Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 63880 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Elly Nurachmah
Jakarta: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2004
PGB 0372
UI - Pidato  Universitas Indonesia Library
cover
C. Rini Suprapti
"ABSTRAK
Kista rahang sering dijumpai pada Poliklinik Bedah Mulut Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Dari penelitian terdahulu diperoleh data bahwa jenis kista yang paling sering ditemukan yaitu kelompok Kista Odontogenik. Oleh karena data lengkap kista Odontogenik belum ada pada bagian / Poliklinik Bedah Mulut Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, maka penulis merasa tertarik untuk meneliti frekuensi dan distribusi Kista Odontogenik pada pasien yang datang ke Poliklinik Bedah Mulut Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo mulai bulan Januari 1987 sampai dengan Desember 1988.
Tanda-tanda fisik dan gejala kista dapat dikenal secara klinik namun tergantung pada keadaan kista. Pada stadium awal biasanya tidak menimbulkan keluhan pada pasien. Kista yang masih dalam ukuran kecil sering ditemukan secara kebetulan misalnya pada waktu dilakukan pemeriksaan radiografik. Pada stadium lanjut pasien akan merasakan adanya benjolan bahkan sampai terjadi deformitas muka. Gejala radang dapat timbul bilamana kista mengalami infeksi. (1,2)
Kista Odontogenik adalah kista yang timbul dari epitel yang diperlukan pada waktu pembentukan gigi. (1,3,4,5) Menurut Killey, Kista Odontogenik dibedakan dalam 3 tipe yaitu Kista Periodontal, Dentigerous, dan Primordial. (5)
Kista Periodontal merupakan salah satu kelompok Kista Odontogenik yang paling sering ditemukan, dan dapat terjadi pada bagian apikal, sisi akar, atau pada lokasi bila gigi penyebabnya telah diekstraksi. (1,2,4,5)
Kista Dentigerous terjadi pada sekitar mahkota gigi yang tidak erupsi. Kista ini terbentuk setelah mahkota gigi mengalami kalsifikasi. Ditinjau dari hubungannya dengan gigi dapat dibedakan: tipe Perikoronal, Lateral, dan Sirkumferensial. Kista Primordial terjadi karena adanya perubahan kistik pada bagian dalam dental lamina sebelum terbentuk jaringan keras gigi. Kista ini dapat terjadi dimana saja pada rahang, namun lokasi tersering yaitu pada rahang bawah daerah Posterior. (1,435,6,7) Kista ini juga disebut Odontogenic Keratocyst.
Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan klinik, radiografik, pemeriksaan punksi aspirasi cairan kista, pengamatan selama operasi pengangkatan kista. dan pemeriksaan histopatologik. Tindakan terapi umumnya dilakukan enukleasi, tetapi dapat pula dilakukan marsupialisasi, atau kombinasi antara marsupialisasi dan enukleasi pada tahap selanjutnya.
"
1990
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Harmas Yazid Yusuf
"Keratocyst is the mosy aggressive type of odontogenic cysts with high recurrence rate. The main factors that contribute to its recurrence rate are presumed to be thinness of the cyst wall, the high copability of the cyst epithelium to proliferate or multiplicate and the presence of the microcysts in the mother cyst capsule. The treatment of the lesion is still controversial and ranges from enucleation to resection. A relatively new approach to the therapy of keratocysts is to fix, that the cyst in a fixation agent for preventing spillage of vital epithelial cells during surgery."
[Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Journal of Dentistry Indonesia], 2002
PDF
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Ira Kusumawaty
"Pendokumentasian proses keperawatan merupakan suatu kegiatan yang sangat krusial, karena dapat menjadi bukti bahwa segala tindakan perawat telah dilaksanakan secara profesional dan legal sehingga dapat melindungi klien selaku penerima jasa pelayanan dan perawat selaku pemberi jasa pelayanan keperawatan. Kualitas pendokumentasian ini sangat tergantung pada kompetensi perawat pelaksana sebagai tenaga inti dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu dari perawat bersangkutan maupun supervisi kepala ruangan sebagai salah satu bentuk kegiatan manajerial.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka penelitian berupaya mengidentifikasi hubungan antara pemahaman perawat pelaksana tentang proses keperawatan dan persepsinya terhadap fungsi supervisi kepala ruangan, dengan tetap mempertimbangkan variabel karakteristik perawat pelaksana yang dapat mempengaruhi pemahaman dan persepsi yang terjadi.
Penelitian ini dilaksanakan di RS. Karya Bhakti Bogor dan merupakan penelitian kuantitatif dan kualitatif dengan rancangan deskriptif korelasi dan bersifat cross sectional. Pada penelitian kuantitatif dilaksanakan dengan cara menyebarkan kuesioner kepada 91 responden perawat pelaksana yang bekerja di ruang rawat inap serta tidak memberikan perawatan intensif. Sedangkan penelitian kualitatif dilaksanakan melalui pelaksanaan diskusi kelompok terarah, dengan mengajukan empat pertanyaan terbuka kepada 10 responder. Hasil penelitian kuantitatif dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat. Berdasarkan analisis univariat diketahui bahwa secara rata-rata pemahaman perawat pelaksana terhadap proses keperawatan dan kompetensi mendokumentasikan proses keperawatan sudah cukup baik. Pemahaman ini tidak dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, jumlah pelatihan yang telah diikuti dan masa kerja. Terungkap pula bahwa perawat rata-rata mempersepsikan kepala ruangan masih belum cukup optimal dalam melaksanakan supervisi terhadap pendokumentasian proses keperawatan. Selanjutnya analisis bivariat memperlihatkan pertama, adanya hubungan bermakna yang sedang dan berpola positif antara pemahaman terhadap pendokumentasian proses keperawatan dengan kompetensi mendokumentasikan proses keperawatan. Kedua, adanya hubungan bermakna yang sedang dan berpola positif antara persepsi terhadap pengarahan sebagai salah satu fungsi supervisi dengan kompetensi mendokumentasikan proses keperawatan. Kemudian berdasarkan analisis multivariat diketahui bahwa variabel babas yang berhubungan paling erat dengan variabel terikat adalah variabel pemahaman terhadap proses keperawatan dan bimbingan sebagai salah satu bentuk fungsi supervisi. Namun diantara kedua variabel tersebut, variabel bimbingan memiliki kemampuan lebih besar dalam memprediksi kompetensi perawat dalam mendokumentasikan proses keperawatan, jika variabel lain dalam keadaan konstan.
Sedangkan hasil penelitian kualitatif yang diperoleh melalui diskusi kelompok terarah menyimpulkan bahwa perawat pelaksana merasakan kompetensinya masih belum optimal, memerlukan tambahan pengetahuan baik melalui pendidikan formal maupun non formal. Selain itu supervisi kepala ruangan sangat diperlukan guna meningkatkan kompetensi perawat pelaksana dalam mendokumentasikan proses keperawatan.
Adapun saran yang peneliti ajukan kepada kepala ruangan adalah mengoptimalkan pelaksanaan bimbingan kepada perawat pelaksana dan perawat pelaksana diharapkan meningkatkan pemahamannya terhadap proses keperawatan. Sub bidang keperawatan disarankan melakukan upaya-upaya yang dapat meningkatkan pemahaman proses keperawatan dan fungsi supervisi. Direktur rumah sakit dianjurkan untuk menyusun kebijakan yang berkaitan dengan sistem penghargaan terhadap kegiatan pendokumentasian dan supervisi serta pengaruhnya terhadap jenjang karir perawat. Selanjutnya kepada pihak pendidikan diharapkan agar lebih banyak memberikan latihan kasus. Peneliti lain seyogyanya memperdalam penelitian kualitatif jika ingin meneliti bidang yang sama.

