Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 121561 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Dandit Panggih Triharto
"Penggunaan material austenitik stainless steel 316L untuk asam asetat yang mengandung ion bromida pada pabrik terephthalic acid mengalami kebocoran yang disebabkan terjadinya korosi sumuran pada pipa. Untuk mengatasinya dilakukan penggantian dengan material yang lebih tahan korosi. Material yang dipilih adalah SUS 317L karena material ini memiliki kandungan molibdenum yang lebih tinggi. Studi ketahanan korosi sumuran SUS 317L harus dilakukan untuk dapat mengevaluasi efektivitas penggantian material dari SUS 316L menjadi SUS 317L. Studi alternatif material lain selain SUS 317L juga dilakukan dan material yang diujicobakan adalah material yang memiliki nilai pitting resistance number yang lebih besar dari SUS 317L yaitu SUS 329J dan hastelloy C-276. Hasil studi menunjukan SUS 317L masih akan mengalami korosi sumuran seperti halnya SUS 316L dalam lingkungan asam asetat yang mengandung ion bromida. SUS 329J tidak mengalami korosi sumuran sedangkan hastelloy C-276 memiliki ketahanan korosi sumuran yang paling baik. Lapisan pasif yang terbentuk pada Hastelloy C-276 stabil dan didapatkan logam ini tidak mengalami korosi pada lingkungan asam asetat yang mengandung ion bromida.

Utilization of austenitic stainless steel SUS 316L for acetic acid solution with bromide solution that have been applied for terephthalic acid plant was leakage due to pitting corrosion. To handle this problem replacement of SUS 316L with SUS 317L was conducted. Higher molybdenum content compare with SUS 316L, SUS 317L supposed to more resistant for pitting corrosion. To evaluate the effectiveness of replacement SUS 316L with SUS 317L, study of pitting corrosion for SUS 316L and SUS 317L have been conducted. Alternative material for SUS 316L replacement also have been conducted by higher pitting resistant number material compare with SUS 317L, SUS 329J, and hastelloy C-276 was selected. Result of this study shown that SUS 317L still object of pitting corrosion same as SUS 317L under acetic acid with bromide ion environment. SUS 329J had better pitting corosion resistance due to higher molibdenum content, pitting corrosion not happen for this material. Hastelloy C- 276 is the best for pitting corrosion resistant with higest molibdenum content, this material very superior compare with SUS 316L, SUS 317L ans SUS 329J."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
T27510
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Bambang Hari Suryawan
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2004
T39750
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zulnovri
"Carbon Steel API 5L Grade, SUS 316L Austenite Stainless Steel dan Titanium Grade 2 merupakan material yang umum digunakan dalam perancangan peralatan di industri kimia. Seperti halnya dengan plant untuk memproduksi paraquat dichloride material ini juga digunakan, akan tetapi material ini sering mengalami kerusakan diakibatkan karena terjadinya korosi merata dan pitting. Pengujian korosi menggunakan fluida yang mendekati umumnya proses yang dilakukan di plant paraquat dichloride. Pengujian dilakukan dengan variasi konsentrasi Paraquat dichloride dan air, dengan konsentrasi paraquat dichloride 5%, 10%, 15%, 20%, 25% dan 30% menggunakan metode uji polarisasi anodik cyclic.
Pengujian mendapatkan hasil bahwa terjadinya penurunan ketahanan pitting potensial (Epit) dan potensial proteksi (Eprot)ketika konsentrasi paraquat dichloride dinaikan atau pH diturunkan. Arus korosi (Icor) dan laju korosi mengalami kenaikan ketika konsentrasi paraquat dichloride dinaikan. Ketahanan korosi merata dan pitting serta laju korosi pada Titanium Grade 2 lebih baik dibandingkan dengan SUS 316L Austenite Stainless Steel.Carbon Steel API 5L Grade B memiliki laju korosi sangat besar sehingga tidak bisa digunakan sebagai material kontak dengan paraquat dichloride.

Carbon Steel API 5L Grade B, SUS 316L Austenite Stainless Steel and Titanium Grade 2 are common materials which used commercially for equipment design at chemicals industries. Production plant which produced paraquat dichloride also uses these materials, but these materials often get damage due to uniform and pitting corrosion. Corrosion testing uses fluid nearly with paraquat dichloride solution in paraquat dichloride manufacturer. The testing fluid consist of several condition which comparison between paraquat dichloride and water are 5%, 10%, 15%, 20%, 25% and 30% use polarization anodic cyclic testing method.
