Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3626 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"Naskah ini merupakan alih aksara ketik dari sebuah naskah karya Sumahatmaka (lihat FSUI/CW.9). Naskah Sumahatmaka itu sendiri merupakan salinan dari naskah induk karya Kusumadilaga, disalin pada tanggal 6 Mei 1928. Keberadaan naskah karya Kusumadilaga ini belum diketahui hingga kini. Penyalinan ketik dikerjakan staf Pigeaud pada Januari 1933, di Yogyakarta, sebanyak empat eksemplar (h.i). FSUI menyimpan dua diantaranya, yaitu HA 55a (ketikan asli) dan HA 55b (tembusan karbon). Hanya ketikan asli yang dimikrofilm. Pada h.222 terdapat keterangan yang menyebutkan bahwa cerita ini akan disambung dengan Serat Nugraha, yaitu menceritakan penobatan Prabu Baladewa dan pernikahannya dengan Dewi Erawati, disertai patah Endang Werdiningsih (sebenarnya adalah sang Pamadi) dan Jembawati. Keterangan isi selengkapnya dapat dilihat pada deskripsi FSUI/CW.9, sedangkan keterangan referensi lainnya, lihat: LOr 6689b; Pratelan II: 393; SMP/KS.420; MSB/SW.10-12."
[Place of publication not identified]: [publisher not identified], [date of publication not identified]
WY.49-HA 55a
Naskah  Universitas Indonesia Library
cover
"Naskah ini memuat teks Kartapiyoga Maling, menceritakan hilangnya Dewi Erawati, putri raja Mandaraka Prabu Salya, diculik oleh Prabu Kalaroga, atas permintaan anaknya bernama Kartapiyoga (Kartawiyoga) yang hidup di dalam goa. Dewi Erawati akan diambil sebagai permaisuri oleh Kartapiyoga, namun ia mempunyai permintaan, bahwa ia mau diambil sebagai permaisuri asalkan Kartapiyoga juga dapat mengawini saudara-saudaranya, yaitu Dewi Surtikanti dan Dewi Banowati. Kartapiyoga berangkat seorang diri ke Mandaraka. Setelah sampai di keputren, ia ketahuan oleh Raden Jaladara dan Raden Janaka; terjadilah peperangan dan Kartapiyoga kalah, masuk ke dalam bumi sementara Raden Jaladara dan Raden Janaka mengejarnya. Setelah Jaladara dan Janaka sampai di Giridasar (goa), mereka menemui Dewi Erawati. Raden Janaka membawa Dewi Erawati ke Mandaraka sedangkan Jaladara mau memusnahkan Prabu Kurandageni, maka terjadilah peperangan. Jaladara kemudian menghadapi raja Kurandageni, dan terjadi peperangan pula. Raja itu terbunuh oleh Jaladara. Janaka melepaskan senjata panah ke pusat kraton, sehingga terjadi lautan, sedangkan Kartapiyoga juga mati terbunuh oleh Janaka. Erawati kini dibawa oleh Jaladara ke Mandaraka dan Janaka menemui Hyang Baruna. Janaka kemudian pulang menuju Mandaraka. Dalam naskah disebutkan bahwa cerita akan disambung dengan Serat Nugraha, serat yang menceritakan bertahtanya Prabu Baladewa dan pernikahannya dengan Dewi Erawati disertai patah Endang Werdiningsih (sebenarnya adalah sang Pamadi) dan Dewi Jembawati. Teks ini dikarang oleh Kusumadilaga di Surakarta pada tahun 1872. Di dalamnya terdapat adegan-adegan erotis yang cukup grafik. Naskah-naskah lain yang berisi teks yang sama, lihat MSB/SW.10-11 dan LOr 6689. Naskah dibeli oleh Pigeaud dari R.M.Ng. Sumahatmaka di Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1931 dan mungkin merupakan hasil salinan tangannya sendiri. Naskah-naskah MSB yang tersebut di atas juga disalin oleh Sumahatmaka. Daftar pupuh: (1) asmarandana; (2) pangkur; (3) sinom; (4) kinanthi; (5) mijil; (6) dhandhanggula; (7) durma; (8) girisa; (9) durma; (10) gambuh; (11) pangkur; (12) sinom; (13) balabak; (14) dhandhanggula; (15) kinanthi; (16) asmarandana; (17) durma; (18) dhandhanggula; (19) asmarandana; (20) sinom; (21) pangkur; (22) kinanthi; (23) dhandhanggula; (24) asmarandana; (25) pangkur; (26) durma; (27) kinanthi; (28) dhandhanggula; (29) pangkur; (30) asmarandana; (31) maskumambang; (32) pucung; (33) kinanthi; (34) dhandhanggula; (35) mijil; (36) sinom; (37) dhandhanggula."
