Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 85638 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Lydia Suwandi
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2003
S26371
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Siahaan, Frans Agustinus
"Mengukur dan menganalisa biaya kualitas (Cost Of Quality) adalah suatu langkah awal dalam program manajemen kualitas. Sistem COQ adalah batu loncatan dalam peningkatan kepentingan dikarenakan COQ-related activities mengkonsum sebanyak 25% atau lebih dari sumber daya yang digunakan oleh perusahaan.
Akutansi biaya tradisional, dimana yang menjadi fungsi utamanya adalah penilaian inventori dan penentuan pendapatan untuk laporan finansial eksternal, sehingga tidak dapat melingkupi informasi COQ yang dibutuhkan. Namun, kekurangan-kekurangan ini dapat dengan mudah diatasi dengan activity-based costing (ABC). ABC menggunakan dua langkah prosedur untuk mendapatkan akurasi biaya dari bermacam objek-objek biaya dan melacak sumber dari biaya pada aktivitas dan kemudian melacak biaya dari aktivitas pada objek biaya.
Kegagalan-kegagalan kegiatan pengendalian di PT. X dalam mengurangi kegagalan produk, antara lain adalah kurangnya kegiatan pencegahan dan penilaian dalam mengantisipasi kegagalan produk yang terjadi, dan kegiatan pencegahan yang dilakukan cenderung lebih bersifat mencegah, tidak khusus dilakukan menangani kegagalan utama yakni waste, serta belum dilakukannya pembuatan data lengkap mengenai kegiatan pada biaya kualitas sehingga informasi yang diperoleh kurang lengkap.

Measured and analyze Cost Of Quality (COQ) is a first step in management quality program. Cost Of Quality system is a stepping stone in upgrading priority because cost of quality-related activities consume 25 % or more of using company resources.
Traditional Cost Accounting which is the main goal is inventory assess and income statement for external financial report, so this analyze system cannot covered all of cost of quality information needed. Nevertheless, this lack of information can be easily overcome by using Activity-Based Costing (ABC). ABC has two steps of procedure for gathering cost accuration from many of cost object and tracing sources from cost to activities and then trace activities to cost object.
Restraint activities failures in PT. X can cause defect product, these are minimum prevention and appraisal activities in anticipating defect product that occur, prevention activities was consider only to- prevent, not prior for solving major failure in this matter is waste and bad filling data activities for cost of quality so the information have it is not quite comprehensive.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2006
T16875
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Niftira Jalanti Hanif
"Kualitas yang buruk ternyata menimbulkan biaya yang besar. Berdasarkan kenyataan tersebut, perusahaan mulai merasakan pentingnya untuk mengevaluasi quality cost. Sebagian besar perusahaan mengelompokkan quality cost ke dalam empat kategori besar, yaitu: internal failure cost, external failure cost, prevention cost dan appraisal cost. Mengumpulkan data yang berhubungan dengan quality cost merupakan hal yang sulit, karena sistim akuntansi yang ada belum memungkinkan untuk menelusuri quality cost secara langsung. Oleh karena itu hams dilakukan estimasi dan perlu dukungan dari semua pihak di dalam perusahaan. Pada PT. Waskita Karya Cabang IV, penghitungan dan pengevaluasian quality cost akan lebih bermanfaat bila dilakukan per proyek, karena setiap proyek memiliki karakteristik khusus. Penulis menyarankan agar disusun anggaran quality cost sebelum proyek dimulai, dan membuat quality cost report secara periodik, agar dapat meningkatkan perencanaan dan pengendalian terhadap biaya yang harus dikeluarkan, untuk memperoleh kualitas yang di inginkan. Dengan pengendalian quality cost yang baik, perusahaan dapat menekan biaya yang harus dikeluarkan dan mengendalikan kualitas basil pekerjaannya, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan daya saing perusahaan. Satu hal yang hams diingat adalah bahwa quality cost bukanlah merupakan langkah strategis untuk mengatasi masalah kualitas. Quality cost hanya merupakan alat manajemen untuk melakukan pengukuran dan penganalisaan."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 1995
S18890
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tania Kristiani Setiadi
"Proses Quality Function Deployment (QFD) mengkuantifikasikan kebutuhan eksplisit dan implisit dan konsumen, menghubungkan kebutuhan tersebut dengan engineering requirements. Proses Value Analysis (VA) membuat alokasi sumber daya secara optimal menurut level kepenlingan dari fungsi produk. Dengan mengkombinasikan aplikasi roofs QFD dan VA, yang dinamakan QFDVA, maka akan mungkin membuat alokasi biaya yang optimum untuk setiap engineering requirements yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. QFD VA juga memungkinkan evaluasi biaya dari setiap fungsi produk. Lebih jauh lagi, metodologi QFDVA dapat digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan dalam pengembangan produk dan meningkatkan nilai dari produk tersebut.