Result of testing method showed that there are decreasing of pitting potential resistivity (Epit), protected potential (Eprot) and increasing corrosion current (Icor) and corrosion rate when paraquat dichloride concentration are increased. uniform and pitting resistivity at Titanium Grade 2 better than SUS 316L Austenite Stainless Steel. Corrosion rate Titanium Grade 2 lower than SUS 316L Austenite Stainless Steel. Carbon Steel API 5L Grade B have corrosion rate very high, this material cannot use as contacted materials with paraquat dichloride.
"
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2011
T30421
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Erwin Ermawan
"SUS 316L dan 317L Austenite Stainless Steel merupakan material yang umum digunakan secara komersial baik untuk peralatan statik seperti perpipaan, tangki, maupun untuk peralatan rotating khususnya di pabrik Crude Terepthalic Acid (CTA) (1). Material ini sering mengalami kerusakan diakibatkan karena terjadinya pitting korosi. Pengujian korosi menggunakan larutan yang mendekati dengan mother liquor CTA plant. Dari pengujian larutan 70% CH3COOH 30% H2O 100 ppm/ 600 ppm/ 1200 ppm NaBr pada beberapa kondisi temperature 30°C, 60°C dan 90°C menggunakan 2 metode uji yaitu immersed solution dan polarisasi anodik cyclic.
Pengujian mendapatkan hasil bahwa terjadi penurunan ketahanan pitting potensial (Epit) ketika temperatur dan konsentrasi ion Br- dinaikkan dan terjadi peningkatan corrosion rate, density korosi pitting serta luasan diameter pitting ketika temperatur dan konsentrasi ion Br- dinaikkan, corrosion rate pada temperatur 30°C dan 60°C tidak memiliki perbedaan yang signifikan baik pada material SUS 316L dan SUS 317L tetapi pada temperatur pada temperatur 90°C terjadi peningkatan corrosion rate yang sangat signifikan sekali. Hal ini disebabkan karena telah terjadinya kerusakan lapisan pasif film yang cukup besar sehingga mengakibatkan laju pitting korosi menjadi tinggi, serta temperatur dan konsentrasi Bromide yang sama, ketahanan pitting material SUS 317L sedikit lebih baik dibandingkan SUS 316L."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2007
T21145
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Taumy Alif Firman
"Permasalahan korosi dalam bidang minyak dan gas, menjadi salah satu perhatian serius. Proses penanganan korosi ini dilakukan dengan dua klasifikasi metode yaitu secara fisika dan kimia. Pada penelitian ini dilakukan penanganan korosi secara kimia menggunakan 2-mercaptobenzothiazole (MBT) sebagai inhibitor korosi pada tembaga. Pengamatan dilakukan menggunakan metode berat hilang dan polarisasi ekstrapolasi Tafel dalam larutan yang mengandung ion klorida (HCl dan brine). Karakteristik film yang terbentuk diamati menggunakan spektrofotometer ATR-IR dan spektrofotometer UV Vis. Studi morfologi hasil menggunakan SEM.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terbentuknya film Cu(II)-2-mercaptobenzothiazole pada permukaan tembaga melalui mekanisme adsorpsi isotermal Langmuir. Peningkatan konsentrasi MBT akan meningkatkan % inhibisi pada tembaga dari proses korosi, sedangkan peningkatan temperatur akan menurunkan % inhibisi korosi pada tembaga dikonsentrasi yang sama. Aplikasi penggunaan MBT dengan konsentrasi minimal 25 ppm pada temperatur 70 oC dengan waktu kontak 72 jam memberikan % inhibisi diatas 90,00 % pada brine sintetis.

Corrosion problems in oil and gas fields are very serious concern. Corrosion treatment process is used by two methods, physical and chemical. In this research, the corrosion treatment by chemical method with 2-mercaptobenzothiazole (MBT) as a corrosion inhibitor in copper. This research used weight loss method and polarization with extrapolation Tafel in solution which chloride ion contains (HCl and brine). Characteristic of film layer using ATR-IR spectrophotometer and UV Vis spectrophotometer. Surface morphological study was observed on SEM.
The results showed that formed Cu(II)-2-mercaptobenzothiazole on copper surface through the Langmuir isothermal adsorption mechanism. Increasing of concentration MBT will improve the % inhibition of copper from the corrosion process, whereas an increase in temperature will decrease the % corrosion inhibition of copper in the same concentration. The application of MBT in the minimal concentration 25 ppm at 70 °C in 72 hours contact times gave % inhibition value more than 90.00 % in synthetic brine.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2014
T42369
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fadhli
"Korosi merupakan kegagalan yang sering terjadi pada industri minyak dan gas bumi Menghambat terjadinya korosi dengan mengisolir logam dari lingkungan terkorosi pada industri minyak dan gas bumi merupakan salah satu cara efektif untuk menghindari terjadi kegagalan korosi. Penggunaan inhibitor alami menjadi pihan utama belakang ini karena aman murah dan yang terpenting bahan tersebut biodegradable dan tidak berbahaya bagi lingkungan. Penelitian ini dilakukan untuk melihat efek dari penambahan teh rosella merah terhadap inhibitor ubi ungu yang memang dapat digunakan menjadi inhibitor pada baja API 5L pada lingkungan NaCl 3 5.
Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan metode kehilangan berat dan polarisasi untuk melihat laju korosi yang terjadi pada logam lalu dilengkapi dengan data tambahan yaitu pengujian Electrochemical Impedance Spectroscopy untuk melihat tahan permukaan yang berbubah pada penelitian tersebut.
Pengujian Fourier Transform Infra Red juga dilakukan untuk melihat kandungan yang menginhibisi dari ubi ungu ataupun campuran ubi ungu dan teh rosella merah Pemilihan teh rosella merah dan ubi ungu berdasarkan kandungan antocyanin dan asam askorbat yang dimiliki kedua bahan tersebut Kandungan tersebut bersifat anti oksidan yang berarti dapat menghambat terjadi proses oksidasi yang berarti juga dapat mencegah korosi. Kandungan anti oksidan tersebut bekerja dengan cara adsoprsi pada permukaan logam membentuk lapisan tipis untuk mencegah kontak antara permukaan logam dengan lingkungan korosif. Salah satu faktor pembentukan lapisan tipis pada permukaan adalah konsentrasi kandungan tersebut sehingga pengaruh konsentrasi dijadikan acuan pada penelitian ini. Penelitian ini akan dibandingkan dengan inhibitor ubi ungu yang hanya dicampur dengan kandungan asam askorbat saja.

Corrosion is major cause failure in oil ad gas industry Isolate the metal from corrosion of materials is the most effective way to prevent corrosion for this industry. Nowadays the use of green corrosion inhibitor become a new alternative to achieve that goal it happen because the green inhibitor is safe cheap biodegradable and especially environmental friendly.
This study was conducted to study the effect of addition rosella red tea in purple sweet potato inhibitor which is can be use as inhibitor at API 5L in NaCl 3 5 solution. This study use weight loss and polarization method to see that effect and Electrochemical Impedance Spectroscopy test to prove alteration surface resistance when we add the inhibitor.
Fourier Transform Infra Red test also perform in this study to see which one the chemical substance in purple sweet potato and mixture rosella red tea and purple sweet potato can inhibit corrosion. Purple sweet potato and rosella red tea are selected as corrosion inhibitor in this study because they contain antocyanin and ascorbid acid. They are antioxidant compound which is can inhibit oxidation process it means they can prevent corrosion process. That substance inhibit metal by forming layer and isolate metal surface On the important factor to forming thin layer is concentration of the substance so the concentration substance become variable in this study. In the end this study will compared with the addition ascorbid acid in purple sweet potato
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
S53371
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Alia Badra Pitaloka
"Fiber Reinforced Plastic (FRP) sudah banyak digunakan di berbagai bidang, seperti konstruksi bangunan, industri perkapalan, dan berbagai saluran pipa (pipeline). Penggunaan FRP sebagai bahan konstruksi di industri seperti tangki penyimpan, pipa, dan lain-lain sudah mulai berkembang. Sebagai bahan yang lebih tahan korosif dibandingkan dengan logam, maka FRP berpotensi untuk dipakai sebagai bahan konstruksi tangki penampung zat-zat kimia korosif, seperti asam nitrat dan hidrogen peroksida, yang pada saat ini masih banyak menggunakan logam.
Dalam penelitian ini dilakukan pengamatan terhadap korosi glass fiber-reinforced unsaturated polyester resin jenis orto (UPR-fiber glass) dengan gelcoat di dalam larutan asam nitrat (HNO3) 40%, 50%, dan 60% dan hidrogen peroksida (H2O2) 10%, 20%, dan 30%. Perendaman dilakukan pada suhu 50°C. Setelah spesimen direndam di dalam larutan selama waktu tertentu, dilakukan analisis terhadap larutan dan spesimen yang tersisa.
