Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 5272 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Dormidontov, V.K.
Moscow:: Mir Publishers, 1966
623.82 DOR s (1)
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
"Kemampuan proses produksi yang dihubungkan dengan
state-of-the-art teknologi memungkinkan pembangunan kapal
yang disesuaikan dengan peralatan mutakhir akan berdampak pada tingkat produktivitas dan daya saing. Studi ini mengusulkan pendekatan regresi nonparametrik splin kubik dengan 1 knot, 2 knot, dan 3 knot. Aplikasi program Tibco Spotfire S+ menunjukkan bahwa splin kubik dengan 2 knot (4,25 dan 4,50) memberikan hasil terbaik dengan nilai general cross validation (GCV) = 56,21556 dan R2
= 94,03%. Hasil estimasi splin kubik dengan 2 knot untuk PT. Batamec Shipyard = 35,61 MH/CGT, PT. Dok & Perkapalan Surabaya = 27,49 MH/CGT, PT. Karimun Sembawang Shipyard = 27,49 MH/CGT, dan PT. PAL Indonesia = 19,89 MH/CGT.

Abstract
Ability of production processes associated with state-of-the-art technology, which allows the shipbuilding, is customized with modern equipment. It will give impact to level of productivity and competitiveness. This study proposes a nonparametric regression cubic spline approach with 1 knot, 2 knots, and 3 knots. The application programs Tibco Spotfire S+ showed that a cubic spline with 2 knots (4 .25 and 4.50) gave the best result with the value of GCV =
56.21556, and R 2= 94.03%.Estimation result of cubic spline with 2 knots for the PT. Batamec shipyard = 35.61MH/CGT, PT. Dok & Perkapalan Surabaya = 27.49 MH/CGT, PT. Karimun Sembawang Shipyard = 27.49 MH/CGT, and PT. PAL Indonesia = 19.89 MH/CGT. "
[Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Fakultas Teknologi Kelautan], 2010
pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Roni Budisantoso
"Kondisi industri galangan kapal di Indonesia saat ini masih kurang menggembirakan dikarenakan daya saing galangan kapal nasional yang rendah atau tidak kompetitif, ha ini disebabkan harga kapal produksi dalam negeri yang lebih mahal dan waktu pembangunan yang lebih lama dibandingkan dengan kapal produksi galangan kapal di luar negeri. Disamping itu, masih banyaknya proyek-proyek pembangunan kapal yang dilaksanakan oleh galangan kapal nasional mengalami keterlambatan dalam penyelesaiannya. Berdasarkan kondisi tersebut, dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pembangunan kapal di Indonesia dengan pendekatan lean shipbuilding berbasis risiko dalam rangka meningkatkan kinerja waktu.
Dari hasil kuisioner pada beberapa galangan kapal nasional diketahui bahwa waste (pemborosan) dominan yang merupakan faktor risiko yang mempengaruhi kinerja waktu pembangunan kapal di galangan kapal Indonesia adalah : adanya bahan baku dan komponen yang masih harus diimpor dari luar negeri, lamanya proses yang terkait dengan prosedur Bea Cukai (Customs Clearance), keterlambatan dalam pengesahan gambar-gambar serta kedatangan bahan baku dan komponen yang terlambat. Pada studi kasus didapatkan hasil bahwa penerapan prinsipprinsip lean dalam metode pembangunan kapal dapat memperbaiki kinerja waktu penyelesaian pembangunan kapal di galangan kapal Indonesia sebesar 50% dan menurunkan jam orang sebesar 16,43%.

