Search Result  ::  Save as CSV :: Back

Search Result

Found 21594 Document(s) match with the query
cover
Gillies, Dee Ann
Philadelphia: W.B. Saunders, 1976
610.73 GIL pa
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Antia
"Penyakit kronis semakin meningkat menyebabkan angka kematian dan kecacatan cukup tinggi. Pasien dengan penyakit kronis mempunyai angka rawat inap berulang dan menyebabkan peningkatan anggaran pelayanan kesehatan. Berulangnya perawatan menunjukan kepuasan, efikasi diri, dan kepatuhan masih menjadi hambatan. Penggunaan aplikasi Telenursing peka budaya menjadi alternatif peningkatan kepuasan, efikasi diri, kepatuhan pasien pada proses keperawatan berkelanjutan. Tujuan penelitian menghasilkan model Telenursing peka budaya untuk intervensi keperawatan berkelanjutan peka budaya dan mengevaluasi pengaruhnya terhadap kepuasan, efikasi diri, kepatuhan pada pasien penyakit kronis. Penelitian ini menggunakan desain research and development melalui tiga tahapan. Penelitian tahap pertama melibatkan 23 pasien, 9 keluarga, dan 14 tokoh adat. Tahap kedua menghasilkan Model Telenursing peka budaya dengan aplikasi interaktif. Tahap ketiga melibatkan 100 pasien sebagai responden. Hasil penelitian teridentifikasi empat tema menjadikan dasar pengembangan model, terciptanya model intervensi keperawatan berbasis aplikasi bernama SUSTER KITA dengan aplikasi interaktif smartphone saat dievaluasi terbukti berpengaruh terhadap kepuasan, efikasi diri, dan kepatuhan. Model Telenursing peka budaya untuk intervensi keperawatan berkelanjutan menggunakan aplikasi SUSTER KITA efektif terhadap kepuasan, efikasi diri, dan kepatuhan. Model Telenursing peka budaya untuk intervensi keperawatan berkelanjutan dapat diadopsi untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan.

Chronic diseases are increasing, causing a high mortality and disability rate. Patients with chronic diseases have a recurrent number of hospitalizations which leads to an increase in health care budgets. Repeated treatments show that satisfaction, self-efficacy, and adherence are still obstacles. An alternative to using culture-based Telenursing applications is an alternative to increasing satisfaction, self-efficacy, and patient adherence in the continuous nursing process. The study aimed to generate a culture-based Telenursing model for culture-based continuous nursing interventions and evaluate its effect on satisfaction, self-efficacy, and adherence in chronic patients. This research uses a research and development design through three stages. The first research phase involved 23 patients, 9 families, and 14 traditional leaders. The second stage produces a culture-based Telenursing Model with interactive applications. The third stage involves 100 patients as respondents. The results of the study identified four themes that made the basis for model development, the creation of an application-based nursing intervention model called SUSTER KITA with a smartphone interactive application when evaluated proved to affect satisfaction, self-efficacy, and adherence. A culture-based Telenursing model for continuous nursing interventions using the Suster Kita application is effective in improving satisfaction, self-efficacy, and adherence. Culture-based Telenursing models for ongoing nursing interventions can be adopted to improve the quality of nursing care."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2025
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Snoddon, Janet
Chichester: Wiley-Blackwell, 2010
616.044 SNO c;616.044 SNO c (2);616.044 SNO c (2)
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Doenges, Marilynn E., 1922-
Philadelphia: F.A. Davis, 1984
610.73 DOE n
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Fatimatuzzuhroh
"Latar belakang : Skor PELOD-2 digunakan untuk mengetahui prognosis disfungsi organ pada anak sakit kritis. Hasil skor PELOD-2 terkadang tidak berbanding lurus dengan luaran perawatan sehingga tidak selalu dapat digunakan sebagai prediktor luaran pasien yang dirawat di PICU. Tujuan : Mengetahui profil dan luaran pasien sakit kritis yang dirawat di PICU RSCM berdasar skor PELOD-2. Metode : Penelitian retrospektif dengan mengambil data rekam medis pasien rawat di PICU RSCM, periode Januari-Desember 2018 secara total sampling. Penilaian skor PELOD-2 pada 24 jam pertama perawatan, komorbid dan luaran subjek dicatat dalam rekam medis. Hasil : Diperoleh 477 subjek yang memenuhi kriteria. Pasien sakit kritis yang dirawat di PICU RSCM sebagian besar berjenis kelamin laki (56,4%) dan berusia <1 tahun (27,9%), dengan bedah sebagai diagnosis terbanyak (65%). Sebagian besar pasien memiliki penyakit kronik (70,4%). Nilai median skor PELOD-2 2 untuk pasien hidup dan median skor 8 untuk pasien meninggal. Angka mortalitas adalah 10,7%. Sebagian besar subjek memiliki lama rawat <7 hari (75,5%). Subjek dengan lama rawat >14 hari memiliki median skor PELOD-2 tiga kali lipat dari subjek dengan lama rawat <7 hari. Subjek meninggal memiliki median skor PELOD-2 empat kali lipat lebih tinggi dari subjek hidup. Adanya luaran mortalitas dan lama rawat subjek yang tidak sesuai dengan skor PELOD-2 kemungkinan dipengaruhi oleh status nutrisi dan status imun. Titik potong mortalitas skor PELOD-2 pada penelitian ini adalah >5, dan titik potong mortalitas skor PELOD-2 pasien sepsis >7. Simpulan : Skor PELOD-2 dapat digunakan untuk memprediksi prognosis disfungsi organ yang mengancam kehidupan pada anak tanpa imunosupresi, semakin tinggi skor PELOD-2 akan diikuti peningkatan lama rawat dan mortalitas.

