Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 58207 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Fathia R. Syahroni
"Bintang diklasifikasikan berdasarkan luminositas dan temperatur. Ketika inti panas bintang yang memancarkan energi dengan spektrum kontinu dilewatkan pada gas yang lebih dingin di atmosfer, gas tersebut akan menyerap cahaya tersebut pada panjang gelombang tertentu. Akibatnya, diperoleh spektrum kontinu yang diselang-seling garis serapan. Kuat garis serapan dari unsur yang diamati berbeda pada setiap kelas spektrum. Pengamatan kali ini tentang spektroskopi resolusi tinggi terhadap berbagai kelas spektrum bintang. Selanjutnya didapat spektrum pengamatan unsur Hidrogen yang dianalisis berdasarkan pengaruh pelebaran Doppler. Dalam tugas akhir ini analisis dilakukan untuk menentukan pengaruh pelebaran Doppler terhadap kelimpahan Hidrogen dari sampel bintang-bintang deret utama (kelas V) yang ada dalam rentang kelas menurut katalog Henry Draper. Untuk bintang kelas O yang memiliki nilai temperatur tertinggi,
nilai adalah 1:02311 1008 . Dan untuk bintang kelas K yang memiliki nilai temperatur terendah, nilai adalah 3:61362 10 09. Dari nilai untuk masing-masing sampel bintang, dapat dilihat perubahan evolusi bintang dari
masing-masing kelas spektrum."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2010
S29456
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
"Examination of the hydrogen gas detection system. Examination of the hydrogen gas detection system in IEBE have been done. The hydrogen gas detection system in IEBE attached sensor to detect the existence of secretary hydrogen gas from system because leakage or imperfect its hydrogen combustion. Intention of examination is to know the temperature of around sensor and respon of indicator warning, evacuate and faiture...."
URANIA 14 (1-4) 2008 (1)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
URANIA 14 (1-4) 2008 (1)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Dian Indriani
"Upaya untuk memproduksi hidrogen masih sedikit dari sumber yang terbarukan. TiO2 dalam bentuk nanotube arrays dengan dopan Boron yang disintesis dengan metode anodisasi untuk produksi hidrogen telah diinvestigasi. Perlakuan termal katalis B-TiO2 nanotube arrays (B-TNTAs) dilakukan dengan kalsinasi reduksi dengan gas hidrogen pada suhu 500oC selama 2 jam. Analisis SEM menunjukkan morfologi nanotube arrays tiap konsentrasi boron seragam. Analisis UV-Vis DRS menunjukkan B-TNTAs memiliki absorbansi yang besar pada jangkauan panjang gelombang sinar tampak dengan band gap energy yang relatif rendah yaitu menjadi 2,9 eV. Analisis XRD menunjukkan hasil 100% kristal anatase murni. Melalui proses fotokatalisis, hidrogen mampu dihasilkan hingga 48959 μmol/m2 setelah 4 jam pengujian dengan katalis 7,5 mM B-TNTAs.

Attempts to produce hydrogen is still slightly from renewable sources. TiO2 nanotube arrays in the form of boron dopants synthesized by anodizing method for hydrogen production has been investigated. Catalyst-thermal treatment of TiO2 nanotube arrays B (B-TNTAs) performed by calcination reduction with hydrogen gas at a temperature of 500oC for 2 hours. SEM analysis showed the morphology of nanotube arrays by uniform boron concentration. UV-Vis DRS analysis showed B-TNTAs has a large absorbance in the visible wavelength range with a band gap energy is relatively low, to 2.9 eV. XRD analysis produces 100% anatase crystals. Through a photocatalytic process, hydrogen is able to produce up to 48959 μmol/m2 after 4 hours of testing with catalyst 7.5 mM B-TNTAs.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
S47784
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bachtiar Sunasto
"ABSTRAK
Tesis ini berisi hasil penelitian teoritis tentang gas diatomik yang dapat berpermeasi melalui lempeng logam homogen pada kondisi stasioner dengan pengabaian gradien konsentrasi atom-atom gas diatomik dalam material tersebut. Selama permeasi berlangsung diandaikan tidak ada dan tidak terbentuk lapisan penghalang. Proses permeasi diforrnulasikan secara matematis dengan mengakomodasi delapan kemungkinan mekanisme laju aliran atom gas diatomik melalui permukaan logam.