Relationship between Understanding on Nursing Process and Function of Supervision with Competency to Document Nursing Process at Karya Bhakti Hospital BogorNursing process documenting is a crucial activity because it could be a proof that all nurses' actions have been done professionally and legally so it could protect client as service receiver and nurses as nursing service grantor. The quality of this documentation depends on executing nurses' competency as core personnel and could be influenced by same factors, namely the nurses themselves, or unit manager's supervisory as a managerial activity.
Pertaining to the case above, the conductor of this research tried to identify relation between executing nurse's understanding on the nursing process and their perception to unit manager's supervisory function, yet the conductor still consider executing nurses' characteristic variable that could effect an understanding and perception that occurred.
This research was carried out at Karya Bhakti Hospital Bogor and constitutes qualitative and quantitative research with descriptive correlation design and had cross sectional nature, The quantitative research was run by distributing questioner to 91 respondents of executing nurses who work at inpatient unit and they do not serve intensive nursing. Meanwhile the qualitative one was carried out through focused group discussion by presenting four open questions to 10 respondents.
The quantitative research was analyzed in univariat, bivariat and multivariat way. Based on the univariat analysis, it was known that in average, executing nurses' understanding on nursing process and competency to document nursing process was good enough. This understanding was not influenced with educational background, number attaining that has been attended and tenure. And it was also disclosed that they percept unit manager less- enough-optimal in handling supervisory toward nursing process documentation. Further, bivariat analysis indicated first, there was a moderate and positive significant relation between understanding on nursing process documentation and competency to document nursing process. Second, there was a moderate and positive significant relation between perception on direction as one of supervisory function and competency to document nursing process. And then, based on multivariate analysis, it was comprehended that the independent variable most related with dependent variable understood of nursing process and guiding, as one of supervisory functions. Yet among the two variables, guiding variables had bigger ability in forecasting nurses' competency in documenting nursing process provided that the other variables were in constant situation.
In the same time. the qualitative research that gained through focused group discussion concluded that executing nurses felt that the competency had not been optimal. It still needed extended knowledge either through formal education or non-formal one. Besides, the unit manager's supervisory was badly needed to improve executing nurses' competency in documenting nursing process.
The researcher recommended that unit manager should optimize guiding implementation to the executing nurses, the executing nurses is expected to enhance their understanding on the nursing process. Sub nursing division should carry out some efforts to increase : understanding on nursing process and supervisory function. The director of the hospital is suggested to compose some policies in line with rewarding system to documentation and supervisory activities as well as their influence to nurses' career stage. And finally the education and training division in learning process should grant more cases training. And the further researcher should utilize and deepen qualitative research when they wish to conduct the same research."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2001
T3709
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Daulima, Novy Helena Catharina
"Cemas adalah suatu perasaan tidak nyaman yang merupakan respons terhadap ketakutan atau kehilangan sesuatu yang bernilai (Cook dan Fountaine, 1987). Cemas berbeda dengan takut. Takut adalah penilaian intelektual dari stimulus yang mengancam dan obyeknya jelas, sehingga individu tersebut dapat menggambarkan sumber dari rasa takutnya (Herawaty, 1996). Sehingga dapat disimpulkan bahwa cemas dapat terjadi bila ada ancaman, ketidakberdayaan, kehilangan kendali, persaaan kehilangan fungsi dan harga diri, kegagalan membentuk pertahanan, perasaan terisolasi dan takut mati (Hudak dan Gallo, 1997).
