Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 43381 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"Hepatitis B virus (HBV) infection is one of main didease that infects human kind and consitutes a serious health problem in community. As a consequency of their job ,health personel have gained higher risk to HBV infection...."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Jessica Purwanti Wonohutomo
"Pemeriksaan hepatitis B surface antigen (HBsAg) merupakan pemeriksaan penyaring dan diagnostik hepatitis B. Pemeriksaan HBsAg konfirmasi merupakan salah satu cara membedakan hasil HBsAg reaktif lemah dengan positif palsu. Salah satu metode pemeriksaan HBsAg ialah chemiluminescence microparticle immunoassay (CMIA), namun belum terdapat panduan batas sample/cut-off (S/CO) HBsAg yang perlu dilanjutkan pemeriksaan konfirmasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui S/CO HBsAg yang perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan konfirmasi pada metode CMIA, proporsi diskrepansi hasil HBsAg dengan HBsAg konfirmasi, serta profil klinis pasien dengan diskrepansi hasil. Penelitian dilakukan dengan desain potong lintang. Total sampel HBsAg ialah 19.645 sampel yang dilakukan pemeriksaan HBsAg Qualitative II® pada Abbott Architect i2000. Sampel dengan S/CO 0,90 – 100,00 sesudah sentrifugasi kecepatan tinggi yang dilanjutkan pemeriksaan HBsAg Qualitative II Confirmatory® ialah 132 sampel, dengan persentase diskrepansi hasil 22,7%. Sampel terdiri dari 102 sampel konfirmasi reaktif dan 30 sampel tidak terkonfirmasi. Nilai S/CO yang perlu dilanjutkan pemeriksaan konfirmasi ialah 0,98 (sensitivitas 100%, spesifisitas 3,3%) hingga 9,32 (sensitivitas 47,1%; spesifisitas 100%). Kurva ROC S/CO pemeriksaan HBsAg setelah sentrifugasi kecepatan tinggi memiliki luas area under the curve 83,3%. Profil klinis terbanyak pada pasien dengan diskrepansi hasil ialah hipertensi, diabetes melitus, penyakit ginjal kronik, dan pneumonia. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui kaitan diskrepansi hasil HBsAg dengan komorbiditas yang telah disebutkan.

Hepatitis B surface antigen (HBsAg) is a serological marker used in hepatitis B screening and diagnosis. Confirmatory HBsAg is an assay to distinguish weak reactive from false positive results. Chemiluminescence microparticle immunoassay (CMIA) is one of HBsAg assay method widely used, however at present no approved guideline for HBsAg sample/cut-off (S/CO) value which needs to be followed by confirmatory HBsAg. The aims of the study were to determine S/CO value of HBsAg assay using CMIA method which needs to be followed by confirmatory HBsAg, to know the discrepancy proportion between HBsAg and confirmatory HBsAg results, and to identify the clinical profile of patients with results discrepancies. Of total 19645 samples analyzed using HBsAg Qualitative II® in Architect i2000, 132 had S/CO between 0.90 – 100.00 after high speed centrifugation, thus followed by confirmatory HBsAg using HBsAg Qualitative II Confirmatory®. Proportion of the discrepancy was 22.7% (102 confirmed reactive samples and 30 not confirmed samples). The S/CO value of HBsAg samples needs to be followed by confirmatory HBsAg is 0.98 (100% sensitivity, 3.3% specificity) to 9.32 (47.1% sensitivity, 100% specificity). The ROC curve was made using HBsAg S/CO values after high speed centrifugation, with area under the curve of 83.3%. Most common clinical profile found in discrepancies were hypertension, diabetes mellitus, chronic kidney disease, and pneumonia. Further studies are needed to determine the association of HBsAg results discrepancy with the mentioned comorbidities."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Budiman Sudjatmika S.
"Latar Belakang dan Tujuan : Penelitian sebelumnya di Hepatologi RSCM menyatakan petanda serum infeksi VHB tidak sepenuhnya menggambarkan aktivitas intrahepatik karena tidak terdapat korelasi yang kuat antara cccDNA dan pgRNA dengan petanda infeksi serum VHB. Oleh sebab itu, diperlukan kelanjutan pemeriksaan petanda serum yang berkorelasi kuat dengan aktivitas virus intrahepatik, sehingga pemeriksaan HBsAg kuantitatif serum diharapkan dapat menjadi pemeriksaan alternatif yang mencerminkan aktifitas virus intrahepatik.