Penelitian skripsi ini menerapkan QFDVA pada pengembangan produk lemari pakaian di PT. Olympic Fumiture. Penerapan QFDVA diiakukan dengan menggali setiap kebutuhan implisit dan eksplisit dari konsumen terhadap produk, mengetahui tingkat kepentingan setiap kebutuhan dan menerjemahkarmya ke dalam engineering requirements, serta menentukan alokasi biaya yang optimum untuk memenuhi setiap kebutuhan konsumen. Penerapan QFDVA ini telah meningkatkan nilai produk Iemari pakaian dari sisi pemenuhan terhadap kebutuhan konsumen dan sisi pengalokasian sumber daya perusahaan untuk memenuhi kebutuhan konsumen tersebut.

Quality Function Deployment (QFD) process quantities customer explicit and implicit needs, relating them with engineering requirements. Value Analysis (VA) process establishes an optimal allocation of resources according to the importance level of product functions. By combined application of QFD and VA tools, here named QFDVA, it is possible to establish optimum cost values for each engineering requirement according to the customer needs. It is also possible to evaluate the cost of each product Function. Furthermore, the methodology provides a lool that supports decision making in product development and enhance value of products.
This study applied QFDVA in product development of wardrobe at PT. Olympic Furniture. Application of QFDVA is done by identifying every implicit and explicit needs of the customer, finding the importance level of every needs, translating the needs into engineering requirements, and determining the optimum costs allocation to fullill every customer needs. The application of QFDVA has improved the value of the wardrobe from the aspect of customer needs’ fulfillment and company’s resources allocation to fulfill the needs.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2004
S50035
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Widia Kurnia Adi
"ABSTRAK
Tiga karakteristik penting pada suatu produk agar dapat bertahan dan diterima oleh pelanggan adalah kualitas, fungsionalitas dan biaya, yang disebut Survival Triplet. Pada produk baja, karakteristik fungsionalitas dan kualitas telah ditentukan oleh standar sehingga hanya tersisa karakteristik biaya yang harus diatur sebaik mungkin. Penerapan Lean Six Sigma LSS dan Value Engineering VE memberikan efek penurunan biaya dengan pendekatan yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kesesuaian respon model integrasi VE-LSS terhadap penerapan Lean, Six Sigma dan VE pada proses steelmaking. Model integrasi antara VE dan LSS dibuat dengan memodifikasi konsep VE Value = Function/Cost . Integrasi LSS kedalam kerangka VE akan meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya yang berujung pada biaya Cost yang lebih rendah dengan tetap mempertahankan karakteristik fungsionalitas dan kualitas produk. Hasil analisa menunjukkan penerapan VE-LSS secara bersamaan meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya pada proses steelmaking sehingga diperoleh biaya yang lebih rendah. Hasil tersebut sesuai dengan model integrasi VE-LSS yang telah dibuat.

