Terdapat tantangan dalam aktivitas grade control dan kesulitan pengolahan bijih Au-Ag menjadi bullion di pabrik PT Indo Muro Kencana. Endapan bijih Au-Ag di Gunung Muro, yang merupakan sistem epitermal sulfidasi rendah, berkaitan erat dengan proses alterasi dan mineralisasi yang menghasilkan mineral penyerta yang dapat memengaruhi efisiensi pelindian di pabrik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi zona alterasi dan zona mineralisasi, serta menganalisis hubungannya terhadap hasil pengolahan pabrik, guna menunjang kajian grade control pada bijih di Pit “X”. Penelitian ini dilakukan melalui pengambilan data lapangan, meliputi pit mapping dan channel sampling, yang kemudian dilanjutkan dengan analisis laboratorium menggunakan metode geokimia bijih, uji pelindian, petrografi, mineragrafi, dan X-Ray Diffraction. Hasil penelitian menunjukkan adanya tiga zona alterasi, yaitu zona filik yang dicirikan oleh kehadiran muskovit dan serisit, zona argilik yang dicirikan oleh kehadiran smektit dan illite, serta zona propilitik yang ditandai oleh klorit dan serisit. Mineralisasi di daerah penelitian terbagi menjadi tiga zona (A, B, dan C) berdasarkan karakteristik mineral sulfidanya. Uji pelindian mengindikasikan nilai recovery yang rendah dan penggunaan reagen yang tinggi pada zona B, sehingga bijih ini merupakan bijih refraktori dan memerlukan perlakuan khusus dalam strategi grade control, termasuk pemisahan proses pengambilan dan penempatan bijih pada stockpile yang berbeda.
There are challenges in grade control activities and difficulties in processing Au-Ag ore into bullion at the PT Indo Muro Kencana plant. The Au-Ag ore deposits in Gunung Muro, which are part of a low-sulfidation epithermal system, are closely related to alteration and mineralization processes that produce accessory minerals, which can affect the efficiency of leaching at the plant. This research aimed to map alteration and mineralization zones in Pit "X" to better understand their link to plant processing results and inform grade control strategies. Fieldwork involved pit mapping and channel sampling, followed by lab analyses including ore geochemistry, leaching tests, petrography, mineragraphy, and X-Ray Diffraction. Findings revealed three alteration zones: phyllic (muscovite, sericite), argillic (smectite, illite), and propylitic (chlorite, sericite). Mineralization was categorized into three zones (A, B, and C) based on sulfide characteristics. Crucially, Zone B ores exhibited low recovery and high reagent consumption during leaching, identifying them as refractory. This necessitates a specialized grade control approach for Zone B, including distinct extraction processes and separate stockpiling, to optimize plant operations.