Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 143718 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sri Rahayu K
"Latar Belakang. Hipotensi ortostatik merupakan masalah yang sering ditemukan pada usia lanjut, dan berhubungan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas. Penyakit penyerta pads usia lanjut diketahui berpotensi mengakibatkan timbulnya hipotensi ortostatik Mengacu pada hal tersebut maka deteksi awal adanya hipotensi ortostatik pada pasien usia lanjut dan pengendalian faktor-faktor risiko hipotensi ortostatik perlu dilakukan dalam upaya mencapai kualitas hidup yang optimal.
Tujuan. Mengetahui prevalensi dan faktor-faktor risiko yang mempengaruhi timbulnya hipotensi ortostatik pada usia lanjut yaitu usia, hipertensi, diabetes melitus, gagal jantung, riwayat strok, dehidrasi dan obat antihipertensi.
Metodologi : Sembilan puluh tujuh subyek usia lanjut dengan usia 60 tahun atau lebih.yang berobat jalan di Poliklinik dan Instalasi Gawat Darurat RSCM diikutsertakan dalam penelitan. Data dikumpulkan dengan melakukan serangkaian anamnesis, pemeriksaan fisik, tekanan darah posisi berbaring, segera setelah 1-3 menit berdiri, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan EKG dan foto torak. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional ..dengan variabel yang diteliti meliputi faktor usia, adanya hipertensi, diabetes melitus, gagal jantung, riwayat strok, dehidrasi dan penggunaan obat antihipertensi, dihubungkan dengan hipotensi ortostatik.
Hasil : Laki-laki 40 (41,2%), wanita 57 (58,8%) dan usia rerata 67,4 tahun, didapatkan subyek yang mengalami hipotensi ortostatik sebanyak 15 orang(15,5%). Analisis bivariat dan multivariat menunjukkan bahwa variabel hipertensi dan dehidrasi menunjukkan hubungan bermakna dengan hipotensi ortostatik. Faktor risiko lainnya tidak terbukti secara bermakna dengan terjadinya hipotensi ortostatik.
Kesimpulan : Hipertensi dan dehidrasi merupakan faktor risiko terjadinya hipotensi ortostatik. Subyek usia lanjut dengan hipertensi memerlukan pengendalian tekanan darah lebih baik. Kondisi dehidrasi pada usia lanjut perlu dikenali sedini mungkin, sehingga dapat dilakukan tatalaksana guna mencegah timbulnya hipotensi ortostatik.

Background: Orthostatic hypotension is widely known as a problem that. frequently found in elderly individuals and is associated with an increase of morbidity and mortality rate. Comorbidity in elderly have been recognized to potentially give rise to the development of orthostatic hypotension. Reffering to this matter, early detection of orthostatic hypotension in elderly and management of.risk factors need to be done in effort to achieve the optimal quality of life.
Objectives. To find out the prevalence and some risk factors for the development of orthostatic hypotension in elderly individuals such as age, hypertension, diabetes mellitus, heart failure, history of stroke,dehydration and anti-hypertension drug usage.
Methods: Ninety-seven elderly subjects with 60 years of age or more who had come to Outpatient clinic and Emergency Room of Cipto Mangunkusumo Hospital were included in the study. Data were obtained by anamnesis, physical examination, blood pressure examination in lie down position, immediately after 1-3 minutes of standing. We also perfomed laboratory examination, ECG and thorax X-ray. This study had a cross-sectional design and the studied variables include age, hypertension, diabetes mellitus and heart failure, history of stroke, dehydration and anti-hypertension drug usage, which were correlated to orthostatic hypotension.
Result: The subjects consists of found 40 males (41.2%), 57 females (58.8%) and mean of age 67.4 years. We found 15 subjects with orthostatic hypotension (15.5%)_ Analysis bivariate and multivariate indicated that the variables of hypertension and dehydration had a significant correlation to orthostatic hypotension. Other risk factors were not proven to have significant correlation with the development of orthostatic hypotension.
