Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 64541 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Fanny Rahmalia
"Penelitian mengenai studi populasi Anadara antiquata Linn. 1758 telah dilakukan di Teluk Sungai Pisang, Kota Padang, Sumatera Barat pada bulan Juni 2010. Penelitian bersifat deskriptif dan bertujuan untuk mengetahui kepadatan, distribusi, dan beberapa aspek ekologis dari Anadara antiquata. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode kuadrat di 3 Stasiun, yang berbeda ekosistem (lokasi di depan ekosistem mangrove, lokasi di depan kebun kelapa, dan lokasi di depan pemukiman penduduk). Kepadatan populasi dan frekuensi kehadiran Anadara antiquata tertinggi terdapat pada lokasi di depan kebun kelapa (2,67 individu/m2 dan 100 %). Secara umum, pola distribusi dari Anadara antiquata di ketiga stasiun adalah mengelompok."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2010
S31649
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jabang Nurdin
"Kepadatan dan pertumbuhan kerang darah Anadara antiquata L. di kawasan Teluk Sungai Pisang Kota Padang, Sumatera Barat telah dilakukan dari Maret sampai Desember 2004. Kerang A. antiquata dikoleksi dengan metoda sistimatik sampling. Lokasi pencuplikan kerang A. antiquata dibagi atas tiga strata. Masing-masing strata dibagi atas 3 stasiun berdasarkan kedalaman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan tertinggi kerang A. antiquata ditemukan di stasiun 1 strata III yaitu 1.8 ind./m2 dan kepadatan terendah di stasiun 3 strata I yaitu 0.9 ind./m2. Laju pertumbuhan kerang A. antiquata yang tertinggi ukuran 3 cm yaitu 0,064±0,043 cm/ind./15 hari dan yang terendah ukuran 5 cm yaitu 0,009±0,011 cm/ind./15 hari dengan persamaan korelasi Y=0,087?0,0165X ; r=0,976.

The population density and growth of the cockle Anadara antiquata L. Pelecypoda in Pisang River bay area Padang city, west Sumatera. The research has been done from March to December in 2004. The cockles A. antiquata were collected with systimatic stratified method. The cockle A. antiquata colletion site were divided three strata. The each strata were divided three station based on the water depth.
Results of the research showed that the higest density of the cockle A. antiquata was found at station 1 strata III (1.8 ind./m2) and the lowest density at the station 3 strata I (0.9 ind./m2). The higest growth rate of A. antiquata was the length 3 cm (0.064 ± 0.043 cm/ind./15 day) and the lowest growth rate was the length 5 cm (0.009± 0.011 cm/ind./15 day) with corellation similarity Y=0.087?0.0165X; r=0.976)."
Depok: Lembaga Penelitian Universitas Indonesia, 2006
AJ-Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Elsa Safrida
"Telah dilakukan penelitian mengenai studi populasi mimi juvenil Tachypleus gigas di Teluk Sungai Pisang. Lokasi penelitian dibagi menjadi 3 stasiun, yaitu Stasiun I di dekat ekosistem mangrove, Stasiun II di depan kebun kelapa, dan Stasiun III yang dekat dengan pemukiman penduduk. Setiap stasiun dibagi menjadi 4 substasiun. Setiap substasiun ditarik 3 belt transek 2 x 10 meter. Dilakukan pengukuran parameter abiotik yaitu suhu, salinitas, ukuran partikel substrat, kadar organik, dan kedalaman air pada setiap belt. Juvenil yang didapatkan diukur panjang prosoma, opistosoma, telson, lebar prosoma, dan berat tubuh. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan 37 individu, terdiri dari 1 individu dari stasiun I, 25 individu dari stasiun II, dan 11 individu dari stasiun III. Suhu pada lokasi penelitian berkisar antara 29--31,5o C, salinitas berkisar antara 25--32 ppt, dan kadar organik berkisar antara 4,1 -- 9,2 %. Juvenil didapatkan dari kedalaman air yang bervariasi, yaitu 6 -- 33 cm. Substrat yang terdapat di lokasi penelitian adalah lumpur, pasir, lumpur berpasir, pasir berlumpur, kerikil berpasir, dan pasir berkerikil. Lebar prosoma mimi juvenil berkisar antara 33,25--68,01 mm, panjang prosoma 30,12--60,25 mm, panjang opistosoma 13,89 -- 41,30 mm, panjang telson 30,64 -- 70,22 mm, dan berat tubuh berkisar antara 3,16--25,5 gram. Korelasi positif terdapat pada hubungan antara panjang prosoma dengan lebar prosoma, panjang prosoma dengan berat tubuh, lebar prosoma dengan berat tubuh, lebar prosoma dengan kedalaman, dan lebar prosoma dengan telson. Jumlah individu dengan salinitas, suhu, dan kadar organik tidak memiliki korelasi. "
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2010
S31650
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Arifah Dinda Lestari
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2010
S31651
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Rusmawati
"ABSTRAK