ABSTRACT
There are three main characteristics the product to be survived and accepted by customers which are functionality and quality which is internally associated with cost and externally with price, the cost so called Survival Triplet. In the case of steel products, functionality and quality of product are specified in the product standard. Hence, cost is the only remaining characteristic that should be well managed. The implementation of Lean, Six Sigma LSS and Value Engineering VE by different approaches lead to cost reduction. The objective of the study is to test response suitability of integration model of VE LSS according to implementation of Lean, Six Sigma and VE in the steelmaking process. Integration model between VE and LSS developed by modify original VE concept Value Function Cost . Integration of LSS in the VE framework enhanced resource consumption efficiency that lead to lower Cost while maintaining functionality and quality characteristic of products. The analysis showed the implementation of VE LSS simultaneously increased the efficiency of resource in the steelmaking process that lead to lower cost. These results were in conformity with the constructed integration model of VE LSS."
2016
T47416
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Simanjuntak, Batara Ronald
"Salah satu upaya peningkatan mutu/kualitas suatu produk dapat tercapai melalui peningkatan proses, baik pada proses produksi maupun manajemen pelaksanaan dan pengendalian proses. Untuk menjamin proses peningkatan tersebut berlangsung baik dan memiliki arah yang benar, maka perlu dilakukan pengukuran. SaIah satu metode yang dapat dipakai untuk pengukuran proses peningkatan tersebut adalah dengan mengukur/menghitung biaya mutu. Biaya mutu adalah biaya yang ditimbulkan/dikeluarkan untuk memastikan mutu suatu produk sesuai dengan yang ditetapkan atau dibutuhkan. Pada tesis ini, dianalisa pengukuran biaya mutu pada sebuah industri pengemasan minyak pelumas. Studi diawali dengan membahas mengenai konsep, dimensi dan proses peningkatan mutu. Berdasarkan dimensi kualitas dari produk maka disusunlah struktur biaya mutu. Dari struktur elemen biaya mutu yang dikembangkan, maka dapat terindikasi elemen biaya mutu mans yang paling besar serta dapat dilakukan aktifitas mutu yang tepat untuk mengoptimalkan biaya mutu.

One of the approach to improve product quality is to improve process quality, which include the process in production management control. To ensure that those improvements are in the right direction, it needs to be measured. One of the method to measure the quality improvement process is looking at the quality cost. The quality cost is all the costs and expenses that occur in all process that requires to ensure the product is meet with the quality set by the company. This thesis deals with the measurement of the quality cost for lubricant packaging industry. The study will review and analyze the quality concept, dimension, and quality process improvement. Based on the quality dimension, the quality cost elements will then be structured. Based on the cost structure defined, we will identify, the most expensive cost and other related cost, which will be used to determine quality improvement plan to optimize/minimize the cost of quality."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2004
T14946
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anandha Hindarto
"Pengukuran biaya kualitas dibagi ke dalam kategori-kategori dan elemen-elemen, kategori biaya kualitas adalah: biaya kesalahan eksternal, biaya kesalahan internal, biaya penilaian, dan biaya pencegahan. Kategori biaya kesalahan tersembunyi (hidden cost) dapat ditambahkan, apabila diperlukan. Tiap-tiap kategori terdiri-dari beberapa elemen sesuai dengan kondisi perusahaan masing-masing, seperti warranty claim, perbaikan, pengerjaan ulang, dan sebagainya Usaha perbaikan kualitas dan pengukuran biaya kualitas memerlukan kepemimpinan manajemen tingkat atas yang harus terintegral ke dalam aktifitas operasional harian sehingga diperlukan suatu sistem yang dapat mengintegrasikan strategi perusahaan dengan strategi pada penurunan biaya kualitas yang merupakan salah satu fungsi pengukuran biaya kualitas. Pengukuran biaya kualitas dalam kerangka balanced scorecard menyediakan rangka untuk mengintegrasikan strategi penurunan biaya kualitas, yang merupakan salah satu fungsi pengukuran biaya kualitas, dengan strategi perusahaan yang lain dan menyediakan pemetaan hubungan strategi dan penentuan ukuran dalam setiap perspektif kartu nilai berimbang (balanced scorecard).
