Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 75469 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Asep Handaya Saputra
"Rompi tahan peluru merupakan perlengkapan yang sangat penting bagi TNI dan POLRI untuk meningkatkan keselamatan dan moril personel saat menjalankan tugas. Sementara pemenuhan rompi tahan peluru masih membeli dari luar negeri dengan harga sangat mahal. Hal ini mendorong Balitbang Dephan membuat panel rompi tahan peluru dari keramik dikombinasi dengan kevlar, namun disamping berat panelnya masih tinggi yaitu 9 kg, juga harga kevlar yang sangat mahal dan masih diimport. sehingga, sudah saatnya Indonesia yang kaya akan sumber daya alam memproduksi rompi tahan peluru dari bahan yang mudah didapat, harganya murah, mudah dibuat, kuat dan ramah lingkungan. Bahan yang menjadi perhatian untuk menggantikan serat sintesis adalah serat alam diantaranya serat rami dan serat abacca.
Penelitian sebelumnya meneliti tentang serat alam rami dengan variasi tiga, empat dan lima lapis dikombinasikan dengan kawat stainless steel, dari uji balistik dapat menahan peluru level I (revolver .38 special), sementara penelitian jenis serat alam yang lain meneliti tentang serat alam abacca dengan dua, tiga dan empat lapis anyaman serat abacca, dan dapat menahan peluru level I namun belum dapat menahan peluru level II (pistol 9mm).
Dalam tesis ini dilakukan penelitian komposit dari serat alam abacca dan epoksi dengan metode hand lay up, dengan variasi lima, tujuh dan sembilan lapis anyaman serat abacca, setelah diuji balistik, ternyata semua dapat menahan peluru level I, tetapi tidak dapat menahan peluru level II. Selanjutnya supaya dapat menahan peluru level II, dibuat komposit dengan menambah satu keramik pada masing-masing komposit lima, tujuh dan sembilan lapis anyaman serat abacca, setelah uji balistik semuanya dapat menahan peluru level II. Disamping panel diatas, satu keramik tanpa serat dan resin diuji balistik dengan level I dan hasilnya keramik hancur, kemudian dua keramik direkat dengan epoksi dan diuji dengan level II, hasilnya keramik hancur. Selanjutnya dilakukan analisa kerusakan serat dan peluru, perhitungan energi balistik dan estimasi biaya pembuatan rompi tahan peluru.
Dari hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa bila digunakan komposit dari serat saja, ataupun hanya dari keramik saja, tidak dapat menahan peluru level II, namun jika digabung antara komposit lima, tujuh dan sembilan lapis anyaman serat abacca dan keramik maka akan dapat menahan peluru level II.

Bullet proof vest is very important for army and police to increase morality and personal safety during carry out of duty. While bullet proof depend vest?s demand still buying from abroad. Because of that, Balitbang Dephan make a research to obtain bullet proof vest panel from ceramic combined with Kevlar. Beside the panel is still heavy at, 9 kg and also using kevlar fiber which is very expensive. Therefore Indonesia must find out alternatives material from natural resource to substitute kevlar fiber. Bullet proof vest from material must be easy to find, strong, easy fabrication and safe. Natural fiber as a candidate of panel materials are ramie and abacca (Musa textiles).
Previous research woven ramie fiber combine with stainless steel filament mesh 16, can proof projectile from refolver .38 (type I). While another natural fiber research is woven abacca fiber with two, three and four layer, have capabilities proof projectiles for type I, but still can?t proof projectile from hand gun 9mm (type II).
This Thesis research composite panels from woven abacca fiber and epoxy with hand lay up method, variation in layer?s number of abacca woven are five, seven and nine layers. After ballistic test, all of those have capabilities proof projectiles type I, but still can?t proof from projectiles type II. The next step, to make material from combine one layer ceramic for every composite in layer?s number of abacca woven are five, seven and nine layers, after ballistic test all of those have capabilities proof projectiles from type II. Beside above panels, both one ceramic ballistic test by type I and two ceramics with resin ballistic test by type II were broken. Fiber?s and projectiles deformation, estimation of production cost and calculation energy absobtion by material composite were analized.
