Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 24 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Purcell, Hugh
Yogyakarta: Insist Press, 2000
320.5 PUR f
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Roman Hadi Saputro
"Penelitian ini dilatarbelakangi oleh sedikitnya sumber mengenai gerakan
fasisme di Indonesia pada masa sebelum kemerdekaan yang pada saat itu masih
dikenal dengan nama Hindia Belanda. Gerakan kemerdekaan bagi Hindia Belanda
selalu diidentikkan dengan ideologi nasionalisme dan komunisme. Banyak yang
tidak mengetahui kalau di Hindia Belanda pernah ada gerakan dari organisasi atau
partai politik fasisme yang menginginkan kemerdekaan.
Fasisme yang pada awal abad ke-20 menjadi sebuah ideologi yang
lahir dan berkembang di Eropa kemudian menyebar sampai ke Asia. Fasisme di
Hindia Belanda memiliki keunikan sendiri dibandingkan dengan yang
berkembang di negara lain, yakni bila fasisme di Eropa dan negara lainnya
menjadi alat untuk melakukan imperialism, maka di Hindia Belanda Fasisme
justru dijadikan alat untuk mencapai kemerdekaan. Dengan kata lain, Fasisme di
Hindia Belanda lahi disebuah negara terjajah yang belum memiliki pengalaman
demokrasi dan belum memiliki industri yang cukup maju, padahal dua faktor ini
adalah yang utama bila Fasisme ingin berkembang di suatu negara.

This research of background by the least source of the fascism movement
in Indonesia in the before independence period at the time was still known as
Netherlands Indies. The Netherlands Indies independence movement was
identified with of the nationalism and communism. Many people don’t know in
the Netherlands Indies had no movement by the fascism organization and political
party who wants to independence of Netherlands Indies.
In the beginning of the 20th century, Fascism was
born and flourished in Europe and then spread to Asia. The Fascism growth in
Netherlands Indies is unique if compare to the other countries, namely when
Fascism in Europe and other countries to be imperialism element, then the
Netherlands Indies, Fascism is precisely used to archieved independence. In other
word, the Fascism in Netherlands Indies was born in colonized country that has no
experience of democracy and yet have a sufficiently advanced industries, whereas
these two factors are the main ones when Fascism to flourish in a country.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2012
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kemalsyah Fadli Akbar
"Skripsi ini mengeksplorasi simbolisme ideologi Fasisme Jerman pada bangunan Die Neue Reichskanzlei yang terdiri atas simbolisasi arsitektural melalui skala beserta kualitasnya dan simbol non-arsitektural berupa lambang kenegaraan dan karya seni. Selain itu, skripsi ini juga mengeksplorasi simbolisme kejayaan arsitektur Yunani dan Romawi Kuno sebagai perpanjangan dari teori Ruin Value melalui pembedahan bagian-bagian bangunan berupa kolom, pintu, jendela, bracket dan lengkungan yang memiliki kemiripan dengan kedua elemen arsitektur tersebut. Skripsi ini berangkat dari masalah kurangnya literatur yang membahas hal-hal tersebut secara menyeluruh dengan tujuan pertama untuk mengetahui simbolisasi ideologi Fasisme Jerman dalam bentuk arsitektural dan non-arsitektural serta peran simbol-simbol tersebut terhadap persepsi manusia, identitas bangunan, dan kuasa dan tujuan kedua untuk memahami kemiripan antara bagian-bagian bangunan pada Die Neue Reichskanzlei dengan arsitektur klasik dari Yunani dan Romawi Kuno dalam menyimbolisasikan kejayaan kedua arsitektur tersebut. Penyelidikan dilakukan menggunakan metode kajian literatur untuk teori dan sejarah untuk kemudian digunakan saat pembahasan untuk mendapatkan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelusuran, didapatkan hasil bahwa Die Neue Reichskanzlei menggunakan bentuk kuasa force, domination/intimidation, dan seduction yang kemudian terhubung dengan kuasa authority melalui persepsi manusia akan kebesaran bangunan yang terhubung dengan authority sehingga mampu meningkatkan citra dan legitimasi kuasa Adolf Hitler dengan Reich Ketiganya. Selain itu, bangunan juga cukup representatif terhadap arsitektur klasik Romawi dan Yunani Kuno.