Dengan pembatasan masalah seperti di atas diperoleh hasil formulasi matematis yang menunjukkan bahwa atom gas diatomik tidak akan teradsorpsi sempurna di permukaan atau bertransmisi sempurna melalui permukaan logam. Sebagaimana dalam persamaan fluks difusi dan realita eksperimental, ternyata fluks permeasi yang diperoleh berbanding lurus terhadap konstanta difusi dan berbanding terbalik terhadap ketebalan, suatu hal yang tidak ditunjukkan oleh formulasi yang tidak melibatkan kedelapan mekanisme aliran atom di permukaan. Kontribusi mekanisme aliran ke delapan terhadap fluks permeasi pun ternyata tidak dapat diabaikan.
Visualisasi dari formulasi matematis bagi model yang diajukan menampilkan pola yang bersesuaian jika dibandingkan dengan beberapa hasil eksperimental. Dalam hal ini diwakili oleh permeasi gas hidrogen melalui lempeng besi bcc."
1995
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Valentina
"Telah diteliti pengaruh modifikasi fotokatalis TiO2 Degussa P-25 dalam memproduksi hidrogen dari gliserol dan air. Modifikasi yang dilakukan berupa perubahan morfologi menjadi nanotubes, pemberian dopan Pt, dopan N, dan penumbuhan fasa kristalin masing-masing melalui perlakuan hidrothermal (130oC, 12 jam), photo-assisted deposition, impregnasi dan kalsinasi 500oC selama 1 jam. Analisa SEM-EDS dan XRD menunjukkan bahwa katalis Pt-N-TiO2 nanotubes dengan tingkat kristalinitas dengan fasa anatase menyerupai TiO2 Degussa P-25. Berdasarkan uji kinerja fotokatalis di bawah sinar tampak, konsentrasi gliserol yang paling optimal adalah 50%. Morfologi nanotubes, dopan N, dopan Pt, dan dopan Pt dan N masing-masing memberikan kenaikan total produksi hidrogen sebanyak 2; 3; 11; dan 13,5 kali secara berurutan dibandingkan TiO2 Degussa P25.

The effects of modified TiO2 Degussa P-25 in hydrogen generation from water and glycerol have been observed. The photocatalyst was formed to nanotubes, doped with Pt, doped with N and crystallized each by hydrothermal treatment (130oC, 12 hours), photo-assisted deposition, impregnation, and calcination (500oC) respectively. Result of SEM-EDS and XRD show that Pt-N-TiO2 nanotubes composite crystallinity with anatase phase similar to TiO2 Degussa P-25 was successfully obtained. The effects of glycerol and water composition have also been observed under visible light resulting 50% of glycerol as the optimum concentration. Nanotubes morfology, N doped, Pt doped, and Pt-N doped catalyst increase the hydrogen production each by 2, 3, 11, and 13.5 times respectively compare to TiO2 Degussa P-25. "
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S895
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Zulaicha Dwi Hastuti
"Flex matala biofilter dengan luas permukaan 365 m2/m3 (M365) dan 190 m2/m3 (M190) digunakan sebagai carrier bkteri dalam produksi biohidrogen menggunakan reaktor CSTR. Reaktor CSTR yang dilengkapi dengan biofilter (CSTR-PBF) didesain dan dioperasikan untuk memproduksi gas biohidrogen dengan bahan baku limbah pabrik minuman sebagai substrat pada konsentrasi 10 ? 30 g total glukosa/L dan waktu tinggal 8 jam ? 0,5 jam. Carrier atau biofilter dipasang pada bagian tengah fermentor (60 mm dari dasar fermentor) yang berfungsi untuk menghindari washout. Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi substrat 15 ? 20 g/L memberikan yield dan Laju produksi gas biohidrogen (LPH) yang tinggi. Biofilter M365 memberikan kinerja produksi hidrogen yang lebih baik dibanding dengan biofilter M190. HRT 0,5 jam memberikan LPH yang paling tinggi, yakni 124,87 L H2/L/hari, namun yieldnya 1,17 mol H2/mol glukosa. Di sisi lain, kondisi yang memberikan yield tertinggi dicapai pada waktu tinggal 4 jam dengan LPH sebesar 13,74 L H2/L/hari dan yield sebesar 1,82 mol H2/mol glukosa. Kondisi operasi yang direkomendasikan adalah waktu tinggal 1 jam dan konsentrasi substrat 20 g glukosa/L dengan LPH 88,69 L H2/L/hari, konversi substrat, 91,85 % dan yield 1,42 mol H2/mol glukosa. Pada waktu tinggal yang rendah, yakni 1 jam dan 0,5 jam terdapat perbedaan distribusi konsentrasi biomassa pada bagian atas, tengah dan bawah reaktor. Produk cair terbesar adalah asam butirat dan asam asetat dengan rasio 1,41 mol asam butirat/mol asam asetat sampai dengan 5,66 mol asam butirat/mol asam asetat.

