Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 93102 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Kong, Yuanzhi
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005
297.211 4 KON m
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Kong, Yuanzhi
Jakarta: Pustaka Populer Obor, 2007
297.211 4 KON m
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Kong, Yuanzhi
Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2011
297.211 4 KON m
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Iwan Santoso
Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2012
305.895 1 IWA p (1);305.895 1 IWA p (2)
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Yogyakarta: Bentara Budaya Yogyakarta, 2011
741.6 HER i
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Yogyakarta: Bentara Budaya Yogyakarta, 2011
895.135 ILU
Buku Klasik  Universitas Indonesia Library
cover
Eddy Prabowo Witanto
"Berabad lalu, saat orang-orang Tionghoa mengarungi lautan menuju bumi Nusantara, impian dan harapan mereka hanyalah sederhana: ingin menggapai sebuah kehidupan yang lebih baik, entah itu melalui perdagangan, pertanian, pertambangan, maupun berbagai pekerjaan lainnya. Seiring berjalannya waktu dikembangkan pula berbagai aspek kehidupan yang mereka miliki, seperti teknologi dan sistem permukiman, adat istiadat, sastra dan bahasa, religi dan kepercayaan, makanan, serta kesenian. Tak dapat disangkal, keberadaan orang-orang Tionghoa di bumi Nusantara telah memberikan jejak dan warna tersendiri. Isinya berkaitan dengan sejarah, religi dan kepercayaan, kata, arsitektur, epigrafi, hingga makanan. Meskipun semua tulisan terlihat saling terpisah, secara keseluruhan ingin berkata bahwa migrasi tak hanya membawa orang-orang Tionghoa menetap di bumi Nusantara kita, tapi juga membawa serta aneka entitas kehidupan yang selama beratus tahun kemudian turut membentuk rona mozaik bagi kebudayaan Indonesia. ***** Remah Berserak adalah sebuah buku karya Eddy Prabowo Witanto yang mengangkat kisah dan jejak masyarakat Tionghoa dalam perjalanan sejarahnya di Nusantara. Judul "Remah Berserak" sendiri mungkin merujuk pada berbagai kisah kecil, peristiwa, dan kontribusi masyarakat Tionghoa yang mungkin terlupakan atau kurang mendapat sorotan dalam sejarah besar Nusantara. Topik Utama: Jejak Sejarah: Buku ini kemungkinan besar akan mengupas sejarah panjang interaksi antara masyarakat Tionghoa dengan penduduk asli Nusantara. Mulai dari kedatangan awal para pedagang Tionghoa, peran mereka dalam perdagangan rempah-rempah, hingga kehidupan sehari-hari mereka di berbagai wilayah Nusantara. Kontribusi: Buku ini juga akan menyoroti berbagai kontribusi masyarakat Tionghoa dalam pembangunan dan perkembangan Nusantara. Baik itu dalam bidang ekonomi, budaya, maupun sosial. Tantangan dan Adaptasi: Buku ini mungkin akan membahas berbagai tantangan yang dihadapi oleh masyarakat Tionghoa dalam beradaptasi dengan lingkungan budaya yang baru, serta upaya mereka untuk mempertahankan identitas dan tradisi mereka."
Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, 2024
305.895 105 EDD r
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Mustopa
"Penelitian ini berangkat dari fenomena warga Tionghoa yang memeluk Islam. Tidak sebagaimana agama Hindu atau Katolik, beralihnya warga keturunan Tionghoa pada agama Islam melahirkan ragam wacana dan pendapat, terutama di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Peralihan agama yang dilakukan sebagian komunitas ini menyisakan sejumlah persoalan terutama karena masih kuatnya kesenjangan pergaulan antara warga keturunan Tionghoa dengan warga pribumi. Sebagian orang kemudian mempertanyakan, benarkah orang-orang Tionghoa telah memeluk Islam?
Meski tema dan wacana pembauran sudah jauh ditinggalkan secara akademis, namun tema ini tetap menjadi agenda bahasan sebagian warga keturunan Tionghoa yang selama ini masih mendapat sangkaan-sangkaan buruk dan perlakuan diskriminatif dari masyarakat pribumi Indonesia. Dalam kaitan dengan pembauran ini sebagian kalangan menilai, bahwa di antara media yang paling bisa mempertemukan dan mendekatkan warga Tionghoa dengan penduduk pribumi adalah dengan menjadi Muslim. Alasannya sederhana, bahwa dengan memeluk agama yang dipeluk mayoritas pribumi, warga Tionghoa dengan sendirinya akan diterima dengan baik dan juga diperlakukan secara baik dan alamiah oleh warga pribumi. Alasan demikian mengemuka karena Islam menjadikan seorang Muslim sebagai saudara bagi Muslim lainnya.
