018)
100Balthasar Elu, author
110
111
240
245|a Pengembangan emotional intelligence dan system thinking untuk menggapai kebijaksanaan / Balthasar Elu |c
246
250
260
260|a Jakarta |b The Ary Suta Center |c 2018
270
300
310Empat kali setahun
321
336text (rdacontent)
337unmediated (rdamedia)
338volume (rdacarrier)
340
362
490
500
502
504
515
520Konstelasi dan dinamika politik pasca pilpres 2014 dan pilkada DKI 2017 yang mengusung politik identitas masih menyisakan fragmentasi kelompok di masyarakat. Berbagai serangan politik pun masih kita saksikan di berbagai media sosial hingga saat ini. Diakui atau tidak, hal ini bisa diakibatkan oleh minimnya penguasaan emosi dan sistem berpikir yang kurang bijaksana sehingga bermuara pada ucapan, perilaku dan sikap yang selalu bertentangan dengan nilai-nilai keutamaan. Pendidikan yang tinggi tidak otomatis menjamin seseorang dapat mengendalikan emosi dalam berperilaku, bersikap, dan bertindak secara bijaksana. Pengembangan inteligensi emosional (emotional ontelligence-EI) dan sistem berpikir penting dikembangkan di lembaga-lembaga pendidikan formal dan non formal, organisasi-organisasi masyarakat dan partai politik, serta organisasi-organisasi pemerintah dan organisasi-organisasi modern lainnya di berbagai level sehingga menghasilkan generasi-generasi muda yang berkarakter dan berintegritas. EI berperan dalam proses negosiasi, kerjasama dan perbaikan hubungan kerjasama yang sebelumnya kurang harmonis. Bukan sekedar bagaimana memperbaiki dan membangun hubungan baik dengan orang lain, tetapi bagaimana memahami dan mengelola emosi kita dalam bertindak di dalam sistem dan nilai-nalai yang terdapat dalam kelompok masyarakat tertentu atau memaksakan kehendak kita agar orang lain mengikuti kita. Sedangkan sistem berpikir (system thinking-ST) menyangkut perilaku dan sikap dalam bekerja yang didasarkan kepercayaan terhadap komponen dalam sistem dalam hubungannya dengan yang lainnya. ST adalah usaha untuk memahami suatu perilaku dengan memeriksa secara holistik sebab-sebab dari perilaku tersebut serta kaitan diantara sebab-sebab tersebut. Proses ini melibatkan komunikasi berkesinambungan antara pimpinan dan karyawan, baik secara formal maupun informal. Bila diterapkan dalam upaya untuk menciptakan mutu organisasi, berpikir sistem akan menuntut anggota organisasi untuk lebih berkonsentrasi pada kecendrungan-kecendrungan besar untuk perubahan, bukan pada kejadian-kejadian kecil sehari-hari. Sehingga, dengan ST akan memberi inspirasi bagi anggota organisasi untuk melihat pola hubungan natra berbagai hal dalam satu kesatuan. Dengan adanya pengembangan dan penerapan EI dan ST di berbagai level organisasi, diharapkan dapat menciptakan generasi-generasi muda yang berkarakter, berintegritas, optimis, serta beretika dan bermoral sehinga mampu berperilaku dan bertindak secara arif dan bijaksana. EI dan ST berhasil dikembangkan akan menghasilkan orang-orang yang mampu mengendalikan diri, berperilaku jujur, hidup sederhana, memberikan keteladan, memiliki kepekaan, memiliki kedisiplinan, menghargai kesetaraan, memberikan keadilan, dan berperilaku toleran terhadap sesamanya. Berkelanjutan menghasilkan generasi-generasi yang optimis dalam mengarungi berbagai pemasalahan kompleks dan kompetisi yang ketat di berbagai bidang.
533
534
536
546
590
650Strategic management
653emotinal intelligence; system thinking; perilaku organisasi
700
710
711
850Universitas Indonesia
852Perpustakaan UI, Lantai 4, R. Koleksi Jurnal
856
866
900
902
903[]