Penelitian pengukuran biaya kualitas dalam kerangka kartu nilai berimbang dengan menentukan strategi penurunan biaya kualitas yang didasarkan pada strategi penurunan biaya kualitas dengan tahapan pads penurunan biaya kesalahan eksternal kemudian penurunan biaya kesalahan internal dan selanjutnya optimalisasi biaya penilaian dan pencegahan, pemetaan hubungan kualitas dengan keuangan, dan strategi umum dan generik yang ada hubungannya dengan penurunan biaya kualitas. Pemetaan hubungan sebab akibat diawali dengan strategi perusahaan dalam menurunkan biaya kualitas dengan menentukan tujuan menggunakan acuan pads industri terbaik atau berkelas dunia yang mempunyai biaya kualitas sekitar 1-2% dari penjualan atau biaya dasar produk (cost of good sold-COGS). Pads perspektif keuangan strategi penurunan biaya kualitas tersambung pada peningkalan profitabilitas. Perspektif pelanggan pada penurunan ketidakpuasan pelanggan, perspektif proses bisnis internal penurunan biaya kualitas pada biaya kesalahan internal dan optimalisasi atau penurunan biaya penilaian, dan pada perspektif pembelajaran dan pertumbuhan pads optimalisasi biaya kualitas pada biaya pencegahan. Dari pemetaan hubungan sebab akibat dalam keempat perspektif digunakan untuk menentukan ukuran tiap strategi dalam masing-masing perspektif dengan menggunakan indikator-indikator kunci kinerja (key performance indicators) strategi tersebut. Ukuran yang digunakan secara unit adalah: return on investment (ROI), rasio biaya kualitas terhadap biaya produksi, indek kepuasan pelanggan (customer dissatisfaction index), Jumlah keluhan pelanggan (number of customer complain), jumlah komponen rusak (number of piece reject, jumlah inspeksi (number of inspection), rasio biaya pencegahan terhadap biaya kualitas total, dan rasio jam pelatihan terhadap total karyawan.
Studi kasus penelitian ini akan mengukur kartu nilai biaya kualitas pads PT. AH dan mengintegralkan dengan strategi perusahaan PT. AH Analisa biaya kualitas menunjukkan biaya kualitas PT. AH masih tinggi sehingga dapat digunakan sebagai landasan untuk menggunakan strategi penurunan biaya kualitas dengan tujuan untuk peningkatan pendapatan dan integrasi kartu nilai biaya kualitas dengan kartu nilai PT. AH. Analisa optimasi untuk meminimasi biaya kualitas dengan menggunakan variabel ukuran dalam kartu nilai berimbang menunjukkan bahwa ukuran dengan korelasi kuat dapat digunakan sebagai variabel dan hasil optimasi menghasilkan minimalitas biaya kualitas dicapai pads biaya kualitas pencegahan dan penilaian. Biaya kesalahan internal dan eksternal mencapai titik not untuk mencapai biaya kualitas minimal.

Categories of cost of quality measurement external failure cost, internal failure cost, appraisal cost, prevention cost and hidden cost. Each category divided into elements which customizable with condition of company, such: warranty claim, repair, rework, scrap, etc. Quality improvement efforts and cost of quality measurement need leadership of high level management which they will be integrated into operational activity or day-to-day activities, otherwise the system must be developed into company strategic with reduce cost of quality's strategic which one most function cost of quality measurement. Measure cost of quality into balanced scorecard provide frame work to integration reduced cost of quality strategic with the other business strategic, and provide mapping cause effect strategy and define measures on each balanced scorecard's perspective.
This research determine reduce cost of quality strategic which use four step, such: reduce external failure cost, reduce internal failure cost, optimize appraisal cost and prevention cost; mapping quality to finance; and relationship of generic strategic with reduce of quality cost. Mapping cause effect relationship start with company strategic on reduce quality cost which can use benchmark on the best industries with 1-2% COQICOGS (cost of good sold). Quality cost reducing on financial perspective link with profitability. Customer perspective on reduce of satisfaction, reduce internal failure cost and optimize appraisal cost on internal process business, and learning and growth perspective on optimize prevention cost. From mapping cause effect relationship on four generic perspectives can breakdown to one measures which use key performance indicator of each strategic. The usable measure such: return on investment, quality cost divided cost of good sold ratio, customer dissatisfaction index, number of customer complain, number of piece reject, number of inspection, ratio of prevention cost with total quality cost, and hour of training. Case study in this research to measure quality scorecard on PT: AH and its will be integrated with strategic of PT. AH.
