Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 67 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"Buku ini merupakan buku panduan wayang Mandrawanara dengan lakon Senggana Dinuta sampai dengan adegan terbakarnya istana Alengka."
Yogyakarta: Mardi Mulya, [date of publication not identified]
BKL.0486-WY 18
Buku Klasik  Universitas Indonesia Library
cover
"Langen Mandra Wanara ini dipagelarkan untuk memperingati tumbuk yuswa (genap usia 64 tahun) Kanjeng Pangeran Arya Adipati Danureja di kepatihan Ngayogyakarta, pada tanggal 27 Desember 1931. Acara dimulai dari pukul 07.00 sampai pukul 19.00. Cerita ini adalah bagian dari cerita Ramayana pada waktu membendung samodra ketika perebutan Dewi Sinta, yang menjadi panglima adalah R. Anoman yang ada di pihak Rama, menghadapi bala tentara Rahwana dari Alengka."
[Place of publication not identified]: Buning Djokja, [date of publication not identified]
BKL.0832-WY 42
Buku Klasik  Universitas Indonesia Library
cover
"Naskah merupakan ringkasan dari teks wayang gedhog FSUI/WY.70; FSUI/WY.71; FSUI/WY.60; FSUI/WY.62 yang masing-masing berjudul: Topeng Prunggu (h.l); Lampahan Sutija Angsal Pusaka Topeng Prunggu (h.7); Lampahan Bukbis Ngagem Topeng Waja Mripat Suryakantha (h.14)."
[Place of publication not identified]: [publisher not identified], [date of publication not identified]
WY.76-B 34.05
Naskah  Universitas Indonesia Library
cover
Kamadjaja
Jogja: U.P. Indonesia, 1966
899.222 KAM l
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
"Langen Mandrawanara as a Javanese opera is one of the musical drama dance genres
"
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
R.M. Ngabehi Dutadilaga
Surakarta: [publisher not identified], 1938
899.22 NGA b
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
"Teks berisi kisah Kurawa yang berusaha membunuh Pandawa. Pertama-tama Bratasena dibuat mabuk, dan dimasukkan ke sumur Jalatunda. Saudara-saudara Bratasena diundang ke Astina, dengan alasan akan diadakan penyerahan separuh negara. Sambil menunggu kedatangan Bratasena, Puntadewa disuruh mengatur ketandan, Arjuna menjual kapur sirih, Nakula dan Sadewa menggembalakan kambing dan itik. Raksasa Batangsidalancang, penjaga gada kepunyaan Bratasena, marah ketika gada itu diangkat oleh Kurawa untuk dipukulkan kepada Puntadewa. Pihak Kurawa mengadakan sayembara untuk mencari orang yang sanggup mengangkat gada itu. Hyang Antaboga menyuruh Bratasena mengikuti sayembara tersebut dengan minta imbalan separuh negara Astina. Bratasena kemudian diubah wujudnya menjadi anak berusia sembilan tahun. Teks berakhir dengan kisah penyerangan para Kurawa ketika Bratasena berusaha menagih janji setelah berhasil mengangkat gada tersebut. Cerita ini juga disebutkan dalam MSB/W.25 dan W.28, dengan judul Lakon Pandawa Dulit. Dalam sumber-sumber lain, teks juga dikenal dengan judul Lakon Bondhan Paksa Jandhu. Keterangan penyalinan naskah ini tidak ditemukan."
[Place of publication not identified]: [publisher not identified], [date of publication not identified]
WY.23-A 41.03
Naskah  Universitas Indonesia Library
cover
"Naskah ketikan ini berisi cuplikan pada awal dan akhir dari naskah induk KBG 701. Naskah induk tersebut dibeli Pigeaud dari Van der Gracht pada Januari 1930. Penyalinan dikerjakan pada bulan Juni 1930 sebanyak dua eksemplar (h.i). FSUI menyimpan salinan tembusan karbonnya, sedangkan salinan ketikan asli belum diketahui keberadaannya. Teks merupakan kelanjutan dari Babad Prambanan, mengisahkan perjalanan hidup Dewi Angreni. Teks diawali dengan cerita penobatan Prabu Lembu Amiluhur menjadi Raja Jenggala, dan diakhiri dengan tewasnya Kalana Tunjungseta dari Pengging setelah berperang melawan Kalana Jayengsari dari Jenggala. Teks tidak mencantumkan nama penulis/penyalin. Keterangan lebih lanjut tentang kisah Dewi Angreni, lihat PNRI/KS.324; dan FSUI/CP.38 (Panji Angreni). Deskripsi Babad Prambanan dapat dibaca pada FSUI/LS.2-4."
