Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 4723 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Jakarta: Depkes , 2006
616.995 IND p
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta: Departemen Kesehatan RI, 2005
616.995 IND p
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta: Departemen Kesehatan, 2000
616.995 IND pe
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Sarjita
"Buku Lalara Tuberkolose adalah buku yang disusun oleh kantor besar untuk kesehatan rakyat. Buku ini membahas tentang penyakit Tuberkulose (TBC) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa oleh Sarjita. Pembahasan diawali dari cara penularan penyakit (TBC) dan diakhiri dengan anjuran agar pasien penyakit TBC dirawat di sanatorium, karena di tempat perawatan ini ada dokter yang memeriksa dan mengobati pasien."
Weltevreden: Bale Pustaka, 1921
BKL.0374-LL 31
Buku Klasik  Universitas Indonesia Library
cover
Tjandra Yoga Aditama
Jakarta: UI-Press, 2008
PGB 0286
UI - Pidato  Universitas Indonesia Library
cover
Nurma Hidayati
"Diagnosa dini TB dan memulai pengobatan secepat mungkin merupakan hal yang sangat esensial dalam program pemberantasan TB, dimana hal ini sangat tergantung dari upaya temuan kasus (case finding). Keterlambatan diagnosis dapat menyebabkan keterlambatan pengobatan sehingga memperburuk penyakit, meningkatkan risiko kematian dan memperpanjang transmisi infeksi di komunitas. Program pemberantasan TB yang baik akan meminimalkan keterlambatan diagnosis dan meningkatkan kepatuhan berobat pasien. Informasi dasar tentang besarnya masalah dan faktor risiko terjadinya keterlambatan diagnosis dan pengobatan TB paru akan sangat berguna untuk mengestimasi dampak strategi DOTS dimasa datang dan juga untuk mengembangkan strategi yang sesuai untuk mengurangi keterlambatan diagnosa TB para.
Berdasarkan hal tersebut di atas maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui waktu terjadinya keterlambatan diagnosis TB dan faktor risiko yang berhubungan dengan keterlambatan diagnosis pada tingkat penderita (patient delay) dan pada tingkat sistem kesehatan (health system delay) serta keterlambatan total (total delay).
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Ciracas Jakarta Timur dengan menggunakan metode potong lintang (cross sectional) dengan jumlah sampel 162 orang. Subyek penelitian adalah seseorang yang didiagnosa menderita TB para dari bulan Juli 2002 sampai dengan bulan Juni tahun 2003 baik dalam status masih aktif, sudah sembuh maupun yang putus berobat berusia < l5 tahun.
Hasil penelitian menunjukkan waktu keterlambatan pasien (median) 2 minggu, pelayanan kesehatan 1 minggu dan keterlambatan total 6,05 minggu. Hasil analisis multivariat menunjukkan faktor risiko yang berhubungan dengan keterlambatan pasien mencari pengobatan < 4 minggu adalah faktor umur > 33 tahun (OR 2.44; 95% CI 1.02-5.83), gejala pertama batuk (OR 5.12; 95% CI 1.68-15.6), persepsi gejala serius (OR 2.57; 95% CI 1.206 - 5.48), jarak tempuh > 30 menit berkendaraan (OR 3.17; 95% CI 1.34-7.52), dan status perkawinan belum menikah (OR 7.03; 95% Cl 1.61-30.54).
Faktor risiko yang berhubungan dengan keterlambatan pelayanan kesehatan > 1 minggu adalah UPK I yang dikunjungi milik swasta (OR 2.41; 95% CI 1.108-5.243). Lamanya gejala sebelum diagnosa TB ditegakkan (OR 0.27; 95% CI 0.127-0.574) dan jarak tempuh ke UPK I tersebut (OR 0.364; 95% CI 0.136-0.973) merupakan faktor pencegah keterlambatan pelayanan kesehatan > 1 minggu. Faktor risiko yang berhubungan dengan keterlambatan total > 5 minggu lamanya gejala sebelum diagnosa TB ditegakkan (OR 5.41; 95% CI 2.55-11.46).
