Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 15256 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Krier, Rob
London: Academy Editions, 1991
711.55 KRI u
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Berlin: Jovis, 2015
711.4 PER
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Broadbent, Geoffrey
London: E & FN Spon, 2001
711.42 BRO e
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Rossem, Vincent van
Rotterdam: NAi Publishers, 1996
711.094 9 ROS c (1)
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Trancik, Roger
New York: Van Nostrand Reinhold, 1986
711.401 TRA f
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Cartwright, Richard M.
London: Architectural Press, 1980
711.59 CAR d
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Ganishtasya Endhys Saputri
"Tulisan ini membahas proses sebuah in-between space yang awalnya dianggap sebagai ruang sisa dapat beralih sebagai sebuah place yang memiliki nilai di dalamnya. Tujuan dari penulisan ini untuk memahami bahwa hadirnya manusia dan kualitas ruang fisik memengaruhi transformasi tersebut. In-between space sebagai ruang sisa sendiri merupakan ruang yang terbentuk secara tidak terencana dan berada diantara elemen urban lain. Uniknya, ruang tersebut tetap memungkinkan beragam aktivitas hadir. Kehadiran makna dan sense of place lah yang memicu proses place-making. Dalam memahami konsep transformasi in-between space, skripsi ini menggunakan kasus Kolong Jembatan Slipi yang dianalisis berdasarkan tiga aspek: 1) identifikasi kualitas fisik dan ruang in-between space sebagai ruang sisa; 2) proses kehadiran aktivitas manusia di dalam in-between space; 3) sense of place yang hadir melalui beragam aktivitas. Melalui analisis tersebut menunjukkan bahwa kualitas ruang in-between space dan hadirnya aktivitas manusia memicu perubahan in-between space dari ruang sisa menjadi sebuah place.

This paper discusses about an in-between space that was originally considered as a lost space can turn into a place that has meaning and value in it. The purpose of this paper is to understand that the presence of humans and the quality of physical space influence the transformation. In-between space as lost space is a space that is formed unplanned and is located between other urban elements. These activities are influenced by the characteristics of the physical space between spaces as lost space and also by different human perceptions. In understanding the concept of transformation of the in-between space, this paper uses the case of Kolong Jembatan Slipi, which determines based on three aspects: 1) identification of the physical quality of the in-between space as lost space; 2) the process of the presence of human activities in the in-between space; 3) the emergence of meaning and a sense of place from the connection between human activity and the physical space between spaces. So, it can be said that this paper wants to show that the quality of the in-between space and the presence of human activity triggers the change in the in-between space from as lost space to a place."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Amanda Najwa Aisha
"Tulisan ini menelusuri dinamika ruang malam kota (night time spaces) sebagai bagian dari diskursus 24-hour city. Terdapat perubahan makna night time spaces sebagai bentuk okupasi ruang malam hari yang kemudian berubah maknanya dari terbatas menjadi ruang yang kemudian ditolerir, dianggap positif dan aman. Skripsi ini mengidentifikasi perkembangan kehadiran night time space pada urban konteks seiring dengan kemajuan teknologi pencahayaan artifisial yang memproduksi ruang malam hari yang mewadahi berbagai macam aktivitas nokturnal yang baru. Studi ini melihat bahwa terdapat berbagai situasi yang memicu okupasi night time city, terkait dengan situasi bekerja, pola beristirahat yang berbeda, keinginan untuk keluar dari mono fungsionalitas kota, dan perkembangan budaya dan teknologi secara global. Studi ini melihat bahwa night spaces memiliki berbagai variasi kualitas spasialnya sendiri, yaitu: (1) night spaces hadir sebagai kumpulan ruang yang kontradiktif; (2) night spaces sebagai ruang aktivitas yang termultiplikasi; dan (3) malam hari dialami sebagai ruang yang berlapis. Skripsi ini lalu mengamati kualitas spasial tersebut pada area pemukiman mahasiswa di Kukel, Jl. Palakali, Depok, Jawa Barat untuk menarasikan dinamika kehidupan malam yang terjadi di dalamnya. Studi kasus tersebut melihat bahwa terdapat negosiasi yang menghadirkan dinamika kehidupan ruang di malam hari di area Kukel ketika area ruang yang bersifat kontradiktif berpotongan (overlap), area yang bermultiplikasi meluas (extended), dan area yang berlapis membatasi satu sama lain (containment). Studi ini menyimpulkan bahwa diskusi terkait dinamika ruang malam hari di kota hadir melalui negosiasi antara regulasi kehidupan kota dan kebutuhan aktivitas nokturnal.

