Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 44863 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Megawati Diana Wulan
"Polipaduan poli(asam laktat) (PLA) dan polikaprolakton (PCL) dapat dibuat mikrosfer sebagai penyalut agen farmasetika untuk tujuan pelepasan terkendali. Kemampuan suatu mikrosfer untuk melepaskan agen farmasetika bergantung pada kemampuannya untuk terdegradasi. Keseragaman ukuran partikel mikrosfer, serta komposisi polipaduan akan mempengaruhi degradasi mikrosfer polipaduan. Dilakukan uji degradasi terhadap mikrosfer polipaduan secara in vitro dengan menginkubasi mikrosfer pada suhu 37˚C di dalam buffer fosfat pH 7,4 selama 8 minggu. Karakterisasi dilakukan terhadap penentuan persen kehilangan berat, pengamatan bentuk dan morfologi dengan mikroskop optik dan SEM. Persen kehilangan berat semakin meningkat seiring dengan lamanya waktu inkubasi. Mikrosfer pada inkubasi minggu ke-1 diperoleh rentang persen kehilangan berat sebesar 8,8 ? 12,5 %, sedangkan pada minggu ke-8 diperoleh rentang persen kehilangan berat sebesar 20,6 ? 25,7%. Semakin besar komposisi PLA dalam polipaduan, persen kehilangan berat mikrosfer cenderung meningkat pada beberapa komposisi.

Polyblend of poly (lactic acid) (PLA) and polycaprolactone (PCL) microspheres could be prepared as a pharmaceutical coating agent for controlled release purposes. The ability of microspheres to release the pharmaceutical agent depends on its ability to degraded. Homogenity of particle size of microspheres and polyblend composition will affect the degradation of polyblend microspheres. In vitro degradation of polyblend microspheres was done by incubating microspheres at 37˚C in phosphate buffer pH 7,4 for 8 weeks. Characterization to determine the percent loss of weight, shape and morphology observation with optical microscope and SEM. Percent weight loss increased along with the length of incubation time. Microspheres at 1st week incubation has a percent weight loss th range from 8,8 to 12,5%, while at 8week has a percent weight loss range from 20,6 to 25,7%. The greater the composition of the PLA in polyblend, percent weight loss tends to increase in some compositions."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2011
S22
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Alif Fauzan Asyrafi
"Nifedipin merupakan obat yang sudah umum digunakan dalam pengobatan hipertensi dan angina. Obat ini memiliki waktu paruh hanya 2-4 jam dan bioavibilitasnya yang rendah, sehingga perlu diberikan dengan dosis yang bertahap agar efektif. Dosis semacam ini merupakan dosis yang tidak menyenangkan bagi pasien dan besar potensi pelanggaran dosis. Maka dari itu, perlu dilakukan suatu pendekatan sistem penghantaran obat dengan pelepasan kontinyu. Salah satu pendekatan ini yaitu penggunaan polipaduan biodegradable poli(D-asam laktat) dan polikaprolakton dalam mikroenkapsulasi obat Nifedipin. Pada penelitian ini dilakukan pembuatan mikrokapsul dengan metode penguapan pelarut dan penggunaan Span 80 sebagai surfaktan dan didapatkan hasil enkapsulasi paling baik berada pada komposisi PCL:PDLA 8:2 (%w/w) dengan besar enkapsulasi 84,33±1,58% dan Profil pelepasan obat terbaik pada komposisi 7:2 (%w/w) dengan Nifedipin yang lepas sebesar 10,743 mg (44,029%).