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang tingkat kecemasan mahasiswa dalam menghadapi praktek klinik di rumah sakit jiwa (RSJ). Janis penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan desain 'cross sectional'. Sampel terdiri dari 41 orang mahasiswa yang praktek di RSJ dan 34 orang mahasiswa yang praktek di Panti Werdha (non RSJ). Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari 30 pernyataan tentang tanda dan gejala kecemasan. Analisa data dilakukan dengan uji statistik univariat untuk penilaian distribusi frekuensi dengan ukuran persentase atau proporsi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang paling banyak mengalami cemas berat adalah mahasiswa yang praktek klinik di RSJ (64.3%). Sedangkan berdasarkan data sosio demografi mahasiswa yang praktek di RSJ, cemas berat paling banyak dialami oleh mahasiswa yang berusia 15-25 tahun (100.0%), mahasiswa yang beragama Kristen (100%), mahasiswa yang duda/janda (100%), dan mahasiswa yang pengalaman kerjanya 10-20 tahun (66.6%)."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2002
LP-Pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Esther Faina Maria Nurima
"Salah satu tolok ukur keberhasilan pelayanan kesehatan di rumah sakit adalah peningkatan mutu asuhan keperawatannya.
Sesuai visi dan misi Rumah Sakit Awal Bros untuk menjadi pusat pelayanan kesehatan yang didukung tenaga-tenaga profesional, merasa perlu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan Sumber Daya Manusianya terutama perawat yang dianggap merupakan tulang punggung suatu rumah sakit.
Belum adanya standar penilaian perawat yang mempunyai latar belakang dan pengalaman yang berbeda serta keseragaman pengetahuan dan ketrampilan yang tidak merata maka disusun Rancangan Standar Kompetensi Keperawatan oleh tim Inti Rumah Sakit Awal Bros.
Hasil penelitian dibuat suatu Rancangan Standar Kompetensi Keperawatan yang akan diuji cobakan di Rumah Sakit Awal Bros.
Penelitian dilaksanakan secara analisa kualitatif yang merupakan studi kasus berdasarkan kebutuhan Rumah Sakit Awal Bros dengan membuat perbandingan antara teori serta data dari beberapa rumah sakit yang telah mempunyai standar kompetensi.
Penerapan standar kompetensi terdiri dari 2 (dua) langkah yaitu pertama menetapkan tingkat golongan seorang perawat berdasarkan pendidikan dan pengalaman kerja, langkah selanjutnya menentukan kriteria penilaian dari masing-masing tingkat dengan menilai ketrampilan tehnikal, ketrampilan interpersonal dan ketrampilan intelektual.
Disarankan agar dalam uji coba standar kompetensi ini bekerjasama dengan konsultan keperawatan.

Program for Composition the Standards of Nursing Competence to Develop Nursing Process in Awal Bros Hospital, PekanbaruOne of the measuring standard for the success of health service in hospital is enhancement of nursing quality.
Based on its vision and mission to become a health service center which is supported by professional manpower, Awal Bros deems it necessary to enhance the knowledge and skill of its human resources, particularly of nurses who serve as the fundamental of a hospital.
As there have been no standard for evaluation of nurses who are of different background and experience, and as their knowledge and skills are not equally the uniform in Design of Nursing Competence Standards is prepared by the team of Awal Bros Hospital.
The Design of Nursing Competence Standards is prepared based on the results of survey and it will be tried-out in Awal Bros Hospital.
The survey is conducted by qualitative analysis which is a case study based on the literature and the hospitals who are applied competence standards.
The competence standards are applied in 2 (two) steps. First is determine the class level of a nurse based on education and work experience. The second step is to determine the criteria of evaluation of each level by evaluating technical skill, interpersonal skill and intellectual skill.
It is recommended to have these competence standards tried-out in cooperation with a nursing consultant.
"
Depok: Universitas Indonesia, 2001
T5144
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
cover
Gabriela Ere Badjo
"Peran kolaborasi perawat primer dengan dokter dan klien pada metode keperawatan primer masih belum berjalan dengan baik sehingga dalam pengobatan dan perawatan klien beluin optimal. Kondisi ini menyebabkan efektifitas dan efisiensi tindakan keperawatan pada klien juga belum optimal.
