Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 8783 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Odilia Rovara
"Semua jenis makhluk hidup dapat terkena penyinaran radiasi pengion baik dari alam maupun buatan, yang mengakibatkan kerusakan pada tubuhnya bahkan mematikannya. Oleh kerena itu penting diadakannya penelitian mengenai zat yang bersifat proteksi terhadap radiasi. Penelitian ini merupakan lanjutan dari penelitian Sugiarto dkk., untuk mengetahui mekanisme kamatian tikus putih yang diradiasi sinar gamma dosis 0--12 Gy dengan laju dosis 0,237075 x 10^3 Gy/jam (=transmisi 30%). Dalam penelitian ini diberikan ampicilin dosis 4 mg pasca radiasi untuk mengurangi pengaruh radiasi. Pengamatan dilakukan terhadap jumlah eritrosis, leukisit, granulosit dan agranulosit pada hari ke 3, 11, 19, dan 27 pasca iradiasi. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pada dosis 4 Gy terjadi sindrom homopoetik dengan tanda-tanda leukopenia, granulositopenia, dan agranulositopenia. Kerusakan ini tidak bersifat permanen, di mana setelah terjadi reduksi sel maksimum sampai kurang lebih 73,47 % untuk leukosit, kurang lebih 58,29 % untuk granulosit, kurang lebih 27,88 % untuk agranulosit pada hari ke 3, jumlah sel akan meningkat kembali sehingga mencapai kurang lebih 8,98 % untuk leukosit, kurang lebih 69,18 % untuk granulosit, kurang lebih 76,03 % untuk agranulosit pada hari ke 19. Dosis 8 Gy mengakibatkan kerusakan homopoetik yang lebih parah, dimana penurunan leukosit, granulosit dan agranulosit lebih tajam sedang peningkatan kembali setelah terjadi reduksi maksimum pada hari ke 3, lebih lambat. Pada dosis ini terjadi pula kerusakan kulit dan gejala kerusakan gastrointestianal berupa feses yang cair dan invasi bakteri gastrointestinal dalam darah. Dosis 12 Gy mengakibatkan kerusakan mengakibatkan gastrointestinal yang l;ebih parah dari dosis 8 Gy, dengan tanda-tanda diare, kerusakan vili usus, bakteremia dan leukopenia berat yang tidak dapat diamatai pada hari-hari selanjutnya karena kematian telah terjadi pada hari ke 3 sampai 4. Selain itu dosis ini mengakibatkan kerusakan pada kulit. Antibiotik ampicilin dapat menunda kematian hewan percobaan dengan cara mengurangi invasi bakteri."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Indonesia, 1987
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Engla Merizka
"ABSTRAK
Latar belakang. Pasien yang mendapatkan trasfusi darah berulang berisiko
mempunyai aloantibodi terhadap antigen yang ada pada permukaan sel darah
merah. Aloantibodi tersebut dapat menyebabkan terjadinya reaksi transfusi berupa hemolisis sel darah merah pada transfusi darah berikutnya. Untuk mencegah terjadinya hemolisis sel darah merah maka pasien talasemia sebaiknya mendapatkan darah yang sesuai dengan antigen sel darah merah yang dimilikinya. Namun hal ini belum dimungkinkan karena keterbatasan pemeriksaan rutin pretransfusi yang dilakukan untuk setiap pasien talasemia yang mendapatkan transfusi darah berulang.
Metode penelitian. Delapan puluh delapan sampel pasien talasemia yang
mendapat transfusi darah berulang dilakukan skrining antibodi sel darah merah
dengan metode Indirect Coomb's Test (ICT) dan dilanjutkan dengan identifikasi
antibodi. Sampel yang terdeteksi mempunyai antibodi dikonfirmasi dengan
pemeriksaan fenotyping dan genotyping untuk melihat jenis antigen yang ada di permukaan sel merah.
