Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2358 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Bell, R.P.
Ithaca, New York: Cornell University, 1959
541.39 BEL p
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Komaruddin
"Kita membandingkan dua bentuk propagator yang berbeda yaitu bentuk propagator yang disederhanakan dan bentuk propagator yang lengkap dari resonans nukleon spin-3/2 dan spin-5/2 dengan menggunakan model isobar dan pendekatan Lagranggian efektif pada fotoproduksi eta-meson pada proton γ + N -> η + N. Kita menghitung amplitude transisi dengan memasukkan suku Born, suku vektor-meson, dan resonans nukleon ( N1(1520)D13, N2(1535)S11, N3(1650)S11, N4(1675)D15, N5(1680)F15, N6(1700)D13, N7(1710)P11, dan N8(1720)P13 ). Parameter konstanta kopling diperoleh berdasarkan hasil perhitungan dari formula yang telah ditetapkan dengan data input berdasarkan data partikel.

We compare two different propagator forms that are simple and complete propagators of spin-3/2 and spin-5/2 nucleon resonances by using isobar models and effective Lagrangian approach for eta-meson photoproduction on the proton γ + N -> η + N. We calculate the transition amplitudes by including Born term, vector-meson term, and nucleon resonances ( N1(1520)D13, N2(1535)S11, N3(1650)S11, N4(1675)D15, N5(1680)F15, N6(1700)D13, N7(1710)P11, and N8(1720)P13 ). The coupling constant parameters are obtained based on the calculation results based on the particle data group."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Y.W. Wempi Hapan
"ABSTRACT
The combination of the coupled mode and normal mode theories has been used to formulaic the theoretical performance represented by the coupling length and crosstalk parameters of the X-cut APE-LN SDC fabricated using the benzoic acid as the proton source, where in this case the matrix effective refractive index (MERI) method is applied for solving the symmetric and antisymmetric propagation constants of the normal modes propagating in this device. The corresponding near field method has been used to experimentally determine its crosstalk.
The actual performance of this device is characterized by comparing the theoretically calculated with the experimentally determined crosstalk parameters. A software computer program has been developed in order to numerically characterize the entire characteristic and performance of the SDC under study.
For the SDC under study, the best crosstalk obtained at the operating wavelength lamda =1.3 micrometer is ~0.21 dB for the interaction length L = 6 mm and the gap separation g = 5 mm. Its coupling length is ~ 1.33 mm. The propagation constant of the corresponding individual single-mode X-cut APE-LN channel waveguide making up this SDC is beta = 10.37901 micrometer, and thereby its effective refractive index is N cπ= 2.14743330.
It has been shown that the fabricated SDC is very lossy. It has been deduced that its bad performance predominantly caused by the side diffusion effect, corresponding to the fabrication problem, where in this case the substrate sample has been not coated first with the buffer layer when the deposition of substrate sample with the aluminum mask was to be performed in the fabrication stages.
Moreover, in this case only the simple annealing has been performed. The successive annealing process in order to reduce the coupling loss has been not applied yet. Under the assumption that the fabrication tolerances are such that the practical devices with coupling loss below 0.25 dB are feasible, the fabricated SDC under study is a 3 dB coupler. "
1996
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Scudder, Paul H.
New York: John Wiley & Sons, 1992
547.1 SCU e
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Yolandita Ayu Lestari
"Radioterapi adalah suatu modalitas penanganan kanker dengan memanfaatkan radiasi pengion. Teknik radiasi yang saat ini menjadi perhatian adalah radiasi partikel, salah satunya adalah proton. Proton memiliki karakteristik puncak bragg (Bragg peak) yang mendepositkan energinya pada jangkauan kedalaman tertentu. Salah satu teknik penyinaran radioterapi adalah Intensity Modulated Proton Therapy (IMPT). IMPT memiliki beam spot yang berukuran sangat kecil, sehingga memungkinkan distribusi dosis lebih konformal terhadap target. Organ paru-paru memiliki pergerakan yang membuat tantangan dalam pengerjaanya. Untuk mengurangi pengaruh pergerakan digunakan teknik 4D Computed Tomography (4DCT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektivitas pengobatan kanker di paru-paru pada teknik radioterapi proton yang dibandingkan dengan radiasi foton sebagai acuan dasarnya. Selain itu, studi ini juga bertujuan untuk mengetahui besar perbedaan tingkat efektivitas perencanaan antara 3D CT dan 4D CT. Tingkat efektivitas perencanaan berdasarkan tiga parameter. Parameter tersebut yaitu Conformity Index (CI), Homogeneity Index (HI), dan Gradient Index (GI). Terdapat perbedaan yang cukup signifikan dari hasil perencanaan di kedua fantom tersebut. Untuk nilai CI dan HI nilai terbaik dapat dicapai pada fase ekspirasi. Namun untuk GI nilai terbaik dapat dicapai pada fase 0%. Dosis pada spinal cord setiap perencanaan, tidak memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Kami menemukan pada paru-paru dengan teknik IMRT di fantom diam memiliki dosis melebihi ambang batas yang ditetapkan.