Conclusion: Hypertension and dehydration were proven as risk factor of orthostatic hypotension. Elderly subject with hypertension needs a more careful management of blood pressure. Dehydration condition should be detected immediately in order to perform appropriate management to prevent the development of orthostatic hypotension.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T58439
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Berbagai faktor yang berhubungan dengan hipotensi ortostatik, seperti umur, obat anti hipertensi, hipertensi, strok dan diabetes melitus masih diperdebatkan. Sampai saat ini belum ada data mengenai prevalensi hipotensi ortostatik di Indonesia. Sebagian besar penelitian hipotensi ortostatik yang ada di luar negeri dilakukan pada subjek berusia lanjut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan prevalensi hipotensi ortostatik di Indonesia dan faktor prediktor terjadinya hipotensi ortostatik pada orang berusia 40 tahun ke atas di Indonesia. Empat ribu empat ratus tiga puluh enam subjek berusia 40-94 tahun didapatkan secara random dari berbagai praktek dokter di berbagai kabupaten di Indonesia. Data dikumpulkan dengan melakukan serangkaian anamnesis (riwayat penyakit diabetes melitus, hipertensi, dan strok serta penggunaan obat anti hipertensi) dan pemeriksaan tekanan darah pada posisi tidur dan duduk setelah 1-3 menit. Regresi logistik multipel dilakukan untuk mendapatkan prediktor hipotensi ortostatik yang paling bermakna. Subjek yang mengalami hipotensi ortostatik sebesar 561 subjek (12,65%). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan antara riwayat diabetes melitus, riwayat strok, tekanan darah sistolik tinggi dan tekanan darah diastolik tinggi. Umur tidak berhubungan dengan hipotensi ortostatik. Hasil analisis multivariat mendapatkan tekanan darah sistolik tinggi dan tekanan darah diastolik tinggi sebagai prediktor hipotensi ortostatik. Penggunaan obat anti hipertensi merupakan faktor protektif terjadinya hipotensi ortostatik. Penelitian ini memastikan bahwa usia saja bukan merupakan prediktor terjadinya hipotensi ortostatik. Adanya komorbiditas seperti hipertensi (tekanan darah sistolik atau diastolik tinggi) merupakan prediktor terjadinya hipotensi ortostatik. Sedangkan obat anti hipertensi merupakan faktor protektif terjadinya hipotensi ortostatik. (Med J Indones 2004; 13: 180-9)

Factors associated with orthostatic hypotension such as age, drug induced hypotension, hypertension and diabetes mellitus have still been debatable. Most of previous studies were conducted in subjects 65 years or older, only a few were done in subjects from younger to older adults. The purpose of this study is to find the prevalence and predictor factors of orthostatic hypotension among adult population aged 40 years and above in Indonesia. This study is a part of Indonesian Hypertension Epidemiologic Survey. A random sample of 4436 subjects aged 40–94 years was obtained from various municipalities in every big island in Indonesia. Orthostatic testing, assesment of history of medical conditions (diabetes mellitus, stroke, and hypertension), blood pressure measurement and use of anti-hypertensive medications were performed. A stepwise logistic regression was used to determine the significant predictor of orthostatic hypotension. A total of 561 persons (12.6%) experienced orthostatic hypotension. Central a2-agonist and other centrally acting drug is the only anti hypertension medicine which influences orthostatic hypotension. Multivariate analysis showed that high systolic and diastolic blood pressures were predictor factors of orthostatic hypotension. The use of anti-hypertensive medicine was a protective factor for orthostatic hypotension. This study confirms the conclusion that age is not a predictor factor for orthostatic hypotension. In fact, the existence of comorbidities in the subjects such as hypertension (high systolic and diastolic blood pressure) is a predictor factor, while the use of anti-hypertensive medication is a protective factor. (Med J Indones 2004; 13: 180-9)"
Medical Journal of Indonesia, 13 (3) Juli September 2004: 180-189, 2004
MJIN-13-3-JulSep2004-180
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Catarina Budyono
"ABSTRAK
Latar Belakang: Diabetes Melitus (DM) merupakan salah satu penyakit tersering pada usia lanjut. Salah satu komplikasi DM adalah neuropati otonom, dimana hipotensi ortostatik merupakan tanda dari neuropati otonom yang berat. Adanya Hipotensi ortostatik pada pasien DM usia lanjut meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular dan kematian. Saat ini belum ada studi di Indonesia yang menggambarkan proporsi hipotensi ortostatik pada pasien DM usia lanjut. Selain itu studi tentang hubungan kadar HbA1c dengan kejadian hipotensi ortostatik pada subjek DM masih terbatas dan hasilnya masih kontroversial.