A flex-matala packed biofilter with specific surface area M365 m2/m3 (M365) and 190 m2/m3 (M190) were used as a bacteria carrier in a Continuous Stirred Tank Reactor (CSTR) in this study. The continuous stirred tank reactor with packed biofilter (CSTR-PBF) was designed and operated under sugary wastewater substrate at concentration of 10 g total sugar/L ? 30 g total glukosa/L and hydraulic retention time (HRT) 8 h - 0.5 h to assess the biohydrogen producing ability. Biofilter was installed at 60 mm height from the bottom of bioreactor (middle of the bioreactor). The biofilter played a role in avoiding biomass washout. It was found that substrat concentration of 15 ? 20 g glucose/L lead the hydrogen production performa. Biofilter M365 produced the higher hydrogen production rate and yield. The condition producing the higher hydrogen production rate was at HRT 0.5 h with hydrogen production rate (HPR) of 124.87L H2/L/d, and yield of 1.17 mol H2/mol glucose. On the other hand, the condition producing the higher yield obtained when the fermentor operated at HRT 4 h, which hydrogen production rate and yield were 13.74 H2/L/d, and yield of 1.42 mol H2/mol glucose. Operation condition suggested for hydrogen production was HRT 1 h and 20 g total glucose/L which HPR, susbtrate conversion and yield were 88.69 H2/L/d; 91.85 % and 1.42 mol H2/mol glucose. There was difference distribution of biomassa on top, middle and bottom part of the bioreactor observed at HRT 1 h to 0,5 h. Butyric acid and acetic acid were the main liquid product that the ratio was 5.66 mol butyric/mol acetic. A flex packed biofilter used in CSTR system is a better approach to accumulate biomass concentration in bioreactor for enhancing biohydrogen production rate comparison with other kinds of bioreactor."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
T43240
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Resuli Irawan Thalib
"ABSTRAK
Proses elektrolisis air dapat menghasilkan gas hidrogen dan gas oksigen namun pada kali ini keberadaan gas hidrogen lebih diperhatikan karena kelebihan sifatnya sebagai bahan bakar. Pada penelitian ini dirancang sebuah alat elektrolisis yang memiliki luas area kontak antara katoda dan anoda sebesar 174 cm2. Uji produktivitas alat dilakukan dengan variasi jenis elektrolit (KOH dan NaOH), waktu proses elektrolisis, dan sumber listrik pada tegangan konstan (10 Volt), sehingga hasilnya dinyatakan sebagai laju mol hidrogen per satuan waktu. Pada variasi dan kondisi yang sama, hidrogen hasil elektrolisis diinjeksikan menuju ruang bakar motor genset. Sehingga diperoleh efisiensi bahan bakar setelah 60 menit sebesar 24,97% dengan rasio mol hidrogen 6,39 terhadap bahan bakar.

ABSTRACT
The process of water electrolysis can produce hydrogen gas and oxygen gas, but at this paper is more concentrate in hydrogen because of its advantages as a fuel. In this study designed an electrolysis device that has a contact area between the cathode and anode of 174 cm2. Test of electrolysis device productivity conducted with electrolyte type variation (KOH and NaOH), the electrolysis process time, and power source DC at constant voltage (10 Volt), so the result expressed as the moles rate of hydrogen per unit time. The same variation and same condition, hydrogen gas injected into the combustion chamber in generator set motor. So that fuel efficiency is obtained after 60 minutes at 24.97% with 6.39 point ratio moles of hydrogen to fuel. "
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S889
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Utami Sastramihardja
"Sianida telah digunakan sejak lama dalam proses pengektrasian emas dengan metoda pelindian (leaching). Sianida juga dikenal sebagai bahan kimia berbahaya dan mematikan. Oleh karena itu, International Cyanide Management Code (ICMC) didirikan untuk mengontrol penggunaan siandia dalam industri. Kanowna Belle Gold Mine (KBGM) telah terdaftar dalam ICMC sejak tahun 2008 dan kemudian diperbaharui pada Desember 2012. Menurut ICMC, konsentrasi sianida yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (tailings) harus 80% di bawah 50 ppm dan 95% di bawah 78 ppm. Pembuangan di atas 78 ppm yang berkepanjangan dapat menyebabkan pelanggaran atas kode yang sudah ditetapkan dan disepakati oleh perusahaan. Batas konsentrasi sianida yang dibuang ke tailings di KBGM lebih tinggi dari batas normal dikarenakan tipe air yang digunakan dalam proses adalah air dengan tingkat garam yang tinggi (hyper saline water).