U PR-fiber glass yang telah direndam di dalam larutan asam nitrat dan hidrogen Feroksida mengalami penurunan sifat mekanik, yang meliputi kekerasan (Barcol), flexural strength, dan flexural modulus. Pada awal perendaman terjadi penambahan berat spesimen sampai waktu tertentu dan kemudian mengalami penurunan. Selain itu larutan perendam juga mengalami penurunan konsentrasi. Secara visual, UPR fiber glass mengalami perubahan warna. Di dalam larutan HNO3, sisi UPR-fiber glass dengan gelcoat berubah warna dari biru menjadi hijau muda, sementara sisi U PR-fiber glass tanpa gelcoat berubah dari Bening menjadi kuning. Di dalam larutan H2O2, sisi gelcoat mengalami perubahan warna dari biru menjadi biru muda sampai putih kebiruan sementara pada sisi UPR-fiber glass tanpa gelcoat terlihat garis-garis putih yang tak lain adalah serat galas. Dengan menggunakan SEM, dapat dilihat kerusakan struktur fisik spesimen yang telah direndam di dalam larutan HNO3 dan H2O2.
Dengan menggunakan FT-IR, dapat diperkirakan reaksi yang terjadi pada UPR-fiber glass di dalam HNO3 adalah reaksi hidrolisis gugus ester menjadi karboksitat dan alkohol, reaksi oksidasi gugus alkohol menjadi asam karboksitat dan keton, dan reaksi pembentukan alkil nitrat. Sementara pada UPR-fiber glass di dalam H2O2 dapat diperkirakan terjadi reaksi oksidasi alkohol yang menghasilkan senyawa karboksilat, aldehid dan keton.

Fiber Reinforced Plastics (FRP) has been used in a wide range of applications such as building construction, shipbuilding industries, and various pipelines. The using of FRP as a construction material in industries, such as storage and pipes, has been developing. FRP as a material which has more corrosive resistant than metal, has a potential usage in industrial application, especially in the implementation of FRP for nitric acid and hydrogen peroxide environment.
This research is to observe corrosion behavior of glass fiber-reinforced orthophthalic unsaturated polyester resin with gel coat in nitric acid (HNO3) and hydrogen peroxide (H202). The concentration of HNO3 and H2O2 are [40%, 50%, and 60%] and [10%, 20%, and 30%], respectively, the immersion temperature was 50°C. After the specimens are immersed in the solution for a certain length of time, the analysis of the remaining solution and the specimen was performed.
UPR-fiber glass which has been immersed in the nitric acid and hydrogen peroxide solutions underwent a decrease of mechanical properties. These mechanical properties consist of hardness (Barcol), flexural strength, and flexural modulus. On the beginning of the immersion, the weight specimen was gained for a certain time, and then gradually decreased. The immersion solution concentration was decrease as well. By visual observation, the color of UPR was changed. in nitric acid solution, the side of UPR with gel coat turned from blue into light green. In the same condition, the part of UPR without gel coat changed from colorless into yellow. In hydrogen peroxide solution, the side of UPR with gel coat turned from blue into light blue, and finally into bluish white. While at the other side, the fiberglass in a form of white lines was also seen. Through SEM observation, the deterioration of the specimen's physical structure after immersion in a certain time into the solution can be seen.
From infrared spectra (FTIR), it is expected that the reactions occurred to UPR in the nitric acid solution were a hydrolysis reaction of ester groups into carboxylic and alcohol, oxidation reaction of alcohol group into carboxylic acid and ketone, and the forming of nitric alkyl. Regarding the UPR in a hydrogen peroxide, it is predicted that an oxidation reaction of alcohol resulting in carboxylic, aldehyde, and ketone groups, occurred.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2003
T14716
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
William Riswanto
"Semua material berbahan dasar logam dapat mengalami degradasi material dan degradasi material memiliki banyak jenis, salah satunya korosi yang berbentuk sumuran. Studi pengaruh posisi penempatan coupon test terhadap pembentukkan korosi sumuran pada UNS 30400, UNS 20100, dan AISI 1015 dilakukan dengan menggunakan reaktor mekanik dalam media NaCl 3,5% teraerasi dengan posisi kupon arah jam 12, jam 9 dan jam 6 jika direpresentasikan pada jaringan pipa. Pengaruh laju aliran terhadap pembentukkan korosi sumuran telah banyak diteliti, dimana didapat bahwa korosi sumuran dapat tumbuh pada jenis aliran laminar maupun aliran turbulen. Serta memiliki kecepatan alir kritis untuk pertumbuhan korosi sumuran dengan kecepatan 1,5 m/s. Bentuk-bentuk korosi yang terjadi dianalisa dengan menggunakan mikroskop optik dan menggunakan metode pengurangan berat. Dari karakterisasi ini diperoleh bahwa posisi penempatan kupon dan laju alir mempengaruhi bentuk korosi sumuran yang terjadi, sehingga hasil dapat merepresentasikan bagian dalam pipa yang paling berbahaya jika terjadi korosi sumuran.