Tujuan: Mendapatkan proporsi hipotensi ortostatik pada pasien DM usia lanjut di RSCM Jakarta dan hubungannya dengan kadar HbA1c.
Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang terhadap 350 penderita DM usia ≥60 tahun yang berobat di poliklinik Geriatri dan Diabetes RSCM periode Januari-Maret 2016. Hipotensi ortostatik didefinisikan sebagai penurunan tekanan darah sistolik ≥ 20mmHg dan atau tekanan diastolik ≥10mmHg dalam 3 menit setelah perubahan posisi dari berbaring ke berdiri. Pemeriksaan kadar HbA1c menggunakan alat Nycocard dari Axis Shield. Uji chi square digunakan untuk analisis bivariat dan regresi logsitik digunakan untuk analisis multivariat terhadap variabel perancu.
Hasil Penelitian: Proporsi hipotensi ortostatik sebesar 27,4% pada subjek DM usia lanjut. Median HbA1c didapatkan lebih tinggi pada subjek dengan hipotensi ortostatik dibandingkan tanpa hipotensi ortostatik (7,6% vs 7,1%; p<0,05). Terdapat hubungan antara kadar HbA1c ≥7,35% dengan kejadian hipotensi ortostatik (OR 1,987, 95%IK 1,2-3,2). Lama DM merupakan variabel perancu dalam penelitian ini.
Kesimpulan: Hipotensi ortostatik banyak ditemukan pada subjek DM usia lanjut. Terdapat hubungan antara kejadian hipotensi ortostatik dengan peningkatan kadar HbA1c pada pasien DM usia lanjut di RSCM Jakarta.

ABSTRACT
Background: Diabetes mellitus (DM) is one of the commonest diseases in the elderly. One of its complications is autonomic neuropathy. Orthostatic hypotension is a sign of severe autonomic neuropathy. The presence of orthostatic hypotension in elderly patients with DM increases the risk of cardiovascular events and death. Currently there are no studies in Indonesia that describe the proportion of orthostatic hypotension in elderly patients with DM. Moreover, studies about the relationship between HbA1c level and incidence of orthostatic hypotension in subjects with DM are still limited and the results are controversial. Objective: This study aims to obtain the proportion of orthostatic hypotension in elderly diabetic patients in Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta and its relationship with HbA1c level.
Methods: This study was a cross-sectional study on 350 patients with DM aged ≥60 years old who seeked treatment at the Geriatry and Diabetes clinic in Cipto Mangunkusumo Hospital from January to March 2016. Orthostatic hypotension was defined as a decrease in systolic blood pressure ≥ 20mmHg or diastolic pressure ≥10mmHg within 3 minutes after changing position from lying to standing. Level of HbA1c was measured using Nycocard from Axis Shield. Chi square test was used for bivariate analysis and logistical regression was used for multivariate analysis against confounding variables.
Results: The proportion of orthostatic hypotension in elderly subjects with DM was 27.4%. Median of HbA1c level was higher in subjects with orthostatic hypotension than subjects without (7.6% vs. 7.1%; p <0.05). There was a relationship between HbA1c level ≥7,35% and incidence of orthostatic hypotension (OR 1.987, 95% CI 1.2-3.2). Length of having DM was a confounding variable.
Conclusion: Orthostatic hypotension is more common in elderly subjects with DM. There is a relationship between the incidence of orthostatic hypotension with elevated level of HbA1c in diabetic elderly patients in Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta.
"
2016
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Setiati
"Hipotensi ortostatik adalah turunnya tekanan darah sistolik (TDS) 20 mmHg atau turunnya tekanan darah diastolik (TDS) 10 mmHg pada saat perubahan posisi, dari posisi tidur ke posisi tegak. Berbagai faktor yang berhubungan dengan hipotensi ortostatik, seperti usia, obat anti hipertensi, hipertensi, strok dan diabetes melitus masih diperdebatkan. Sampai saat ini belum ada data mengenai prevalensi hipotensi ortostatik di Indonesia. Belum diketahui pula faktor prediktor hipotensi ortostatik. Sebagian besar penelitian hipotensi ortostatik yang ada di luar negeri dilakukan pada subjek berusia lanjut, Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan prevalensi hipotensi ortostatik di Indonesia dan faktor prediktor terjadinya hipotensi ortostatik pada orang berusia 40 tahun ke atas di Indonesia.