Hasil. Dari hasil skrining antibodi terdeteksi adanya aloantibodi pada tujuh dari
88 sampel. Dari delapan sampel yang diidentifikasi terdapat tiga sampel
mempunyai anti E (47%), empat (57 %) sampel tidak dapat disimpulkan jenis
antibodi apa yang terdapat dalam sampel.
Simpulan. Pasien talasemia yang memiliki aloantibodi pada sampel darahnya
memiliki genotype RHCE*Ce dan sesuai dengan hasil fenotyping. Dapat
disimpulkan bahwa antibodi pada pasien merupakan aloantibodi. Pada penelitian ini didapatkan persentase aloantibodi pada pasien talasemia sebanyak tujuh (8%) dari total 88 sampel (100 %). Dengan dilakukannya skrining antibodi diharapkan dapat mengurangi risiko terbentuknya aloantibodi dengan memberikan darah donor yang sesuai dengan antibodi yang dimiliki pasien sehingga tidak terjadi hemolisis.

ABSTRACT
Background. Patients who receive repeated blood trasfusi alloantibody risk
having the antigen on the surface of red blood cells. Alloantibody can cause
transfusion reactions in the form of a red blood cell hemolysis on next blood
transfusions. To prevent the occurrence of the red blood cell hemolysis in
thalassemia patients should receive blood that best match the red blood cell
antigen has. But this was not possible due to the limitations of routine pretransfusion examination performed for every patient with thalassemia who receive repeated blood transfusions.
Research methods. Eighty-eight samples thalassemia patients receiving repeated blood transfusions carried red cell antibody screening method Indirect Coomb's Test (ICT) and continued with the identification of antibodies. Samples were detected with antibodies was confirmed by examination fenotyping and genotyping to see what kind of a cell surface antigen that is red.
Results. From the results of antibody screening detected seven out of 88 samples contained alloantibody. Of the eight samples has identified three samples contained anti-E (47%), four (57%) samples can not be inferred what kind of antibodies contained in the sample.
Conclusions. Patients with thalassemia who have alloantibody on blood samples have genotype RHCE * Ce and in accordance with the results of fenotyping. It can be concluded that the antibodies in patients is alloantibody. In this study, the percentage of patients with thalassemia alloantibody seven (8%) of the total 88 samples (100%). The effect of antibody screening is expected to reduce the risk of developing alloantibody by providing appropriate donor blood with antibodies that owned the patient so there is no hemolysis."
2016
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rosita Saumi Imanta Putri
"Latar Belakang: Transfusi darah masih sering dilakakukan sekarang. Transfusi darah yang aman dan steril seharusnya dilakukan untuk mencegah reaksi yang tidak diinginkan untuk ada. Transfusi sel darah merah mempunyai insiden yang paling rendah. Walaupun dorongan dan praktik untuk memeriksa darah sebelum donor sudah dilakukan, reaksi transfusi tetap menunjukan angka kejadian yang tinggi terutama di negara dengan berpenghasilan rendah. Walaupun sebagian besar reaksi transfusi tidak mengancam, namun reaksi transfusi tetap menambah ketidaknyamanan pasien.
Metode: cross-sectional digunakan dalam riset ini. Data diambil secara primer dengan kuesioner yang diberikan kepada pasien anak berumur 0-18 tahun yang sedang di transfusi dengan sel darah merah. Kuesioner tersebut di isi sendiri oleh orang tua atau wali pasien. Kuesioner mencakupi ada atau tidaknya reaksi transfusi, diagnosis pasien, dan frekuensi transfusi pasien dalam satu bulan. Dibutuhkan 81 subyek untuk riset ini.
Result: Dari 83 pasien, ditemukan prevalensi reaksi transfusi di RSCM Kiara adalah 39.8%. Data yang diperolah sebagian besar adalah perempuan dan umur paling tinggi adalah 5-10 tahun. Hubungan signifikan antara diagnosis pasien dengan kemunculan reaksi transfusi ditemukan. Namun, signifikansi antara frekuensi transfusi dan reaksi transfusi tidak ditemukan di riset ini.