The results show that material able proof the bullet proof type II are five, seven and nine layers of woven abacca combined with ceramic."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
T21253
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Klemens
"Dalam penelitian ini dibuat pelat komposit berbahan dasar serat alami yaitu serat pisang abaca (Musa textilis), yang dipadukan dengan resin epoksi, dan keramik berkekuatan tinggi dengan metode hand lay up. Serat abaca dipilih karena memiliki kekuatan yang tinggi, ketersediannya di Indonesia dan harganya murah. Penelitian ini ditekankan pada peningkatan kekuatan keramik dengan mengganti keramik yang digunakan, sehingga, diharapkan mampu menahan terjangan peluru level IIIA. Bahan dasar keramik yang digunakan memiliki kadar Aluminum Oksida yang tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelat komposit dengan lima lapis anyaman serat pisang abacca dengan ketebalan 11,15mm yang digabungkan dengan satu lapis keramik mampu menahan peluru dari senjata Level IIIA, yaitu submachine gun pada jarak 5m.

This research is to make a composite panel from abaca fiber (Musa textilis), which combine with epoxy resin and ballistic ceramic using hand lay up method. Abaca fiber was chosen because it's cheap and easy to get. This research is consentrated in rising the strength of the ceramic with add more width to it, so, we hope it could absorb level IIIA projectiles. The ceramic used for this research is made from Aluminium Oxide with high concentration. The result of this research show that the composite panel from 5 layers abaca fiber with combined with ceramic could absorb level IIIA projectiles, which is submachine gun in 5m range."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
S51684
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Midia Fujiani
"Selama ini untuk memenuhi kebutuhan rompi anti peluru Indonesia mengimpor dari luar negri. Penelitian dibeberapa negara penghasil rompi anti peluru seperti Amerika Serikat, Belanda, Korea Selatan dan Prancis tentang pembuatan rompi anti peluru sifatnya tidak dipublikasikan karena menyangkut sistem pertahanan dan keamanan yang sangat rahasia. Sehingga sulit untuk mengetahui jenis material yang digunakan, cara pembuatan dan komposisi material penyusunnya. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negri dilakukan penelitian internal oleh Balitbang DepHan RI untuk pembuatan rompi anti peluru dengan bahan dasar keramik. Kelemahan penggunaan keramik sebagai rompi anti peluru adalah sifatnya yang dapat mengabsorbsi air sehingga dapat menurunkan sifat mekaniknya. Selain itu proses pabrikasinya cukup sulit karena menggunakan hydoulic press untuk penekanannya.
Untuk itu dilakukan penelitian ini menggunaan material komposit yang terdiri dari kevlar_29 produksi DuPont, sebagai reinforcement material komposit anti peluru dipilih mengingat karakteristik fisikal kevlar_ yang sangat baik. Sifatnya yang kuat, ringan, tahan terhadap panas sampai dengan suhu 400_C, stabil secara kimia dan fleksibel sangat mendukung untuk penggunaannya sebagai bahan dasar penyusun komposit material anti peluru. Pemilihan jenis matriks dengan komposisi yang tepat harus dilakukan untuk melihat kinerja kevlar_ untuk membentuk material komposit yang memiliki sifat tahan perluru. Matriks penyusun komposit adalah resin dengan jenis epoksi resin tipe Epi Bis epoksi dan fiber kevlar_29 jenis cut fiber dengan panjang 10mm. Komposisi matriks penyusun komposit terdiri dari 5%,10% dan 15% berat fiber dalam komposit.
