Pemerintah Indonesia telah mengesahkan pembentukan Ibu Kota Negara Baru (IKNB) dengan nama Nusantara pada tanggal 15 Februari 2022. Perpindahan ibukota ini nantinya berdampak pada perpindahan penduduk yang masif baik ke ibukota baru dan kota-kota penyangganya dalam beberapa tahun kedepan. Perpindahan penduduk mengakibatkan pertambahan penduduk yang berdampak pada peningkatan kebutuhan hidup terutama kebutuhan air. Untuk mempersiapkan hal tersebut, diperlukan perencanaan dan pengembangan air tanah yang matang selama pembangunan ibukota baru berbasis cekungan. Ibukota baru termasuk dalam daerah Cekungan Air Tanah (CAT) Samarinda-Bontang. Sebelum memulai eksplorasi air tanah berbasis cekungan, identifikasi zona potensi air tanah harus dilakukan. Pengidentifikasian ini menggunakan metode Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Analytic Hierarchy Process (AHP) dengan 7 parameter yaitu litologi, penggunaan dan tutupan lahan (LULC), curah hujan, jenis tanah, densitas drainase, kepadatan kelurusan, kemiringan lereng. Analisis tersebut melalui Multi Criteria Evaluation (MCE), proses perbandingan skala kepentingan antar parameter, pembobotan dan penilaian parameter, analisis rasio konsistensi (CR), analisis weighted sum, dan analisis sensitivitas. Hasil keluaran dari penelitian ini adalah peta zona potensi air tanah yang akan dibandingkan dengan data sumur. Hasil menunjukan zona potensi air tanah tinggi, sedang, dan rendah masing-masing luasnya 85%, 14%, 1% daerah penelitian dengan akurasi data sumur 11 dari 14 sumur atau 78,57%.
The Government of Indonesia officially approved the establishment of the new capital city, Nusantara on February 15, 2022. This relocation is estimated to result in significant population movement to the new capital and its surrounding satellite cities over the coming years. Such demographic migration will lead to increased population density, thereby increasing the demand for basic necessities, specificly water resources. To address this challenge, comprehensive planning and development of groundwater resources are essential during the construction phase of the new capital based on basin. The new capital is located within the Samarinda-Bontang Groundwater Basin. Prior to initiating basin-based groundwater exploration, it is important to identify zones of groundwater potential. This study employs Geographic Information System (GIS) and the Analytic Hierarchy Process (AHP) methodologies, incorporating seven key parameters: lithology, land use and land cover (LULC), rainfall, soil type, drainage density, lineament density, and slope gradient. The analytical framework includes Multi-Criteria Evaluation (MCE), pairwise comparison of parameter importance, parameter weighting and scoring, consistency ratio (CR) analysis, weighted sum analysis, and sensitivity analysis. The primary output of this research is a groundwater potential zoning map, which is validated using well data. The results indicate that high, medium, and low groundwater potential zones account for 85%, 14%, and 1% of the study area, respectively. Validation using well data shows an accuracy of 11 out of 14 wells (78.57%).