Tujuan utama skripsi ini adalah untuk meneliti dan memaksimalkan keefektifan dari hidrogen peroxida dalam proses penghancuran sianida di tailings KBGM selama berlangsungnya proses pelindian batuan refractory dan free milling. Penelitian dilakukan dengan menggunakan sampel yang diambil saat refractory dan free milling untuk kemudian dilakukan pengujian skala lab dan nyata (plant trial). Sampel yang diambil dari setiap eksperimen lalu dites menggunakan metoda picric acid, yaitu metoda yang menggunakan warna sebagai indikator tingkat konsentrasi sianida di dalam larutan. Semakin merah warna larutan, menunjukkan semakin tinggi konsentrasi sianida di dalam larutan tersebut.
Dampak dari kombinasi penggunaan H2O2 dan CuSO4 sebagai katalis dalam proses penghancuran sianida dilakukan secara skala lab dan nyata menggunakan metoda yang sama dengan penelitian sebelumnya. Ditemukan bahwa kombinasi dari H2O2 dan CuSO4 ternyata dapat mempercepat proses penghancuran sianida sebanyak 20-32% dengan 100 g/t H2O2 dan skala perbandingan dari sianida terhadap CuSO4 sebesar 2:1.
Perbedaan dalam karakteristik batuan dan kondisi pelindian pada pemprosesan batu refractory and free milling menyebabkan dua model berbeda yang harus diterapkan di dalam sistem DCS. Untuk model refractory, persamaan yang harus diterapkan adalah 𝒚 =(−𝟎. 𝟎𝟕𝟏𝟒𝒙 + 𝟔. 𝟎𝟔𝟏𝟗)𝟏. 𝟐𝟕𝟑, sedangkan persamaan untuk model free milling adalah 𝒚 =(−𝟎. 𝟗𝟎𝟒𝟒𝒙 + 𝟗𝟕. 𝟖𝟓𝟖)𝜶. Persamaan untuk model free milling masih harus diselidiki lebih lanjut dengan melakukan plant trial untuk mendapatkan correction factor (α).

Cyanide has been widely used in gold leaching processing plants for over one hundred years and is known by its characteristic to be a deadly poisonous chemical. To control cyanide usage in the mining industry, the International Cyanide Management Code (ICMC) was established. Kanowna Belle Gold Mine (KBGM) has been certified under the ICMC since 2008 and has recently been re-certified in December 2012. Under the Code, 80% of the time WAD cyanide discharge must be below 50 ppm and 95% of the time must be below 78 ppm. Prolonged discharge above 78 ppm is considered a breach of the ICMC. Greater usage of cyanide allowed in KBGM due to the usage of hyper saline water as the processing plant results in higher WAD cyanide discharge concentration.
The main objective of this report was to determine the effectiveness of WAD cyanide detoxification using hydrogen peroxide in KBGM tailings slurries during refractory and free milling ore leaching. The experiment was conducted during refractory and free milling ore slurries for both lab experiment and plant trial. The sample solutions were than analysed using picric acid method, which is a colorimetric method where higher WAD cyanide concentration solution was represented with deeper orange-red colour.
The impacts of H2O2 concentration and copper sulphate (CuSO4) as a catalyst on WAD cyanide destruction were investigated using small scale laboratory bottle roll tests. A plant trial was then conducted. It was found that the WAD cyanide destruction was optimum when the H2O2 dose was 100 g/t with 2:1 WAD cyanide to CuSO4 ratio. The combination was able to increase the removal rate by 20-32%.
Different ore characteristics and leaching conditions between refractory and free milling slurries resulted in two separate detoxification model to be applied in the DCS system. The equation for the model that should be installed during refractory leaching is 𝒚 = (−𝟎. 𝟎𝟕𝟏𝟒𝒙 + 𝟔. 𝟎𝟔𝟏𝟗)𝟏. 𝟐𝟕𝟑 and the equation model that should be installed during free milling leaching is 𝒚 = (−𝟎. 𝟗𝟎𝟒𝟒𝒙 + 𝟗𝟕. 𝟖𝟓𝟖)𝜶. The equation for the free milling slurry still needs to be investigated further by conducting a plant trial to find the correction factor (α).
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
S54169
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>