Kesimpulan: reaksi transfusi yang paling sering terjadi adalah gatal, kemerahan, dan nyeri. Dari penelitian, ditemukan bahwa pasien dengan diagnosis keganasan 6 kali lebih mungkin untuk mengidap reaksi transfusi dikarenakan keadaan kesehatan pasien tersebut. Frekuensi transfusi tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan reaksi transfusi.

Background: Blood transfusion is a common practice done nowadays. Safe and sterile practice should be done to avoid any unwanted reaction that could happen. Red blood cell transfusion has the lowest incidence of transfusion reaction compared to other blood product. However, transfusion reaction is still happening despite the endorsement and practice of blood screening especially in some low income countries. The most common transfusion reactions are usually benign, however, it still adds to the patient’s discomfort.
Methode: This is a cross-sectional study. Primary data by a questionnaire given to pediatric patient undergoing RBC transfusion between 0-18 years old in RSCM Kiara transfusion ward. The questioner was completed by the parents or guardian of the patient. The questionare include the presence of transfusion recation, patient’s diagnosis, and the frequention of transfusion in one month. 81 subjects are needed for this research.
Results: From 83 patients that was included in this research, it was found that prevalence of transfusion reaction in pediatric patient is 39.8%. Most of the data was taken from female and most were between age 5-10 years old. There is a significant correlation between the recepient underlying diagnosis and the presence of transfusion reaction. However, there is no significant results in transfusion frequency.
Conclusion: The most common transfusion reactions found in this study are urticarial, rash, and pain. From this research, it was proven that patient with malignancy is 6 times more prone to transfusion reaction due to the patient’s condition. The frequency of transfusion does not significantly effect the possibility of developing transfusion reaction.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ade Rachmat Yudiyanto
"Latar belakang: Diare merupakan masalah kesehatan paling sering pada anak.Berbagai penyebab diare dapat menyebabkan diare berlangsung lama dan bisa menjadi malnutrisi (gizi buruk).Penyebab diare bisa disebabkan oleh infeksi bakteri dan membutuhkan antibiotik sehingga diperlukan deteksi sedini mungkin. Pemeriksaan soluble triggering receptor expressed on myeloid cells-1 (sTREM-1) dapat menduga adanya infeksi bakteri pada anak dengan diare akut. Tujuan :Mengetahui seberapa besar nilai diagnostik peningkatan leukosit dalam tinja dibandingkan dengan sTREM-1. Metode :studi potong lintang terhadap anak usia 6-60 bulan dengan diare akut tanpa komplikasi dan penyerta penyakit lain. Pada subyek dilakukan anamnesis gambaran klinis (demam, muntah, sakit perut), pemeriksaan leukosit dalam tinja dan pemeriksaan sTREM-1 sebagai referensi standard. Hasil : Anak dengan diare akut oleh karena infeksi bakteri usia 6-60 bulan dengan sTREM-1>470 pg/mL sebanyak 2 dari 64 subyek penelitian dan leukosit tinja > 10 / LPB sebanyak 14 dari 64 subyek penelitian, terbanyak lelaki, status nutrisi normal dan memiliki gambaran klinis demam, muntah dan tanpa sakit perut. Peningkatan leukosit tinja > 10 / LPB memiliki sensitifitas 50 %, spesifisitas 79,1 %, nilai prediksi positif 7,1 %, nilai prediksi negatif 98 %, akurasi 78 %, nilai rasio likelihood positif 2,18 dan nilai rasio likelihood negatif 0,63. Simpulan :Peningkatan leukosit tinja > 10 / LPB sebagai konfirmasi diagnostik kurang
baik dalam mendiagnosis diare akut oleh karena infeksi bakteri.