Degradation occur in every metal based material, one of the degradation is pitting corrosion. Influence of coupon test position with formation of pitting corrosion at UNS 30400, UNS 20100, and AISI 1015 done by mechanics reactor in aerated 3,5% sodium chloride represented an internal pipeline position with 6 o’clock, 9 o’clock, and 12 o’clock position. There are many researchs about influence of fluid flow to pitting corrosion formation, it shows that pitting corrosion happened in every flow regime either in laminar flow or turbulent and has a critical velocity for stable pit growth is 1,5 m/s. In this research, form of pitting corosion examine by optical microscope and weight loss method. From this characterization informed that position of coupon test and fluid flow influence the pit form, so this result can represent the most severe position for pitting corrosion inside the pipe."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
S44262
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andi Rustandi
"Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengkaji besaran laju korosi baja karbon yang digunakan sebagai pipa penyalur bagian hulu mapun hilir pada produksi gas alam yang mengandung CO2. Beberapa parameter yang mewakili kondisi aktual di dalam praktek seperti tekanan parsial CO2 beserta komposisi larutan, khususnya kadar NaCl ditunjukkan pengaruhnya. Pengujian dilakukan dengan metoda polarisasi dan simulasi dengan menggunakan perangkat lunak PREDICTTM. Hasil penelitian menggambarkan laju korosi baja karbon yang biasa digunakan sebagai pipa penyalur gas alam yaitu jenis API 5L X-52 sebagai pengaruh dari gas CO2 yang terlarut. Berdasarkan hasil pengujian, diperoleh besaran laju korosi baja di dalam lingkungan yang mengandung CO2 tersebut berkisar antara 15-28 mils per tahun (mpy). Laju korosi baja yang diperoleh ini merupakan nilai yang relatif tinggi sehingga dapat menimbulkan kerusakan yang signifikan terhadap pipa penyalur gas pada bagian hulu maupun hilir. Hasil penelitian merupakan langkah awal terhadap upaya pencegahan terjadinya kebocoran pada pipa penyalur akibat korosi oleh gas CO2 agar umur pakai yang telah dirancang dapat dicapai.

The purpose of this research is to investigate the corrosion rate of carbon steel as flowline and pipeline in natural gas production with CO2 content. The influence of variety of conditions that represent the actual conditions in practice such as CO2 partial pressure and solution composition, particularly NaCl percentage were performed. Research conducted by polarization test and simulation methods using PREDICT TMsoftware. The result of this research is used to illustrate the level of corrosion rate of typical carbon steel i.e. API 5L X-52 occurred in natural gas pipelines due to the effect of dissolved CO2 . From the experiments obtained that corrosion rate of steel in environments containing CO2 ranged between 15-28 mpy. This high corrosion rate observed could severely damage natural gas transmission flowline and pipeline. The result of this research is the first step, as an input for prevention efforts, to prevent leakage of flowline and pipeline due to corrosion of CO2 which appropriate with the lifetime that has been designed."
Depok: Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia, 2012
AJ-Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Sarmin
"Tesis ini mempelajari mengenai pengaruh injeksi ekstrak daun kenikir sebagai green corrosion inhibitor pada baja karbon dalam larutan 0.5M H2SO4. Dengan pengujian weight loss diperlihatkan bahwa inhibitor ekstrak daun kenikir mampu menurunkan laju korosi dengan efisiensi 71.66 % pada konsentrasi inhibitor sebesar 4000 ppm.
Dari pengujian polarisasi ditunjukkan bahwa inhibitor ekstrak daun kenikir menggeser kurva polarisasi kearah atodik dan katodik (mixed type inhibitor), yang menunjukkan ciri utama sebagai inhibitor dari bahan organik. Pengujian dengan FTIR dan EDX memperkuat dugaan bahwa inhibitor ekstrak daun kenikir sebagai inhibitor adsorpsi / film forming.

This thesis is intended to study the influences of cosmos leaf extract injection as corrosion inhibitor for carbon steel in 0.5M H2SO4. By weight loss analysis, it show that inhibitor from cosmos leaf extract can reduce corrosion rate with efficiency up to 71.66 % under inhibitor injection about 4000 ppm.
With polarization, it is shown that inhibitor shift polarisation curves for both of anodic and cathodic polarisation (mixed type inhibitor), shows that inhibitor have characteristic as inhibitor from organic material. FTIR and EDX analysis can be concluded that inhibitor from cosmos leaf extract act inhibition by adsorption/film forming corrosion inhibitor.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
T30210
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>