Penelitian mengenai studi populasi dan persepsi masyarakat terhadap pemanfaatan kerang Anadara granosa (Linn. 1758) telah dilakukan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi pada bulan Juli 2012 sampai Desember 2012. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kepadatan, distribusi dan pola pertumbuhan Anadara granosa. Penelitian dilakukan di 3 stasiun yang berbeda ekosistem (lokasi di Suaka Kerang, lokasi di depan ekosistem mangrove, dan lokasi di depan pemukiman penduduk) dengan menggunakan metode Purposive Random Sampling. Kepadatan populasi Anadara granosa adalah 5,09 ind/m2 dengan kepadatan populasi tertinggi terdapat pada Stasiun 1 di Suaka Kerang. Pola distribusi kerang adalah seragam. Pertambahan panjang cangkang diikuti dengan penambahan berat. Terdapat perbedaan morfometri cangkang kerang darah antar stasiun. Ukuran morfometri kerang Anadara granosa adalah panjang rata-rata 3,36-3,94 cm, tinggi rata-rata 2,63-3,11cm, dan tebal rata-rata 2,41-2,91 cm. Terdapat korelasi antara panjang cangkang dengan biomassa dan antara kepadatan dengan pH dan salinitas. Penelitian mengenai persepsi masyarakat terhadap pemanfaatan kerang bertujuan untuk mengetahui pengetahuan lokal, pengelolaan dan pemanfaatan Anadara granosa. Penelitian dilakukan di 2 Desa yaitu Tungkal II dan Tungkal Harapan, menggunakan metode wawancara. Pemberian nama kerang berdasarkan lokasi dan cara penangkapan, pemanfaatan kerang untuk konsumsi, masyarakat masih belum mengetahui tentang konservasi dan budidaya kerang darah.
ABSTRACT
Research on population study of Anadara granosa (Linn. 1758) in West Tanjung Jabung, Jambi Province was done on July to September 2012. The objectives of the study are to determine the density, distribution, morphometry and growth patterns of Anadara granosa. Data were collected by using purposive random sampling method in three stations, that had different ecosystems (locations in Suaka Kerang, in front of the mangrove ecosystem, and villages). The population density of Anadara granosa is 5.09 ind/m2 and the highest population density in Station 1 at Suaka Kerang. Distribution pattern of shells is uniform. Shell length increasing, followed by weight gain. There are differences between the blood clam shell morphometry station. Length average is 3.36-3.94 cm, the high average is 2.63-3.11cm, and the thickness average is 2.41-2.91 cm. There is a correlation between the length of the shell with biomass and density with pH and salinity. The objective of the study of the research on public perception of the use of the blood clam Anadara granosa is to determine the local knowledge on the management and utilization of Anadara granosa shellfish in Kuala Tungkal. Location of the study include in two village, Tungkal II and Tungkal Harapan. The result is a local naming shells based on the location and type of fishing gear, the use of shells by the public as a consumer, the public do not know about the blood clam conservation and cultivation."
2013
T35982
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"quality of territorial water there are difference that is in Island of Sironjang, Island of Sirandah and Island of Pasumpahan brightness 7 metre, salinitas 30 % 0, degree of acidity (pH) 8, air temperature 28 derajat C and water temperature 30 derajat C. While , in island of Sikuai brightness 5 metre, salinitas 29 %0 , pH 7, and water temperature 28 derajat C. This defference is assumed by because in Island of Sikuai stand up wisata resort and hotel. Results of coral covery of manta - tow live equal to 11 - 30 % (category of II), in Island of Sirandah (Coral Heliopora) and Island of Pasumpahan (Coral Massive) with mean mount rock tutupan live equal to 31 - 50% (category of III). Result of line transect, percentage of coral covery live at location islands research of mean in a condition heavy damage (0 - 24%), and (25 49 %), higest coral covery there are in Island of Pasumpahan equal to 47, 50 % (damage) in Island of Sirandah 46,5 is % (damage), and in Island of Sikuai 23 % (heavy damage), while lowest coral covery found in Island of Sironjong equal to 15, 00% heavy damage. Mean make an index to diversity which there are in Island of Sironjong is 0,384, Island of Sirandah 0, 443, Island of Sikuai 0,647 and Island of Pasumpahan 0, 375 , (H<1). Mean of diversity of low growth form, low spreading and low stability. Index mean dominant coral in Island of Sironjong 0,510, In Island of Sirandah 0,705, Island of Sikuai 0,737 and Island of Pasumpahan 0,644 (C come near 1) meaning there is type which dominant. (25 - 49%) higest coral covery there are in "
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Nur Endah Satiti
"Penelitian bertujuan untuk mengetahui kepadatan dan distribusi kerang tahu Meretrix meretrix serta faktor-faktor yang memengaruhi kepadatan dan distribusi kerang tahu di Pantai Panimbang, Pandeglang, Banten pada bulan Juli 2012. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode transek kuadrat. Pengambilan sampel dilakukan di 3 tipe ekosistem berbeda, yaitu mangrove, kebun kelapa, dan perumahan dengan masing-masing 3 kali pengulangan. Sampel dihitung morfometri, jumlah individu, kepadatan, dan pola distribusi. Jumlah individu kerang tahu di 3 stasiun ditemukan sebanyak 60 individu. Kepadatan rata-rata kerang tahu yaitu 1,33 individu/m2. Hasil uji Chi kuadrat menunjukkan kerang tahu memiliki pola distribusi mengelompok. Sebaran dan distribusi dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain, salinitas, kedalaman, substrat, dan arus gelombang.