Cost of quality analysis show its more higher and use to determine reduce quality cost to achieve profitability and integration quality cost's scorecard with PT.AH's scorecard. Optimum analysis to minimize cost of quality can use variable which have strong correlation, and the result minimize of cost of quality show internal failure cost and external failure cost have zero point.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2004
T15006
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
M. Ikhsan Sabri
"Tahap perencanaan atau disain pada proyek bangunan gedung sering kali tidak berjalan optimal yang berdampak pada banyaknya pemborosan dan biaya tidak perlu pada tahap pelaksanaan konstruksi bangunan gedung sehingga upaya penerapan VE bisa menjadi solusi untuk mengoptimalkan nilai manfaat (worth) sekaligus mengurangi biaya-biaya yang tidak perlu pada sebuah proyek bangunan gedung. Disamping itu fenomena keuntungan kontraktor bangunan gedung di Indonesia yang sangat minim menjadi ancaman bagi keberlangsungan bisnis kontraktor bangunan gedung di Indonesia. Disinilah peran VE diharapkan bisa memberi kontribusi bagi peningkatan kinerja biaya proyek- proyek bangunan gedung di Indonesia khususnya PT X sebagai Badan Usaha Milik Negara. Penerapan VE pada tahap pelaksanaan konstruksi bangunan gedung di PT X yang belum optimal tidak akan memberikan manfaat yang signifikan bagi kinerja proyek konstruksi bangunan gedung. Penelitian dimaksudkan untuk menyediakan saran bagi pengoptimalan penerapan VE pada tahap pelaksanaan. Penelitian dilaksanakan melalui survey kuesioner. Hasil penelitian mengidentifikasi bahwa penerapan VE belum optimal. VE belum dipahami dengan benar, dan belum diterapkan belum sesuai standar internasional. Kualitas Tim VE, Manajemen pada fase Job Plan, dukungan top manajemen perusahaan dan dukungan dari eksternal menjadi faktor penentu keberhasilan penerapan VE di PT X.

Abstract
Stage in project planning or design of buildings often do not run optimally impacting on the amount of waste and unnecessary costs on the stage of the construction of buildings so that the application of VE effort could be a solution to optimize the value of the benefit (worth) while reducing the costs of unnecessary on a building project. Besides, the phenomenon of profit building contractor building in Indonesia is very minimal threat to the sustainability of the building contracting business in Indonesia. This is where the role of VE is expected to contribute to improving the cost performance of building projects in Indonesia, especially PT X as a State Owned Enterprise. Application of VE at the stage of the construction of buildings in PT X is not optimal will not provide significant benefits for the performance of building construction projects. The research is intended to provide suggestions for optimizing the application of VE in the implementation stage. The experiment was conducted through a survey questionnaire. The results identified that the application of VE is not optimal. VE has not been understood properly, and has not been implemented yet according to international standards. Quality of the VE Team, Management Job Plan phase, top management support and support from external companies became the criticcal factor in the successful application of VE PT X."
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
T28601
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Saragi, August Rianto
"Pada umumnya, pihak manajemen suatu parusahaan sadar bahwa kualitas merupakan sesuatu yang sangat rnenentukan tingkat kepuasan pe!anggan terbadap suatu produk tertentu. Narnun bagaiman pihak rnanajemen melihat pengaruh dari kualitas terhadap keberhasilan perusahaan seeara keseluruhan, merupakan masalah­ masalah yang sangat penting. Bagaimana suatu perusahaan mengetahui apakah biaya yang dikeluarkan untuk menjaga agar kualitas produk tetap sesuai standar telah optimai atau belurn, serta apa-apa saja kekuatan dan kelemahan dari sistem kualitas yang ada merupakan beberapa bagiml dati masalah-masalah yang rnemerlukan tools atau alat untuk menjawabnya. Dalarn hal ini tools yang dapat menjawab permasalaban tersebut adalah analisis biaya kualitas.