This study explores the symbolism of German Fascism ideology in Die Neue Reichskanzlei, which consists of architectural symbolism through scale with its quality and non-architectural symbols. Additionally, this thesis explores the symbolism of Greek and Roman architecture’s glory as an extension of Theory of Ruin Value by breaking down building components that bear resemblance to elements from those two. The thesis stems from the lack of literature comprehensively discussing these topics with the primary aim to understand the symbolism of German Fascism ideology in both architectural and non-architectural forms, as well as their role on human perception, building identity, and power. The secondary aim is to understand the similarities between the building components Die Neue Reichskanzlei and Ancient Greek and Roman architecture in symbolizing the glory of both. The research was conducted using a literature review method for theory and history, which was then utilized in the discussion to reach conclusions. Based on the findings, it was concluded that the Die Neue Reichskanzlei utilized forms of power such as force, domination/intimidation, and seduction, which were then linked to authority through connection of human perception of the building’s grandeur to authority, thereby enhancing the image and legitimization of Adolf Hitler and his Third Reich’s power. Additionally, it was also concluded that the building is quite representative to Roman and Greek architecture."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Thurlow, Richard
New York : Cambridge University Press, 1999
335.6 THU f
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Griffin, Roger
London: Routledge, 1994
320.533 GRI n
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Ebenstein, William
New York: Prentice-Hall, 1954
320.5 EBE t
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Kadt, J. de
"Inhoud :
1. Ter waarschuwing
2. Klassenstrijd, belangenstrljd en cultuurstrijd
3. Mens en ondermens
4. Elite en partij
5. Mussolini-een poging en een mislukking
6. Hitler, of de triomf van het kazemisme
7. Mythe of inspiratie
8. De dynamiek der cultuur
9. De wapening der gematigden
10. De toekomst der Westerse beschaving"
Amsterdam: G.A. Van Oorschot, 1946
K 335.6 KAD f
Buku Klasik  Universitas Indonesia Library
cover
Tazkia Khansa Farhani
"Sebagai salah satu penulis drama paling terkenal dalam sejarah, Shakespeare telah menghasilkan berbagai karya yang kerap dibaca dan diadaptasi oleh banyak orang. Produksi adaptasi Shakespeare bervariasi tergantung niat pengadaptasi, dan hasilnya bisa berbeda dari teks sumber yang digunakan. Salah satu adaptasi film Shakespeare yang cukup radikal adalah A Midsummer Night's Dream (2016) karya Russell T. Davies. Film ini memasukkan fasisme ke dalam narasinya dan menghadirkan kisah cinta dan pernikahan antara laki-laki dan perempuan dengan tambahan unsur homoseksualitas di bawah pemerintahan yang otoriter. Artikel ini mengkaji signifikansi fasisme dalam film dan bagaimana pasangan heteroseksual dan homoseksual digambarkan dalam kaitannya dengan fasisme. Dengan mengacu pada teori adaptasi dan konsep seksualitas, penulis berpendapat bahwa fasisme adalah metafora dari sistem opresif yang masih ada pada masyarakat dewasa ini. Sistem ini mempertahankan heteronormativitas melalui pasangan heteroseksual yang ditampilkan dalam film. Namun, homoseksualitas dihadirkan sebagai kekuatan yang dapat menumbangkan fasisme. Homoseksualitas menunjukkan bahwa film A Midsummer Night’s Dream (2016) mendukung hak-hak LGBT.

.As one of the most celebrated playwrights in history, Shakespeare’s works have been read and adapted every so often. The production of Shakespearean adaptation varies depending on the adapter’s intentions, and the end product may differ from the source text to an extent. One radical film adaptation is A Midsummer Night's Dream (2016) by Russell T. Davies. This film incorporates fascism into its narrative and presents the story of love and marriage between men and women with the addition of homosexuality under an authoritarian government. The article examines the significance of fascism in the film and how heterosexual and homosexual couples are portrayed in relation to it. By referring to the theory of adaptation and the concept of sexuality, the author argues that fascism is a metaphor for an oppressive system that persists in many societies today. It preserves heteronormativity through heterosexual couples shown in the film. However, homosexuality is presented as a force that can subvert fascist power, showing how the film advocates LGBT rights."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2023
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
[Djakarta] [T.p] [1962],
959.8 Pem
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Sihombing, O.D.P.
"Buku ini berisi beberapa karangan, baik berupa buku maupun tulisan-tulisan di dalam majalah mengenai masa kependudukan Jepang di Indonesia ..."
Djakarta: Sinar Djaya, 1962
K 959.802 2 SIH p
Buku Klasik  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>