Deskripsi Lengkap :: Kembali

Artikel Jurnal :: Kembali

Artikel Jurnal

Representasi Makna Adat dalam Pajaaq Dayak Tonyooi: Analisis Wacana Kritis / by Ali Kusno

Nomor Panggil 400 JIKKT 7:2 (2019)
Pengarang
Subjek
Penerbitan Ambon: Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, 2019
Kata Kunci :  
 Info Lainnya
Kode Bahasa : Ind
ISBN : none
ISSN : 23391154
Edisi : none
Alamat Penerbit : none
Frekuensi Terbit : Dua kali setahun
Frekuensi Lama : none
Tgl. Terbit Awal : none
Catatan Seri : none
Catatan Umum : none
Catatan Jenis Karya : none
Catatan Bibliografi : none
Penyimpangan Penomoran : none
Catatan Suplemen : none
Program Studi/Jurusan : none
Catatan Reproduksi : none
Catatan Versi Asli : none
Sumber Koleksi : none
Volume, No, Tahun : none
Deskripsi Fisik : none
Jenis Kontent : teks
Jenis Media : unmediated
Jenis Wadah : volume (rdacarier)
Fail Dijital :
Lembaga Pemilik : Universitas Indonesia
Lokasi : Perpustakaan UI, Lantai 4 R. Koleksi Jurnal
  • Ketersediaan
  • File Digital: 0
  • Ulasan
  • Sampul
  • Abstrak
Nomor Panggil No. Barkod Ketersediaan
400 JIKKT 7:2 (2019) 03-21-858412614 TERSEDIA
Ulasan:
Tidak ada ulasan pada koleksi ini: 20511924
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan representasi beragam makna tentang hukum adat masyarakat adat Dayak Tonyooi yang terkandung dalam kesenian Pajaaq. Identifikasi melalui analisis dalam Pajaaq. Penelitian ini menggunakan analisis wacana kritis Model Fairclough. Data penelitian diambil dari
Pajaaq: Ungkapan Kearifan Lokal Dayak Tonyooi dan Benuaq. Teknik analisis data menggunakan model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat adat memegang teguh hukum adat. Berbagai persoalan diselesaikan dengan hukum adat. Adat istiadat selalu dijunjung tinggi. Adat mengatur berbagai realitas kehidupan yang jelas aturannya. Adat dan tradisi diikuti sesuai dengan keadaan setempat. Adat masing-masing
suku sudah memiliki ketentuan. Dewan adat menjadi solusi persoalan yang objektif. Tanda adat pada wajah harus diikuti agar tidak terkena tulah dan bencana. Orang besar/bangsawan selalu menjadi panutan. Masyarakat adat dalam menyelesaikan persoalan mengutamakan musyarawah keluarga dan adat. Kalau ada yang perlu dirundingkan, semua keluarga, atau tetua adat berkumpul bersama di suatu tempat. Jalan musyawarah mencari
kata sepakat. Para pemangku adat harus berlaku adil. Meskipun demikian, dalam penerapan hukum adat, ketidakadilan penerapan adat juga dirasakan masyarakat adat yang berperkara.