Untuk mengurangi keterlambatan diagnosis TB para, perlu dilakukan pendidikan ke masyarakat dengan mempertimbangkan aspek sosial dan budaya, terutama dalam hal pengenalan gejala TB paru dan mendorong motivasi untuk mencari pengobatan secepat mungkin. Perlu pengembangan cakupan program penanggulangan TB ke fasilitas pelayanan kesehatan non-pemerintah. Perlu ditingkatkan kewaspadaan petugas kesehatan di fasilitas kesehatan swasta dan pemerintah untuk mengenali gejala TB sedini mungkin,

Early diagnosis of the disease and prompt initiation of treatment is essential for an effective tuberculosis control program. Delays in diagnosis may affects the eradication of the TB patients, increase the risk of death and enhance tuberculosis transmission in the community. Good control programs will reduce duration of illness average by minimizing diagnostic delay and ensuring the patients adherence to short-course treatment. Baseline information on the magnitude and risk factors of delays in diagnosis of tuberculosis will be useful in estimating the impact of DOTS strategy over time, as well as for developing appropriate strategies to reduce diagnostic delays.
The aims of this study is to determined the risk factors associated with delays in health care seeking (patient delay) and delays in diagnosis by health providers (health system delay) among tuberculosis patients diagnosed at health facilities. The cross-sectional study was conducted in Kecamatan Ciracas Jakarta Timur. A total 162 TB patients > 15 years old diagnosed at health facilities during July 2002-Juni 2003 were interviewed using a structured questionnaire.
This study found that the median of patient, health system and total delay were 2 weeks, I weeks and 6.05 weeks respectively. In multivariate analysis, age > 33 years old (OR 2.44; 95% CI 1.02-5.83), first symptoms was cough (OR 5.12; 95% CI 1.68-15.6), felt serious symptoms (OR 1,6; 95% CI 1.09-234), time to reach the first health facilities > 30 minute (OR 3.17; 95% CI 1.34-7.52), and not married (OR 7.03; 95% CI 1.61-30.54) were associated with patient delays 4 weeks.
Longer patient delays (OR 0.27; 95% CI 0.127-0,574), first consultation to private provider (OR 2.41; 95% CI 1.108-5.243) and time to reach the first health facilities > 30 minute (OR 0.364; 95% Cl 0.136-0.973) were associated with health system delay > l weeks. Longer patient delays (OR 5.41; 95% CI 2.55-11.46) was associated with total delay > 5 weeks.
To reduce diagnostic delays, there must be a public educated and information to be aware about sign and symptom of TB and to motivate to seeks care more quickly. Social and culture approached should be taken into account in design of TB information campaigns and in prioritizing public health interventions about TB. It is urgency that TB programs should be expanded to private sectors as well as public sectors. Government and private physician should maintain and enhance a high index of suspicion for TB.
"
Depok: Universitas Indonesia, 2003
T12954
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Erni Juwita Nelwan
"Latar Belakang Indonesia memiliki insidern kasus TB tertinggi di dunia setelah India dan Cina serta prevalensi kasus DM yang semakin meningkat. Infeksi aktif TB sangat ditentukan oleh status imun. Pada kondisi imunokompromis seperti adanya diabetes melitus akan didapatkan risiko TB yang lebih tinggi. Penelitian ini ingin mendapatkan perbedaan respons IFN-y pada pasien TB dengan DM (TB-DM) dibandingkan dengan pasien TB tidak DM (TB) dan responden sehat.