The study aimed to determine population density and distribution of venus clam Meretrix meretrix with some factors effect them in the Panimbang coast, Pandeglang, Banten in July 2012. Venus clam were collected with quadrate transect method. Sample collection site were divided into 3 station based on the coastal ecosystem, i.e. mangrove forests, coconut palm trees, and society house each with 3 replicates. Quantification sample involves shell morphometry, total of individual, density, and distribution pattern. Total individual of Venus clam is 60 individual. The result show that density of venus clam is 1,33 individual/m2. Chi square test show that distribution pattern of venus clam is clumped. The result show that venus clam distribution follow salinity, water depth, substrate, and current wave."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2013
S44730
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jabang Nurdin
"Geographically, Kabung Bay coastal waters is located at 100° 22'24? - 100°20?79? EL and 01° 06?22?- 01° OT45? SL. This region consists of intertidal areas, shallow sea waters (mudflats, gravel-sandflats, and sandflats), mangrove ecosystem, and coral reef. In the vicinity of Kabung Bay, there are many small islands that have been used as ecotourism sites such as Pasumpahan, Sikuai and Serandah islands. In those areas, there are some clam species which are commonly consumpted by local people such as Anadara antiquate, Katalysia japonica, and Gafrarium tumidum. Gafranium tumidum, known as kerang Kopah, is the most abundant in those areas and has been the most utilized by communities. However, their population density may be decreased due to the recent open access for those islands especially the tourism purposes."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2009
D1245
UI - Disertasi Open  Universitas Indonesia Library
cover
M. Nursi
"Penelitian ini bertolak dari keinginan untuk mengetahui tinggi rendahnya potensi konflik politik (PKP) kepartaian dalam masyarakat dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Masalah ini relevan dan menarik untuk diteliti. Sebab dalam perjalanan kehidupan politik masyarakatnya telah terjadi konflik dan segmentasi palitik secara tajam, yang berakar dari pertentangan ideologi politik. Pendapat Geertz, konflik tersebut semakin dipertajam oleh perhimpitannya dengan polarisasi dan primordialisme regionalisme, agama, dan etnis. Akibatnya konflik politik tidak hanya terjadi di lapisan alit partai, tetapi juga merebak dan memancing emosional ideoloqis dan primordialisme masyarakat. Namun demikian, sekarang sistem kepartaian telah jauh berbeda dan semakin integratif. Persepsi dan sikap politik masyarakat pun diasumsikan demikian, khususnya dengan adanya penyeragaman ideologi politik (azas tunggal Pancasila) dan fusi partai. Tapi apakah dengan reformasi sistem kepartaian tersebut juga berarti tereliminirnya PKP dalam masyarakat masyarakat Kecamatan VII Kato Sungai Sarik ?
Penelitian ini utamanya menggunakan metode kuantitatit, dan dilengkapi dengan metode kualitatif, serta dengan teori konflik politik. Sedangkan untuk pengumpulan data digunakan tehnik kuesioner, wawancara, dan pengamatan. Dengan menggunakan pokok-pokok metodologi tersebut, temuan penelitian ini membuktikan bahwa KP kepartaian dalam masyarakat tersebut cenderung "rendah tetapi berarti". Temuan ini memproyeksikan: 1) Lemahnya pertentangan ideologi politik, 2) Lemahnya sikap dan loyalitas politik primordialisme agama dan etnik, dan 3) Lemahnya segmentasi politik dalam masyarakat.