Background: Diarrhea is a health problem most often occurs in children. Various etiology of diarrhea can cause prolonged diarrhea and become malnourished (malnutrition). The etiology of diarrhea can be caused by a bacterial infection and requires antibiotics, so that detection is needed as early as possible. Examination of soluble triggering expressed receptors on myeloid cells-1 (sTREM-1) can predict bacterial infection in children with acute diarrhea. Objective: toknow how much the diagnostic value of fecal leukocytes test compared to sTREM-1. Methods: cross-sectional study of children aged 6-60 months with acute diarrhea without complications and other diseases. In the subjects, clinical manifestation was performed (fever, vomiting, abdominal pain), fecal leukocyte test and sTREM-1 test as a standard reference. Results : Children, aged 6-60 months with acute diarrhea due to bacterial infections
with sTREM-1> 470 pg / mL as many as 2 of 64 subjects and fecal leukocytes > 10 / HPF as many as 14 of 64 subjects, most male, normal nutritional status and had clinical
manifestation of fever, vomiting and without abdominal pain. Increased fecal leukocytes > 10 / HPF has a sensitivity of 50%, specificity 79.1%, positive predictive value 7.1%, negative predictive value 98%, accuracy 78%, positive likelihood ratio 2.18 and negative likelihood ratio 0, 63. Conclusion: Fecal leukocyte test > 10 / HPF as a diagnostic confirmation is not good in
diagnosing acute diarrhea due to bacterial infection.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Kevin Aristyo
"ABSTRAK
Latar Belakang: Beberapa tahun belakangan ini, berbagai aspek sosial-ekonomi sering dihubungkan dengan pasangan yang menunda konsepsi mereka. Fenomena ini memunculkan isu tentang bagaimana umur ayah dan ibu dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan reproduksi. Dengan demikian, adalah hal yang sangat penting untuk mengerti bagaimana umur dapat mempengaruhi fertilitas mereka.Tujuan: Mencari korelasi antara umur dari pasien infertil dengan Index Fragmentasi DNA dan jumlah leukosit semenMetode: Penelitian ini dilakukan dengan metode retrospektif deskriptif. Sumber data pada penelitian ini adalah rekam medis pasien infertil dari Departemen Biologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Pengambilan data dimulai dari Mei 2014 sampai Mei 2015 dengan jumlah sampel 51 dan 32 untuk setiap korelasiHasil: Pada studi ini, ada 2 korelasi yang dilakukan; 1 umur dari pasien infertil berkorelasi positif r = 0.502 dengan indeks fragmentasi DNA and 2 jumlah leukosit semen juga berkorelasi positif r = 0.528 dengan indeks fragmentasi DNAKata kunci: indeks fragmentasi DNA; infertilitas pria; umur; jumlah leukosit semen

ABSTRACT
Background Over the last years, various socio economic aspects have been attributed to couples who delay their conception. This phenomenon has raised an issue of how both paternal and maternal age influences the reproductive success rate. It is essential to comprehend the way age affects the fertility as it is common for partners to delay their childbirth until later decades of their livesAim To find the correlation between age of infertile male patients with their DNA fragmentation index and seminal leukocyte countMethods This study was conducted with retrospective descriptive method. The source of data in this study was medical records of infertile male patients in Department of Biology Faculty of Medicine Universitas Indonesia. The data was nested from May 2014 to May 2015 with sample number of 51 and 32 for each correlation respectively.Results In this study, there are two correlations being done 1 age of infertile male patients are positively correlated r 0.502 with their DNA fragmentation index and 2 their seminal leukocyte count are also positively correlated r 0.528 with their DNA fragmentation index.Keywords DNA fragmentation index male infertility age seminal leukocyte count."
