Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3608 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Faruk H.T.
Magelang: Indonesia Tera, 2000
305.4 FAR w
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Endah Sricahyani Sucipto
"ABSTRAK
Pengarusutamaan Gender (gender mainstreaming) merupakan upaya pemerintah untuk menghilangkan hambatan-hambatan yang menyebabkan tidak tercapainya kesetaraan dan keadilan gender (marginalisiasi, stereotype, subordinasi, kekerasan dan beban ganda). Pengarusutamaan gender ini seharusnya menjadi isu yang terintegrasi setiap tahapan di dalam proses perencanaan dan penganggaran pembangunan. Thesis ini menelaah penerapan nilai-nilai kesetaraan (gender) di dalam proses politik anggaran baik pada tingkat perencanaan maupun pada tingkat anggaran. Sekaligus menelaah pada program pemberdayaan perempuan yang ditandai dengan adanya implementasi kegiatan yang responsif gender beserta besaran alokasi anggarannya. Menganalisa proses yang terjadi di dalam politik anggaran dalam mempengaruhi kebijakan yang berdampak terhadap penempatan posisi perempuan dalam pembangunan. Kajian ini dilakukan melalui studi kebijakan dengan melakukan analisis terhadap dokumen-dokumen yang digunakan di dalam proses perencanaan dan penganggaran serta melalukan wawancara mendalam terhadap pemangku kepentingan yang terlibat di dalam proses tersebut. Kajian dilakukan dengan mengambil Kota Kediri sebagai sampel penelitian. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa pengarusutamaan gender di kalangan pemangku kepentingan masih dipahami sebagai isu parsial dan secara operasional diterjemahkan dalam kegiatan yang mendomestifikasi perempuan yang pada akhirnya menempatkan perempuan sebagai objek pembangunan

ABSTRACT
Gender Mainstreaming is goverment attempt effort to eliminate obstacles that prevent to achieve gender equality (marginalization , stereotypes , subordination , violence and multiple load ). Gender mainstreaming should be integrated on every stage development planning and budgeting. This study shows implementation of equality ( gender ) in the political process both at the level of the planning and budgeting and its impact on women's empowerment. These are performed by magnitude the programs and activities as well as of gender-responsive budget allocations. The study was conducted through policy studies by analyzing the documents used in the process of planning and budgeting, the data and deep interviews with stakeholders in the process. The data of this study is collected from official reports within Kediri Municipality (annual reports, meeting reports and others document). Specifically from Kediri Municipality and interview bisides that qualitative data is collected goverment staff, parliament members, CSO/MBO Activist and also women‟s as beneficiariest. This study faund that gender mainstreaming is still understood as a partial issue and interpreted related women domestification. That ultimately puts women as objects of development"
2016
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
"Based on the findings of the 2006 ?Meaning of Work? survey, this article examines the relative ?life domain centrality? of work, family, leisure, community and religion across a representative sample of the Israeli labour force comprising 463 men and 446 women. While confirming that family centrality remained stronger among women than men, male and female respondents ranked work equally high, marking a departure from women's traditionally weaker preference for this life domain. Regression analysis identifies socio-economic factors that partially explain the attitudinal differences between men and women. Overall, the results suggest a growing risk of work?family conflict among Israeli women."
ILR 154:4 (2015)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"In Indonesia women remain at the bottom of the social stratification. Corruption in the country only worsens their position. In order to abolish corruption, investigating and covering it should be a continuous social movement. In this process women are important actors because they are the major victims of political oligarchy and also because women generally have higher ethical standard than men. Corruption is not a victimless crime, because many suffer the consequences of it. Among those victims are women who are socially marginalized. As a result the anti-corruption agenda is in line with the women's empowerment agenda and thus women should be considered important in fighting corruption. The anti-corruption movement should become part of the democratic movement, as well as helping in the right for women's rights. Therefore the improvement of the measurement instruments and anti-corruption strategies should include gender indicators. At the same time, the women's movement must also support the anti-corruption movement, especially to resist the oligarchy that not only raises public resources through corruption, but also marginalizes women in various fields."
360 IFJ 1 : 1 (2013)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Risma Ananda Putri
"Penggunaan bahasa dalam berkomunikasi merupakan unsur penting dalam kehidupan. Penelitian ini membahas ciri-ciri ragam bahasa pria dan wanita dalam mendeskripsikan dua buah gambar dan bertujuan untuk memaparkan perbedaan kelas kata seperti adjektiva, diminutif, jumlah kata, serta jumlah kalimat yang dapat dilihat antara pria dan wanita dalam menggambarkan gambar. Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif dengan memberikan pertanyaan kepada sepuluh responden yang merupakan warga negara Belanda berumur sekitar 30 tahun, berbahasa ibu bahasa Belanda, dididik dengan menggunakan bahasa Belanda dan juga sudah menempuh pendidikan di tingkat Universitas serta tinggal di Belanda. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa ciri-ciri ragam bahasa pria yang banyak ditemukan adalah pria mendeskripsikan gambar secara to the point dan lebih terperinci seperti menyebutkan nama tempat dan letak posisi objek secara teknis. Pria juga lebih banyak bicara dibandingkan dengan wanita, sedangkan wanita hanya berfokus pada hal yang menarik perhatian atau objek yang mudah dilihat, serta banyaknya penggunaan adjektiva dan diminutif.