Nifedipine is a drug that is commonly used in the treatment of hypertension and angina. This drug has a half-life of only 2-4 hours and has a low bioavibility, so it needs to be given in a gradual dose to be effective. This dosage is an unpleasant dose for the patient and a large potential for dose violations. Therefore, it is necessary to do a drug delivery system approach with continuous release. One of these approaches is the use of polyblend biodegradable poly (D-lactic acid) and polycaprolactone in the microencapsulation of the drug Nifedipine. In this experiment, the making of microcapsules using solvent evaporation method and the use of Span 80 as surfactant and obtained the best encapsulation results in the composition of PCL: PDLA 8: 2 (% w/w) with percentage of encapsulation 84,33 ± 1,58% and Profile the best drug release in the composition of 7: 2 (% w/w) with release of nifedipine by 10.743 mg (44.029%)."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hayatul Husna
"Pemanfaatan mikrosfer sebagai agen penghantar obat telah banyak dikembangkan. Polipaduan PLLA dan PCL digunakan sebagai bahan dasar pembuatan mikrosfer untuk meningkatkan kemampuan permeabilitas dan laju degradasi dari mikrosfer. Pada penelitian ini mikrosfer polipaduan dibuat dengan memvariasikan konsentrasi surfaktan, kecepatan pengadukan dispersi, dan waktu pengadukan dispersi untuk melihat pengaruhnya terhadap bentuk fisik mikrosfer, persen padatan mikrosfer yang diperoleh, serta ukuran dan keseragaman dari mikrosfer. Mikrosfer yang diperoleh dikarakterisasi dengan FT IR, PSA, dan Mikroskop Stereo.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi surfaktan yang digunakan menghasilkan ukuran mikrosfer yang semakin kecil. Pada variasi kecepatan pengadukan, jika kecepatan pengadukan ditingkatkan diperoleh ukuran mikrosfer yang semakin kecil, namun setelah melewati kondisi optimum kecepatan yang terlampau tinggi mengakibatkan ukuran kembali besar karena meningkatkan kemungkinan mikrosfer yang belum padat untuk bertemu dan menyatu kembali Untuk variasi waktu pengadukan dispersi diperoleh waktu pengadukan paling baik yaitu 1 jam karena menghasilkan mikrosfer dengan ukuran terkecil dan keseragaman yang baik.

The use of microspheres as drug delivery agents has been widely developed. Polyblend is used as the base material for making microspheres to increase permeability and degradation rates of the microspheres. In this study, the polyblend microspheres were made by varying the surfactant concentration, the dispersion stirring speed, and the time of dispersion stirring to see the effect on the physical shape of the microspheres, the percentage of solid microspheres obtained, the size and uniformity of the microspheres. The microspheres obtained were characterized by FT IR, PSA, and Stereo Microscope.
The results show that the smaller the concentration of surfactants used will result in smaller sizes of microspheres. At variations in stirring speed, if the stirring speed is increased, the smaller the size of the microspheres will be. But after passing the optimum speed, the size of the microspheres will be enlarged again because it increases the possibility of the microspheres that have not been solid to reunite. For variations in the time of dispersion, the best stirring time is obtained 1 hour because it produces microspheres with small size and good uniformity.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yudha Aulia Syahbani
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2010
S30731
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Farah Rahmatika
"

 

Captopril merupakan salah satu obat hipertensi golongan angiotensin-converting enzyme (ACE) yang telah banyak digunakan untuk pengobatan hipertensi dan gagal jantung kongestif.  Captopril memiliki waktu paruh  yang pendek yaitu 1,6-1,9 jam. Waktu paruh captopril yang pendek membuat captopril perlu dikonsumsi secara berulang. Teknik mikroenkapsulasi dapat digunakan untuk menutupi kekurangan captopril. Mikrokapsul captopril dibuat menggunakan polimer biodegradable yaitu polipaduan poli(D,L-Asam laktat) dengan polikaprolakton sebagai penyalut menggunakan metode evaporasi pelarut tipe emulsi w/o/w dengan span 80 dan tween 80 sebagai surfaktan. Mikrokapsul dibuat dengan variasi komposisi polipaduan untuk melihat pengaruhnya terhadap efisiensi enkapsulasi, morfologi mikrokapsul dan uji disolusi secara in vitro pada pH 1,2 dan pH 7,4. Mikrokapsul yang diperoleh berbentuk spheris dan permukaan yang halus seiring dengan banyaknya komposisi PCL dalam polipaduan. Didapatkan persen perolehan berat mikrokapsul berkisar 87% dengan rata-rata ukuran 0,489 µm – 0,516 µm. Hasil efisiensi enkapsulasi yang didapat sebesar 4,94%- 20,69%. Selama uji disolusi, setiap komposisi polipaduan mikrokapsul dapat menahan pelepasan captopril selama 55 jam. Sebanyak 75% captopril lepas pada komposisi PDLLA/PCL 40:60 (%w/w) diakibatkan oleh degradasi matriks polipaduan. Sedangkan pada komposisi 20:80 (%w/w) dan 30:70 (%w/w) captopril lepas sebesar 43% dan 46% melalui proses difusi.