Metodologi Secara potong lintang, pada pasien TB paru kasus baru BTA positif, dilakukan penapisan adanya diabetes melitus dan didapatkan 23 orang pasien TB-DM, dari pasien TB-DM ini, didapatkan kontrol 34 orang pasien TB dan 37 orang responden sehat yang secara umur dan jenis kelamin. Pada seluruh pasien dilakukan pemeriksaan klinis dan laboratoriurn. Untuk mendapatkan respons IFN-y pasien TB-DM, TB, dan responden sehat dilakukan pengambilan darah pagi hari yang kemudian distimulasi secara in vitro dengan M.tuberculosis (MTB) yang mati, lipopolisakarida (LPS) dan phytohaemagglutinin (PHA). Setelah diinkubasi pada 37°C selama 22-24 jam, lalu dilakukan disentrifugasi dan kadar IFN-y diukur dari supernatan yang didapat dengan metode ELISA.
Hasil Karakteristik klinis pasien TB-DM dan TB secara proporsi tidak berbeda bermakna. Didapatkan derajat infeksi TB pada pasien dengan DM lebih ringan dibandingkan pasien TB tidak DM. Respons IFN-y setelah stimulasi MTB didapatkan rendah pada pasien TB dibandingkan TB-DM dan responden sehat (secara statistik tidak bermakna), pada stimulasi PHA, sebagai kontrol positif didapatkan respons lebih rendah pada pasien TB-DM dibandingkan pasien TB dan responden sehat (berbeda bermakna antara ketiga kelompok yang diuji, p<4,41).
Kesimpulan. Pasien TB-DM memiliki respons IFN-y lebih tinggi dibandingkan pasien TB, hal ini disebabkan oleh perbedaan derajat beratnya infeksi TB pasien DM dan tidak DM.

Background Indonesia has the highest incidence of tuberculosis (TB) cases after India and China, also the fifth highest prevalence of diabetic cases in the world. Active tuberculosis infection is determined by host immune response, and in immunocompromized condition such as diabetic, the risk of having active TB is high. Our study objective looked on the response of IFN-y between diabetic lung TB patients compare to non diabetic lung TB and healthy controls.
Methodology Among new cases of lung TB patients with positive AFB, we performed screening of diabetes mellitus and included 23 TB-diabetic patients, thirty four lung TB patients and 37 healthy controls matched for age and sex. We perform clinical and laboratories examinations. To identify IFN-y response of diabetic lung TB patients, TB and healthy controls, we drain morning blood and stimulated in vitro with sonicated M. tuberculosis (MTB), lipopolysaccharide (LPS) and phytohaemagglutinin (PHA). After incubation at 37°C for 22-24 hours, we centrifuged and IFN-y response was evaluated from the supernatant with ELISA.
Results Clinical characteristic of TB-diabetic patients and TB patients was similar Severity of TB infections among diabetics were less severe compared to non diabetic. Lung TB patients have the lowest IFN-y response after MTB stimulation compared to diabetic lung TB and healthy controls (not statistically significant). And after PHA stimulation, diabetic lung TB patients have the lowest response compared to other groups (significant between all groups, p < 0.01).
Conclusions Diabetic lung TB patients have higher IFN-y response than non diabetic TB patients, this might due to difference of disease severity among TB infection of diabetics and non diabetic. This difference was statistically not significant and co-morbidity of diabetes mellitus among moderately ill TB patients showed similar response as advance ill TB patients.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T18159
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Titi Sekarindah
"ABSTRAK
Ruang Lingkup dan Cara Penelitian : Penyakit tuberkulosis paru masih merupakan masalah di negara berkembang termasuk Indonesia. Tuberkulosis menduduki urutan ke 2 sebagai penyebab kematian menurut hasil survey nasional 1992. Dari kepustakaan diketahui bahwa pada penderita tuberkulosis didapati kelainan imunitas seluler, sehingga untuk penyembuhan penyakit tuberkulosis diperlukan pengaktifan sistem imun testa imunitas seluler. Vitamin A sudah lama dikenal sebagai imunomodulator. Dari penelitian terdahulu pemberian retinoid dapat meningkatkan respon imun seluler antara lain kenaikan sel T penolong dan T penolong/supresor. Pada penelitian ini diharapkan pemberian vitamin A sejumlah 2x 200000IU pada penderita TB paru dengan OAT dapat meningkatkan imunitas seluler. Tujuan penelitian ini adalah menilai pengaruh pemberian vitamin A pada penderita tuberkulosis paru yang sedang mendapat OAT terhadap jumlah limfosit total, limfosit T total, sub populasi limfosit T, kadar retinol plasma, dan keadaan klink penderita. Vitamin A 200.000 IU diberikan pada awal penelitian dan setelah 4 minggu. Penelitan dilakukan secara uji klinik tersamar ganda pada 40 penderita TB paru. Penderita dibagi dalam 2 kelompok masing-masing 20 orang yang diberi vitamin A dan placebo. Pada akhir penelitian yaitu setelah 8 minggu, ada 5 orang drop out.