Background: PELOD-2 score is stated can be used to discover prognosis of organ dysfunction in critically ill child. Sometimes PELOD-2 score does not always directly proportional to critically ill child s outcome, therefore sometimes can not be used as outcome and mortality predictor. Objective: To describe critically ill patient s profile and outcome of based on PELOD-2 score. Methods: This descriptive study was retrospective, conducted from January to December 2018 in PICU RSCM by total sampling. Evaluation of PELOD-2 score were performed in the first 24 hours. Subjects comorbid and outcome were stated in medical record. Results: There were 477 subjects that fulfilled the criteria. Most of the subjects were boys (56,4%) and under 1 year of age (27,9%) with surgical were the most common diagnosis (65%). Most of the subject have chronic illness as comorbid (70,4%). Median of PELOD-2 score were 2 for subjects that lived and 8 for subjects that died. Mortality rate is 10,7%. Most of the subjects were stayed in PICU for < 7 days (75,5%). Subjects with length of stay >14 days had median PELOD-2 score 3 times higher than the subjects with length of stay <7 days. Died subjects had median PELOD-2 score 4 times higher than the subjects that lived. The subjects mortality and length of stay that not in accordance with the PELOD-2 score may be influenced by subjects nutritional and immunity status. Mortality cut off point for PELOD-2 score in this study is >5. Mortality cut off point for PELOD-2 for subjects with sepsis is >7 Conclusion: PELOD-2 score is feasible to be used to predict life threatening organ dysfunction in critically ill children without immunosuppression, the higher the PELOD-2 score is equal to higher mortality and longer length of stay."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T57773
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Colyar, Margaret R.
Philadelphia: F.A. Davis ,
610.730 92 COL a
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Hamzah Shatri
"pain is one of the most often symptoms experienced by patients with advanced or chronic diseases which can cause a decrease in the quality of life of palliative patients. Pain in palliative patients has not yet received enough attention, especially factors associated with pain and its management. This study aimed to determine the factors associated with pain in palliative patients and also assess whether there is a two-way relationship between psychological factors and pain. In addition, we will also see whether spiritual services play a role in relieving pain.
Methods: cross-sectional study were used and secondary data were obtained from medical records of 285 palliative patients at Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta, Indonesia. The data were processed to determine the psycho-socio-demographic characteristics, the reciprocal relationships of psychological and pain aspects, and the relationship of pharmacological therapy (opioids), non-pharmacological therapy (spiritual services), and combination of both therapies in pain management.
Results: of the 285 palliative patients, 60.3% had pain, which was found more in cancer patients (74.4% vs 25.6%). Pain was found more in patients aged 41-60 years (51.1%), women (51.2%), and unemployed (30.2%). The severity of the pain was found to be significant in patients with depressive symptoms (p=0.045), while patients with anxiety symptoms (p=0.155) and sleep disorders (p=0.619) had no significant relationship. Pain experienced by palliative patients was not statistically significant in causing depression (p=0.058), anxiety (p=0.107), and sleep disorder (p=0.639). Moreover, pain management with opioids, spiritual services, or combination of them turned out to have significant results (p=0.022).
Conclusion: pain in palliative patients is mainly experienced by cancer patients and the elderly. Psychological factors affect the condition of pain, so the management that includes biopsychosocial aspect will be able to reduce pain significantly.