Penelitian ini merupakan bagian penelitian survei epidemiology hipertensi di Indonesia. Empat ribu empat ratus tiga puluh enam subjek berusia 40-94 tahun didapatkan secara random dari berbagai praktek dokter di berbagai kabupaten di Indonesia. Data dikumpulkan dengan melakukan serangkaian anamnesis (riwayat penyakit diabetes melitus, hipertensi, dan strok serta penggunaan obat anti hipertensi) dan pemeriksaan tekanan darah pada posisi tidur dan duduk setelah 1-3 menit. Regresi logistik ganda dilakukan untuk mendapatkan faktor prediktor hipotensi ortostatik yang paling bermakna.
Subjek yang mengalami hipotensi ortostatik sebesar 561 subjek (12,65%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa riwayat diabetes melitus, riwayat strok, tekanan darah sistolik tinggi dan tekanan darah diastolik tinggi mempengaruhi terjadinya hipotensi ortostatik. Usia dan penggunaan obat anti hipertensi tidak mempengaruhi terjadinya hipotensi ortostatik. Obat agonis alfa-2 sentral dan kerja sentral lain merupakan satu-satunya obat anti hipertensi yang mempengaruhi terjadinya hipotensi ortostatik.
Hasil analisis multivariat mendapatkan tekanan darah sistolik tinggi dan tekanan darah diastolik tinggi sebagai prediktor hipotensi ortostatik. Sedangkan riwayat diabetes melitus dan riwayat strok tidak mempengaruhi terjadinya hipotensi ortostatik. Penggunaan obat anti hipertensi merupakan faktor protektif terjadinya hipotensi ortostatik.
Penelitian ini memastikan bahwa usia bukan merupakan prediktor terjadinya hipotensi ortostatik. Adanya komorbiditas seperti hipertensi (tekanan darah sistolik atau diastolik tinggi) merupakan prediktor terjadinya hipotensi ortostatik. Sedangkan obat anti hipertensi merupakan faktor protektif terjadinya hipotensi ortostatik. Penatalaksanaan hipertensi yang baik dan pemilihan obat anti hipertensi yang tepat amat diperlukan untuk mencegah terjadinya hipotensi ortostatik. Daftar bacaan : 32 (1978 - 2001)

The Prevalence And Predictor Of Orthostatic Hypotension Among 40 Years And Above Adult Population In Indonesia.Various factors associated with orthostatic hypotension such as age, drug induced hypotension, hypertension and diabetes mellitus have still been questioned and debatable with one another. No big scale population study done in this matter. Furthermore, most of previous studies were conducted in subjects 65 years or older, only a few were done in subjects from younger to older adults. The purpose of this study is to find the prevalence and predictor of orthostatic hypotension among 40 years and above adult population in Indonesia.
This study is a part of Indonesian hypertension epidemiologic survey. A random sample of 4436 subjects aged 40-94 years was obtain from various municipilities in every big island in Indonesia. Orthostatic testing, as well as assesment of history of medical conditions (diabetes mellitus, stroke, and hypertension), blood pressure measurement and use of anti-hypertensive medications were performed. Blood pressure measurements were obtained by trained doctors with the subjects in supine position and after they had been seated for 1-3 minute. A stepwise logistic regression was used to determine significant predictor of orthostatic hypotension.
A total of 561 persons (12.6%) experienced orthostatic hypotension. Bivariate analysis showed that orthostatic hypotension was influenced by history of diabetes mellitus, history of stroke, high systolic and diastolic blood pressure. Orthostatic hypotension was not influenced by age and the use of anti hypertension medicine. Central ccz-agonist and other centrally acting drug is the only anti hypertension medicine which influences orthostatic hypotension. Multivariate analysis showed that high systolic and diastolic blood pressure were predictor factors of ortostatic hypotension, while history of diabetes mellitus and stroke were not. The use of anti-hypertensive medicine was protective factor for orthostatic hypotension .