Hasil dan kesimpulan : Dari 40 orang peserta penelitian 10% kadar retinol plasma rendah (<20pg/dl), 30%normal, rendah(20-30pg/d.l), 60% normal. Pada pemeriksaan imunitas seluler 53,85% ada gangguan dan 46,15% normal. Nilai rata rata hitung (X) retinal plasma kelompok placebo dan perlakuan sebelum pemberian vit. .A/placebo berturut-turut adalah 30,24 ± 7,51 µg/dl dan 30,82 ±7,31 µg/dl. Setelah pemberian adalah 36,85 ± 9,74 µg/dl dan 38,02 ± 8,29 µg/dl. Pada uji t berpasangan dari kelompok perbkkan kenaikannya bermakna (p

ABSTRACT
Scope and Method of Study : Pulmonary tuberculosis is still a major health problem in the developing countries including Indonesia. Tuberculosis is number 2 as cause of death (National Survey's data, 1992). According to literature study tuberculosis patients are suffering from an immune defect. To recover from the disease the immune response especially the cellular immune response needs to be activated, because mycobacterium TB are living intracellular. Vitamin A is known as an immunomodulator. From earlier research it is known that retinoid could enhance cellular immune response, ie. increasing T helper cells and the ratio Thelperffsupresor. The hypothesis is that supplementation of vitamin A 2x2000001U to pulmonary TB patients could increase the cellular immunity. The aim of this study was to asses the vitamin A supplementation on the immune?s profile of pulmonary TB patient who are on oral anti tuberculosis treatment. Plasma retinot, nutrients intake, BMI, clinical findings were examined. Vitamin A 200.000M was given twice, in the beginning of the study and after 4 weeks. The design of the study was a randomized double blind clinical trial. Forty patients were selected and divided into 2 groups, a placebo and treatment (vitamin A) group. At the end of the study (after the 8th week), 5 patients dropped out.
Findings and Conclusions : Among 40 patients 10% showed plasma ret noK20 p g/dl), 30% normal low (20-30pgldl) and 60% normal. (03011g041). The cellular immunity was 53,85% abnormal and 46,15% normal The means (X) of plasma retinol of the placebo and study group before supplementation were 30.24 ± 7,51 µg/dl and 30.82 ± 7.31µg/dl respectively; after supplementation 36.85±9.74µg/dl and 38.02 ± 8.29µgldl respectively. Statistical analysis using paired t test showed that the study group was increasing s' 0,05), however there was no Significant difference between the 2 groups. The mean (X) of total lymphocyte before supplementation of the placebo and study group were 22.61 ± 6.51% and 22.63 ± 8,62%; after supplementation 38.09 ± 19.91% and 35.20 + 10.71%. Both were increasing significant; however there was no significant difference between the 2 groups. The T lymphocyte, T helper and ratio Thelper CT supresor were decreasing. T helper more in the placebo group 5.75% 2.29% but there was no significant difference. This study concluded that although vitamin A supplementation 2 X 200.000 IU could increase the plasma retinol but could not yet improve the immune response and clinical status significantly.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1996
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dorothea Oje Linda
"MDR TB merupakan pemasalahan yang muncul akibat tidak tuntasnya pengobatan. WHO melaporkan bahwa terdapat 290.000 kasus TB MDR pada tahun 2010 di dunia dan Indonesia berada pada urutan ke-9 dari 27 negara dengan beban MDR TB. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan klien TB tentang MDR TB. Disain deskriptif dengan total sampling diterapkan pada 60 klien TB yang berobat di Poli Paru Puskesmas Kecamatan Jagakarsa.