The Intensity Modulated Proton Therapy (IMPT) technique is the most advanced technique in proton beam therapy. This is because IMPT can produce a dose distribution that is more appropriate to the target with a minimum dose in healthy organs. The use of radiotherapy for lung cancer cases has considerable challenges. This is due to the uncertainty of the range and movement of organs, which allows errors in planning to occur. 4 Dimension Computed Tomography (4DCT) is a technique that can provide temporal information on changes in healthy tissues and organs. Each phase generated from 4DCT, can provide information about the location, density, and volume of the target tissue and surrounding healthy organs. The use of all 4DCT planning phases in clinical practice has a very large workload, so one solution is to use only two extreme phases. This research was conducted by comparing the 10 planning phases using the IMPT technique. It aims to find out at what phase the best level of effectiveness is produced, based on the research data obtained. Evaluation was carried out based on the parameters of Conformity Index (CI), Gradient Index (GI), and Conformity Index (CI). The results of this study indicate that in the three parameters the best values ​​are in the two extreme phases. In the SFO and MFO techniques, the best CI value is in the 0% phase, while the HI value in the SFO technique is in the 50% phase and the MFO is in the 90% phase. In addition, for the GI value in both techniques, it is best to be in the 0% phase. "
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Suprapto Soemardan
"Rhodium yang disanggah α-A1203 telah diteliti melalui proses reformasi CH4/CO2 pada temperatur tinggi (1250-1325 °K) dan di atas tekanan atmosfer (3-7 atm). Secara termodinamika pada temperatur 1285 K, pembentukan karbon terjadi pada CO2/CH4 <60/40. Aktifitas katalis (0.3%berat) Rhla-A1203 didaparkan sangat baik dan katalis menunjukkan kestabilan selama eksperimen (18 hari) serta tidak menunjukkan adanya tanda-tanda deaktivasi. Umumnya konversi metana dan CO2 meningkat dengan kenaikan temperatur, tekanan dan W/FCH4O. Peningkatan kandungan CO2 sampai CO2/CH4=80/20 ternyata juga dapat menaikkan konversi metana. Penambahan sedikit air (H2O/CH4=5%) dapat menaikkan konversi metana dan CO2. Namun penambahan air selanjutnya menurunkan konversi CO2. Perbandingan reaktan CO2/CH4=70/30 menghasilkan perbandingan gas sintesis H2/CO sekitar 0.80. Perbandingan Hz/CO dapat dinaikkan dengan penambahan H2O. Persamaan laju reaksi diperoleh berdasarkan skema mekanisme Langmuir-Hinshelwood dengan menganggap reaksi permukaan fase teradsorp CH4* dan CO2* sebagai rate limiting step. Pengujian terhadap persamaan laju hanya didasarkan atas data eksperimen variasi tekanan parsial CO2 pada tekanan parsial CH4 konstan pada 1285 K dan 4 atm. Plot antara laju reaksi eksperimen dan laju reaksi perhitungan terhadap tekanan parsial CO2 menunjukkan kurva yang sangat dekat."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1995
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Amril Thaib M.
"ABSTRAK
Pada mulanya, pembuatan katalis dengan metode amoniak oleh IRC dirancang untuk Ni/SiO2. Dengan metode yang sama dalam penelitian ini dilakukan preparasi katalis Co, Ni, Ni-Cu, Co-Cu dan Ni-Co serta Ni-Co-Cu/Al2O3 yang akan diuji pada proses oksidasi parsial metana menjadi gas sintesis CO, H2.
Kobalt, nikel, Ni-Co dan Ni-Cu dikarakterisasi dengan metode-metode Ekstraksi Magnetik dan TEM yang dilengkapi dengan pengukuran sinar-X serta infra-merah. Dan pengukuran sifat-sifat magnetik, diperoleh morfologi katalis (ukuran partikel, tingkat reduksi). Kinerja adsorpsi CO-katalis yang diamati dengan alas infra-merah, memberikan informasi adanya spesies atau gugus karbonil dan karbonat sekaligus memberikan data mengenai fenomena reduksi dan perihal paduan logam prekursor katalis bimetalik.