The condition of shipbuilding industries in Indonesia at the moment is still less enlivening due to the fact that national shipyards have low competitiveness or even not competitive. This results from that the price of ships produced domestically is more expensive and the construction periods until the delivery time take longer than those abroad. Besides, there are many shipbuilding projects performed by national shipyards which undergo tardiness in the accomplishment. Based on that condition, an evaluation on the shipbuilding implementation in Indonesia is conducted with the approach of lean shipbuilding based on risk in order to enhance the performance of time.
The result of the questionnaire at some national shipyards shows that dominant waste constituting the risk factor which influences the time performance of shipbuilding process at Indonesian shipyards are the presence of imported raw materials and components from abroad, the processing time in connection with customs clearance, the lack of punctuality in endorsement on the component drawings/designs as well as the late arrival of raw materials and components. In a case study, the result obtained is that the application to lean principles in shipbuilding method can improve the time performance of accomplishing shipbuilding process at Indonesian shipyard by 50% and decrease man hours by 16,43%.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2018
T50823
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dita Puspita
"Batam merupakan kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas yang mendapatkan insentif pajak, salah satunya insentif pajak atas pembebasan PPN, dan Bea Masuk. Insentif tersebut diakomodasi oleh industri galangan kapal di Batam, dimana industri galangan kapal Batam mendapatkan pembebasan PPN dan Bea Masuk atas impor bahan baku dan komponen kapal. Penelitian ini akan menfokuskan kebijakan insentif pajak di Batam yang dinikmati oleh industri galangan kapal di Batam dan mengevaluasi kebijakan tersebut apakah sudah memenuhi kriteria evaluasi kebijakan sebagaimana diungkapkan oleh Dunn dalam perspektif efektifitas, efisiensi, kecukupan, resposivitas, dan ketepatan. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan metode kualitatif pula. Hasilnya adalah pemberian insentif pembebasan PPN dan Bea Masuk pada impor bahan baku dan komponen kapal belum memberikan manfaat yang signifikan bagi pemerintah dan industri galangan kapal di Indonesia.

Batam is a free trade zone that get tax incentives, such as the incentive on VAT exemption and import duty. The incentives are accommodated by the shipbuilding industry in Batam. Shipbuilding industry get the VAT exemption of import duty on imported raw materials and components of ships. This study will focus on the policy of tax incentives used by the industry Batam shipyard in Batam and evaluate the policy if it appropriate with the criteria for policy evaluation based on William Dunn?s theory. This research was conducted with a qualitative approach and qualitative methods as well. The result is the provision of VAT exemption and import duty exemption on imported raw materials and components of ships have not provided significant benefits for the government and the shipbuilding industry in Indonesia.
"
Depok: Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, 2015
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andri Rezeki
"Skripsi ini membahas tentang upaya analisis terhadap kemampuan, kapasitas, dan jumlah industri perkapalan/galangan kapal di Indonesia yang memiliki ketentuan/standar dalam pembangunan kapal baru maupun reparasi yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah, yang pada akhirnya dapat ditentukan industri perkapalan/galangan kapal nasional mampu atau tidak guna memenuhi permintaan pembangunan kapal baru maupun kegiatan reparasi terkait dengan penerapan azas cabotage sejak maret 2005 hingga maret 2010 (pasca dikeluarkannya INPRES No.5 Tahun 2005) di Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif.
Hasil penelitian menyarankan bahwa pemerintah perlu menerapkan suatu kebijkan maritim khusus terkait dengan industri perkapalan/galangan kapal nasional dengan melibatkan stakeholder kemaritiman terkait yang berkompeten dibidang masing-masing; perlu disesuaikan antara kebijakan sektoral perpajakan dengan program pemerintah membangun sektor perkapalan.

This scription discuses the effort to an analysis of the capability, capacity, and the amount of the shipping industry / shipyard in Indonesia, which have provisions / standards for new ship construction and repair relating to government policies, which can ultimately be determined shipbuilding industry / national shipyards capable or not to meet the demand for new ship construction and repair activities associated with implementation of the principle of cabotage since March 2005 until March 2010 (post issuance of Presidential Instruction No. 5 / 2005) in Indonesia. This study is a descriptive qualitative research design.
The results suggest that the government needs to implement a development policy specifically related to maritime shipping industry / national shipyard by involving relevant stakeholders of the competent maritime field respectively; need to be adjusted between the sectoral policies of taxation by a government program to build the shipping sector.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia;, 2010
S52174
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Suharsono
"ABSTRAK
Fasilitas Ship Building Plant 30.000 dwt. merupakan fasilltas baru, yang dalam pengoperasiannya harus dilakukan dengan perencanaan dan metode yang tepat agar target produksi, mutu hasil produksi, dan keamanan kerja dapat dicapai.
Untuk mencapai produktivitas yang tinggi maka perlu melakukan strategi optimasi, yaitu dengan jalan melakukan simulasi untuk proses pemotongan plat lambung kapal yang menggunakan NC-Machine Cutting pada proses fabrikasi lambung kapal. Dan untuk proses selanjutnya yaitu perakitan komponen-komponen yang dihasilkan oleh bengkel fabrikasi, dapat dilakukan analisa Line of Balance dengan pendekatan Network Planning.
Dengan adanya strategi optimasi ini diharapkan pengaturan pelaksanaan pada NC-Machine Cutting dapat diatur sedemikian rupa, sehingga didapat waktu hasil pemotongan yang optimal.

