Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 52885 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rizki Ayu Amalia
"Bakteri asam laktat merupakan bakteri yang memiliki status GRAS (Generally Recognized As Safe) dan berkontribusi pada kesehatan manusia. Leuconostoc mesenteroides merupakan bakteri model yang digunakan dalam penelitian ini. Terdapat 13 galur Leu. mesenteroides yang diuji responsnya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui respons galur-galur Leu. mesenteroides terhadap beberapa antibiotik pada beberapa kondisi pertumbuhan yang berbeda. Manipulasi kondisi pertumbuhan dilakukan dengan variasi komposisi dan pH medium pertumbuhan. Medium yang digunakan adalah MRS dan CMG. pH ditetapkan pada pH 4,6 yang mewakili kondisi asam dan pH 9,0 yang mewakili kondisi basa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode difusi cakram dengan menggunakan enam antibiotik yaitu amoksisilin, kloramfenikol, gentamisin, eritromisin, tetrasiklin dan vankomisin. Inkubasi dilakukan selama 21 jam pada suhu 32oC. Hasilnya yaitu galur-galur Leu. mesenteroides ketika ditumbuhkan pada medium MRS asam menunjukkan respons menjadi lebih sensitif terhadap amoksisilin, kloramfenikol dan tetrasiklin namun menjadi lebih resisten terhadap gentamisin dan eritromisin, sementara pada medium CMG asam, hasilnya menunjukkan respons menjadi lebih sensitif terhadap kloramfenikol namun menjadi lebih resisten terhadap gentamisin, eritromisin, dan tetrasiklin. Galur-galur Leu. mesenteroides ketika ditumbuhkan pada medium MRS basa menunjukkan respons menjadi lebih sensitif terhadap amoksisilin, kloramfenikol, gentamisin dan eritromisin namun menjadi lebih resisten terhadap tetrasiklin, sementara pada medium CMG basa, hasilnya menunjukkan respons menjadi lebih sensitif terhadap kloramfenikol, gentamisin, dan eritromisin namun menjadi lebih resisten terhadap tetrasiklin. Galur-galur Leu. mesenteroides tidak menghasilkan zona hambat terhadap vankomisin pada semua medium yang digunakan dalam penelitian ini. Semua respons Leu. mesenteroides menunjukkan hasil yang signifikan secara statistik kecuali yang diuji terhadap tetrasiklin pada medium CMG asam dan basa.

Lactic acid bacteria is bacteria which possess GRAS (Generally Recognized As Safe) status and contributed to human health. Leuconostoc mesenteroides is a model bacteria used in this study. There are 13 strains of Leu. mesenteroides which were tested for the responses. The aim of this study is to know the responses of Leu. mesenteroides strains to antibiotics on several different growth condition. Manipulating growth condition was conducted with variation of growth mediums composition and pH. Mediums used in this study were MRS and CMG. pH was set up under pH 4,6 representing acid condition and pH 9,0 representing basic condition. The method used in this study was disk diffusion method using six antibiotics: amoxicillin, chloramphenicol, gentamicin, erythromycin, tetracycline and vancomycin. Incubation time was 21 hours at 32oC. The result shows that Leu. mesenteroides strains when are grown on acid MRS medium respond more sensitive to amoxicillin, chloramphenicol and tetracycline but more resistant to gentamicin and erythromycin, while on acid CMG medium, they respond more sensitive to chloramphenicol, but more resistant to gentamicin, erythromycin, and tetracycline. Leu. mesenteroides strains when are grown on basic MRS medium respond more sensitive to amoxicillin, chloramphenicol, gentamicin and erythromycin but more resistant to tetracycline, while on basic CMG medium, they respond more sensitive to chloramphenicol, gentamicin and erythromycin but more resistant to tetracycline. Leu mesenteroides strains did not show any inhibition zone to vancomycin on all mediums used in this study. All Leu. mesenteroides responses to antibiotics show significant result statistically except those which were tested to tetracycline on acid and basic CMG medium."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2010
S32909
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Dewi Puspita N.
"Bakteri asam laktat merupakan bakteri yang mempunyai banyak peranan dalam
kesehatan manusia. Leuconostoc mesenteroides dan Weissella confusa adalah bakteri
yang digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan mengetahui respons
galur-galur Leuconostoc mesenteroides dan Weissella confusa terhadap kondisi
modifikasi komposisi gula dan pH dari medium pertumbuhan yang telah
dioptimasi berdasarkan penelitian sebelumnya terhadap beberapa antibiotik yang
digunakan sebagai indikator. Medium yang digunakan dalam penelitian ini adalah
MRS (de Man Rogosa Sharpe) standar dan modifikasi. MRS modifikasi
merupakan medium MRS yang dimodifikasi dengan mengurangi konsentrasi
dekstrosa sebanyak 50 %. Modifikasi pH medium yag dilakukan, yaitu pH 4,6
mewakili kondisi asam, pH 9,0 mewakili kondisi basa. Di dalam penelitian ini
metode yang digunakan adalah metode difusi cakram dengan menggunakan enam
antibiotik. Hasil menunjukkan bahwa galur-galur L. mesenteroides dan W.confusa
ketika ditumbuhkan pada medium MRS standar asam menunjukkan respons
menjadi lebih sensitif terhadap amoksisilin dan polimiksin B namun menjadi lebih
resisten terhadap kloramfenikol dan siprofloksasin. Sementara pada medium MRS
modifikasi asam menjadi lebih sensitif terhadap amoksisilin, namun menjadi lebih
resisten terhadap kloramfenikol, siprofloksasin dan polimiksin B. L.
