Ikatan Mahasiswa Arsitektur Universitas Indonesia (IMA FTUI), Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia, kembali menyelenggarakan program Ekskursi Arsitektur UI. Tahun ini, kegiatan bertajuk Ekspedisi “Tana Toa” dipamerkan dalam Mini Exhibition: Tallase Kamase-Masea, Manifesting Ruang Hidup Kajang yang berlangsung pada 29 November–6 Desember 2025 di Selasar Perpustakaan Universitas Indonesia.


Ekskursi Arsitektur UI merupakan program tahunan yang bertujuan mendokumentasikan arsitektur vernakular di Indonesia. Arsitektur vernakular adalah salah satu bentuk arsitektur tradisional suatu daerah yang diwariskan turun-temurun, menunjukkan kekhasan sosial, budaya, dan adat dari setiap masyarakat. Sejak pertama kali diselenggarakan pada 1965, program ini telah memasuki usia 60 tahun, menjelajahi berbagai daerah di Indonesia dan menghasilkan beragam luaran seperti pameran, film, paper, hingga buku yang telah dipublikasikan kepada masyarakat luas.
Silent Book Club Chapter Depok merupakan bagian dari gerakan global Silent Book Club yang berfokus pada aktivitas membaca senyap (silent reading) di ruang publik. Komunitas ini bertujuan untuk menumbuhkan kembali minat baca masyarakat sekaligus menghadirkan suasana membaca yang nyaman, tenang, dan inklusif bagi seluruh warga Kota Depok. Selain Perpustakaan UI, ruang publik lain yang kerap dimanfaatkan antara lain taman kota dan Alun-Alun Depok.


Pada perayaan satu dekade keenam ini, Ekskursi Arsitektur UI menghadirkan dokumentasi arsitektur vernakular masyarakat Desa Tana Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Mini Exhibition ini menampilkan maket, sketsa, narasi, hingga dokumentasi visual yang merekam lanskap, hunian, dan praktik keseharian masyarakat Kajang yang masih menjaga teguh nilai budaya serta keselarasan dengan alam.
Anggota Tim Besar Ekskursi Arsitektur UI 2025, Salsabila Ibrahim, menjelaskan bahwa Desa Tana Toa dipilih karena minimnya dokumentasi arsitektur sekaligus kuatnya praktik budaya masyarakat adat suku Kajang dalam mempertahankan aturan dan nilai leluhur. “Program ini selalu mencari wilayah yang belum banyak diteliti atau didokumentasikan. Ketika kami mempelajari Tana Toa, ternyata masyarakatnya sangat menarik. Budayanya kuat, wilayah adatnya dijaga ketat, modernisasi dibatasi, dan hutannya terpelihara dengan sangat baik,” ujar Salsabila saat ditemui Tim Perpustakaan UI, Kamis (11/12/2025).

Salsabila juga memaparkan proses panjang yang dilakukan tim sebelum pameran digelar. “Sebelum berangkat, kami melakukan riset awal dari berbagai sumber. Setelah berada di Tana Toa barulah kami memperoleh informasi langsung dari masyarakat, memetakan kawasan, membuat denah rumah, hingga mendokumentasikan elemen bangunan. Sekembalinya ke Depok, seluruh data kami olah: menggambar ulang, mempertebal sketsa, mendigitalkan, mewarnai, hingga akhirnya kami membuat maket dan model 3D. Semua karya yang dipamerkan merupakan hasil tangan mahasiswa,” jelasnya.
Ekskursi Arsitektur UI tidak hanya menghasilkan dokumentasi arsitektur vernakular, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa Arsitektur UI untuk menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah serta memahami kekayaan arsitektur tradisional Indonesia.
Acara puncak Ekskursi Arsitektur UI 2025: Tana Toa akan diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki pada 17–30 Januari 2026. Perpustakaan Universitas Indonesia, sebagai perpustakaan perguruan tinggi yang mendukung berbagai kegiatan akademik dan budaya, turut bangga menjadi ruang eksibisi pertama bagi rangkaian kegiatan Ekskursi Arsitektur UI tahun ini. (LDK/NCT)
Dokumentasi: Tim Perpustakaan UI
****
Luluk Tri Wulandari, M.Hum.
Kepala Perpustakaan UI
(Media Relations Perpustakaan UI, library@ui.ac.id; @ui_library; 0821-1389-3177)