2015
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andriansjah
"ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui potensi berudu katak lembu (Rana catesbeiana Shaw) sebagai hewan uji hayati dengan metode uji mikronukleus. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan cara memaparkan kadmium kiorida pada berudu katak lembu dengan konsentrasi 0; 0,1; 0,25; 0,5; dan 1 ppm serta kolkisin 4 ppm (kontrol positif) selama 12 hari. Untuk setiap berudu katak dilakukan penghitungan mikronukleus per 1000 sel eritrosit. Penghitungan statistik menunjukkan, terdapat perbedaan sangat nyata (α = 0,01) antara perlakuan pemaparan dengan cadmium kiorida 0 ppm (kontrol negatif) terhadap perlakuan pemaparan dengan kadmium klorida 0,25; 0,5 dan 1 ppm. Hasil tersebut memberikan kesimpulan bahwa berudu katak lembu dapat membentuk mikronukleus pada eritrosit bila dipapar cadmium klorida dengan konsentrasi 0,25; 0,5 dan 1 ppm."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1996
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Agus Gunawan
"ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui potensi berudu katak lembu (Rana catesbeiana Shaw) sebagai hewan uji hayati dengan metode uji mikronukleus. Berudu R. catesbeiana dipapari merkuri klorida (HgCl2) dengan konsentrasi 0 ppm (kontrol negatif); 0,0125; 0,025; 0,05 dan 0,1 ppm. Kolkisin 4 ppm digunakan sebagai control positif. Pemaparan dilakukan selama 12 hari. Mikronukleus diamati dari sediaan olesan darah ekor yang diwarnai dengan pewarna Giemsa. Penghitungan mikronukleus dilakukan pada 1000 eritrosit.
Hasil penghitungan statistik menunjukkan adanya perbedaan nyata (α = 0,05) antara HgCl2 0 ppm dengan HgCl2 0,0125; 0,025; 0,05; 0,1 ppm; dan dengan kolkisin 4 ppm. Dari hasil analisis regresi linier didapatkan persamaan garis Y = 5,25 + 82,82x, yang berarti peningkatan jumlah mikronukleus sesuai dengan peningkatan konsentrasi merkuri klorida yang dipaparkan. Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa berudu R. catesbeiana mempunyai potensi sebagai hewan uji mikronukleus untuk mendeteksi pencemaran perairan."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Indonesia, 1996
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Setiorini
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1999
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Loeki Enggar Fitri
"Cytoadherence eritrosit terinfeksi P.falciparum pada sel endolel adalah faktor utama dalam perkembangan malaria berat. Proses ini diduga melibatkan respon iinun lokal yang distimulasi o!eh Tumour Necrosis Factor-a (TNF-a). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh Cytoadherence eritrosit terinfeksi P.falciparum dan pemberian TNF-a dalam mengtnduksi aktivasi sel endotel secara in vitro. Ekspresi inducible Nitric Oxide Synthase (iNOS) dan Caspase-3, serta produksi Reactive Oxygen Intermediate (ROl) digunakan sebagai parameter aktivasi. Suatu penelitian eksperimental laboratorium telah dilakukan untuk melihat aklivasi sel endotel (HUVECs) setelah dipajan dengan TNF-a selama 20 jam atau eritrosit terinfeksi P.falciparum selama 1 jam atau keduanya. Biakan sel endotel normal digunakan sebagai kontrol. Dengan metode imunohistokimia respon imun lokal dari sel endotel ditentukan dengan melihat ekspresi iNOS dan Caspase 3. Nitro Blue Tetrazolium reduction-assay dilakukan untuk melihat produksi ROi secara semikwantitatif pada sel endotel. Ekspresi iNOS hanya ditemiikan pada biakan sel endotel yang dipajan dengan eritrosit terinfeksi P.falciparum atau eritrosit terinfeksi P.falciparum bersama TNF-a. Ekspresi Caspase 3 terlihat tipis pada beberapa sel pada biakan endotel normal. Ekspresi ini meningkat secara signifikan pada biakan sel endotel yang dipajan eritrosit terinfeksi P.falciparum bersama TNF-a (p=0,000). Sel endotel normal yang diinduksi dengan suaiu induktor non spesifik (PMA) mengeluarkan ROl dalam kadar yang sangat rendah. Pemberian eritrosit terinfeksi P.falciparum saja atau eritrosit terinfeksi P.falciparum bersama TNF-a menyebabkan sel endotel mengeluarkan ROf dalam kadar medium sampai finggi. Pajanan eritrosit terinfeksi P.falciparum dan TNF-a pada sel endotel dapat menginduksi respon iinun lokal yang ditandai dengan peningkatan inducible nitric oxide synthase dan pelepasan radikal bebas sehingga menyebabkan kerusakan sel. (Med J Indones 2006; 15:151-6)