mesenteroides dan W. confusa pada medium MRS standar basa menunjukkan
respons menjadi lebih sensitif terhadap siprofloksasin dan polimiksin B namun
menjadi lebih resisten terhadap amoksisilin dan kloramfenikol, demikian pula
pada medium MRS modifikasi basa. Sebagian besar galur-galur L. mesenteroides
dan W.confusa tidak menghasilkan zona hambat terhadap vankomisin pada
medium MRS standar dan modifikasi, baik kondisi standar, asam, maupun basa,
dan juga tidak menghasilkan zona hambat terhadap sulfametoksazol-trimetoprim
pada medium MRS standar dan modifikasi kondisi standar dan asam."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2010
S33101
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Kusmiati
"Bakteriosin merupakan senyawa protein yang memiliki efek bakterisida terhadap mikroorganisme lain. Bakteriosin yang dihasilkan bakeri asam laktat sangat potensial untuk digunakan sebagai pengawet makanan alami. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh medium pertumbuhan MRS, CMG dan CM terhadapaktivitas antimikroba. Leuconostoc mesenteroides Pbac1. Penentuan zona hambatan pertumbuhan terhadap bakteri indikator. Lactobacillus acidilactici dilakukan melalui uji antagonisme dengan metode difusi sumur agar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri indikator yang sensiftif yaitu L. plantarum dan L. acidilactici, sedangkan media terbaik untuk pertumbuhan bkateri indikator sensitif adalah MRS. Diameter zona hambatan terhadap L. plantarum adalah 1.28 cm dan terhadap L. acidilactici adalah 1.23 cm. Media terbaik untuk memproduksi supernatan Leuconostoc mesenteroides Pbac1 degnan aktivitas bakteriosin tertinggi adalah MRS dengandiameter zona hambatan terhadap L. plantarum 1.28 cm. dan terhadap L. acidilactici 1.19 cm. Titer aktivitas bakteriosin adalah 100 AU/ml. Berdasarkan hasil di atas, media MRS digunakan untuk uji aktivitas bakteriosin dari supernata kultur L. mesenteroides Pbac 1 dengansumber karbon berbeda yaitu glukosa, maltosa dan manosa. Hasil menunjukkan bahwa glukosa merupakan sumber karbon terbaik dengan diameter zona hambatan terhdap L. plantarum dan L. acidilactici adalah 1.23 cm. Titer aktivitas bakteriosin terhadap bakteri indikator pada uji tersebut adalah 100 AU/ml.

Bacteriocin activity of Leuconostoc mesenteroides Pbac1 bacteria on several media. Bacteriocin is a proteinaceous compound that has bactericidal action against microorganisms. Bacteriocins from lactic acid bacteria are very potential as natural food biopreservatives. The aim of the research was to know the infl uence of the growth medium; MRS, CMG, LTB and CM on antimicrobial activity of Leuconostoc mesenteroides Pbac1. Growth inhibition zone determination has been carried out by antagonism assay, as well as diffusion method using Lactobacillus plantarum, Leuconostoc mesenteroides, Staphylococcus aureus, Lactobacillus pentosus and Lactobacillus acidilactici as indicator strains.
The results showed that L. plantarum and L. acidilactici were the sensitive indicators. The best growth medium for antagonism assay of the two sensitive indicator bacteria was MRS, which showed inhibition zone diameter of 1.28 cm and 1.23 cm, respectively. The most active supernatant was produced by L. mesenteroides Pbac1 grown on MRS, which inhibited the growth of L. plantarum and L. acidilactici with respective zone diameter of 1.28 cm and 1.19 cm. Bacteriocin titre activity against sensitive indicator bacteria was 100 AU/ml. Based on the result, MRS was further utilized to study the effect of the different carbon sources i.e glucose, maltose and mannose on bacteriocin activity of L. mesenteroides Pbac1. The results showed that glucose was the best carbon source as indicated by the widest diameter of inhibition zone, i.e 1.23 cm, against both indicator strains. Bacteriocin titre activity of the latter study was 100 AU/ml."
Jakarta; Depok: Pusat Penelitian Bioteknologi-LIPI ; Universitas Indonesia. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, 2002
AJ-Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Soeharsono
1977
D465
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Universitas Indonesia, 2001
S32274
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Pauline Leon Artha
"Enzim sukrosafosforilase termasuk dalam kelompok enzim glukosiltransferase. yang dapat mengkatalisis sukrosa dan fosfat menjadi Ɗ-fructose dan α-Ɗ-glucose 1-phospate. SPase berperan dalam pemindahan gugus glukosil ke sejumlah senyawa (transglikosilasi). Reaksi transglkosilasi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan stabilitas kimia dan memperbaiki karakteistik senyawa bioaktif.