This study confirms the conclusion that age by itself is not a predictor for orthostatic hypotension. In fact, the existence of comorbidities in the subjects such as hypertension (high systolic and diastolic blood pressure) is a predictor factor, while the use of anti-hypertensive medication is a protective factor. Proper management of hypertension and preference of anti hypertension medicine is a must to prevent orthostatic hypotension.
References : 32 (1978 - 2001)
"
Depok: Universitas Indonesia, 2003
T11233
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jefferson
"Latar Belakang: Hipotensi dengan, segala efek buruknya adalah komplikasi yang paling sering ditemukan pada tindakan anestesia spinal sebagai teknik yang paling popular pada anestesia bedah sesar. Pemberian ringer laktat adalah salah satu usaha pencegahan dengan waktu pemberian sebagai salah satu faktor yang dapat mempengaruhi manlaat.
Tujuan: Mengetahui efek hipotensi dan efek samping hipotensi akibat anestesia spinal setelah pemberian ringer iaktat saat dilakukan anestesia spinal dan 20 menit sebelum dilakukan anestesia spinal
Metode: Penelitian ini dilakukan dengan desain eksperimental acak tersamar tunggal mengikutsertakan 155 subjek yang menjalani bedah sesar. 5 subjek dikeluarkan dari penelitian, dan subjek dibagi dalam dua kelompok yang sama besar (75 orang) secara acak sederhana. Kelompok perlakuan mendapat ringer laktat saat dilakukan anestesia spinal dan kelompok kontrol mendapat ringer laktat 20 menit sebelum dilakukan anestesia spinal sebanyak 20 inl/KgBB maksimal 1000 ml.
Hasil: Terdapat perbedaan yang bermakna antara angka kejadian hipotensi pada kedua kelompok dengan perbedaan sebesar 17% (interval kepercayaan 95% 1,4;32,6, dengan risk ratio 0,67 dan Number Needed to Treat (NNT) 6 orang. Terdapat perbedaan yang bermakna antara angka kejadian efek samping hipotensi pada kedua kelompok. Didapatkan penurunan angka kejadian efek samping hipotensi sebesar 24% (interval kepercayaan 95% 11,2;36,8), dengan risk ratio 0,31, dan NNT 4 orang. Terdapat hubungan yang bermakna antara hipotensi dan efek samping hipotensi. Didapatkan perbedaan angka kejadian efek samping hipotensi yang timbul sebesar 52,3 % (interval kepercayaan 95% 40,15;64,45) pada pasien yang mengalami hipotensi. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jumlah pernakaian efedrin dengan efek samping hipotensi, dengan korelasi yang sangat lemah.
Kesimpulan: Pemberian ringer laktat saat dilakukannya anestesia spinal lebih baik dalani menurunkan angka kejadian hipotensi dan angka kejadian efek samping hipotensi akibat anestesia spinal dibandingkan dengan pemberian ringer laktat 20 menit sebelum anestesia spinal."
Depok: Universitas Indonesia, 2005
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jenni Pratita
"Hipotensi merupakan komplikasi yang sering terjadi pada pasien yang menjalani bedah sesar dengan anestesi spinal. Kejadian hipotensi dapat membahayakan baik ibu maupun janin. Penelitian yang telah dilakukan di luar negeri menunjukan angka kejadiannya mencapai 70-80% tanpa penggunaan profilaksis farmakologis, namun di Indonesia penelitian tentang subjek ini masih sangat minim, termasuk tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipotensi tersebut.
Untuk itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik sosio demografik dan klinik pasien yang menjalani bedah sesar dengan anestesi spinal di RSUPN Ciptomangunkusumo (status hipotensi, jenis cairan yang diberikan, usia, penyakit penyerta, lokasi penyuntikan, dosis cairan anestesi, dan tinggi badan) serta hubungan status hipotensi dengan berat badan lahir bayi.
Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan 107 subjek yang didapatkan melalui pemenuhan kriteria penelitian serta metode consecutive sampling. Subjek penelitian merupakan pasien yang menjalani bedah sesar emergensi di Instalasi Gawat Darurat RSUPN Ciptomangunkusumo. Pengertian hipotensi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penurunan tekanan darah sistolik dibawah 80% tekanan darah awal yang diukur sebelum operasi dilakukan. Penelitian menggunakan data sekunder.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa hipotensi ditemukan pada 24,3% subjek. Dari segi karakteristik lainnya, mayoritas subjek tidak memiliki faktor risiko hipotensi berdasarkan penelitian terdahulu kecuali dari segi jenis cairan yang diberikan. Tidak ditemukan hubungan yang bermakna secara statistik antara berat badan lahir bayi dengan status hipotensi, namun ratarata berat badan lahir bayi dari subjek pada kelompok hipotensi lebih besar daripada kelompok non-hipotensi.