Metode pembuatan dilakukan dengan teknik penaburan fiber yang kemudian dilaminasi secara kontinyu dengan sistem resin. Hasil uji laboratorium yaitu uji kekerasan dengan Hardness Barcol Tester memberikan hasil kurang yang informatif secara keseluruhan dan keseragaman kekerasan dalam komposit. Selain itu pengujian utama untuk melihat kinerja anti peluru adalah uji balistik dengan menggunakan standard batasan uji balistik untuk rompi tipe I, yaitu pengujian dengan Revolver hand gun 38 Special. Pada tahap awal ini uji balistik yang dilakukan sebatas uji tembak sederhana yang tidak mengikuti standard pengujian. Pengujian balistik dilakukan pada dua sisi yaitu tengah dan tepi untuk setiap sampel. Hasil uji balistik menunjukkan dari tiga jenis variasi komposisi sampel, salah satu dari dua sampel dengan komposisi 15% yang ditembak pada bagian tengah tidak tembus peluru, hanya terjadi deformasi pada permukaan. Namun tembakan lainnya pada komposisi sampel yang lain tembus peluru."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2006
S49586
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kevin Abram
"Kebutuhan akan peralatan-peralatan kepolisian selalu dibutuhkan dalam jumlah anggaran yang besar. Kebutuhan tersebut meliputi berbagai macam peralatan seperti peralatan defensif yaitu helm anti peluru. Oleh karena itu dibutuhkan pengembangan helm anti peluru dalam negeri yang memiliki kekuatan serupa dengan produk impor tetapi tetap ringan dan baik untuk mobilitas pemakainya. Untuk itu dilakukan penelitian ini menggunakan komposit yang terdiri dari multi reinforcement. Multi reinforcement yang digunakan pada penelitian ini adalah serat kenaf sebagai serat alam dan serat karbon sebagai serat sintetis. Penggunaan serat kenaf dilakukan karena serat kenaf selain mudah ditemukan dan murah, ternyata juga memiliki sifat mekanik yang baik. Metode pembuatan dilakukan dengan metode cetakan terbuka yaitu metode hand layup. Jumlah lembaran kenaf sudah ditentukan sementara jumlah lembaran serat karbon akan divariasikan. Serat kenaf akan digunakan 4 lembar pada setiap produknya. Variasi lembaran serat karbon dibagi menjadi tiga variasi yaitu, 3 lembar serat karbon, 6 lembar serat karbon, dan 9 lembar serat karbon. Pengujian yang dilakukan adalah uji balistik tipe I sesuai standar National Institute of Justice 0101.3. Pengujian kekerasan dan flexural strength akan dilakukan untuk mengetahui sifat mekanik produk komposit serta efek penambahan serat karbon. Pengujian menggunakan SEM digunakan untuk mengetahui morfologi patahan dan mekanisme yang terjadi pada produk komposit. Produk komposit yang terdiri dari 9 lembar serat karbon dan 4 lembar serat kenaf mampu menahan laju peluru. Terjadi kerusakan serat tetapi hanya berada di bagian luar produk komposit.