ABSTRACT
The Ship Building Plant of 30.000 Dead Weight Tons capacity is a new facility that planned to build the high quality products. The operation of the above stated facility should do properly in according to the suitable methods and plan, so that the high production target, quality, and safety can grab during the production stage.
The high productivity of shipyard on the operating stage of this facility needed to apply the optimization strategic, that is the hull steel plate cutting simulation of NC cutting machine on the fabrication stage that continued to produce the hull constraction components on the assembly stage. All of the above stated simulation had done with line balancing analysis the approached with the network planning method.
The final simulation had done by reorganizing of NC cutting machine and assembly works on the ship hull construction stages of the above stated can give the optimal cutting time qualitatively.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1995
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Teddy Wijaya
"Dewasa ini banyak galangan yang menyerahkan pembuatan blok suatu kapal kepada pihak sub kontraktor. Bahkan ada lambung kapal yang terdiri dari beberapa blok, dikerjakan oleh beberapa sub kontraktor. Hal ini tentunya dapat menimbulkan masalah dalam sinkronisasi tiap blok. Masalah yang utama yaitu perbedaan kualitas, seperti tingkat kepresisian, kecepatan pengerjaan, tingkat kerapihan bentuk blok. Perbedaan kualitas tersebut akan mempengaruhi tingkat produktivitas pembuatan kapal.
Jadi untuk dapat meningkatkan produktivitas, diperlukan suatu prosedur yang terencana dari awal sampai akhir. Prosedur tersebut dapat dijadikan sebagai referensi oleh galangan dalam pembuatan kapal yang pada akhirnya digunakan untuk memperkirakan lama waktu ataupun ketepatan dimensi. Data- data referensi tersebut dapat digambarkan sebagai data statistik, yang sering dikenal sebagai Akurasi Kontrol.
Dalam skripsi ini penulis hanya menguraikan prosedur untuk mengarahkan diterapkannya sistem akurasi kontrol, yang diharapkan bisa digunakan untuk meningkatkan produktivitas. Sebagai studi kasus, penulis mencoba membuat simulasi proses fabrikasi blok X sesuai prosedur yang mengarah ke sistem akurasi kontrol. Penulis mencoba menghitung produktivitas, melalui parameter manhour per ton pada tahap fabrikasi blok X. Setelah di simulasikan, didapatkan bahwa akurasi kontrol dapat meningkatkan tingkat produktivitas pembuatan kapal, yang ditandai dengan meningkatnya prosentase indek manhour per ton."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2005
S38079
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
M. Zaki Syahrizar
"Indonesia merupakan negara kepulauan dengan beribu pulau dan lautnya yang luas. Potensi kelautan Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Akan tetapi potensi ini belum tergali dengan baik. Salah satu penyebabnya adalah Indonesia kekurangan armada kapal yang memadai. Untuk itu dibutuhkan percepatan pembangunan di bidang industri perkapalan di Indonesia, bertujuan untuk menunjang perkembangan armada angkutan laut nasional, sejalan dengan peningkatan kebutuhan akan kapal-kapal baru serta reparasi kapal. Salah satu alternatif material pembuatan lambung kapal adalah aluminium.
Dalam perancangan Tugas Akhir ini, dirancang suatu tata letak stock yard kapal aluminium dalam kaitannya untuk memenuhi kegiatan bangunan baru kapal. Kapal aluminium memiliki keunggulan dibandingkan kapal baja yang salah satunya adalah materialnya yang relatif ringan serta tahan terhadap karat dari air laut. Perancangan ini meliputi tata letak landasan untuk bangunan baru kapal serta analisis alur material dalam proses produksinya, dengan pertimbangan aspek-aspek yang berkaitan dengan program produksi galangan.