Hypotension is a common complication in patients undergoing caesar surgery with spinal anesthesia. Hypotension could endanger both the mother and the fetus. Studies done abroad show that the event rate of hypotension could reach 70-80% without pharmacologic profilaxis, but in Indonesia the number of studies on this subject is very limited, including about factors correlated with the event of hypotension.
Therefore, this study is done to find out the sociodemographic and clinical characteristics of patients undergoing emergency Caesar surgery with spinal anesthesia in RSUPN Ciptomangunkusumo (type of fluid given, age, concurring illness, injection site, dosage of anesthetic solution, height, and hypotension status) and the correlation between hypotension status and the babies? birth weight.
This study is a cross sectional study with 107 subjects acquired through criterias of the study and consecutive sampling. Subjects are patients undergoing emergency Caesar surgery in emergency installation of RSUPN Ciptomangunkusumo. The definition of hypotension used in this study is a decrease of systolic pressure under 80% baseline pressure measured before the surgery. Secondary data is used in this study.
The study shows that hypotension was found in 24.3% subject. Based on other characteristics, majority of the subjects don?t have risk factors for hypotension, except about the type of the fluid given. No statistically significant correlation is found between the babies? birth weight and the hypotension status, but the mean birth weight of babies from the hypotension group is higher than non-hypotension group.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sahran
"ABSTRAK
Salah satu komplikasi yang paling sering terjadi pada pasien saat menjalani
hemodialisis adalah hipotensi intradialisis. Tujuan penelitian ini adalah
mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya hipotensi
intradialisis pada pasien gagal ginjal terminal yang menjalani hemodialisis.
Desain penelitian adalah analitik cross sectional dengan jumlah sampel 81 pasien
hemodialisis. Analisa data menggunakan koefisien kontingensi, spearman dan
regresi logistic. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang bermakna
antara riwayat penyakit jantung, pertambahan berat badan antara waktu
hemodialisis dan kadar albumin dengan kejadian hipotensi intradialisis (p < 0,05).
Variabel independen yang paling berpengaruh terhadap kejadian hipotensi
intradialisis adalah riwayat penyakit jantung dengan OR = 3,525. Penelitian ini
merekomendasi perawat untuk meningkatkan skrining terhadap faktor-faktor
yang dapat mengakibatkan hipotensi intradialsis pada pre, intra dan post
hemodialisi, memberikan edukasi tentang retriksi cairan dan diet serta melengkapi
catatan medis pasien.

ABSTRACT
One of the most common complications of chronict kidney disease patients
undergoing hemodialysis is intradialytic hypotension. This study aims to identify
the factors that influence the occurrence of intradialytic hypotension in patients
with end stage renal failure undergoing hemodialysis. The study design was cross
sectional recruited of 81 patients of hemodialysis patients. Data were analyzed
using contingency coefficient , spearman and logistic regression. The results
showed a significant relationship between history of heart disease, intradialytic
weight gain and albumin levels and the incidence of intradialytic hypotension (p
<0.05). The most influence variables that influence on incidence of intradialytic
hypotension was history of heart disease with OR=3.525. Nurses have to increase
their capability in monitoring factors that influence intradialytic hypotension
especially in pre, intra, and post hemodilaytic, giving education about water and
dietary consumption. to increase their capability in the provision of nursing care
for hemodialysis patients."
2016
T45544
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dewata Aprilia Marilyn
"Latar belakang. Tingginya angka bedah sesar menunjukkan tingginya anestesia spinal, komplikasi yang disebabkan oleh anestesia spinal yang berhubungan dengan morbiditas ibu dan janin adalah hipotensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah posisi reverse Trendelenburg (RT) dapat mencegah atau menurunkan angka kejadian hipotensi pada operasi bedah sesar yang menggunakan teknik anestesia spinal dengan bupivakain dosis 10 mg dengan fentanil 25 mcg.