ABSTRACT
The usage of language is one of the most important element in communications. This research mainly discuss about the differences of men - and women language variety in describing two picture and aim to explain the differences between adjectives, diminutives, the amount of words and also the quantity of sentences which can be seen when describing a picture. Qualitative method is used in this paper. The writer gives some questions to ten Dutch respondents which aged around 30, able to speak Dutch as mother language, able to speak Dutch in university level and also live in Netherlands. The result of this research shows that the characteristic of men language variety can be found through the way men describe a picture. Men describe a picture as it is, and in details. They tend to mention the name of a place and technically position of an object as well. Men also talk more than women. However, most women are usually focused on interesting topics, and objects that can be seen easily, also use lots of adjectives and diminutives."
Depok: [Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya;, ], 2016
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Halimatussadiyah
"Sejak tahun 1950-an, situasi permasalahan mengenai gender di Prancis mengalami transformasi yang sejalan dengan munculnya gerakan sinema Nouvelle Vague. Selain membawa pengaruh radikal terhadap industri sinema, Nouvelle Vaguejuga memproduksi film-film yang sarat akan isu-isu sosial, termasuk situasi perempuan yang dianggap sebagai objek, salah satunya dalam film Les Bonnes Femmes (1960) karya Claude Chabrol. Film ini mengisahkan pengalaman perempuan melalui perspektif empat tokoh perempuan yang intrik dengan perilaku dan persoalan hidup masing-masing dengan tujuan yang sama, yaitu memiliki sosok laki-laki dan mengharapkan cinta sejati. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk memperlihatkan konstruksi perempuan dalam film tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui konsep kajian sinema oleh Joseph M. Boggs dan Dennis W. Petrie (2018) yang didukung dengan teori identitas oleh Kathryn Woodward (2005) dan gagasan feminisme eksistensial oleh Simone de Beauvoir (1949). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa film tersebut mengonstruksi eksistensi perempuan sebagai sosok yang membutuhkan pengakuan melalui cinta dan narsisme.

Since the 1950s, the situation of gender issues in France has been transformed in line with the emergence of the Nouvelle Vague cinema movement. In addition to bringing radical influence to the cinema industry, Nouvelle Vague also produced films that are full of social issues, including the situation of women who are perceived as objects, one of which is in the film Les Bonnes Femmes (1960) by Claude Chabrol. This film tells the story of women's experiences through the perspectives of four female characters who are intrigued by their respective behavior and life problems with the same purpose of having a male figure and expecting true love. Based on this background, this research aims to show the construction of women in the film. This research uses a qualitative method through the concept of cinema studies by Joseph M. Boggs and Dennis W. Petrie (2018) supported by identity theory by Kathryn Woodward (2005) and the idea of existential feminism by Simone de Beauvoir (1949). The results of this study show that the film constructs the existence of women as a figure who needs recognition through love and narcissism.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2023
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Milha Nur Kamilah
"Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan relasi gender dan berbagai situasi yang dihadapi oleh perempuan dalam lingkungan budaya Papua pada novel Isinga. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini merupakan metode kualitatif deskriptif dengan data-data yang bersumber dari novel Isinga. Teori yang digunakan di dalam penelitian ini meliputi teori mengenai sastra, relasi gender dan sistem patriarki. Teori tersebut digunakan untuk mengetahui secara mendalam mengenai relasi gender dan sistem patriarki yang terdapat di dalam novel Isinga. Hasil pembahasan mengungkapkan mengenai relasi gender yang setara dan tidak setara yang dilihat melalui relasi antar tokoh di dalam novel Isinga. Selain itu, penelitian ini juga mengungkapkan berbagai situasi kehidupan yang sulit, seperti beban pekerjaan, tuntutan perihal anak, kekerasan dalam rumah tangga, keadaan menyerah dan bangkit dari keterpurukan yang dihadapi oleh perempuan di dalam novel Isinga karya Dorothea Rosa Herliany.