Biaya knalitas adalah biaya yang dikeluarkan dengan tujuan agar produk yong dihasilkan memiliki standar knalitas yang diinginkan dan dilsknkan secara berkesinarnbungan yaitu mulai dari produk tersebut didesign, diproses hingga menjadi barangjadi, sertalayanan pumajual (service after sales).
Pada skripsi ini, dibahas tentang elemen-elernen dari tiap-tiap kategori biaya kualitas yang akan rnemberikan gambaran I cermin tentang kondisi biaya kualitas di PT.X selama tahun 1995 sampai dengan tahun !996. Disarnping itu juga memper!ihatkan kecenderungan-kecenderungan yang terjadi yang pada akhirnya akan memberi informasi kepada pihak manjemen tentang level biaya kualitas."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1997
S36752
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yun Arifatul Fatimah
"Globalisasi memaksa industri manufaktur untuk mampu bertahan dalam persaingan yang semakin ketat. Perusahaan harus mempunyai keahlian untuk melakukan inovasi produk yang dihasilkan, menekan biaya serendah mungkin dengan tetap mempertahankan kualitas produk dan tetap berorentasi pada keuntungan yang diinginkan. Salah satu konsep untuk memastikan bahwa sebuah produk cukup untung ketika diluncurkan adalah memfokuskannya pada target costing.
Pencapaian target costing secara efektif dapat diperoleh dengan beberapa pendekatan, yaitu Quality Function Deployment I digunakan untuk mengidentifikasi dan menterjemahkan Voice of Customer ke dalam customer requiremet dan technical requirement. Value Engineering digunakan untuk menetapkan performance produk lebih baik/sama dengan biaya Iebih rendah, dan Fuzzy Logic digunakan untuk merepresentasikan ketidakpastian karena kuantitas pemesanan, fluktuasi permintaan, kondisi pasar dan fluktuasi nilai tukar/kurs.
Penelitian ini dilakukan pada sebuah industri manufaktur klakson PT Hamaden. Target costing ditetapkan berdasarkan ketentuan penurunan harga jual produk lama sebesar 2%, dengan nilai target cost sebesar Rp 15.752. Setelah dilakukan analisa dengan menggunakan QFDI. Value Engineering dan Fuzzy Logic diperoleh usulan rancangan komponen produk diameter nut 6mm, ketebalan nut 4,5mm, diameter core 6mm, panjang core 14,5mm dengan total biaya produk sebesar Rp 15.699. Dari penelitian ini, total biaya poduk usulan lebih rendah dari pada target cost ini brrarti bahwa target costing dapat tercapai.

Globalization forces manufactures to stay emulation on tight competition. Organization must have an expertise to make product innovation, to decrease product cost as low as possibly with maintaining the quality of product and remain oriented for desired profit. One way to ensure that products are profitable when launched is focusing it to target costing.
Achievement of target costing effectively can be obtained with view approach, which are Quality Function Deployment, which usually is used to identify and translate Voice of Customer into Customer Requirement and Technical Requirement. Value Engineering is used to speciiy performance of better/equal product to lower cost, and fuzzy logic is used to present uncertainty because ordering, demand fluctuation, market condition and foreign exchange fluctuation.
This research is conducted to industry of manufacture horn PT Hamaden. Target costing is specified based on selling price of old product equal to 2%, with target cost achieved Rp 15.752. After analysis of product component by QFDl, Value Engineering and Fuzzy Logic, the proposal of product component design is determined is as follow : nut diameter is 6mm, nur thickness is 4,5mm, core diameter is 6mm, core length is 14,5mm, and the total cost of product is achieved equal Rp 15.699. From this research, the total cost of product less than target cost, it?s mean that the target costing can be achieved.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2006
T16944
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>