Metode. Penelitian ini merupakan uji klinis, acak, tidak tersamar pada pasien yang menjalani bedah sesar dengan anestesia spinal di RSIA Budi Kemuliaan pada bulan Oktober sampai November 2018. Sebanyak 108 subjek diambil setelah memenuhi kriteria inklusi. Analisis data menggunakan uji komparatif non-parametris Chi Square.
Hasil. Angka kejadian hipotensi pada kelompok reverse Trendelenburg 10 derajat sebesar 15/54 (27,8%) sedangkan kelompok posisi netral sebesar 31/54 (57,4%). Posisi RT menurunkan risiko hipotensi sebesar 2.08 kali dibandingkan posisi netral (Risk ratio 0,48) dengan Interval Kepercayaan 95% berada pada rentang 0,3 – 0,8. Secara statistik dengan uji Chi square didapatkan perbedaan yang bermakna antara kelompok posisi RT dan netral dalam menyebabkan terjadinya hipotensi dengan nilai p 0,004.
Simpulan. Posisi reverse Trendelenburg 10 derajat menurunkan angka kejadian hipotensi dua kali lipat dibandingkan posisi netral.

Background. The high number of caesarean section procedure describes amount of spinal anesthesia method. Complication caused by spinal anesthesia which related to maternal and fetal comorbidities is hypotension. The main aim of this research is to study reverse Trendelenburg 10 degree position to prevent or lowering incidence of hypotension for patient undergo caesarean section with spinal anesthesia using bupivacaine 10 mg and fentanyl 25 mcg.
Method. This research is randomized but not blinded clinical trial to patient undergo caesarean section with spinal anesthesia at Budi Kemuliaan hospital during October to November 2018. Total 108 subjects were selected after fulfilling the inclusion criteria. Data were analyzed using nonparametric and comparative test with Chi Square.
Results.The incidence of hypotension in reverse Trendelenburg (RT) group is 15/54 (27.8%) while the incidence of hypotension in neutral group is 31/54 (57.4%). RT position lowering the incidence of hypotension in the amount of 2.08 times compared with neutral position (risk ratio 0.48), confidence interval 95% within 0.3-0.8. There is significant difference between groups with p 0.004.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Listyo Lindawati Julia
"LATAR BELAKANG : Hipotensi akibat anestesia spinal pada pasien yang menjalani bedah caesar berbahaya bagi ibu dan janinnya. Sehingga, kombinasi anestetik lokal dosis rendah dengan opioid yaitu bupivakain 0,5% hiperbarik 5 mg dan 6 mg ditambah fentanil 25 mcg diharapkan dapat menurunkan angka kejadian hipotensi dengan kualitas analgesia yang adekuat untuk memfasilitasi bedah caesar.
METODE : 394 pasien hamil aterm usia 20 ? 40 tahun yang akan menjalani bedah caesar, baik cito maupun elektif ASA I ? II,yang sesuai dengan kriteria inklusi.Randomisasi menjadi kelompok I yang mendapat bupivakain 0,5% hiperbarik 5 mg ditambah fentanil 25 mcg serta kelompok II (kontrol) yang mendapat bupivakain 0,5% hiperbarik 6 mg ditambah fentanil 25 mcg.Posisi pasien pada kedua kelompok sama yaitu posisi lateral dengan pungsi lumbal setinggi L3-4/L4-5.Total volume 1,7cc disun tikkan dengan kecepatan 0,2 cc/detik.Kemudian telentang dengan posisi left lateral tilt. Dilakukan pencatatan tekanan darah pada menit ke - 3,6,,9,12,15,20,30,40,50,60 setelah disuntikkannya obat anestetik lokal ke ruang subaraknoid.
HASIL : Terdapat 3 subyek penelitian yang dikeluarkan pada kelompok I, karena dikonversi menjadi anestesia umum . Terdapat 2 subyek penelitian pada kelompok II yang mendapatkan fentanil 100 mcg intravena. Angka kejadian hipotensi pada kelompok I 9,3% dan pada kelompok II adalah 12,2%.
KESIMPULAN : Tidak terdapat perbedaan yang bermakna mengenai angka kejadian hipotensi pada kedua kelompok subyek penelitian.