Cytoadherence of P. falciparum infected erythrocytes on endothelial cells is a key factor in development of severe malaria. This process may associated with the activation of local immune that was enhanced by Tumour Necrosis Factor-a (TNF-a). This study was conducted to see the influence of P.falciparum infected erythrocytes Cytoadherence and TNF-a treatment in inducing endolhelial cells activation in vitro. Inducible Nitric Oxide Synthase (iNOS) and Caspase-3 expression, also Reactive Oxygen Intermediate (ROl) production were used as parameters. An Experimental laboratory study had been done to obsen'e endothelial cells activation (HUVECs) after treatment with TNF-a for 20 hours or P.falciparum infected erythrocytes for I hour or both of them. Normal endolhelial cells culture had been used as a control. Using immunocytochemistry local immune activation of endothelial cells was determined by iNOS and Caspase-3 expression. Nitro Blue Tetrazolium reduction-assay was conducted to see the ROl production semi quantitatively. Inducible Nitric Oxide Synthase expression only found on endothelial cells culture treated with P.falciparum infected erythrocytes or both P.falciparltm infected erythrocytes and TNF-a. Caspase-3 expression found slightly on normal endothelial cells culture. This expression increased significantly on endothelial cells culture treated with both P.falciparum infected erythrocytes and TNF-a (p=0,000). The normal endothelial cells release low level of ROi in the presence of non-specific trigger, PMA. In the presence of P.falciparum infected erythrocytes or TNF-a or both of them, some celts showed medium to high levels of ROI. Cytoadherence of P. falciparum infected erythrocytes and 77VF a treatment on endothelial cells can induce activation of local immune marked by increase inducible nitric oxide synthase and release of free radicals that cause cell damage. (Med J'Indones 2006; 15:151-6)"
[place of publication not identified]: Medical Journal of Indonesia, 2006
MJIN-15-3-JulySept2006-151
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Nadia Ayu Mulansari
"Latar Belakang: Kondisi besi berlebih, dengan feritin dan saturasi transferin sebagai surrogate marker, akan menimbulkan oksigen radikal bebas (ROS) yang menyebabkan stress oksidatif. Malondialdehid (MDA) merupakan ROS yang terbentuk dari peroksidase lemak sedangkan (manganese)superoksid dismutase (MnSOD) sebagai enzim yang mengubah radikal bebas oksigen menjadi oksigen biasa. Transfusi darah sering digunakan untuk mengatasi anemia pada kanker, namun juga berpotensi meningkatkan beban besi pada tubuh. Penelitian ini melihat peran transfusi darah terhadap feritin serum dan saturasi transferin serta kaitannya dengan stres oksidatif pada pasien kanker nasofaring.
Tujuan: Mengetahui peranan transfusi sel darah merah (SDM) dalam kaitannya dengan perubahan kadar feritin serum dan saturasi transferin serta korelasinya dengan stress oksidatif pada pasien kanker nasofaring (KNF) yang menjalani kemoradiasi.
Metode: Studi kohort prospektif. Pengambilan data dilakukan di klinik Hematologi-Onkologi Medik IPD RSCM Jakarta secara consecutive sampling pada bulan November 2015-Februari 2016. Pasien KNF yang menjalani kemoradiasi diperiksakan kadar feritin serum, saturasi transferin, MDA, MnSOD pra dan pasca terapi. Dilakukan pencatatan jumlah transfusi sel darah merah yang diterima. Analisa data menggunakan T-test/Mann Whitney dan uji korelasi Spearman.