Pengaruh waktu kontak antara alumina dengan larutan logam kobalt-heksamin dan frekuensi pencucian prekursor dijadikan bahan pengamatan. Pada waktu kontak 10 merit dan prekursor tidak dicuci diperoleh remanensi magnetik berharga nol (2Mr/Ms = 0) yang memberikan indikasi bahwa dispersi partikel kobalt sangat baik. Akan tetapi jika prekursor dicuci, kandungan partikel Co yang tertanam pada alumina naik, namun demikian selaras dengan peristiwa tersebut diameter rata-rata permukaan partikel katalis juga naik, suatu hal yang tidak dikehendaki. Dengan metode amoniak sukar menaikkan kandungan logam Co pada penyangga, meskipun telah dilakukan teknik pengenceran dan perlakuan khusus terhadap Al2O3 namun dengan teknik tersebut berhasil diperoleh 4-6,6 % berat Co/Al2O3.
Lain halnya dengan preparasi katalis Ni/Al2O3, untuk waktu kontak antara larutan nikel heksamin dengan penyangga Al2O3 selama 96 jam; diperoleh - kandungan Ni sebesar 21,94 % pada penyangga. Dengan metode amoniak ini terlihat bahwa logam Ni lebih mudah diperkaya kandungannya dari pada Co. Jika Co dipadu dengan Ni untuk perbandingan 1/1, diperoleh komposisi akhir katalis sebesar 14,2215,74 % atau 2,48:1
Co-Ni/Al2O3, hasil ini memberikan indikasi bahwa jika Co berkompetisi dengan Ni, maka hasilnya adalah Co lebih mudah tertanam pada alumina.
Untuk sari karakterisasi dan uji aktifitas katalis nikel digunakan 2 jenis alumina, yakni: γ-Al2O3dan Degussa (100 m²/g) dan γ-alumina produksi Rhone-Poulenc (312 m²/g). Dan hasil uji aktivitas, katalis nikel memperlihatkan kinerja sangat baik, dihasilkan perolehan (yield) CO dan H2 mendekati 100 %.
Katalis Ni-Co-Cu/Al2O3 juga dibuat dengan metode amoniak, perbandingan berat antara nikel-nitrat/kobalt-nitrat/tembaga-nitrat/alumina = 1/1/1/0,67. Dengan waktu kontak antara larutan campuran ketiga logam tersebut dengan Al203 selama 15 menit, maka diperoleh berat prekursor katalis sebesar 13,3 gram. Katalis ini belum pernah diuji termasuk sari katalis Ni-Co, Co-Cu dan Ni-Cu/Al2O3.
Pembuatan sari katalis Co, Ni dan paduannya dengan metode amoniak telah diperoleh hasil yang baik, partikel logam tertanam dengan sempurna pada penyangga; dispersi partikel dan uji aktifitas pada suhu tinggi untuk proses oksidasi parsial atau reformasi CO2 metana menjadi gas sintesis memberikan hasil yang memuaskan."
1995
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Thomas Suhartanto
"Reaksi reformasi metana dengan karbondioksida (CO2 reforming) untuk menghasilkan gas sintesis (campuran gas CO dan H2) belum dimanfaatkan pada skala industri. Pada beberapa aplikasi, reaksi ini lebih unggul dibandingkan reaksi reformasi dengan kukus (steam reforming) untuk menghasilkan gas sintesis.
Riset dan pengembangan pada saat ini terutama dititikberatkan pada pengembangan katalis dan reaktor untuk reaksi reformasi CO2 yang diaplikasikan sebagai reaksi termokimia untuk konversi dan transmisi energi matahari menjadi energi panas, pembuatan gas sintesis untuk sintesa metanol dan pemanfantan gas alam yang mengandung CO2.
Pada penelitian ini, dilakukan pengujian katalis bermuatan logam M dari golongan VIIB dengan penyangga γ-Al2O3. Katalis dipersiapkan dengan metoda impregnation to incipient wetness, dengan muatan 1, 2 dan 3 % mol M/Al, dan dengan metoda impregnasi pelet. Sebagai pembanding, diuji katalis bermuatan 0,5 % mol Rh/Al.
Pengujian katalis dilakukan menggunakan reaktor unggun tetap pada suhu 600 - 850 °C dan tekanan 1 atm. Katalis berbentuk butiran berukuran 150 - 250 μm. Sebagai umpan digunakan campuran gas CH4 dan CO2 dengan perbandingan 1 : 1,1 pada laju alir 200 ml/min STP.
Hasil terbaik diberikan katalis 2 % mol M/γ-Al2O3 dimana konversi, selektivitas, yield, perbandingan CO/H2 dan parameter kinetika reaksinya lebih baik dari katalis bermuatan M lainnya.
Energi aktivasi rata-rata katalis bermuatan logam M yang diuji adalah 131 kJ/mol. Ada kemungkinan pembentukan deposit karbon pada suhu rendah."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1995
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Logan, S.R.
England: Longman, 1996
541.394 LOG f
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Espenson, James H.
New York: McGraw-Hill, 1995
541.394 ESP c
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>