This study explores the dynamics of night spaces in the city city as part of the 24-hour city discourse. There is a change of understanding of night time spaces as a form of night space occupation from being limited to being a space that is tolerable, considered positive and secure. This study identified the development of night time space that happened with the advancement of artificial lighting technology, that allows various nocturnal activities to emerge. There are various situations that trigger occupation of night time spaces, from extended work hours, different sleeping patterns, the need to go beyond urban mono fungsionalism, and global change of culture and technology. This study identifies variations of night space spatial qualities, existing through (1) contradictive, (2) multiplied, and (3) layered spaces. It then explores such spatialities and narrates the dynamics of night space in the student settlement area in Kukel, Jl. Palakali, Depok, West Java. This case study highlights that there are negotiation that creates night time dynamics in the Kukel area when contradictive spaces overlap, multiplied area extended, and layered areas contain each other. This study concludes that discussion about night time space dynamics exists through negotiation between urban life regulation and needs of nocturnal activities."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
I.S. Wibowo
Depok: Universitas Indonesia, 2000
S48229
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rendy Primrizqi
"Kehadiran beberapa ruang kota yang didesain eksklusif untuk sebagian kalangan telah menjadi hal yang sering terlihat di Jakarta. Hal ini membuat saya mempertanyakan tentang social equity yang diharapkan hadir di dalam kota oleh Hamid Shirvani 1985 . Social equity tidak tercermin dengan eksklusif-nya ruang-ruang kota. Idealnya, ruang-ruang kota lebih inklusif agar semua kalangan, termasuk yang berhubungan dengan informalitas, bisa menggunakannya. Informalitas, yang sudah memiliki perwujudan dalam ruang-ruang kota dan bahkan sudah dianggap sebagai gaya hidup berkota khususnya di kota-kota 'global south', belum bisa terakomodasi dengan eksklusivitas ruang-ruang kota tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa informalitas penting untuk dijadikan pertimbangan pada perancangan kota untuk menciptakan ruang-ruang kota yang lebih inklusif.Melihat pandangan Ananya Roy 2004, 2005 , Nezar AlSayyad 1981, 2004 , Loukaitou-Sideris dan Mukhija 2015 tentang informalitas bahwa negosiasi menjadi sesuatu yang penting dalam prosesnya, saya mendapati bahwa perlu untuk memartisipasikan informalitas dalam proses desain untuk menghasilkan sebuah desain yang inklusif. Untuk memartisipasikan informalitas, saya melakukan observasi langsung, wawancara, dan diskusi bersama pelaku informalitas untuk mengerti sejauh mana cakupan, kebutuhan, dan perwujudan dari informalitas dalam suatu ruang kota. Selain itu, analisis tentang letak kehadiran informalitas menunjukkan bahwa dibutuhkan intervensi 'penunjang' kebutuhan yang akan 'diisi' dan dipakai oleh pelaku informalitas untuk mengakomodasi informalitas di dalam suatu ruang kota. Tesis perancangan ini menawarkan alternatif lain bagi perancangan perkotaan untuk memeransertakan informalitas sebagai salah satu syarat proses desain yang harus diakomodasi dalam kebijakan kota. Dengan begitu, desain yang dihasilkan akan mampu mencakup lebih banyak pengguna kota terutama para pelaku informalitas sehingga lebih inklusif.

The presence of public spaces that designed exclusively for some segment of city users only has become more common practices in Jakarta. This leads to the question of social equity in the city. With the exclusivity of urban spaces, social equity in the city is hardly attainable. Ideally, urban spaces in the city should be designed to be more inclusive so every segment of city users, including from informal sectors, can utilizes those spaces. While informality already has manifestations in city spaces and even has been considered as one of urban way of lifes notably in ldquo global south rdquo cities, its presence cannot be accomodated by the city rsquo s public spaces which designed for exclusivity. Therefore, there is a need to considerate informality in the designing of urban spaces to create more inclusive urban spaces.By reviewing Ananya Roy 2004, 2005 , Nezar AlSayyad 1981, 2004 , Loukaitou Sideris and Mukhija rsquo s 2015 notions on informality that negotiation is an essential feature of its process, I find that it is necessary to participate informality in the design process to create an inclusive design. In order to achieve that, I do direct observations, interviews, and discussions with the informality practicioners to determine the scope, needs, and manifestations of informality in urban spaces. Furthermore, analysis of the informality rsquo s presence location shows that it requires the need supporting intervention which will be ldquo filled rdquo and used by informality practicioners to accomodate informality in urban spaces. This design thesis offers an alternative design of urban space which considers the informality as one of the requirements in the design process that must be accommodated in urban policy. Therefore, the produced design will be able to accomodate more city users, informality practicioners in particular, making it more inclusive. "
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2017
T49677
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>