The needs of police gears are always needed in large scale budget. That needs cover many gears start from the offensive ones until the defensive ones like ballistic helmet. Hence Indonesia need the development of ballistic helmet that has the mechanical properties as good as the imported ones but also lightweight and comfort to use. This research uses multi reinforcement composite. Kenaf fiber used as a natural fiber based reinforcement, meanwhile carbon fiber used as a synthetic fiber based reinforcement. Those two reinforcements will be combined to create a composite. Kenaf fiber will be used because of its availability in Indonesia, and surprisingly has good mechanical properties. The method of fabrication used in this research is by using open mold and hand layup technique. The number of kenaf fiber ply will be fixed by 4 plies. The number of carbon fiber will be varied as is 3 plies, 6 plies, and 9 plies. Test used in this research is Level I ballistic testing National Institute of Justice 0101.3. Hardness and flexural strength will be conducted to find out the mechanical properties and also effect of addition of carbon fiber plies. Another test using SEM also done in this research to examine the morphology of the area of impact. In the end the product constructed by 9 plies of carbon fiber and 4 plies of kenaf fiber is capable to hold the bullet. That product is still damaged but only at the outside and the bullet does not penetrate through the product.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ignatia Marina Sudiarta
"Pemenuhan kebutuhan rompi tahan peluru bagi anggota kepolisian dan TNI masih sangat bergantung dari luar negeri, sehingga harga rompi tahan peluru masih sangat mahal. Hal ini semakin diperburuk dengan tidak adanya literatur mengenai komposisi rompi tahan peluru. Dari sebab itu perlu dikembangkan pemanfaatan serat alam untuk dijadikan komposit tahan peluru, hingga diharapkan dapat menghasilkan material tahan peluru yang kuat, murah dan mudah dibuat. Salah satu serat alam yang memiliki kekuatan cukup baik dan berlimpah di Indonesia adalah serat dari pisang abacca (Musa textilis). Pada penelitian ini yang dibuat adalah pelat komposit saja sebagai salah satu bagian dari rompi tahan peluru. Pelat yang dibuat bertujuan untuk menahan peluru dari senjata tipe I, yaitu revolver .38 dan 22 LR. Komposit ini dibuat dengan metode hand lay up, dengan variasi pada jumlah lapisan anyaman serat pisang abacca, yaitu sebanyak dua lapis, tiga lapis, empat lapis dan lima lapis. Anyaman yang digunakan memiliki sudut orientasi 0_ dan 90_. Pengujian balistik dilakukan dengan menggunakan senjata tipe revolver .38 dari jarak 5 meter. Selain itu, pada pelat yang berhasil menahan peluru revolver .38, dilakukan pla penembakan oleh pistol 9 mm yang merupakan senjata tipe II. Selanjutnya dilakukan analisa terhadap bentuk kerusakan serat, dan dilakukan perhitungan energi balistik yang dapat diserap bahan juga dilakukan estimasi biaya pembuatan pelat yang tahan peluru tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelat komposit dengan empat lapis anyaman serat pisang abacca mampu untuk menahan peluru dari senjata tipe I, yaitu revolver .38. Namun pelat ini tidak mampu menahan peluru dari pistol 9 mm.

The fulfilness of bullet proof vest?s demand for the police and army personal is still dependent on another country. This condition makes the price of bullet proof vest is so expensive. The lack of literature about bullet proof vest composition makes this condition worse. So we must develope the bullet proof composite based on natural fiber, and finally we can make the bullet proof material that are strong, cheap and easy to be made. One kind of natural fiber that strong enough and easy to find in Indonesia is abacca?s fiber. (Musa Textilis) The purpose of this research is to make a composite panels as a part of bullet proof vest. This panels are made to proof the projectiles from the weapons of type I, such as Revolver .38 and 22 LR. This composites are made by hand lay up method, with the variation in layer?s number of abacca?s woven, from two until four layers. The woven?s orientation are 0_ and 90_. The ballistic test use the revolver .38 with 5 meters distance from the target. Beside that, handgun 9 mm, which is clasified as weapon of type II, is also used for the panel that can proof revolver .38. The next steps are analysis about fiber?s deformation, estimation of production cost and calculation of energy absorbtion by target. The results of this research show that the composite panel with four layers of abacca?s woven have capabilities to proof the projectiles from weapons of type I, but still can?t proof the projectiles from weapons of type II."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2007
S49841
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
06/Sap/p