[Place of publication not identified]: [publisher not identified], [date of publication not identified]
CW.9-NR 160
Naskah  Universitas Indonesia Library
cover
Redi Tanaya
"Buku ini menyajikan cerita wayang berjudul Kartawiyoga yang terdiri atas 16 bagian, yaitu: 1. Jejer nagara Mandaka; 2. Adegan Gapuran; 3. Kadhaton; 4. Pasewanan Jawi, Bidhalan, Prang Ampyek; 5. Jejer negara Astina; 6. Jejer negara Tirta Kandhasan memberangkatkan tentaranya; 7. Perang Gagal Korawa dengan Raksasa; 8. Kartawiyoga bertemu dengan Dewi Erawati; 9. Adegan Permadi di hutan, dilanjutkan perang kembang; 10. Semar Ambarang Jantur di Pertapaan Argasonya; 11. Prabu Salya menemui Pendeta Jaladara; 12. Keraton Mandraka kemasukan maling; 13. Jatuhnya negara Tirta Kandhasan; 14. Endhang Bratajaya di Pertapaan Argasonya; 15. Pendeta Jaladara dirampok Korawa; 16. Perang Sampak."
Betawi Sentrem: Bale Pustaka, [date of publication not identified]
BKL.1115-WY 61
Buku Klasik  Universitas Indonesia Library
cover
"Teks ini merupakan saduran dari episode wayang purwa, menceritakan keberhasilan Prabu Dipayana menguasai ilmu jayan kawijayan yang diberikan Bagawan Sambu. Prabu Dipayana kemudian bergelar Darmasarana. Keterangan dalam teks menyebutkan bahwa naskah ini disusun oleh R.Ng. Citrasantana di Mangkunagaran, Surakarta, sekitar 1910. Pigeaud memperoleh naskah ini dari M. Sinu Mundisura pada bulan Agustus 1939. Daftar pupuh sebagai berikut: 1) dhandhanggula; 2) durma; 3) sinom; 4) asmarandana; 5) kinanthi; 6) pucung; 7) mijil; 8) asmarandana; 9) gambuh; 10) sinom; 11) pangkur; 12) dhandhanggula; 13) kinanthi; 14) mijil; 15) sinom; 16) dhandhanggula; 17) gambuh; 18) asmarandana; 19) megatruh; 20) kinanthi; 21) sinom; 22) pangkur; 23) durma; 24) mijil; 25) dhandhanggula; 26) asmarandana; 27) durma; 28) pangkur."
[Place of publication not identified]: [publisher not identified], [date of publication not identified]
PW.13-NR 385
Naskah  Universitas Indonesia Library
cover
"Naskah berisi teks Sajarah Dalem dan Serat Kancil. Cara penulisan naskah ini dari dua sisi, sisi pertama berisi teks Sajarah Dalem berbentuk tembang macapat, tetapi di sana-sini diseling dengan prosa. Kemudian diteruskan dengan Serat Kancil. Naskah berisi pula petikan Serat Menak dan tatacara mengadu ayam, diteruskan dengan doa untuk menyembuhkan sakit gigi. Naskah ini diperoleh Pigeaud di Surakarta pada bulan Februari 1929 dan telah dibuatkan ringkasannya oleh Mandrasastra pada bulan Januari 1933. Daftar pupuh: (1) -; (2) dhandhanggula; (3) sinom; (4) asmarandana; (5) kinanthi; (6) mijil; (7) pangkur; (8) gambuh; (9) megatruh; (10) durma; (11) pucung; (12) sinom; (13) sinom; (14) sinom; (15) asmarandana; (16) asmarandana; (17) pucung; (18) dhandhanggula; (19) kinanthi; (20) dhandhanggula; (21) dhandhanggula; (22) gambuh. [DONGENG KANCIL] (23) pangkur; (24) pucung; (25) sinom; (26) gambuh; (27) dhandhanggula; (28) pucung; (29) pangkur; (30) sinom; (31) asmarandana; (32) pangkur; (33) dhandhanggula; (34) dhandhanggula; (35) sinom."