Indonesia is maritime country with a thousands wide island and sea. The Potency of Indonesian maritime sector is one the biggest in the world. However, this potency is not enough. The problem is Indonesia don?t has much good vessel fleet. So, Indonesia must build many vessel fleets on Indonesia maritime industry, not in foreign shipyard industri. The rises national fleet vessel must be priority by the Indonesian Government to support the development global shipping industry in the world. The one of material alternatif for vessel construction is aluminum.
In The designing of this Final Tas, I designed a complete lay-out of aluminum vessel stock yard for build shipyard on shipnewbilding activity. Aluminum vessel has a better special quality than steel vessel. The aluminum vessel material is more lighter and it is more strongess for sea water than steel vessel. In This designing consist of newbuilding ship berth, with analizing the groove of aluminum materials in production process and other support structure, with comparasion the aspect that related with shipyard production program.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2006
S38077
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dino Eka Satria P.
"Sebuah fixed platform biasa dideskripsikan sebagai bangunan yang mempunyai 2 komponen utama, substruktur dan superstruktur. Superstruktur : bisa juga disebut sebagai - bagian atas - yang didukung oleh dek,dimana berada pada struktur jacket yang menyokong struktur tersebut. Bangunan ini mempunyai banyak bagian yaitu tempat untuk peralatan pengeboran, peralatan produksi antara lain turbin gas, generator, pompa, kompressor, kumpulan gas flare, revolving cranes, kapal penyelamat, helipad, tempat tinggal untuk awak dengan fasilitas seperti hotel dan fasilitas untuk makan. Superstrukur beratnya mencapai 40,000 ton. Substruktur : merupakan bentuk seperti jacket baja yang melingkar atau struktur beton yang dipadatakan. Kebanyakan platform dari bangunan lepas pantai yang memproduksi minyak dan gas mempunyai jacket baja meskipun ada sebagian kecil dari platform tersebut memiliki pondasi dari beton. Setiap platform didesain secara unik sesuai dengan keadaan umum dari kondisi ,lokasi, kedalaman air, karateristk tanah, angin, gelombang, dan keadaan laut pada saat itu. Platform yang terbuat dari baja dan beton bias dibuat dikedalaman air mulai dari beberapa meter sampai lebih dar 300 m.

A fixed platform may be described as consisting of two main components, the substructure and the superstructure. Superstructure: also referred as the 'topsides' supported on a deck, which is fixed (mounted) on the jacket structure. These consist of a series of modules which house drilling equipment, production equipment including gas turbine, generating sets, pumps, compressors, a gas flare stack, revolving cranes, survival craft, helicopter pad and living quarters with hotel and catering facilities. It can weigh up to 40,000 tonnes. Substructure: is either a steel tubular jacket or a prestressed concrete structure. Most fixed offshore oil and gas production platforms have a steel jacket although a small number of platforms have a concrete foundation. Each platform is uniquely designed for the particular reservoir condition, location, water depth, soil characteristics, wind, wave and marine current conditions. Fixed steel and concrete platforms can be built in water depth from a few meters to more than 300 m."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
S38101
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Budi Adinugraha
"Di era persaingan pasar global dan tidak stabilnya harga material, industri perkapalan nasional harus memiliki suatu keunggulan kompetitif. Salah satu contoh yang dapat dilakukan adalah dengan pengurangan biaya produksi. Dilihat dari sudut pandang desain, suatu pengurangan biaya produksi dapat dilakukan dengan mengoptimalkan bentuk kapal. Pengoptimalan bentuk kapal akan tekait langsung dengan biaya pengadaan material.
Penelitian ini bertujuan untuk mencari biaya pengadaan material minimal dari suatu proses optimasi bentuk kapal. Proses yang dilakukan adalah dengan mendesain ulang kapal yang telah ada, dengan menggunakan software Maxsurf Professional. Setelah didapatkan beberapa variasi desain, kemudian dianalisis biaya pengadaan yang paling minimal. Hasil yang didapat menunjukan bahwa, memperpanjang kapal dapat meminimalisir biaya pengadaan.

In the era of global market competition and unstable material costs, national shipping industry should own competitive advantages. One of examples that could be conducted is to cut the production costs. Considering the designs, a production cost reduction could be done by optimizing the ship shape which is directly related to material supplies cost.
This research is aimed to search for minimum supplies cost of materials of an optimal process of the ship shape. The process is to redesign the existing ships by using Maxsurf software. Having got some design variations, the most minimum supplies cost is then analyzed. The result shows that extending the ships could minimalyze the supplies cost.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2009
S51005
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>