UI - Tesis Membership :: Kembali

UI - Tesis Membership :: Kembali

Evaluasi hasil belajar pelajaran Agama Islam pada Siswa Kelas III SMUN 8 Jakarta

(Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2004)

 Abstrak

Berbagai krisis yang terjadi di masyarakat kita yang dijumpai dalam
kehidupan sehari-hari menimbulkan pertanyaan akan efelctivitas pendidikan agama di
sekolah. Pendidikan ini seharusnya menjadi dasar bagi tumbuhnya perilaku yang baik
pada anak bangsa. Namun sayangnya, pendidikan agama nampaknya kurang
dirasakan manfaatnya oleh sebagian alumni SMU. Mereka merasa cukup mendapat
bekal pengetahuan, namun tidak menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh
l-:arena itu, menarik untuk mengevaluasi efektivitas pendidikan agama, khususnya
pendidikan Agama Islam, dari segi afektif
Walaupun pendidikan agama pentlng untuk mulai diberikan sejak dini, namun
bam pada masa remaja inclividu mendapatkan makna yang berbeda mengenai
pendidikan agama. Dengan perkembangan kognitifnya yang berada pada tahap formal
operasional dari Piaget, remaja sudah mampu berpikir secara abstrak (Turner &
Helms, 1995), sehingga memungkinkan remaja untuk memahami konsep-konsep
agama dengan baik. Pada masa ini pula remaja berusaha menemukan identitas diri
mereka (Erikson, 1970 dalam Santrock, 2001). Dalam menyelesaikan krisis ini,
remaja membutuhkan suatu ideologi yang dapat mereka anut, dimana salah satu
ideologi ini adalah agama. Paloutzian dan Santrock (2001) menyatakan bahwa isu
agama adalah isu yang panting bagi remaja.
Berdasarkan teori tentang perkembangan remaja dan pentingnya peranan
agama pada masa ini, maka kegiatan evaluasi akan membatasi diri pada siswa kelas
III SMU, yang diasumsikan berada pada tahap perkembangan remaja dan telah
mengenyam hampir tiga tahun masa pendidikan Agama Islam di SMU, selain juga
ketika duduk di jenjang pendidikan sebelumnya Tujuannya adalah untuk melihat
hasil belajar dari pelajaran tersebut dari segi afektif.
Hasil helajar pelajaran Agama Islam berorientasi pada aspek afektif dan
psilcomotor. Sementara Ruang lingkup pendidikan Agama Islam sendiri terdiri dari
lima aspek, yakni: A] Qur'an, keimanan, ibadah, akhlak, dan tarik. Kegiatan evaluasi
ini membatasi pada aspek materi keimanan akidah, karena keimanan adalah hal yang
sangat penting bagi seorang muslim. Mengacu pada Surat Al-Furqan ayat 23, Shihab
(1996) menyatakan bahwa amal baik yang dikerjakan tanpa dilandasi oleh iman
adalah amal yang sia-sia.
Keimanan yang merupakan karakteristik afelctif ini alcan dilihat perkembangan
intemalisasinya pada siswa kelas Ill SMU dengan taksonomi hasil belajar domain
afektif dari Krathwoh (1964, dalam Anderson & Bourke, 2000)l. Urutan taksonomi
ini dari jenjang internalisasi yang paling rendah adalah: Receiving Responding
Valuing Organization, dan Characrerizarion by value or value complex. Standar
kompetensi pelajaran Agama Islam akan digunakan sebagai pembanding atau kriteria
tercapai atau tidaknya tujuan belajar pelajaran Agama Islam di sekolah. Lfntuk ilu,
Fathia Saripuspita,
standar kompetensi ini diterjemahkan dan diklasifikasikan sebagai tahap Valuing dari
Taksonomi Domain Afektif Krathwohl
Berdasarkan Taksonomi Domain Afektif Krathwohl (1964, dalam Anderson &
Bourke, 2000) dan cakupan materi keimanan dalam Agama Islam, evaluator
mengembangkan alat ukur instrumen berupa kuesioner. Analisa hasil akan
mendapatkan data mengenai tahapan setiap siswa, dan rata-rata tahapan siswa di