This study aims to show gender relations and women's situation in Papua's cultural surroundings through the novel Isinga. This study uses a descriptive qualitative method, and the data is collected from the Isinga novel. To find out deeper about gender relations and the patriarchal system contained in the novel, a parallel theory related to literature, gender relations, and the patriarchal system is used. These theories will provide a deeper understanding of the novel's theme. Through this analysis, both equal and unequal perspectives of gender relations are revealed from the relation between characters in Isinga. Moreover, this study reveals several difficult situations women faced in Isinga, such as heavy workload, demands regarding children, domestic violence, and various adversity circumstances."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2023
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Ilma Rayhana
"Stereotip gender dalam pembagian rubrik liputan merupakan salah satu diskriminasi terhadap jurnalis perempuan. Tulisan ini meninjau penelitian “Sustaining the ‘Pink Ghetto’? The identity negotiations of Chinese women journalists in the field of digital journalism”, “Perempuan, Media, dan Profesi Jurnalis”, serta “The Gender of ‘soft’ and ‘hard’ news: Female journalists' views on gendered story allocations” untuk melihat pengalaman jurnalis perempuan dalam ruang redaksi menggunakan model struktur gender sebagai praktik sosial dan konsep hegemoni maskulinitas. Terdapat struktur gender dalam bentuk relasi produksi, relasi kuasa, dan relasi emosional yang mendukung keberlanjutan hegemoni maskulinitas dalam perusahaan media. Pembagian rubrik liputan didasari stereotip peran gender, stereotip sifat maskulin-feminin, hingga dominasi laki-laki di media.

Gender stereotypes in media desk allocations is a form of discrimination against women journalists. This research paper reviews the past studies “Sustaining the ‘Pink Ghetto’? The identity negotiations of Chinese women journalists in the field of digital journalism”, “Perempuan, Media, dan Profesi Jurnalis”, and “The Gender of ‘soft’ and ‘hard’ news: Female journalists' views on gendered story allocations” to look at the experiences of women journalists in the newsroom using the model of gender as a structure of social practices and the concept of hegemonic masculinity. Gender structure is present in the form of labor relations, power relations, and emotional relations which allow the persistence of hegemonic masculinity in media organizations. Desk allocations are based on gender role stereotypes, masculine-feminine traits stereotypes, to men’s domination in media.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2024
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Irma Maskuroh
"Makalah akademik ini membahas tentang isu gender yang digambarkan dalam film How to Train Your Dragon 1 yang disutradarai oleh Dean DebLois dan Chris Sanders. Film ini menceritakan tentang sekelompok Viking yang menempati sebuah pulau yang bernama Berk. Setiap orang yang menghuni di pulau tersebut laki-laki maupun perempuan memiliki peran pada setiap aspek kehidupan termasuk perang, di mana biasanya diidentikan sebagai area pekerjaan laki-laki karena perang memerlukan kekerasan. Perang merupakan identik dengan peng- genderan (peran gender, feminitas, dan seksualitas) dan juga fisikalitas (latihan fisik dan kemampuan fisik). Sebagai film tentang laki-laki dan perempuan yang berpartispasi dalam perang, How to Train Your Dragon 1 menunjukan adanya kesamaan hak antara perempuan dan laki-laki sebagai pejuang atau petarung. Makalah ini mengaitkan tema perempuan sebagai petarung atau pejuang dengan penggambaran feminitas dan seksualitas gender lain dan juga kekuatan fisik di zona perang. Makalah ini menyimpulkan bahwa meskipun dalam film ini menunjukan adanya kesamaan hak antara laki-laki dan perempuan dalam perang namun film ini masih menunjukkan bahwa peran laki-laki masih mendominasi dibandingkan dengan perempuan sehingga menunjukkan perempuan masih di anggap sebagai kaum subordinasi.

This academic paper scrutinizes gender issues depicted in the film How to Train Your Dragon 1 which was directed by Dean DeBlois and Chris Sanders. The story is about a group of Vikings who lives on an island called Berk. Men and women take part in every aspect of life on the island including war which is generally considered a male domain because of the entailed violence. It deals with gender (gender roles, femininity, and sexuality) and also physicality (physical training and physical capabilities). As a film about men and women who participate in war, How to Train Your Dragon 1 depicts gender equity of women characters as combatants. This paper relates the theme of women as combatants with other gendered depiction of femininity, sexuality and the idea of physical strength in war zone. This paper concludes that even though there seems to be gender equality in war and military, the film still shows men's domination and women?s subordination.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2015
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>