Hasil penelitian menunjukkan kebanyakan responden memiliki pengetahuan rendah tentang MDR TB (59,7%). Hasil uji chi square menunjukan terdapat hubungan bermakna antara pendidikan yang rendah dengan pengetahuan yang rendah (p=0,003 α=0,05 ). Promosi kesehatan terkait TB dan MDR TB perlu ditingkatkan dalam pelayanan keperawatan komunitas. Pendidikan kesehatan pada klien TB disarankan diberikan secara efektif.

The MDR TB is emerging due to failure in treatment completion. WHO reported that there were 290 000 cases in the world at 2010 and Indonesia is on the order-9 of the 27 high-burden of MDR TB countries. The aim is to determine TB clients' knowledge of MDR TB. A descriptive design with total sampling was applied to 60 TB clients at Jagakarsa health center.
The results showed mostly respondents have low knowledge (59.7%). Based on Chi Square test, there was a significant relationship between poor eduvation and low knowledge(p=0.003,α= 0.05).Health promotion-related TB and MDR TB needs to be improved in the community nursing services. Health education on TB clients is advised delivered effectively.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2012
S43365
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Melina Hendratna
"ABSTRAK
Penyakit tuberkulosis paru (TB paru) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Berbagai upaya untuk memberantas penyakit ini telah dijalankan. Salah satu usaha adalah menemukan dan mengobati sumber penularan yaitu penderita dengan kuman tuberkulosis di dalam dahaknya. Yang menjadi masalah, puskesmas sebagai pelaksana program pemberantasan penyakit ini sebagian besar belum mempunyai sarana untuk melakukan pemeriksaan dahak baik secara mikroskopik maupun biakan. Sedangkan cara pengiriman dahak yang biasa dilakukan prosedurnya sulit dan biayanya mahal.
Penelitian ini bertujuan membuktikan bahwa cara pengiriman dahak kering pada kertas saring yang dikirimkan melalui pos merupakan cara pengiriman dahak yang dapat diandalkan.
Hipotesis yang dipakai dalam pene1itian ini adalah tidak terdapat perbedaan yang bermakna hasil pemeriksaan basil tahan asam (BTA) mikroskopik maupun biakan antara dahak segar dan dahak kering yang disimpan pada kertas saring yang dikirimkan nelalui pos.
Bahan penelitian adalah dahak yang berasal dari 100 penderita TB para yang berobat di Rumah Sakit Umum Pasar Reba antara bulan Mei-Agustus 1988. Masing-masing sampel dibagi dua, sebagian diletakkan pada kertas saring untuk kemudian dikirimkan melalui pos dan sebagian lagi tetap di dalam penampungnya. Kelompok sampel yang tetap di dalam penampungnya disebut kelompok kontrol sedangkan yang dikirinkan melalui pos disebut kelompok studi. Kedua kelompok sanpel tersebut dikirimkan ke subBagian Bakteriologi Bagian Patologi Klinik FKUI-RSCM Jakarta untuk dilakukan pemeriksaan mikroskopik hasil tahan asam (BTA) menakai pewarnaan TAN THIAM HOK (TTH) dan pemeriksaan biakan BTA memakai cara dan media KUDOH. Semua pemeriksaan ini dikerjakan antara bulan Mei-Oktober 1988 di subBagian Bakteriologi Bagian Patologi Klinik FKUI-RSCM Jakarta."
1990
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>