sekolah tersebut. Siswa yang digunakan dalam penelitian ini adalah SMUN 8 Jakarta.
Nilai rata-rata ini akan dibandingkan dengan kriteria yang dijadikan pembanding
untuk menentukan apakah tujuan pendidikan Agama Islam di SMUN 8 Jakarta sudall
tercapai atau belum.
Analisa dari data yang didapat dari 198 orang siswa kelas [II SMUN 8 Jakarta
yang mengambil jurusan IPA adalah bahwa tahapan yang mendapat persentase
terbanyak adalah tahap Characterization by value or value complex, Responding dan
Valuing dari domain afektif Krathwohl (1964, dalam Anderson & Bourke, 2000),
Sementara itu, rata-rata siswa kelas III SMUN 8 Jakarta telah mengintemalisasi nilai
keimanan Agarna Islam pada tahap Vahring, hal ini berarti bahwa tujuan pelajaran
Agama Islam di SMUN 8 Jakarta telah dicapai oleh rata-rata siswa kelas III di sekolah
Tersebut.
Selain itu, penelitian ini juga memperlihatkan bahwa semua siswa mengakui
penghayatan nilai keimanan Agama lslam mereka dipengaruhi oleh lebih dari satu
agen. Oleh karena itu, tercapainya kompetensi dasar pelajaran Agama Islam dalam hal
keimanan tidak hanya dipengaruhi oleh penyelenggaraan pendidikan agama di
sekolah tersebut.
Banyaknya siswa yang mengintemalisasi nilai keimanan Agama Islam dengan
baik, yakni pada tahap Characreriznrforr by valure dan Valuing, dapat dijelaskan oleh
teori perkembangan remaja. Asumsi baiknya perkembangan kognitif siswa sekolah
unggulan ini memungkinkan lebih memahami konsep ajaran Agama Islam dan
memecahkan masalah yang mereka hadapi sehari-hari, termasuk masalah pencarian
identitas diri. Kedekatan dengan teman yang penting pada masa ini membuat mereka
memiliki teman berdiskusi yang bisa membantu mereka memeoahkan masalah krisis
identitas mereka.
Sementara itu, menurut teori perkembangan moral dari Kohlberg (1986, dalan
Santrock, 2001) dan perkembangan perilaku religius dari Fowler (1996, dalan
Santrock, 2001), remaja masih mengikuti aturan yang diberikan orang lain kepada
mereka karena ingn memuaskan pihak lain atau menghindari pihak lain tidak
menyulcai mereka. Penjelasan ini sejalan dengan tahapan sebagian besar siswa yang
berada pada tahap Rexgporrdifrg.
Sementara untuk mereka yang berada pada tahap Chraracretization dan
Valuing, penjelasan mengenai karakteristik khusus siswa SMUN 8 Jakarta perlu
ditambahkan. Sebagai sekolah unggulan siswa SMU ini juga dianggap lebih patuh
kepada guru dan berdedikasi tinggi pada kegiatan akademis dibanding sekolah lain.
Kecenderungan patuh dan dedikasi mereka ini bisa saja juga teljadi dalam hal
mengikuti ajaran agama. Akibatnya diasumsikan siswa yang menginternalisasi nilai
keimanan pada tahap Valuing dan Characterization, bisa saja mencapai tahap ini
karena secara siap menerima nilai yang dikenakan pada mereka. Dengan kata lain
mereka tidak melalui proses mempertanyakan ajaran ataupun ideologi.
Kesimpulan yang dibuat dalam kegiatan evaluasi ini hanya didasarkan pada
data kuesioner. Data tambahan masih dibutuhkan untuk mempertajam kesimpulan.

 File Digital: 1

Shelf
 T-Fathia Saripuspita.pdf :: Unduh

 Metadata

Jenis Koleksi : UI - Tesis Membership
No. Panggil : T38526
Program Studi :
Subjek :
Penerbitan : [Place of publication not identified]: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2004
Physicsviii, 78 hlm. : ill. ; 30 cm. + lamp.
Type
Format
Languageind
  • Ketersediaan
  • Ulasan
  • Sampul
No. Panggil No. Barkod Ketersediaan
T38526 TERSEDIA
Ulasan:
Tidak ada ulasan pada koleksi ini: 20342925
Cover