[Place of publication not identified]: [publisher not identified], [date of publication not identified]
WY.34-L 8.42
Naskah  Universitas Indonesia Library
cover
"Teks ini merupakan kelanjutan dari Lampahan Semar Kuning. Diawali dengan kisah Sumbadra yang sedang menghadap Batara Durga untuk menanyakan suaminya, Arjuna yang sudah lama menghilang. Sumbadra lalu dihias seperti Arjuna, kemudian disuruh pergi ke Gunung Kembang. Di Gunung Kembang, pada waktu itu Arjuna Jelur kedatangan Retna Banowati, Duryodana, dan Durna yang meminta tolong untuk memusnahkan raksasa perusak negara. Arjuna Jelur menyanggupi dengan syarat, kalau berhasil mengalahkan raksasa, Retna Banowati akan dikawininya. Mereka menyanggupi, bahkan negara pun akan diserahkan kepadanya. Tidak lama kemudian Prabu Kresna dan Pandawa datang, mereka menceritakan kepada Arjuna bahwa negeri Amarta dan Dwarawati dikuasai Prabu Aji Gineng (negeri Medang Kemuwung). Apabila Arjuna Jelur dapat mengalahkan raksasa itu, maka kedua negeri akan diserahkan kepadanya. Arjuna menyanggupi, akan tetapi dia harus menunggu saudaranya, Semar Kuning yang sedang bertapa di gunung Kombang. Setelah Semar Kuning bertemu dengan Arjuna, mereka berdua lalu pergi memerangi raksasa-raksasa yang menguasai Dwarawati, Amarta, dan Astina. Mereka berhasil mengalahkan raksasa tersebut dengan bantuan Arjuna palsu (Sumbadra) dan Putut Dali Putih (Abimanyu). Prabu Aji Gineng ternyata penjelmaan dari Batara Guru; Kala Dahana, penjelmaan dari Batara Brahma; Kala Maruta, penjelmaan dari Batara Bayu. Naskah merupakan jilid kedua dari seri dua jilid naskah FSUI, yaitu WY.61 dan WY.69. Disalin oleh Lagutama pada tanggal 4 Rabiulakir, Be 1833 (30 June 1903). Melihat keterangan tarikh penyalinan tersebut, nampaknya teks jilid kedua ini ditulis lebih dahulu dibandingkan jilid pertama (21 Mulud 1864/15 July 1933). Teks kemudian dibuatkan salinan alih aksara ketik oleh staf Pigeaud pada September 1933, lihat FSUI/WY.69, hal.24-46. Pada teks alih aksara tersebut, dijumpai keterangan penulisan naskah induk, yaitu oleh P. Kusumadilaga, di Tejamaya (h.l). Keterangan referensi, lihat FSUI/WY.69."
[Place of publication not identified]: [publisher not identified], [date of publication not identified]
WY.61-K 14.02
Naskah  Universitas Indonesia Library
cover
"Naskah ini merupakan jilid tiga dari seri Lampahan Wayang Golek Iman Suwangsa, yaitu lakon Rabinipun Iman Suwangsa, putranipun Prabu Jayengrana ing nagari Puser Bumi. Diceritakan negara Mesir dengan rajanya Barowijaya dan putranya Pancasurya. Mereka membicarakan Suryawati, kakak Pancasurya yang hilang diculik raksasa Tunggulwulung, penguasa hutan Gerotan. Raja Barowijaya membuat sayembara, bagi siapa saja yang menemukan Suryawati akan dijodohkan dengannya dan mendapat separoh daerah kerajaan Mesir. Iman Suwangsa dan Marmadi melarikan diri hingga tiba di hutan Gerotan. Mereka menemukan gua persembunyian raksasa Tunggulwulung. Akhirnya Iman Suwangsa dapat mengalahkannya dan membawa Suryawati ke negara Mesir. Iman Suwangsa mendapatkan imbalan sesuai dengan yang disayembarakan oleh ayah Suryawati, raja Barowijaya. Rangkaiari Lampahan Wayang Golek Iman Suwangsa sendiri tidak diketahui sampai seri keberapa, sebab di akhir seri ketiga ini terdapat keterangan yang menyatakan bahwa teks masih ada lanjutannya. Seri pertama dan kedua Lampahan Wayang Golek Iman Suwangsa adalah FSUI/WY.73 dan FSUI/WY.74. Ketiga seri lampahan ini telah dibuatkan alih aksaranya oleh staf Dr. Pigeaud pada bulan Oktober 1932 (FSUI/WY.72). Tidak ada informasi tentang penulisan naskah ini, tetapi terdapat keterangan (h.i) bahwa naskah ini dibeli oleh Dr. Pigeaud dari Atmareja, desa Banaran, Kulon Praga pada tanggal 20 Agustus 1932. Kemungkinan Atmareja inilah yang menyalin naskah ini."
[Place of publication not identified]: [publisher not identified], [date of publication not identified]
WY.67-B 39.03
Naskah  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7   >>