[Place of publication not identified]: [publisher not identified], [date of publication not identified]
SJ.137-NR 47
Naskah  Universitas Indonesia Library
cover
"Teks naskah ini tampaknya merupakan saduran dari cerita wayang gedhog dengan mengambil tokoh utama Raden Gandakusuma dari negara Bandaralim. Bagian awal dan bagian akhir naskah ini hilang, sehingga tidak dapat diketahui awal dan akhir teks. Dilihat dari daftar pupuh (lihat di bawah) yang ada, naskah ini sedikit berbeda dibandingkan dengan naskah SJ.194, untuk keterangan selanjutnya lihat deskripsi naskah tersebut. Naskah ini kemungkinan menyalin dari sebuah naskah induk yang ditulis pada tanggal 3 Sapar 1819 (30 September 1889), sedangkan naskah ini sendiri ^lisalin pada bulan Juli 1912 (h.l). Pigeaud menerima naskah ini dari R. Gandasukaca Duryasaputran pada tanggal 25 November 1941 (h.l). Daftar pupuh: (1) asmarandana; (2) mijil; (3) asmarandana; (4) sinom; (5) kinanthi; (6) dhandhanggula; (7) durma; (8) sinom; (9) mijil; (10) durma; (11) mijil; (12) asmarandana; (13) maskumambang; (14) dhandhanggula; (15) sinom; (16) pangkur; (17) asmarandana; (18) durma; (19) sinom; (20) durma; (21) mijil; (22) dhandhanggula; (23) sinom; (24) asmarandana; (25) pucung; (26) pangkur; (27) durma; (28) pangkur; (29) asmarandana; (30) dhandhanggula; (31) pangkur; (32) asmarandana; (33) sinom; (34) durma; (35) mijil; (36) asmarandana; (37) kinanthi; (38) mijil; (39) dhandhanggula; (40) durma; (41) pangkur; (42) asmarandana; (43) sinom; (44) gambuh; (45) kinanthi; (46) dhandhanggula; (47) asmarandana; (48) sinom; (49) mijil; (50) pucung; (51) kinanthi; (52) asmarandana; (53) pangkur; (54) durma; (55) mijil."
[Place of publication not identified]: [publisher not identified], [date of publication not identified]
SJ.195-NR 517
Naskah  Universitas Indonesia Library
cover
"Jilid terakhir dari seri empat jilid Serat Gandakusuma SJ. 196-199. Keterangan selanjutnya lihat deskripsi naskah SJ.196. Daftar pupuh: (1) dhandhanggula; (2) mijil; (3) sinom; (4) asmarandana; (5) dhandhanggula; (6) sinom; (7) megatruh; (8) kinanthi; (9) mijil; (10) pangkur; (11) asmarandana; (12) pangkur; (13) gambuh; (14) durma; (15) pangkur; (16) dhandhanggula."
[Place of publication not identified]: [publisher not identified], [date of publication not identified]
SJ.199-NR 332
Naskah  Universitas Indonesia Library
cover
"Jilid ketiga dari set empat naskah ringkasan Pakem Langendriyan (FSUI/CW.4a-d), berisi ringkasan isi teks tersebut, serta cuplikan gatra awal setiap pupuhnya. Tentang Langendriyan pada umumnya lihat Pigeaud 1967:251-252. Lihat deskripsi naskah FSUI/CW.4a untuk keterangan selanjutnya."
[Place of publication not identified]: [publisher not identified], [date of publication not identified]
CW.4c-A 32.04a
Naskah  Universitas Indonesia Library
cover
Pigeaud, Theodoor Gautier Thomas, 1899-
"Buku ini tampaknya merupakan cetak ulang dari sejumlah artikel yang merupakan bagian dari majalah Jawa, namun tahun penerbitan tidak diketahui. Isinya berupa: (1) resensi buku (disertasi) berjudul Nji Pohatji Sangjang Sri karya K.A.H. Hidding, Leiden 1929. Resensi dibuat oleh Pigeaud; (2) surat peringatan (kenangan) yang diterbitkan dalam rangka peringatan ulang tahun bertahta memerintah) Paku Alam VII oleh Ki Ajar Dewantara yang dipersembahkan kepada Paku Alam VII. Surat tersebut dihimpun oleh Pigeaud; (3) resensi buku oleh Dr. W. F. Stuttoheim mengenai a) disertasi R.CH.CHH. Shastri, Leiden 1934. Expansi Kebudayaan Indo Arya pada masa Pallava. b) 2 buah buku oleh Dr. R. Owindstedt berjudul a history of Johore dan a history of perak; (4) resensi buku oleh Drs. Broekhuizen mengenai buku berjudul ?De Geologie van Ned. Indie? oleh Prof. Dr. MR. Rutten; (5) resensi buku oleh Dr. Th. Pigeaud mengenai lakon wayang sebanyak 15 lakon dan sebuah lakon berjudul ?wangsatama mamaling?. Yang diterbitkan dengan daftar isi dan daftar lengkap oleh A. Jonkers, Leiden, 1934."
[Place of publication not identified]: Tijdschrift voor Ind. Taal Land en Volkenkunde, 1937
BKL.0234-JR 8
Buku Klasik  Universitas Indonesia Library
cover
"Teks berisi saduran cerita wayang purwa Lakon Bale Sigala-gala (atau Bale Gala-gala), menceritakan para Pandawa yang dibakar oleh Kurawa di balai tempat penginapan mereka. Para Pandawa dapat menyelamatkan diri karena mendapat perlindungan para dewa. Lihat Vreede 1892 untuk ringkasan selengkapnya. Naskah ini merupakan alih aksara ketik dari naskah LOr 1869. Penyalinan dikerjakan staf Pigeaud pada tahun 1928, di Surakarta. Untuk salinan lainnya (tembusan karbon), lihat PNRI/G 24."
[Place of publication not identified]: [publisher not identified], [date of publication not identified]
WY.22-G 24
Naskah  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>