Pengurangan limbah telah menjadi topik hangat selama bertahun-tahun. Kesadaran ini terkait dengan pengetahuan bahwa daur ulang secara alami akan memakan waktu lama untuk limbah tertentu, dan masingmasing akan merusak lingkungan. Di Indonesia, limbah karet merupakan hal yang harus diperhatikan selain limbah plastik. Limbah karet sebagian besar disumbangkan oleh produk ban yaitu bagian vital sebuah kendaraan untuk menjalankan fungsi geraknya. Konsumen atau sektor industri dapat menghasilkan limbah ini. Menurut data BPS Indonesia, jumlah kendaraan roda empat terus meningkat setiap tahun. Dengan lebih dari 16 juta unit pada akhir tahun 2018, tingkat pertumbuhan tahunan telah mencapai 6,9% sejak 2014, menunjukkan bahwa limbah karet akan berada dalam jumlah yang linier dan perlu dikurangi. Khusus untuk ban, penggunaan kembali yang tidak terpakai di hilir (konsumen akhir) merupakan salah satu upaya untuk mengurangi pemborosan. Sebaliknya, di hulu (sektor industri), pengurangan limbah dapat dilakukan melalui perbaikan strategi produksi. Studi kasus yang dilakukan pada salah satu produsen ban di Indonesia menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara yield dan scrap rate yang tentunya akan berdampak pada produk limbah. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan menganalisis peran manufaktur dalam mengendalikan limbah ban akibat kegagalan produk menggunakan model konseptual dengan pendekatan sistem dinamis. Model konseptual ini dapat digunakan untuk mengevaluasi kegiatan manufaktur dalam menghasilkan limbah. Kata kunci : Limbah, ban, limbah ban, sistem dinamis.
Waste reduction has been an important topic for many years. This awareness links to the essential knowledge that natural recycling will take a long time for particular waste, and each one will damage the environment. In Indonesia, rubber waste is another thing to which we must pay attention besides plastic waste. This rubber waste is mostly contributed by tire product: the vital part of a vehicle to run its movement function. End-user customers or the industrial sector could produce this waste. According to BPS (Statistic Indonesia; locally known as Badan Pusat Statistik) data, the number of four-wheeled vehicles continues to increase every year. With more than 16 million units at the end of 2018, an annual growth rate has reached 6.9% since 2014, suggesting that rubber waste will be in a linear amount and needs to be reduced. Particularly for tires, reuse of unused in the downstream (end consumers) is an effort to reduce waste. In contrast, in the upstream (industrial sector), waste reduction can be done by improving production strategies. A case study conducted on a tire manufacturer in Indonesia shows a strong relationship between yield and scrap rate, which of course, will have an impact on waste products. This paper aims to understand and analyze manufacturing's role in controlling tire waste due to failing products using a conceptual model with a system dynamics approach. This conceptual model can be used to evaluate manufacturing activities in producing waste.