 

Captopril is one of the angiotensin-converting enzyme (ACE) class hypertension drugs that has been widely used for the treatment of hypertension and congestive heart failure. Captopril has a short half-life of 1.6-1.9 hours. The Short half-life of captopril makes captopril need to be consumed repeatedly. Microencapsulation techniques can be used to cover the lack of captopril. Captopril microcapsules were made using biodegradable polymers, namely poly(D,L-lactic acid) with polycaprolactone as coating using double emulsion (w/o/w) solvent evaporation method with span 80 and tween 80 as surfactant. Microcapsules were made by varying the composition of the polymers in polyblend to see the effect on encapsulation efficiency, surface properties and in vitro dissolution test at pH 1.2 and pH 7.4. The microcapsules were all spherical and had a smooth surface as more PCL was added to the composition in polyblend. Percent yield of microcapsules obtained was about 87% with an average size of 0.480 µm-0.516 µm. The results of the encapsulation efficiency were 4.94%-20.69%. In the dissolution test of each polyblend composition, microcapsules could withstand the release of captopril for 55 hours. 75% of captopril released in the composition of PDLLA/PCL 40:60 (%w/w) was caused by degradation of the polyblend matrix. While the composition of 20:80 (%w/w) and 30:70 (%w/w) captopril was released about 43% and 46% through the diffusion process.

"
2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lukmanul Hakim
"ABSTRAK Salbutamol sulfat adalah beta-adrenoreceptor agonist yang digunakan sebagai bronkodilator pada penyakit asma, bronkitis, dan penyumbatan saluran udara. Obat ini memiliki waktu paruh biologis yang singkat hanya sekitar 4-6 jam dan bioavailabilitasnya yang rendah, sehingga harus diberikan berulang kali untuk memperoleh efek terapeutik yang diharapkan. Konsumsi yang berulang kali ini dapat menimbulkan efek samping. Oleh karena itu, perlu suatu pendekatan atau sistem dalam penghantaran zat terapeutik ke tempat target melalui mode pelepasan obat terkontrol yang berkelanjutan. Salah satu upaya untuk mengembangkan sistem ini yaitu dengan melakukan mikroenkapsulasi salbutamol sulfat menggunakan polimer biocompatible dan biodegradable berupa polipaduan poli(D,L-asam laktat) dan polikaprolakton (PDLLA 60 : PCL 40 % w/w) dengan metode penguapan pelarut minyak dalam air (m/a) dan menggunakan Span 80-Tween 80 sebagai pengemulsi yang akan menghasilkan mikrokapsul. Berdasarkan optimasi mikrosfer diperoleh kecepatan pengadukan emulsi yang optimal sebesar 700 rpm selama 1 jam dan kecepatan ppengadukan dispersi selama 1 jam dengan konsentrasi Span 80-Tween 80 0,1420 mol/L (2% v/v) dengan perbandingan 70:30. Efisiensi enkapsulasi salbutamol sulfat tertinggi sebesar 84,48%, sementara hasil uji disolusi mikrokapsul salbutamol sulfat dengan penyalut polipaduan PDLLA-PCL yang dilakukan secara in-vitro diperoleh sebesar 3,18% dalam larutan HCl pH 1,2 dengan volume 125 mL dan  1,59% dalam larutan buffer fosfat pH 7,4 dengan volume 125 mL. Sementara pada volume masing-masing 900 mL diperoleh berturut-turut sebesar 32,21% pada pH 1,2 dan 17,18% pada pH 7,4. Mekanisme pelepasan obat dari matriks polimer terjadi melalui difusi terkontrol yang mampu menahan laju pelepasan obat. Berdasarkan karakterisasi mikrosfer menggunakan PSA ditemukan ukuran yang ideal sebagai pengantar obat salbutamol sulfat dan hasil analisis menggunakan FTIR menunjukkan interaksi antara kedua polimer adalah interaksi secara fisika, begitupun juga interaksi antara mikrosfer dan obat. Sementara hasil pengamatan menggunakan SEM dan MO menunjukkan bentuk mikrosfer dan mikrokapsul yang cukup bulat, kecil dan seragam. Setelah melalui uji disolusi terlihat mikrokapsul rusak yang ditandai dengan porinya terlihat lebih terbuka, selain itu tekstur permukaannya yang terlihat lebih kasar dibandingkan sebelum didisolusi.
ABSTRACT Salbutamol sulfate is beta-adrenoreceptor agonist that used as a bronchodilator in asthma, thoracic bronchi and airway obstruction . This drug has a short biological half-life of only 4-6 hours and a low bioavailability, so it must be given repeatedly to obtain the expected therapeutic effect. Repeated consumption can cause side effects. Therefore, an approach or system is needed in the delivery of therapeutic substances to the target site through a continuous controlled drug release mode. One effort to develop this system is by microencapsulating salbutamol sulfate using biocompatible and biodegradable polymers in the form of poly (D,L-lactic acid) and polycaprolactone (PDLLA 60 : PCL 40 % w/w) using oil in water (o/w) emulsification and using Span 80 -Tween 80 as an emulsifier will produce microcapsules. Based on the optimization of the microspheres obtained by the stirring speed optimal emulsion of 700 rpm for 1 hour and speed of stirring dispersion for 1 hour with a concentration of Span 80-Tween 80% 0,1420 mol/L (2% v/v) in ratio of 70:30. The highest encapsulation efficiency of salbutamol suphate is 84.48%, while the dissolution test results of salbutamol sulfate microcapsules coated with the PDLLA-PCL polyblend was carried out in-vitro obtained at 3.18% in HCl solution at pH 1.2 with a volume of 125 mL and amounted to 1.59% in phosphate buffer solution at pH 7,4 with a volume of 125 mL. While with the volume of 900 mL was obtained respectively 32.21%  at pH 1.2 and 17.18% at pH 7.4. The mechanism of drug release from the polymer matrix occurs  through controlled diffusion which is able to sustain the rate of drug release . Based on the characterization of the microsphere using PSA found the ideal size as an salbutamol sulfate drug delivery carrier and the results of analysis using FTIR showed the interaction between the two polymers is the physical interaction, as well as the interaction between microspheres and drugs . While the results of observations using SEM and optical microscope show the shape of microspheres and microcapsules that are quite round, small and uniform with smaller pores. After going through the dissolution test, it was seen that damaged microcapsules marked with the pores seem more open, besides the surface texture that seem rougher than before it was dissolved.

