Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 468 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Barnas Sumantri
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999
791.5 Sum h
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Kanti W. Walujo
Jakarta: Direktorat Publikasi Ditjen Pembinan Pers Dan Grafika Departemen Penerangan, 1994
791.538 Wal p
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Groenendael, Victoria M. Clara van
"Much of the storytelling in Java is profession of the puppeteers (dalang; also spelled dhalang) who perform and direct shadow theatre plays (wayang). They improvise their stories in the context which their performance requires. Unless commissioned to do so by a patron, it is very unusual for a dalang to sit down and actually write out a story (lakon). In the early decades of the twentieth century in the area of Yogyakarta, a kind of storytelling mini-industry arose at the instigation of some western scholarly patrons and laymen interested in Javanese popular culture. One such patron was Ir. J. L. Moens. He encouraged dalangs to write down folk tales and, as they were dalangs, they clothed these in the wayang idiom. After Moen's death in 1954, his unpublished collection of wayang stories was dispersed. In 1964 one part found its way into the Leiden University Library. The topic discussed are: how the Collectie Moens originated and what its purpose was; who its authors were; which tradition they acknowledged; and the relationship between the Collectie Moens and the court collections of Surakarta and Yogyakarta."
Depok : Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2016
909 UI-WACANA 22:3 (2021)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Penulis akan membahas pemikiran beberapa tokoh-tokoh Indonesia dalam Buku ini, buku ini juga mengulas secara komperhensif tentang Asyura dalam berbagai perspektif; historis, sosio-kultural, politik, religi-teologis & tentunya filosofis-sufistik. Sehingga, Asyura sebagai salah satu khazanah penting dalam sejarah peradaban Islam bisa digali pesan dan makna universalnya guna dikontekstualisasikan, direlevansikan dan tentunya diaplikasikan bagi umat Islam di Indonesia saat ini. Agar kita tak hanya terjebak dalam romantika sejarah dan ritualitas peringatan Asyura semata, tanpa mengurangi bobot pentingnya itu sebagai momentum refleksi. Juga, agar pesan universal Asyura tak hanya dipetik oleh umat Islam (apalagi hanya penganut Syiah), melainkan lintas agama dan bangsa.
Buku “Hikmah Abadi Revolusi Imam Husain” memuat 16 tulisan dari 16 tokoh Indonesia yang kompeten di masing-masing bidang kajiannya. Sehingga, tulisannya bukan hanya relevan dengan konteks keindonesiaan, tapi juga kompeten sebagai sebuah karya.
Berikut ini ringkasan 16 tulisan dari 16 tokoh tersebut yang termuat dalam buku “Hikmah Abadi Revolusi Imam Husain”.
1. Sayyid Abbas Salehi mengawali esai-esai dalam buku ini dengan menulis prolog tentang sosok Imam Husain ssebagai pribadi kecintaan Nabi. Ia juga menulis sosok Imam Husain dalam kacamata kenabian.
2. Abdul Hadi W.M menulis tentang bagaimana epos Asyura digunakan sebagai media pembelajaran prinsip iman & moral Islam. Yang kemudian menjadi bagian penting penyebaran Islam di Nusantara. Ia juga menulis hikayat-hikayat budaya Melayu yang memperingati kesyahidan Imam Husain, khususnya di Indonesia.
3. Musa Kazhim menguak rahasia aspek tempat & waktu yang dipilih Imam Husain dalam gerakan penyelamatan Islam di Karbala. Terpilihnya Karbala, misalnya, yang adalah wilayah tertua dalam sejarah peradaban manusia yang menyiratkan pesan bahwa misi Imam Husain lintas waktu.
4. Amsal Bakhtiar & Husein al-Kaff mempresentasikan klarifikasi & penjelasan prinsip Qur’an & hadist yang terkait dengan ajaran amar ma’ruf-nahi munkar, jihad & syahadah yang semuanya adalah pesan penting syahidnya Imam Husain. Mereka menegaskan bahwa gerakan Husain adalah model yang benar bagi penerasan prinsip Islam itu. Agar prinsip Islam itu tak justru memberi kesan buruk bagi Islam.
5. Dr. Fanaei Eskhavari menegaskan tentang dua dimensi (intelek & emosional) yang terkandung dalam gerakan Imam Husain dengan menekankan bahwa intelek adalah basis bagi ekspresi emosi.
6. Husain Heriyanto mendemonstrasikan karakter rasionalitas & universalitas revolusi al-Husain melalui telaah logika-filosofis bahwa revolusi & syahidnya Imam Husain adalah keniscayaan sejarah untuk menjaga Islam dari kepunahan.
7. Gerardette Philips & Husein Shahab sajikan analisis psiko-sufistik dengan menyatakan gerakan al-Husain sebagai bentuk riil perjalanan spiritual dengan kesempurnaan cinta ilahiah berupa penyerahan diri total pd-Nya.
