Deskripsi Lengkap :: Kembali

Artikel Jurnal :: Kembali

Artikel Jurnal

Analisis jalur kritis penerapan teknologi pada konstruksi atap sirap bambu

Nomor Panggil 728 JUPKIM 12:2 (2017)
Pengarang
Pengarang/kontributor lain
Penerbitan Bandung: Badan Litbang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2017
Kata Kunci :  
 Info Lainnya
PertanggungjawabanDesak Putu Damayanti, Rudi Setiadji A, Kuswara
ISSN19074352
Majalah/JurnalJURPEM
VolumeVol. 12, No. 2 November 2017: Hal. 94-107
Akses Elektronik
Institusi Pemilik Universitas Indonesia
Lokasi Perpustakaan UI, Lantai 4, R. Koleksi Jurnal
  • Ketersediaan
  • File Digital: 0
  • Ulasan
  • Sampul
  • Abstrak
Nomor Panggil No. Barkod Ketersediaan
728 JUPKIM 12:2 (2017) 03-19-050631230 TERSEDIA
Ulasan:
Tidak ada ulasan pada koleksi ini: 20495547
ABSTRAK
Analisis pekerjaan konstruksi bangunan tradisional dalammenganalisis efektifitas pelaksanaannya masih jarang dilakukan. Hal ini dikarenakan metode pelaksanaan konstruksi tradisional memiliki mekanisme pekerjaan yang spesifik. Kajian ini bertujuan untuk mengevaluasi jalur kritis selama proses penerapan teknologi pada konstruksi atap berbahan sirap bambu di Desa Angseri Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Objek penelitian adalah bangunan tradisional Bale Paruman Agung dan Bale Paselang. Penelitian ini bersifat eksploratif evaluatif. Pengumpulan data primer dilakukan melalui ekplorasi lapangan selama 3 bulan. Data yang dikumpulkan terfokus pada tahapan pengerjaan, jumlah tenaga yang dibutuhkan, dan lama waktu pengerjaan. Menurut rencana, proses penerapan teknologi pada peremajaan konstruksi atap sirap bambu membutuhkan jumlah sirap sebanyak 30.000 bilah sirap selama 60 (enam puluh) hari kerja. Namun, pekerjaan membutuhkan tambahan waktu pengerjaan selama 30 (tiga puluh) hari. Berdasarkan hasil evaluasi ditemukan bahwa jalur kritis terdapat pada tahapan pembuatan bilah sirap dan pengawetan bambu dengan larutan Boron 5% (menggunakan metode Boucherie). Rendahnya tingkat penguasaan teknologi terkait pembuatan sirap dan proses pengawetan menyebabkan terdapat sebagian sirap yang dihasilkan tidak layak digunakan. Sehingga dibutuhkan tambahan waktu untuk membuat ulang sirap pengganti sebesar 10% dari jumlah yang dibutuhkan (3.000).