Metode Penelitian : Metode yang digunakan adalah retrospektif kohort dengan jumlah sampel yang diteliti sebanyak 26 sampel. Data pendukung lainnya merupakan data sekunder dari penelitian sebelumnya yang dilakukan di Divisi Hepatologi RSCM, Jakarta. Pemeriksaan jumlah partikel HBsAg intrahepatik dilakukan terhadap hasil biopsi sebelum dan sesudah terapi. Pengambilan data jumlah partikel HBsAg intrahepatik dimulai dari bulan November 2012 hingga November 2013.
Hasil Penelitian : Dari 26 pasien yang dilibatkan dalam studi ini; 17 pasien (67,4%) di antaranya adalah perempuan. Rerata usia adalah 40 + 11,4 tahun dengan rentang antara 23 sampai 70 tahun. Hasil terapi menunjukkan tidak ada penurunan jumlah partikel HBsAg intrahepatik. Namun, ada penurunan terhadap kadar HBsAg kuantitatif serum sesudah pemberian antivirus oral.
Kesimpulan : Tidak terdapat korelasi antara jumlah partikel HBsAg intrahepatik dan kadar HBsAg kuantitatif serum. Terapi nukleosida analog tidak dapat menurunkan jumlah partikel HBsAg Intrahepatik.

Background and Aims : Previous research on serum markers of HBV infection conducted at Hepatology Division of RSCM did not fully describe intrahepatic activities because there was no strong correlation of cccDNA and pgRNA with serum markers of HBV infection. Therefore, more research was necessary to prove whether there is a correlation between continuous examination of serum markers and intrahepatic viral activity, so that the examination of quantitative serum HBsAg can be scientifically established as an alternative examination that reflects the activity of intrahepatic virus.
Methods : This study applied retrospective cohort method using samples taken from as much as 26 patients. To support this study, secondary data were obtained from previous studies conducted at Hepatology Division of RSCM, Jakarta. Examination of the number of intrahepatic HBsAg particles was carried out on biopsy samples, before and after therapy. Data retrieval was conducted from November 2012 to November 2013.
Results : Of the 26 patients participating in this study, 17 (67,4%) were women. Their mean age was 40 + 11.4 years ranging from 23 to 70 years. The results of the therapy showed that there was no decrease in the number of intrahepatic HBsAg particles. However, there was a decline in the quantitative serum HBsAg level after the administration of oral antiviral medication.
Conclusion : There is no correlation between the number of intrahepatic HBsAg particles and quantitative serum HBsAg level. In other words, nucleoside analog therapy does not reduce the amount of intrahepatic HBsAg particles.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Diana
Jakarta: Fakultas Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1985
T58289
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Diana
Jakarta: Fakultas Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1985
T58289
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Riemawati A. Lesmana
"ABSTRAK
Untuk mengetahui keadaan lnfektivitas saliva pengidap virus hepatitis B (VHB) telah dilakukan penelitian dengan cara pemeriksaan serologis menggunakan metoda ELISA untuk mendeteksi adanya HBsAg dan HBeAg dalam saliva 97 pengidap VHB yang sebagian besar (73,2%) adalah laki-laki, selama kurun waktu 10 bulan (Agustus 1994 - Mei 1995).
Dari 97 pengidap VHB didapatkan 56 dengan HBsAg dan HBeAg positip (kelompok I) serta HBsAg positip dan HBeAg negatip pada 41 lainnya (Kelompok II).
Pemeriksaan saliva pada kelompok I memperlihatkan adanya HBsAg dan HBeAg positip pada 48 pengidap (85,75), HBsAg positip dan HBeAg negatlp pada 6 pengidap (10,7%), serta HBsAg dan HBeAg negatip pada 2 pengidap lainnya (3,6%).
Pemeriksaan saliva pada kelompok II memperlihatkan tidak ditemukannya HBsAg dan HBeAg positip (0%), HBsAg positip dan HBeAg negatip pada 31 pengidap (75,6%) serta HBsAg dan HBeAg negatip pada 10 lainnya (24.4%). Sebagai kesimpulan, sebagian besar pengidap VHB dengar daya tular tinggi (infekslus), juga mempunyai saliva yang Infeksius sehingga dapat merupakan sumber penularan dan penyebaran virus dalam perawatan di bidang Kedokteran Gigi.