Tujuan penelitian ini adalah melakukan pemurnian SPase rekombinan yang dihasilkan oleh Escherichia coli BL21DE yang membawa gen penyandi sukrosafosforilase asal Leuconostoc mesenteroides dengan kromatografi affinitas pada kondisi optimum dan menguji aktivitas SPase rekombinan dengan metode spektofotometri. Pada esei enzimatis, SPase direaksikan menggunakan substrat sukrosa dan produk akhirnya diukur sebagai NADPH pada 340 nm.
Hasil SDS PAGE ,menunjukan SPase rekombinan berhasil dimurnikan dengan berat molekul yang telah diidentifikasi dari penelitian sebelumnya adalah 55-57 kDa. Hasil esei aktivitas enzimatis menggunakan metode spektofotometri menunjukan bahwa SPase rekombinan ini terbukti aktif meskipun aktivitasnya lebih rendah dibandingkan SPase standar dari Leuconostoc mesenteroides.

Sucrose phosphorylase belongs to glycosiltransferase which catalyze sucrose and phospate become Ɗ-fructose dan α-Ɗ-glucose 1-phospate. SPase has role in transglucosylation to increase chemical stability and repair characteristic of bioactive compound.
The object of this research are purification SPase recombinant from E. coli BL21DE which carries out SPase gene from Leuconostoc mesenteroides. Affinity chromatography is used to purify SPase recombinant in optimum condition and try assay enzymatic activity of SPase recombinant with spectrophotometry method. SPase recombinant use sucrose as substrate and the final product is measured as NADPH at 340 nm.
SDS Page reveal that SPase recombinant is succeeded to be purified with molecular mass 55-57 kDa based on previous research. SPase recombinant has lower enzymatic activity than SPase from Leuconostoc mesenteroides.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S43412
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
M. Wulan Puspitasari
"Fokus dari kajian ini mendeskripsikan bagaimana respon dan pengalaman hidup warga masyarakat petani lokal yang terkena dampak pembangunan bendungan Jatigede yang pelaksanaannya tertunda-tunda. Respon-respon mereka mencerminkan bagaimana proyek pembangunan bendungan Jatigede yang tertunda selama kurang lebih 27 tahun membawa pengaruh berbeda pada mereka. Kajian ini membahas respon dan pengalaman warga petani Bantarawi dengan merujuk pada konsep petani dari Scott dan Wolf. Selain itu, kajian ini juga merujuk pada pandangan Vayda dan beberapa ahli lain mengenai pengetahuan, memori, dan pengalaman hidup. Data dari kajian ini diperoleh melalui penelitian etnografi. Kajian ini menunjukkan bahwa bendungan Jatigede menjadi dilema tersendiri saat proyek telah berjalan dan tertunda karena masalah sosial, ekologis dan dana. Sebagai akibatnya, kehidupan sosial ekonomi warga lokal mengalami perubahan seiring dengan bagaimana mereka merespon keberadaan dan pelaksanaan proyek pembangunan bendungan yang tertunda itu.

This study focus to describes how the response and life experience community of local farmers that affected by delayed Jatigede dam construction. Their responses reflect how Jatigede dam construction projects delayed for more than 27 years have different effects on them. This study discusses the experience of residents and Bantarawi farmers' response with reference to the concept of farmers by Scott and Wolf. In addition, this study also refers to the views from Vayda and several other experts on knowledge, memory, and life experiences. Data from this study was obtained through ethnographic research. This study indicates that Jatigede dam is a dilemma when the project has been running and delayed caused by social, ecological and funding issues. As a result, social and economic life of local residents had been through the change considerably as to how they respond to the existence and implementation of dam construction projects are delayed."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2011
S1231
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
cover
"Tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, umumnya kebutuhan tidur seseorang terpenuhi pada malam hari dengan waktu tidur 7 - 8 jam. Tidur bermanfaat untuk mengembalikan kondisi fisik dan emosional namun perawatan di rumah sakit dapat rnempengaruhi pemenuhan tidur dimalam hari, salah satunya adalah pemberian antibiotik empat kali sehari sebagai fungsi kalaboratif perawat.
Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah pemberian antibiotik empat kali sehari mempengaruhi kebutuhan tidur. Tujuan dari penelitian ini ingin mendapatkan gambaran yang jelas tentang pengaruh pemberian antibiotik empat kali sehari terhadap pemenuhan tidur. Hasil penelitian ini menggunakan desain eksploratif dengan uji statistik tendensi sentral (mean), disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan Pemberian dosis antibiotik empat kali sehari terhadap pemenuhan kebutuhan tidur klien yang dirawat di rumah sakit, dilihat dari data 15 responden (71%) dari 21 responden menyatakan kebutuhan tidurnya tidak terpenuhi."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2002
TA5098
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>