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kontribusi karakteristik perawat primer dan pengetahuan tentang metode keperawatan primer terhadap kolaborasi perawat primer dengan dokter dan klien di unit rawat inap.
Penelitian ini dilaksanakan di unit penyakit dalam dan bedah P.K. Sint Carolus pada bulan Juli 2003.
Disain penelitian menggunakan deskriftif korelasional dengan metode pendekatan cross seesianul. Populasi adalah semua perawat primer di unit penyakit dalam - bedah di 12 unit rawat inap. Sampel dalam penelitian ini adalah total populasi dimana responden yg memenuhi kriteria penelitian adalah 109 perawat primer. Pengumpulan data menggunakan angket yang terdiri atas isian mengenai karakteristik perawat (umur, tingkat pendidikan, status perkawinan, lama kerja), kuesioner pengetahuan tentang metode keperawatan primer dan kuesioner pelaksanaan kolaborasi perawat primer dengan dokter dan klien didapatkan pada persepsi perawat primer. Uji analisis hubungan atau kontribusi menggunakan uji korelasi dari Spearman.
Hasil penelitian didapatkan hubungan atau kontribusi variabel independen yaitu umur (rs= .0,203, p = 0,034), sistem penugasan (rs= 0,322,p = 0,001), tindakan keperawatan primer (rs= 0,369, p = 0,0001), otonomi dalam pengambilan keputusan (rs= 0,477, p= 0,0001) dan total metode keperawatan primer ( rs= 0,494, p= 0,0001) terhadap variabel kolaborasi perawat primer dengan dokter dan klien. Penelitian ini juga mendapatkan model bahwa otonomi perawat primer dalam pengambilan keputusan (Beta = 3,329), dan tindakan keperawatan komprehensif (Beta =2,713) ditambah konstanta (38,091) merupakan prediktor utama terhadap pelaksanaan kolaborasi perawat primer dengan dokter dan klien.
Dari hasil penelitian ini disarankan agar perawat primer diberi penambahan pengetahuan dan pemahaman tentang otonomi dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan tindakan keperawatan komprehensif.
Daftar Pustaka 69 (1975 - 2443)

"The Contribution of Nurses Characteristics and Primary Nursing Method to the Collaboration of Primary Nurse -- Doctor - Client at the Medical - Surgical unit of St. Carolus Health Service". The role of Primary Nurse with the doctor and the client on the primary nursing method was not implemented well, thus the medical intervention and nursing intervention were also not optimal.
The study was conducted to identify the contribution of the characteristics of primary nurse the knowledge about primary nursing method to the collaboration process of Primary Nurse - Doctor and Client.
Using a descriptive - correlational, especially cross - sectional method, the researcher selected 109 participants from 12 wards of medical-surgical wards of PKSC, Jakarta in July, 2003. The data were gathered by using the distribution of three questionnaires, there are the nurse's characteristic data sheet (age, educational level, marital status, length of work), the knowledge about primary nursing method and the process of collaboration between the nurse - doctor and client which is based on primary nurse perception. The statistical treatment used where Spearman's correlation test and Mann - Whitney test.
The findings indicated that the relationship between the nurse's characteristics : age and the collaboration process was high with the following results; (rs=0,203, pri,034 for age. In term of primary nursing method with collaboration process, the results as follows: tasking system (rs 0,322, p=0,001; Nursing Process (1-0 ,369, p-:1.0001; autonomy in decision making (rs=0,477, p=0,0001) and the total of primary nursing method (rs,494. p=0,00010. The finding also showed that the nurse's autonomy indecition making (12,713) with constant value of the primary nurse -- doctor - client collaboration.
This findings recommend that the primary nurses need to Improve to loo given some additional knowledge and understanding about autonomy in decision making and comprehensive nursing intervention.