Masalah kemudian muncul. Fakta di lapangan menunjukkan, bahwa dengan menjadi Muslim tidak serta merta warga Tionghoa diterima dan disambut dengan baik oleh warga pribumi. Sebagian memang merasa senang dan menerima dengan tangan terbuka warga Tionghoa yang sudah menjadi Muslim. Namun, sebagian warga pribumi yang lain tidak menganggap sama sekali kelslaman warga Tionghoa. Kalangan ini menilai, bahwa pasti ada sesuatu yang disembunyikan warga Tionghoa terkait dengan Islam yang mereka peluk. Sebagian warga pribumi ini lantas mencurigai dan mempertanyakan keislaman warga Tionghoa di Indonesia.
Dan pihak Tionghoa sendiri terungkap, bahwa tidak semua dari warga keturunan ini memeluk Islam karena alasan dan keyakinannya pada agama tersebut. Sebagian memang memeluk Islam karena faktor hidayah (petunjuk) yang diterima orang Tionghoa yang bersangkutan. Namun, ada beberapa juga dari mereka yang memeluk Islam bukan karena alasan Islam semata, atau karakul tertarik dengan ajaran-ajarannya, tapi karena ada kepentingan lain di balik itu. Alasan yang lazim mengemuka dalam lslamnya warga Tionghoa dalam kasus ini adalah soal perkawinan, atau agar urusan dan kepentingan bisnis mereka menjadi lancar.
Kerangka teori yang digunakan untuk menjelaskan masalah ini adalah teori hubungan antar suku bangsa. Teori tersebut dikembangkan oleh karena jalinan hubungan yang tercipta di antara mereka, sepanjang sejarahnya, melahirkan stereotip dan prasangka pada masing-masing pihak. Stereotip dan prasangka inilah yang kemudian dijadikan acuan penilaian masing-masing pihak dalam memandang, memahami dan mengikapi komunitas yang dianggap berbeda, yakni warga Tionghoa terhadap warga pribumi, dan warga pribumi terhadap warga Tionghoa. prasangka ini sendiri, sebagaimana diterangkan Mclemore, dilatarbelakangi oleh sejumlah factor. Di antara factor utama yang melatarbelakangi stereotip adalah transmisi budaya, pengalaman pribadi, dan identitas group atau etnosentrimse.
Dan situ kemudian terlihat, bahwa ktsangsian warga pribumi terhadap keislaman warga Tionghoa dilatarbelakangi oleh kuatnya stereotip dan prasangka yang bersarang dalam kesadaran warga pribumi. Kesadaran demikian dimiliki warga pribumi dan tertanam kuat dalam budaya yang mereka miliki dan sekaligus menjadi media penilaian mereka saat berinteraksi dengan warga Tionghoa. Dengan kata lain. kesadaran yang tidak baik ini menjadi modal yang kuat bagi warga pribumi untuk menilai siapa dan bagaimana sesungguhnya warga Tionghoa, dan bagaimana pula Islam yang mereka anut.
Menjelaskan pendapat Suparlan (2004), Islam dalam hal ini karenanya bukanlah media yang bisa mencairkan hubungan warga pribumi dengan warga Tionghoa. Islam dalam kerangka ini hanya menjadi media yang berpotensi menciptakan pembauran dan kedekatan warga pribumi dan Tionghoa. Menjadi Islam, dengan kata lain, tidak otomatis meneiptakan kcdekatan warga pribumi dengan etnik Tionghoa. Elemen sejati yang bisa menciptakan kedekatan dan mencairkan kebekuan hubungan warga pribumi dengan warga Tionghoa adalah pergaulan dan komunikasi yang inten di antara mereka."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2006
T22546
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Amorettya Minayora
"Tulisan ini secara umum memaparkan bagaimana orang Tionghoa Indonesia dipahami dewasa ini dan sejauh mana kebijakan asimilasi yang disuarakan oleh pemerintah Orde Baru mempengaruhi mereka dalam proses penggantian agama. Kemudian dipaparkan pula bagaimana mereka memandang diri mereka dalam bersosialisasi dengan pribumi, setelah memeluk agama Islam. Metode yang dipakai dalam menyusun penelitian ini adalah metode penelitian kepustakaan di bidang Sosial dan Budaya serta penelitian lapangan melalui serangkaian wawancara dengan tokoh-tokoh yang paham mengenai masalah Tionghoa Indonesia dan Islam. Di akhir penelitian terlihat bahwa selain karena adanya kebijakan mengenai asimilasi, terdapat pula beberapa faktor lain yang mendorong orang Tionghoa Indonesia memutuskan memeluk agama Islam. Asimilasi bukanlah satu-satunya faktor yang mendorong mereka untuk memeluk agama Islam."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2008
S13987
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>