Hasil: Total 38 pasien yang menjalani kemoradiasi, usia rata-rata 47 tahun, laki-laki dan perempuan 4:1. Sebanyak 18 pasien (47,4%) menerima transfusi sel darah merah selama pengobatan. Didapatkan peningkatan rerata saturasi transferin sebesar 15,1% (p=0,016) dan MDA sebesar 1,368 (p=0,001) pada pasien yang mendapatkan transfusi SDM dibandingkan yang tidak mendapatkan transfusi. Tidak didapatkan perbedaan yang signifikan pada feritin serum (p= 0,35) dan MnSOD (p= 0,496) antara yang mendapatkan transfusi SDM dengan yang tidak. Didapatkan korelasi lemah antara feritin serum dengan MDA dan MnSOD (r=0,239 dan r= -0,374) dan tidak didapatkan korelasi antara saturasi transferin dengan MDA dan MnSOD (r=0,191 dan r=0,027).
Simpulan: Terdapat peningkatan rerata saturasi transferin dan MDA pada pasien yang mendapatkan transfusi SDM. Tidak terdapat peningkatan feritin serum ataupun penurunan MnSOD. Terdapat korelasi yang lemah antara peningkatan kadar feritin serum dengan MDA dan MnSOD pada pasien KNF pasca kemoradiasi dan transfusi sel darah merah. Tidak terdapat korelasi antara kadar saturasi transferin dengan MDA dan MnSOD pada pasien KNF yang mendapat transfusi sel darah merah.

Background: The presence of free iron in the circulation will induce the formation of reactive oxygen species (ROS) which result in cell injury. The free radical formed and cause lipid peroxidation which in result cause formation of malondialdehyde (MDA). (manganese)Superoxide Dismutase (MnSOD) as antioxidant enzyme have anti tumor activity and the level often found low in cancer patient. Ferritin and transferrin saturation are predictor of iron overload. Blood transfusion is the therapy often used to resolve anemia in cancer, but also increase iron burden in body. This study focus on the role of blood transfusion to serum ferritin and transferrin saturation and its correlation with oxidative stress in patients with nasopharyngeal cancer (NPC).
Objective: To know the role of red blood cell (RBC) transfusion and its relations to serum ferritin and transferin saturation level and their correlation with oxidative stress in nasopharyngeal cancer patients undergoing chemoradiation.
Methods: Prospective study. Sample obtained with consecutive sampling method collected in the Hematology-Medical Oncology Clinic in Cipto Mangunkusumo Hospital Jakarta November 2015 to February 2015. NPC patients undergoing chemoradiation, blood examination performed to measure ferritin, saturation transferrin, malondialdehyde, MnSOD before and after treatment. During treatment the amount of transfusion received is recorded. Data analysis done using T-test/Mann Whitney and Spearman correlation test.
Results: Total of 38 patients received chemoradiation, mean age 47,97 years old, proportion man compare woman is 4:1. During treatment 18 patients (47,4%) received red blood cell transfusion. Difference in mean found between transferrin saturation 15,1% (p=0,016) and MDA serum 1,358 nM (p=0,001) in patient receiving RBC transfusion compare to subject not receving transfusion. There are no significantly differences in serum ferritin and MnSOD level between both group. We found a weak correlation between raise of serum ferritin to the raise of MDA and the declining of MnSOD (r = 0,239 and r= -0,374). There are no correlation between transferin saturation with MDA nor MnSOD
Conclusions : Increase in transferin saturation and MDA level found in NPC receiving RBC transfusion after chemoradiation. There is a weak correlation found between serum ferritin with MDA and MnSOD in nasopharyngeal cancer undergoing chemotherapy radiation therapy receiving RBC transfusion and no correlation between transferin saturation with MDA and MnSOD changes.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>