Latar belakang: nyeri merupakan gejala yang paling sering dialami oleh pasien paliatif yang dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup pasien. Nyeri pada pasien paliatif belum mendapatkan perhatian yang cukup, terutama faktor-faktor yang berkaitan dengan nyeri dan penatalaksanaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan nyeri pada pasien paliatif dan juga menilai apakah terdapat hubungan timbal balik antara faktor psikologis dengan nyeri. Selain itu, akan dinilai pula apakah layanan spiritual berperan dalam mengurangi rasa nyeri.
Metode: penelitian ini menggunakan studi potong lintang dengan data sekunder melalui rekam medis 285 pasien paliatif di RSUPN Cipto Mangunkusumo, jakarta, Indonesia. Data diolah untuk menentukan karakteristik psiko-sosio-demografik, hubungan timbal balik aspek psikologis dan nyeri, serta hubungan terapi faramakologis (opioid), terapi non-farmakologis (layanan spiritual), dan kombinasi kedua terapi dalam pengelolaan nyeri pada pasien paliatif.
Hasil: dari 285 pasien paliatif, 59.9% pasien merasakan nyeri, yang terutama ditemukan pada pasien kanker (74.4% vs 25.6%). Nyeri lebih banyak ditemukan pada pasien berusia 41 – 60 tahun (51.1%), wanita (51.2%), dan pengangguran (30.2%). Derajat nyeri memiliki signifikansi pada pasien dengan gejala depresi (p=0.045), sedangkan pada pasien dengan gejala ansietas (p=0.155) dan gangguan tidur (p=0.619) tidak memiliki hubungan yang signifikan. Nyeri yang dialami oleh pasien paliatif juga tidak signifikan secara statistik dalam menyebabkan depresi (p=0.058), ansietas (p=0.107), dan gangguan tidur (p=0.639). Selain itu, tatalaksana nyeri dengan opioid, layanan spiritual, atau kombinasi keduanya ternyata memiliki hasil yang berbeda secara signifikan (p=0.022). Kesimpulan: nyeri pada pasien paliatif terutama dialami oleh pasien kanker dan lansia. Faktor psikologis mempengaruhi kondisi nyeri, sehingga penatalaksanaan nyeri dengan memperhatikan aspek biopsikososial akan mampu mengurangi rasa nyeri secara signifikan.
"
Jakarta: University of Indonesia. Faculty of Medicine, 2019
610 UI-IJIM 51:4 (2019)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Chase, Susan K.
Philadelphia: F.A. Davis , 2004
610.730 692 CHA c
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
St. Louis, Mo.: Elsevier/Mosby, 2013
617.6 DEN
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Mursidah Dewi
"Timbang terima pasien membantu perawat mengidentifikasi area pelayanan untuk meningkatkan keselamatan pasien. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh pelatihan timbang terima pasien terhadap pelaksanaan timbang terima dan penerapan keselamatan pasien oleh perawat pelaksana di rumah sakit Husada Jakarta. Penelitian menggunakan desain preeksperimental dengan one group pretest-posttest design. Sampel 43 orang perawat pelaksana. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang bermakna pada pelaksanaan timbang terima dan penerapan keselamatan pasien setelah mendapatkan pelatihan timbang terima pasien (pvalue : 0.000). Kesimpulannya, ada pengaruh pelatihan timbang terima pasien terhadap pelaksanaan timbang terima dan penerapan keselamatan pasien. Rekomendasi penelitian ini adalah komitmen untuk melaksanakan timbang terima dalam bentuk kebijakan, pengarahan serta evaluasi pelaksanaan timbang terima, untuk kesinambungan asuhan keperawatan yang berdampak pada peningkatan penerapan keselamatan pasien.

The patient handover help nurses to identify the service area that require improvement to improve patient safety. The purpose of this research was to identify the effect of training on patient handover with an effective communication approach integrated to the implementation of patient safety to the implementation of handover and patient safety by nurse practitioner at Husada Hospital Jakarta. This research used preexperimental design, with one group pretest posttest design. The sample is 43 nurse practitioner. From the data analysis, it has been recognized that there is a significant improvement in the implementation of patient handover and patient safety after getting a training and guidance on patient handover (p value : 0.000). The conclusion, there is an effect of training on patient handover to the implementation of handover and patient safety. Hospital should implements patient handover effectively in the form of policies, direction and evaluation to continuity of nursing care that have an impact on improving the implementation of patient safety."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2011
T-Pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>