BACKGROUND: Hypotension due to spinal anesthesia in patients undergoing cesarean section is dangerous for both mother and fetus. So with a combination of low doses of local anesthetics 0.5% hyperbaric bupivacaine 5 mg and 6 mg plus fentanyl 25 mcg is expected to reduce the incidence of hypotension with adequate quality of analgesia to facilitate cesarean section.
METHODS: 394 pregnant patients at term age 20-40 years undergo caesarean section, either cito and elective ASA I - II, in accordance with the criteria I inclusion. Randomization into groups that received 0.5% hyperbaric bupivacaine 5 mg plus fentanyl 25 mcg and group II (controls) who received 0.5% hyperbaric bupivacaine 6 mg plus fentanyl 25 mcg.Posisi patients in both groups were the same, namely the lateral position with the highest lumbar puncture L3-4/L4-5.Total injected volume is 1.7 cc with speed of injection 0.2 ml / second. Then move patient to supine position with left lateral tilt. Do blood pressure recording in minute - 3.6,9,12,15,20,30,40,50,60 after injection of local anesthetic drugs into the subarachnoid space.
RESULTS: There were three subjects that excluded subjects in group I, because converted to general anesthesia. There are two subjects in group II who received fentanyl 100 mcg intravenously. The incidence of hypotension in group I and 9.3% in group II was 12.2%.
CONCLUSION: There was no significant difference in the incidence of hypotension in both groups."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Budi Nugroho
"Hipotensi merupakan masalah yang sermg di jumpai pada tindakan analgesia blok. Subarak.hnmd ( SAB ) untuk bedah seksio sesari. Penelitian acak. terbuka ini meneliti keefektifan elevasi tungkat 30° untuk mengurangi kekerapan hipotenst pada analgesia SAB untuk bedah seksaria sesama pembanding yang digunakan adalah tidakan yang sudah terbukti efektif mengurangi kekerapan hipotensi pada analgesia SAB untuk bedah seksio sesaria yaitu pemberian laktatintravena 20 mll/kg bb saat penyuntikan spmal ( coload).
Seratus enampuluh satu pasien yang menjalani bedah seksio sesaria dikelompokkan secara acak menjadi kelompok yang tungkainya dielevasikan 30° (kelompok. elevast) dan kelompok yang diberikan cairan laktat 20 ml/kg bb yang diberikan saat penyuntikan (kelompok load). Kejadian hipotensi (25% bandmg 39% p = 0 510) penggunaan efedrin ( medran 0 [0 30] bandmg 0 [030] p = 0 381) mlat APGAR menit pertama ( median 9 [4 9] bandmh 9 [6 9] p = 0 908) dan menit kelima (median 10 [6 10] bandmh, 10 [8 10] p= 0 -+1-+) tidak berbeda antara kelompok elevas1 dan kelompok coloid.
Kesimpulannya adalah devast tungkai sama efektifnya dengan pemberian laktat 20 ml/kg bb untuk mengurangi hitpotensi pada tindakan analgesia blok subarakhanoid bedah seksio sesaria.

Hypotension Is the most common problem following subarachnoid block analgesia for cesarean section. In this study we tested the hypothesis that 30° leg elevation (elevation group) following subarachnoid block analgesia cesarean section would reduce the incidence of hypotension. In this study we used coloadmg lactated ranger's solution 20 m/kg BW intravenously given dunng spinal injection (coload group) as comparison.
We conducted an open randomuzed trial study m 161 patients would undergo cesarean section. Patients divided into leg elevation and coload group. Both groups had no difference in hypotension mdctence (25% m leg elevation group and 39% m coload group p = 0 51 0) ephedi in dose requirement (median 0 [ 0 10 ] compared with 0 [ 010 l p = 0 381) Apgar's score in first minute ( median 9 [ 4 9 ] compared With 9 [ 6 9 ] p = 0 908 ) and fifth minute( median I0 r6 I0 ] compared with I0 [ 8 I0 ] p= 0 4 14).
The conclusion that 30° leg elevation is as effective as coloading lactated ringer 20 ml/kg Bw intreavenously given during, spinal injection to decrease hypotenston mcdence tollowing subarachnoid block analgesia for cesarean section.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T22669
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>