Manfaat dari penelitian ini untuk memberikan Informasi kapada para dokter gigi tentang kecenderungan penularan virus hepatitis B melalui perawatan Kedokteran Gigi, sehingga seyogyanya dilakukan tindakan pencegahan secara optimum.

ABSTRACT
In order to know the Infectivity of saliva of hepatitis B virus (HBV) carriers, detection of HBsAg and HBeAg was carried out by serologic test using ELISA method in saliva of 97 VHB carriers who were 73,2% men, in ten-month period (August 1994 - May 1995).
Of 97 HBV carriers positive for both HBsAg and HBeAg in serum were found in 56 (Group I) and positive HBsAg and negative HBeAg In the other 41 (Group II). Examination of saliva of HBV carriers in group I showed positive HBsAg as well as HBeAg In 48 (85,7%), only positive for HBsAg in 6 (10,7%) and negative for both HBsAg and HBeAg in other 2 (3,6%) where as In group II positive for both HBsAg and HBeAg were not detected (0%), positive for HBsAg only in 31 (75,6%) and negative for both HBsAg and HBeAg In the remaining 10 (24,4%).
In conclusion, the majority of highly infectious hepatitis B carriers do also have infectious saliva which could be an Important source of Infection and transmission of the virus in the field of Dentistry.
The benefit of this study is giving information to Dentists about the possibility of the transmission of hepatitis B virus via the treatment of Dentistry, therefore the prevention of the transmission must be optimally taken."
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 1995
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Niode, Nurdjanah Jane
"Hepatitis B merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual, sehingga kelompok risiko tinggi seperti WPS rentan terhadap kemungkinan terinfeksi penyakit ini dan juga menularkannya kepada orang lain.
Di Sulawesi Utara belum ada penelitian tentang prevalensi hepatitis 8 di kalangan risiko tinggi termasuk WPS.Jumlah WPS di Bitung, Sulawesi Utara cukup tinggi, sehingga perlu diketahui seberapa besar masalah hepatitis B dan hubungannya dengan -pengetahuan, sikap, Berta perilaku mereka terhadap penya kit tersebut.
RUMUSAN MASALAH
a. Berapakah prevalensi kepositivan serologik HBsAg pada WPS di Bitung ?
b. Bagaimana pengetahuan, sikap, dan perilaku WPS di Bitung terhadap hepatitis B?
c. Apakah terdapat hubungan antara pengetahuan, sikap, dan perilaku terhadap hepatitis B pada WPS di Bitung dengan kepositivan serologik HBsAg?"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T21349
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Syukrini Bahri
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T58537
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ema Maratus Sholihah A.
"Latarbelakang: Tidak tercapainya target imunisasi Hepatitis B di Desa CerukcukKecamatan Tanara dan adanya orangtua yang menolak imunisasi maka penting untukmengetahui penyebab orangtua menolak imunisasi Hepatitis B. Penelitian ini bertujuanuntuk mengidentifikasi penyebab orangtua menolak imunisasi hepatitis B denganmemodivikasi determinan Vaccine Hesitancy dan Health Belief Model.
Metode: penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mewawancara ibudengan bayi usia 0-3 bulan yang menolak imunisasi Hepatitis B dan melakukanobservasi pada pelayanan imunisasi.
Hasil: perilaku orangtua yang menolak imunisasi hepatitis B disebabkan karenapengetahuan yang rendah tentang penyakit Hepatitis B dan imunisasinya, persepsiorangtua tentang hambatan melakukan imunisasi yang lebih besar dibandingmanfaatnya, besarnya peran dukun, pengaruh pengambilan keputusan oleh keluarga,masih adanya kepercayaan pada pengobatan tradisional, adanya pengalaman tidakmenyenangkan terkait imunisasi, sosial ekonomi yang rendah, peran tenaga kesehatanyang belum maksimal dalam pemberian informasi imunisasi, serta peran masyarakatyang kurang dalam mendukung iunisasi.
Kesimpulan: peningkatan pengetahuan orangtua tentang penyakit hepatitis B danimunisasinya perlu ditingkatkan didahului dengan pendekatan oleh tenaga kesehatanbekerjasama dengan dengan tokoh agama dan dukun melalui kegiatan-kegiatan nonkesehatan dan kunjungan rumah untuk komunikasi interpersonal dan edukasi imunisasi.