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Bondan Tiara Sofyan
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1991
S40301
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dody Yulianto
"Komposit telah banyak digunakan oleh industri, khususnya industri otomotif sebagai bahan alternati£ pengganti Iogam berasal dari alam yang tidak dapat diperbaharui (non renewable) dan akan habis suatu saat nanti. Komposit berpenguat serat (fibre reinforced composite) mempunyai sifat yang menguntungkan dari bahan lainnya yaitu: ringan, kekuatan tinggi, harga bahan baku yang rendah, dan pembuatan bentuk yang tidak terbatas. Dalam penelitian ini akan dikaji rekayasa komposit serat slam (rami) dan akan digunakan sebagai atternatif pengganti bahan panel interior otomotif? dinilai iebih ekonomis, ramah lingkungan dan memiliki sifat yang tidak jauh berbeda dari komposit berpenguat serat sintetik. Hasil pengujian tank dan geser yang telah dilakukan, untuk fraksi volume fiber 0,3., 0,4, dan 0,5 diperoleh kekuatan tank rata-rata untuk Vf0,3 = 36,61 MPa, V10,4 = 37,032 MPa, Vf0,5 = 52,16 MPa. Dan ketiga fraksi volume ini yang memenuhi criteria mechanical properties untuk interior automotive dengan kekuatan tank 47 MPa adalah komposit dengan fraksi volume fiber 0,5(VfO,5). Sehingga penelitian ini dapat dilanjutkan pada tahap berikutnya yaitu: pengujian untuk memenuhi standard SAE (Society of Automotive Engineers), Interior Automotive Plastic Part Testing - SAE .11717 Jun 94, diantaranya adalah pengujian kesetabilan dimensi pada temperatur kerja dengan nilai persentase perubahan rata-rata 0,211%, kesetabilan dimensi pada siklus II = 0,131% dan siklus HI = 0,027%, ketahanan warna dengan nilai perbandingan warna 1 dari standard warna, dan impak dingin dengan hasiI tidak pecah pada energi yang diberikan sebesar 2 Joule.

Most of industry was used composite, especially automotive industry as changes of material, it used to alternative material. Fiber reinforced composite has advantage various from another material: light, high tensile, etc. This research will be used to natural fiber as the alternative material like automotive interior, environment friendly and not different from plastic fiber reinforced composite, In this research, the variant variables of sample are 0,3; 0,4; 0,5 fraction volume. Tension lest and shear test used to get tension strength, value of result that test about If 0.3 = 36,61 MPa; Vf 0,4 = 37,03 MPa: VfV,S 52,16 MPa. Tensile strength of part of automotive interior is 47 MPa, comparison this value with test result shown fraction volume 0.5 (Vf 05) adequate to that specification of part So, this research can be continued to the next step with SEA (Society of Automotive Engineers) standards test. Interior Automotive Plastic Part Testing (SAE J1717, June' 1994) are dimensional stability at service temperature with value change (averaged) 0.211% . dimensional stability after hot/cold cycling with value change (averaged) cycles I = 0,211%. cycles II = 0,131% and cycles III 0,131 %, color and gloss retention with value color change 1 from color standard and cold impact with value no cracks or breakage to give energy 2 Joule."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2004
T15009
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Suryaneta
"Keterbatasan informasi mengenai rompi tahan peluru karena terkait dengan pertahanan dan keamanan negaa menyebabkan Indonesia mencoba mencari kandidat material, komposisi, dan cara pembuatannya. Salah satu bahan yang banyak digunakan sebagai bahan dasar rompi tahan peluru adalah serat Kevlar yang merupakan serat sintesis. Namun penggunaan serat Kevlar tidak memungkinkan karena ketatnya impor serat Kevlar dan harganya yang tinggi. Oleh karena itu, material keramik dicoba diteliti di Balitbang Dephn, hasil yang diberikan bisa menahan sampai level 4 namun mngabsorbsi air sehingga mengurangi sifat mekaniknya, proses pembuatan yang rumit dan berat material cukup tinggi yaitu 9 kg sehingga kurang ergonomic untuk digunakan. Melihat kondisi tersebut perlu kiranya Indonesia untuk memproduksi rompi tahan peluru, namun dengan bahan yang mudah didapatkan, murah harganya dan kuat. Salah satu bahan yang dilirik sebagai bahan dasar rompi tahan peluru adalah serat rami. Serat rami yang digunakan pada penelitian ini merupakan hasil tenunan mesin dengan kombinasi serat dan benang rami. Serat ini akan diisikan dengan resin Epoksi. Hasil yang ditunjukkan panel yang terbuat dari tenunan rami 3, 4, dan 5 lapis belum memberikan performa yang bagus karena semua proyektil 38 dari revolver berhasil menembus material. Performa yang lebih bagus diberikan oleh panel dengan fraksi volume tenunan rami 17.8 % yang dipadukan dengan kawat stainless steel mesh 16 dengan fraksi volume 2.3 %. Panel ini memiliki berat 2.141 gr/cm2 lebih ringan dibandingkan panel Balitbang Dephan yang trbuat dari keramik 4.5 gr/cm2.