Dari faktor-faktor yang diasumsi mempengaruhi lemahnya PKP kepartaian terbukti: 1]. Penyeragaman ideologi politik (aaas tunggal Pancasila) bagi semua orpol --yang dari akomodasi masyarakat ternyata tinggi -- terbukti berpengaruh kuat terhadap lemahnya PKP kapartaian. 2].Dari faktor jumlah (pluralisme) partai politik, dapat dikatakan tidak menunjukkan adanya hubungan dengan PKP. 3]. Faktor kesadaran primordial "murni" (agama dan etnis) yang ternyata tinggi justru terbukti memperlemah PKP kepartaian. 4] . Dari faktor pembelahan adat-agama dan Islam Tarekat-Islam Modernis ternyata memiliki hubungan yang positif -- namun lemah-- dengan rendahnya PKP kepartaian masyarakat.
Penyebab dari tidak ada atau lemahnya hubungan antara fusi partai dan kesadaran primordial "murni" (agama dan etnis) dengan PKP kepartaian di atas adalah: 1] Sikap politik masyarakat cenderung kuat realistis dan pragmatis, 2] Sistem ideologi politik yang tidak memberi peluang bagi tumbuhnya primordialisme agama dan etnik, 3] Sistem kepartaian yang melemahkan posisi dan kompetisi partai politik, baik melalui kebijakan fusi partai maupun deorpolisasi, 4] Tingginya homogenitas agama dan etnik, sehingga melemahkan potensi polarisasi primordial internal masyarakat."
Depok: Universitas Indonesia, 1996
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Akbar Novianto Hadaning Putra
"Kota Padang menurut para pakar geologi dinyatakan sebagai daerah rawan gempa, karena terletak diantara dua sumber gempa aktif yaitu pertemuan lempeng Australia dan lempeng Eurasia. Berdasarkan catatan sejarah pada tahun 1797 M dan 1833 M telah terjadi gempa besar (+ 9 skala richter) di sekitar Mentawai yang diikuti oleh gelombang tsunami yang besar, sehingga menghabiskan sepertiga Kota Padang. Oleh karena itu kesiapsiagaan untuk mengantisipasi bencana menjadi sangat penting, mengingat jika terjadi gempa besar yang diikuti oleh tsunami, maka resiko bahaya akan sangat besar, karena Kota Padang terletak di pinggir pantai dengan konsentrasi penduduk yang tinggal di wilayah pantai cukup tinggi. Pemetaan dan analisis tingkat resiko tsunami harus dilakukan dengan pendekatan multikriteria sesuai dengan daerah kajian. Berdasarkan analisis Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan metode Cell Based Modelling dapat ditunjukkan bahwa tingkat risiko bencana tsunami di setiap wilayah kecamatan di Kota Padang memiliki variasi spasial yang berbedabeda.
Wilayah-wilayah yang memiliki tingkat risiko tinggi dan sangat tinggi berada pada wilayah Kota Padang bagian barat yang dekat dengan permukaan laut, dimana memiliki ketinggian topografi <10 m. Risiko bencana yang tinggi ini juga diakibatkan karena lokasi kemungkinan terjadi bencana tsunami tersebut berada pada daerah pemukiman padat penduduk sehingga perlu dikembangkan mitigasi bencana tsunami yang komprehensif di Kota Padang, terutama pada wilayah-wilayah yang memiliki kerawanan dan kerentanan bencana tsunami yang tinggi, dan memiliki tingkat kesiapsiagaan bencana yang rendah. Sedangkan wilayah yang hanya memiliki tingkat risiko rendah, dan sangat rendah terdapat di wilayah Kota Padang bagian timur, atau yang jauh dari permukaan laut, dimana memiliki ketinggian >15 m. Wilayah ini dapat digunakan sebagai zona evakuasi bencana tsunami.

According to some geology experts Padang City is declared as an earthquake tendency region because it locates between two active earthquakes sources that are Australian and Eurasian plates. Based on the history record on 1787 M and 1833 M a massive earthquake (+ 9 Richter scale) has already happened around Mentawai that followed by a big tsunami until depleted one per three of Padang City. Therefore state of being prepared and on the alert for anticipating disasters is become very important, remembering if big earthquake followed by tsunami happen then the danger risk will be very huge because of Padang City is located in the coastal area with high enough population. Mapping and analysis of tsunami risk level must be done by multi criterion approach which appropriate with the location of study. Based on Remote Sensing and Geography Information System (GIS) analysis with Cell Based Modeling method it can be shown that tsunami risk level in every sub district region of Padang City have different spatial variation.
The regions which are high risk and very high risk locates on the west of Padang City that is close to the sea surface where the topography height <10 m. This high risk is also caused by those tsunami possibility locations located on the high population settlement area so that a comprehensive tsunami disaster mitigation is need to be develop in Padang City, especially on the regions which have high potential tsunami disaster, and low disaster prepared level. Whereas some regions which only have low and very low risk level locates on the east of Padang City or far from sea surface with height >15 m. These regions can be used as tsunami disaster evacuation zone.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2009
T39422
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>