Background: Low coverage of Hepatitis B immunization in Rural Cerukcuk and theexistence of parents who refused immunization so it is important to know the cause ofthe parents refused immunization Hepatitis B. This study aims to identify the cause ofparents reject hepatitis B immunization by modifying the determinants of vaccinehesitancy and Health Belief Model.
Method: This study used qualitative methods by interviewing mothers with infants aged0 3 months who rejected hepatitis B immunization and observed immunization services.
Results: the behavior of parents who reject hepatitis B immunization is due to poorparental knowledge about Hepatitis B disease and its immunization, parental perceptionof immunization constraints greater than the benefits, the magnitude of the dukun 39 s role,the influence of family decision making, the belief in traditional medicine, discomfortrelated to immunization, low social economy, the role of health workers who have notbeen maximized in providing immunization information, as well as the role of peoplewho lack support in iunisasi.
Conclusions: Increased parental knowledge about hepatitis B disease and its immunizationneeds to be increased preceded by approaches by health workers incollaboration with religious leaders and traditional healers through non health activitiesand home visits for interpersonal communication and immunization education.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2018
T51385
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wulan Wasiatiningsih
"ABSTRAK
Virus hepatitis B merupakan jenis hepatitis yang paling banyak terjadi di Indonesia. Ibu hamil menjadi salah satu populasi yang berisiko mengalami VHB. Penularan VHB dapat terjadi ke janin atau bayi selama fase perinatal (saat hamil dan sesaat atau setelah persalinan), yang mengakibatkan terjadinya hepatitis akut dan kemungkinan menjadi VHB kronis carrier. Pada bayi yang lahir dari ibu yang memiliki HBsAg reaktif tanpa intervensi, memiliki risiko terinfeksi VHB secara perinatal sebesar 90%. Pemberian terapi imunoprofilaksis menjadi salah satu intervensi kontrol infeksi yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan MTCT VHB dari ibu ke janin atau bayi baru lahir. Pemberian ASI eksklusif pada juga berperan penting dengan melihat kandungan dari ASI itu sendiri, yang mengandung antibodi, faktor kekebalan, enzim, dan sel darah putih yang berperan dalam melindungi bayi dari berbagai penyakit dan infeksi. Karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk menganalisis intervensi keperawatan kontrol infeksi dan konseling laktasi untuk mencegah penularan infeksi MTCT VHB dalam kehamilan hepatitis B. Hasil evaluasi intervensi keperawatan yang telah dilakukan Ny. N didapatkan hasil bahwa masalah keperawatan risiko infeksi pada janin atau bayi baru lahir dapat teratasi dengan melakukan kontrol infeksi dan konseling laktasi dari fase antenatal, intranatal, sampai postnatal. Oleh karena hal tersebut, karya tulis ilmiah ini merekomendasikan perlu dilakukannya kelas edukasi prenatal pada ibu dengan kehamilan hepatitis B.

ABSTRACT
The hepatitis B virus is the most common type of hepatitis in Indonesia. Pregnant women are one of the populations at risk of developing HBV. HBV transmission can occur to the fetus or baby during the perinatal phase (during pregnancy and momentarily or after labor), which results in the occurrence of acute hepatitis and the possibility of becoming a chronic HBV carrier. Infants born from mothers who have HBsAg reactive without intervention have a perinatal risk of HBV infection by 90%. Giving immunoprophylaxis therapy is one of the infection control interventions that can be done to prevent the transmission of MTCT VHB from mother to fetus or newborn. The provision of exclusive breastfeeding also plays an important role by looking at the content of breast milk itself, which contains antibodies, immune factors, enzymes, and white blood cells that play a role in protecting babies from various diseases and infections. This scientific paper aims to analyze nursing control, infection control, intervention nursing and lactation counseling to prevent transmission of MTCT HBV infection in hepatitis B pregnancy. The results of evaluation of nursing interventions that have been done by Mrs. N found that nursing risk of infection risk in the fetus or newborn can be overcome by controlling infection and lactation counseling from the antenatal, intranatal, to postnatal phases. Because of this, the scientific paper recommends prenatal education classes for mothers with hepatitis B pregnancy."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2019
TA-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>