"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
T52215
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rachmat Nafrialdo Akbar
"Nifedipine digunakan sebagai obat tekanan darah tinggi, jantung, dan persalinan prematur. Obat ini memiliki paruh pendek hanya 2-6 jam dan bioavailabilitas rendah, sehingga harus diberikan secara bertahap untuk mendapatkan efek terapi yang diharapkan. Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan atau sistem dalam pengiriman zat terapeutik ke lokasi target melalui mode pelepasan obat yang dikontrol secara terus menerus oleh mikroenkapsulasi Nifedipine menggunakan polimer biodegradable polyblend dengan berbagai komposisi massa menggunakan minyak metode penguapan dalam air dan menggunakan Span 80 sebagai surfaktan yang akan menghasilkan mikrokapsul. Mikrokapsul dibuat dengan variasi komposisi PCL yang lebih tinggi dari PLLA. Efisiensi persen tertinggi enkapsulasi nifedipine diperoleh dalam komposisi PLLA: PCL 10: 90 (b / b) sebesar 87,8% dengan hasil 95,3% dan untuk pelepasan nifedipine obat dalam PLLA: PCL 40: 60 (w / w) tertinggi. / w) komposisi pada 34,1% dengan total rilis nifedipine 11,0 mg dari total nifedipine awal yaitu 30,0 mg.

Nifedipine is used as a medicine for high blood pressure, heart and preterm labor. This drug has a short half-life of only 2-6 hours and low bioavailability, so it must be given gradually to get the expected therapeutic effect. Therefore, an approach or system is needed in the delivery of therapeutic substances to the target location through a drug release mode that is controlled continuously by Nifedipine microencapsulation using biodegradable polyblend polymers with various mass compositions using oil evaporation method in water and using Span 80 as a surfactant to be produce microcapsules. Microcapsules are made with variations in the composition of PCL that are higher than PLLA. The highest percent efficiency of nifedipine encapsulation was obtained in the composition of PLLA: PCL 10: 90 (w / w) of 87.8% with a yield of 95.3% and for the release of drug nifedipine in PLLA: PCL 40: 60 (w / w) highest. / w) composition at 34.1% with total release of nifedipine 11.0 mg from total initial nifedipine which is 30.0 mg."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Abdul Mun`im
"Kontrasepsi selaput IntravagR dengan bahan berkhasiat Alkil fenoksi poli etoksi etanol-10 (Agent 741) telah lama beredar di Indonesia, tetapi belum diketahui dengan pasti tentang efektifi tas dan keamanannya sebagai kontrasepsi. Juga belum diketahui cara kerjanya menyebabkan sperma immotil.
Penelitian terhadap 30 semen manus ia in vitro dengan menggunakan metoda Sander-Kramer menunjukkan bahwa pada dosis 0,15 mgjml larutan PBS pH 7,4 menyebabkan semua sperma mati setelah 20 detik pemberian larutan uji. Dosis yang digunakan pada penelitian ini 0,05; 0,10 dan 0,15 mgjml.
Hasi uji HOS (Hypo Osmotic SweLLine) menyebabkan sperma dengan in.. tegritas membran rusak meningkat setelah pemberian larutan uji. Pada dosis 0,15 mg/ml menyebabkan semua sperma mengalami kerusakan membran.

