Sebagai salah satu bentuk transformasi digital yang mengacu pada arsitektur SPBE, Pusat TIK Kemlu telah menyusun Standarisasi Pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi (SIK) yang tertuang dalam Kepmenlu No. 14 Tahun 2021 Namun, implementasi kebijakan tersebut belum diterapkan sepenuhnya, sehingga mengalami keterlambatan, masalah kualitas SI, proses bisnis yang rumit, dan luaran SI yang belum user-friendly. Kondisi ini berkontribusi pada pencapaian Indeks Kualitas Layanan TIK 2023 sebesar 3,12, yang masih di bawah target 3,60. Penelitian ini mengidentifikasi akar permasalahan utama, yaitu kurangnya kemampuan organisasi dalam mengelola proyek SI, sehingga manajemen proyek pengembangan SI di Pusat TIK Kemlu belum sesuai dengan standar yang ditetapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kematangan manajemen proyek pengembangan SI serta memberikan rekomendasi untuk meningkatkannya. Metode penelitian yang digunakan adalah mixed methods, dengan pendekatan kuantitatif melalui instrumen Kerzner Project Management Maturity Model (KPMMM) dan PMBOK 6 terhadap 8 responden, serta pendekatan kualitatif melalui wawancara dengan 3 orang pakar manajemen proyek untuk validasi rekomendasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa organisasi berada pada level dasar (level 1). Rekomendasi yang diberikan untuk mencapai kematangan level 2 berfokus pada proses penyusunan project charter, pembuatan prosedur formal untuk semua proses dalam manajemen proyek pengembangan SI, pemanfaatan teknologi kolaborasi, dokumentasi yang terstruktur, serta peningkatan kapasitas SDM Pusat TIK. Perbaikan dalam manajemen proyek pengembangan SI di Pusat TIK Kemlu diharapkan mampu meningkatkan indeks SPBE dan indeks layanan TIK, sehingga sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
As part of digital transformation aligned with the SPBE architecture, the ICT Center of the Ministry of Foreign Affairs (Pusat TIK Kemlu) has established the Standardization of Information and Communication Systems (SIK) Development, as outlined in Kepmenlu No. 14 of 2021. However, the policy has not been fully implemented, resulting in delays, issues with system quality, complex business processes, and non-user-friendly system outputs. These challenges contributed to the 2023 ICT Service Quality Index score of 3.12, falling short of the target of 3.60. This study identifies the root cause as the organization's insufficient capability in managing IS projects, leading to project management practices in the Pusat TIK Kemlu that do not meet established standards. The study aims to assess the maturity level of IS project management and provide recommendations for improvement. A mixed-methods approach was employed, combining quantitative analysis using the Kerzner Project Management Maturity Model (KPMMM) and PMBOK 6 with 8 respondents, and qualitative analysis through interviews with 3 project management experts to validate the recommendations. The findings indicate that the organization is at the basic level (Level 1) of maturity. Recommendations to achieve Level 2 maturity focus on developing project charters, establishing formal procedures for all SI project management processes, leveraging collaborative technologies, implementing structured documentation, and enhancing the capacity of Pusat TIK Kemlu personnel. Improvements in IS project management at the Pusat TIK Kemlu are expected to enhance the SPBE Index and ICT Service Index, aligning them with the established targets.