Biliography 69 (1975 - 2003)
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2003
T10988
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Safrudin
"Perawat pada ruang rawat Inap RS Husada bertanggung jawab atas keberhasitan pelayanan keperawatan yang ditunjukan dengan kualitas dokumentasi asuhan keperawatan. Keberhasilan pelayanan dipengaruhi oleh manajemen waktu dan karakteristik perawat. Sampai saat ini, masih sedikit penelitian yang berfokus pada pengkajian mengenai hal tersebut.
Tujuan penelitian ini untuk melihat hubungan antara karakteristik perawat dan manajemen waktu dengan dokumentasi asuhan keperawatan perawat pelaksana di Ruang, Rawat Inap RS Husada Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasi yang bersifat cross sectional. Tempat penelitian adalah Rumah Sakit Husada yang meliputi 19 (sembilan belas) ruang rawat, dengan melibatkan 131 perawat pelaksana sebagai responden.
Data didapat dengan cara mengevaluasi dokumentasi yang di buat responden dengan cara menilai aspek pengkajian, diagnosa, rencana tindakan dan evaluasi. Hasil uji statistik menunjukan 56,5% dokumentasi asuhan keperawatan baik sesuai dengan standar Dep. Kes. 1998. Hasil uji statistik bivariat chi-square menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara variabel usia (p=0,004), pendidikan (p = 0,001), lama kerja (p = 0,006) dan manajemen waktu P = 0,013).
Uji statistik regresi logistik dapat dilakukan karena hasil analisis bivariatnya untuk menentukan kandidat seluruhnya memiliki nilai p value < 0,25. Dari keempat variabel tersebut yang paling dominan memiliki hubungan dengan dokumentasi asuhan keperawatan adalah variabel pendidikan setelah dikontrol variabel manajemen waktu.
Hasil penelitian ini merekomendasikan kepada pimpinan RS Husada untuk melakukan pengkajian ulang terhadap peran dan fungsi perawat sehingga perawat pelaksana mempunyai otoritas dan akuntabilitas yang lebih besar. Selain itu diperlukan peningkatan pendidikan bagi perawat pelaksana tentang manajemen waktu dan dokumentasi asuhan keperawatan. Rekomendasi juga diberikan untuk para peneliti lain yang bermaksud mengadakan penelitian tentang dokumentasi asuhan keperawatan perawat pelaksana agar melibatkan lebih banyak variabel yang diteliti dengan desain yang berbeda serta menggunakan instrumen.
Daftar Pustaka: 58 (1991 - 2001)
Nurses at the in-patient wards of Husada Hospital had responsibility on the successfulness of an optimum nursing services which could be revealed by their quality of nursing documentation. This successful of nursing services was influenced by factors such as nurses' characteristic and time management in the Hospital.
Therefore, this research analyzed, the relation between nurses' characteristics and time management with their documentation of nursing care in in-patient ward of Husada Hospital.
The purpose of this research was to identify the relationship between nurses' characteristic and time management with their documentation of nursing. This research was a descriptive correlation which used a cross sectional research design. The place of this research was at Husada Hospital which involving 19 in-patient wards and 131 nursing associates as respondents.
The data were obtained by evaluating the nursing documentation which was developed by the respondents. This documentation, then examined on its quality of the assessment, diagnosis, planning, intervention and evaluation. The result revealed that 56,5% of documentation was good, along with Dep. Kes. 1998 standard of documentation. Hence, the result of bivariate chi-square statistical test show that there was a significant relationship between variables; age (p=O,004), education (p=4,OO1 ), nurse's length of work (p=O,006) and time management (p=4,013 ).
Multivariate test of analysis, using logistic regression, tested that, from these 4 variables above, the education variable was the most dominant variable (p Wald=,001), after controlled by the time management variable (p wald=0,008).
This research recommended to the Hospital manager to do the re-assessment toward the nurses role and function. have more authority and accountability. Recommendation also given to the other researcher to assess the documentation of nursing care variables, different design and instruments.
Bibliography: 58 ( 1991- 2001 )
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2003
T10999
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>