A film contraceptive agent which contains Alkyl phenoxy polyethoxyethanol-10 (Agent 741), R Intravag , has been available in Indonesia for years. However its effectiveness and safety as a contraceptive agent and also its mechanism of action is still unknown.
An in vitro study of thirty human-semen used Sander-Kramer method showed that at dose of that solution of pH 7,4 caused all of sperms immotil and get demaged after administering for 20 second. Doses used in this study are 0.05; 0.10 and 0.15 mg/ml.
The result of HOS (Hypo Osmotic Swelling) test showed that the testw solution caused the sperms with denaged membrane integrity increased. A dose of 0.15 mg/ml of test solution caused all of sperms membranes demaged."
Depok: Universitas Indonesia, 1990
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lia Amalia
"ABSTRAK
Dalam upaya memelihara kebersihan tubuh bayi dan anak, pemakaian popok merupakan cara yang telah lama dikenal karena praktis, efektif, dan higienis untuk menampung urin dan feses agar tidak mengotori kulit sekitarnya. Namun sesungguhnya kulit bayi dan anak kurang siap untuk mengatasi keadaan yang dapat timbal akibat kontak lama antara kulit dengan urin dan feses karena pemakaian popok tersebut. Pemakaian popok dapat menyebabkan perubahan kelembaban kulit akibat peningkatan hidrasi kulit dan pH yang secara fisik menurunkan integritas kulit. Hal tersebut menyebabkan kulit rentan terhadap kerusakan akibat pengaruh mekanik, kimia, iritasi, enzim, serta infeksi bakteri dan jamur.
Suatu studi pada tahun 1986 menunjukkan sekitar lima puluh persen bayi pernah terjangkit kelainan dermatitis popok dalam berbagai tingkat keparahan; insiderisnya berkisar antara 7-35% dan prevalensi tertinggi didapatkan pada usia 8-12 bulan.3 Prevalensi yang bervariasi ini disebabkan tidak semua kasus dermatitis popok dikonsultasikan ke dokter. Sebagian besar kasus ditemukan bersamaan dengan penyakit lain yang diderita bayi tersebut.
Dermatitis popok adalah salah satu jenis dermatitis pads bayi yang merupakan akibat langsung dan pemakaian popok. Banyak faktor yang berperan sebagai etiologi maupun pencetus dermatitis popok. Mengingat adanya berbagai penyebab dan pencetus maka pengobatan standar untuk dermatitis popok adalah pemberian emolien contohnya lanolin. Kegunaanemolien dalam pengobatan dermatitis popok adalah untuk menjaga kulit dari gesekan dan kontak langsung dengan urin serta menjaga kebersihan kulit.
Untuk menjaga kebersihan kulit secara optimal digunakan sabun. Sabun dikenal sebagai salah satu zat yang memiliki daya kerja antibakteri melalui aktivitas tegangan permukaannya. Sebagian besar sabun umumnya mempunyai pH tinggi (pH 75), sedangkan untuk dermatitis popok diperlukan sabun yang mempunyai pH lebih rendah. Formula sabun dengan pH rendah umumnya terdiri dari asam laktat dan laktoserum. Selain sebagai emolien, asam laktat juga berfungsi untuk mempertahankan keasaman kulit sehingga mempunyai daya proteksi terhadap infeksi, sehingga disebut sebagai antimikroba alaaiiah. Sedangkan laktoserum merupakan ekstrak susu alami yang dapat meningkatkan kapasitas buffer asam laktat, mempertahankan keseimbangan keratogenesis secara alarm, dan memperkuat kerja asam laktat.
Fernando (1985) menggunakan asam laktat dan laktoserum sebagai terapi ajuvan dalam perawatan infeksi dermatosis. Sedangkan Daniel (1984) meneliti asam laktat dan laktoserum untuk pengobatan dermatitis popok selama 15 hari dengan hasil yang memuaskan."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T21341
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>