Limitedness of information about bulletproof vest interrelated with defence and security of country cause Indonesia try to find candidate material, compotition, and how to make it. One of the material that common used as base material for bulletproof vest is Kevlar fiber (sintetic fiber). But using Kevlar fiber is not sustainable because strict import and high price. Because of that, Balitbang Dephan make a research to find other material, they tried to use ceramic.Result of this research, panel could defence from level 4 but material can absorb water make mechanic properties decrease, complexity of process, and heavy (9 kg) make them not ergonomic. This condition make Indonesia must find other alternative. Bulletproof vest from material that easy to find, strong, and cheap. Natural fiber is be one of material that later be challenge material. Rami fiber is natural fiber that have properties similar with Kevlar fiber. Woven ramie fiber is used with combination with ramie thread. Epoksi resin will use as matriks. First step, panels consist of 3, 4, and 5 laminates of woven rami. But, their performance is not satisfied when gave ballistic impact level 1 (revolver .38). Second step , panel have 1.5 cm thickness. One consist 8 laminates of woven ramie and other consist 5 woven ramie with 5 laminate stainless steel filamentmesh 16. The second step gave satisfied performance. The lastest panel have volume fraction of woven ramie 17.8 % and 2.3 % stainless steel. This panel have 2.141/cm2 lighter than ceramic panel Balitbang Dephan 4.5 gr/cm2."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2007
S49701
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dhiki Ramadhani
"Pengangkutan ikan hasil tangkapan nelayan tradisional merupakan hal penting setelah penangkapan ikan. Penggunaan wadah angkut ikan merupakan salah satu upaya menjaga kualitas ikan. Selama ini pemanfaatan wadah angkut ikan masih kurang efektif dan efisien sehingga terjadi kerugian karena kualitas dan nilai jual ikan rendah. Penelitian ini difokuskan pada kajian rancang bangun wadah angkut yang mudah dipindahkan dan ramah lingkungan agar ikan bernilai jual tinggi. Wadah dirancang untuk ikan hidup yang diperlengkapi sirkulasi air dan udara serta penyaringan kotoran sehingga salinasi dan pH air terkendali. Bahan wadah terbuat dari material komposit berpenguat serat pisang abaca. Komposit dibentuk menjadi anyaman tenunan dan anyaman tikar. Dari hasil pengujian tarik diperoleh kekuatan tarik rata - rata sebesar 9 MPa dan tegangan luluh rata - rata sebesar 6,538 MPa. Sedangkan hasil perhitungan pembebanan pelat diperoleh tebal komposit minimum sebelum terjadi defleksi 3 mm yaitu 3,27 mm.

Transportation of fish catches is an important traditional fishing after catching a fish. The use of container transport fish is one of the efforts to maintain the quality of fish. During this time fish transport container utilization is still less effective and efficient so that there is a loss because of the quality and value of fish sold low. This study focused on the study design of container transport is easily removable and friendly environment for high value fish. Containers designed for live fish equipped air circulation and filtration of water and dirt so that the salinization and water pH control. Material container made of composite materials berpenguat abaca fiber. Composite formed into woven fabrics and woven mats. From the results obtained by tensile testing tensile strength - average of 9 MPa and yield stress - average of 6.538 MPa. While the calculation results obtained by the imposition of a thick composite plate minimum before the deflection of 3 mm is 3.27 mm."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S52165
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>