Naskah :: Kembali

Naskah

Kawruh Nyukur

Nomor Panggil LL.100-W 53
Subjek
Penerbitan [Place of publication not identified]: [publisher not identified], [date of publication not identified]
Kata Kunci nyukur · rambut · bajang · lare gembel ·
 Info Lainnya
Sumber Pengatalogan LibUI jav rda
Tipe Konten
Tipe Media
Tipe Carrier
Deskripsi Fisik 45 hlm.; 12-24 baris/hlm; 20.9x16.4 cm
Catatan Umum Aks. Latin; Prosa; ditulis di atas buku tulis; Rol 179.05
Lembaga Pemilik Universitas Indonesia
Lokasi
  • Ketersediaan
  • File Digital: 1
  • Ulasan
  • Sampul
  • Abstrak
  • Tampilan MARC
Nomor Panggil No. Barkod Ketersediaan
LL.100-W 53 TERSEDIA
Ulasan:
Tidak ada ulasan pada koleksi ini: 20480779
Teks ini berisi uraian tentang Kawruh Nyukur. Dalam Kawruh Nyukur ini disebutkan mengenai tata cara memotong rambut yang baik, model-model potongan rambut seperti pulkah, bros, sekedeng, prasman, menadon, serta jendralan, dan cara-cara memelihara peralatan cukur yang baik supaya awet dan tetap tajam.
Teks menerangkan pula tentang Bocah Bajang (Lare Gembel), menurut penyalin naskah, ceritera ini didapat dari daerah Wanasaba, Bagelen. Cerita diawali dari bayi lahir yang rambutnya berwarna merah, rambut bayi itu tidak boleh dipotong sampai umur kira-kira 7-8tahun, maka anak itu disebut anak bajang. Orang tua membuat anak bajang dengan harapan, agar anak tersebut akan selamat sampai dewasa. Sesudah umur 7 tahun baru diadakan pemotongan rambut (=cukur) dengan syarat harus diadakan selamatan.
Pada h.1 terdapat keterangan yang menyebutkan bahwa, nyukur diartikan dengan sebutan coiffeur dan barbier, pada prinsipnya kedua sebutan itu sama, namun hanya dibedakan pada perlengkapan dan tempatnya. Pada coiffeur dengan perlengkapan cukur yang serba lengkap dan tempat yang bagus, sedangkan barbier, dengan perlengkapan dan tempat yang sederhana.
Naskah ini disalin oleh Sastrapandawa, seorang tukang cukur yang membuka usaha Barbier SP di Jalan Bausasran 47, Yogyakarta. Penyalinan dilakukan pada April 1939, di Yogyakarta.
004
020
022
040LibUI jav rda
041jav
049[00073202]
053[]
082LL.100-W 53
090
100
110
111
240
245|a Kawruh Nyukur |c
246
250
260
260|a [Place of publication not identified] |b [publisher not identified] |c [date of publication not identified]
270
30045 hlm.; 12-24 baris/hlm; 20.9x16.4 cm
310
321
336
337
338
340
362
490
500Aks. Latin; Prosa; ditulis di atas buku tulis; Rol 179.05
502
504
515
520Teks ini berisi uraian tentang Kawruh Nyukur. Dalam Kawruh Nyukur ini disebutkan mengenai tata cara memotong rambut yang baik, model-model potongan rambut seperti pulkah, bros, sekedeng, prasman, menadon, serta jendralan, dan cara-cara memelihara peralatan cukur yang baik supaya awet dan tetap tajam. Teks menerangkan pula tentang Bocah Bajang (Lare Gembel), menurut penyalin naskah, ceritera ini didapat dari daerah Wanasaba, Bagelen. Cerita diawali dari bayi lahir yang rambutnya berwarna merah, rambut bayi itu tidak boleh dipotong sampai umur kira-kira 7-8tahun, maka anak itu disebut anak bajang. Orang tua membuat anak bajang dengan harapan, agar anak tersebut akan selamat sampai dewasa. Sesudah umur 7 tahun baru diadakan pemotongan rambut (=cukur) dengan syarat harus diadakan selamatan. Pada h.1 terdapat keterangan yang menyebutkan bahwa, nyukur diartikan dengan sebutan coiffeur dan barbier, pada prinsipnya kedua sebutan itu sama, namun hanya dibedakan pada perlengkapan dan tempatnya. Pada coiffeur dengan perlengkapan cukur yang serba lengkap dan tempat yang bagus, sedangkan barbier, dengan perlengkapan dan tempat yang sederhana. Naskah ini disalin oleh Sastrapandawa, seorang tukang cukur yang membuka usaha Barbier SP di Jalan Bausasran 47, Yogyakarta. Penyalinan dilakukan pada April 1939, di Yogyakarta.
533
534
536
546
590
650Hair--Care and hygiene--Handbooks, manuals, etc.
653nyukur; rambut; bajang; lare gembel
700
710
711
850Universitas Indonesia
852
856
866
900[14/12/2018]
902[]
903[]