8. Nanang Tahqiq memaparkan tentang Imam Husain di mata Muslim Indonesia, khususnya kalangan Sunni, yang ternyata jika disadari bisa jadi peluang persatuan Sunni-Syiah.
9. Aan Rukmana tegaskan bahwa revolusi Al Husain telah berhasil kembalikan sesuatu yang hilang dari peradaban modern yang sekular, yakni spiritualitas.
10. Dede Azwar Nurmansyah menulis tentang kilasan tatapan moral & fenomenologi massa dalam tragedi Karbala. Secara filosofis, ia menjelaskan tentang Asyura sebagai simbol pertarungan “yang baik” & “yang jahat”, serta bahasa nalar al-Husain & kebisisngan massa yang semu.
11. Ihsan Ali-Fauzi membahas tentang ketaklekangan Asyura dalam ruang maupun waktu yang paradigmanya menjadi spirit revolusioner & sumber protes kaum Syiah atas segala kesumbangan.
12. Subhi Ibrahim menyoroti aspek politik dari kebangkitan Imam Husain, yakni revolusi dan syahadah.
13. Alef Theria Wasim melihat tragedi Karbala dalam perspektif & analisis psiko-religio-sosio-kultural.
14. ‘Abdillah Baa’bud menulis aspek historis dari tragedi Karbala, guna mencatat & memetik hikmah-hikmah yang berserak, khususnya dalam riwayat tentang Asyura.
15. Akhirnya, Haidar Bagir menutup buku ini dengan epilog tentang Karbala sebagai padang cinta & al-Husain sebagai imam cinta. Sesuai dengan misi Islam sebagai agama cinta. Bahkan peperangan dilakukan karena kecintaan pada kemanusiaan & musuh itu sendiri karena telah menganiaya diri (fitrah)-nya sendiri. Bukan karena kebencian. Bagi Haidar, ketika cinta sudah bersemi, ia akan menyelimuti hati, sehingga tak ada ruang untuk selainnya, apalagi benci."
Jakarta: Sadra, 2013
297.272 HIK
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Fahmi Adlan Syah
"Skripsi ini membahas tentang cara bagaimana memilih wanita untuk dijadikan pasangan hidup. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kepustakaan. Hasil penelitian ini adalah kriteria Serat Nitimani yang bisa di representasikan dalam tiga lakon wayang karya Sekar Budaya Nusantara.

This script explain about how to chose woman as spouse. The method that being used is library research. The result of this research is criteria of Serat Nitimani, that can be represented in three puppets lakon created by Sekar Budaya Nusantara."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2013
S52526
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Darmoko
"Seni gerak dalam pertunjukan wayang sering disebut dengan sabetan. Dalam seni gerak wayang dikandung aturan-aturan, norma-norma atau wewaton yang merupakan konvensi yang dianut dan diacu oleh para seniman dalang ketika menggerakkan wayang-wayangnya. Salah satu konvensi seni gerak dalam pertunjukan wayang yakni udanagara. Udanegara yakni tatacara bertutur kata, bersikap, dan bertingkahlaku seorang tokoh dalam pertunjukan wayang, yang di dalamnya dikandung etika dan estetika.
Yang dimaksud gerak wayang meliputi, antara lain: menyembah, berjalan, berlari, menari, terbang, dan perang. Gerak wayang tersebut berprinsip pada status sosial, tua-muda (usia), klasifikasi, dan wanda tokoh-tokoh wayang. Dalam seni gerak wayang memperhatikan pula prinsip wiraga (benar dan tepatnya action dalam gerak), wirasa (benar dan tepatnya penghayatan dalam gerak), dan wirama (benar dan tepatnya irama dalam gerak). Langkah kerja penelitian ini dilakukan secara bertahap, yakni: pengumpulan data (menyaksikan pergelaran wayang langsung, baik di televisi, live, wawancara kepada para dalang: studi kepustakaan; pengolahan data; dan laporan penelitian.
Penelitian ini menyimpulkan: gerak wayang terdiri dari dua pengertian, ?luas? (totalitas gerak tokoh) dan ?sempit? (perang); gerak wayang dibatasi oleh konvensi (norma) yang disepakati para dalang (udanegara); prinsip gerak wayang mengacu pada status sosial, usia (tua-muda), klasifikasi, dan wanda tokoh wayang; gerak wayang dewasa ini telah banyak penggarapan, dinamis (tidak terlihat kendor). Perkembangan gerak wayang tersebut seiring dengan pola pikir masyarakat yang semakin maju, kritis, dan dinamis.

Movement art in the puppet performances is often mentioned as sabetan. Puppet movement art, that contains rules, norms, guidance (orientation) is convention that is observed and referred to guidance the dalang artists when they move the puppets. One of the convention of movement in the puppet performance is udanagara. Udanegara, that contains ethics and aesthetic, is the rules of speaking, attitude, and action for actors in the puppet performance.
Puppet movement include among others paying homage, walking, running, dancing, flying and fighting. That puppet movement is based on social class of puppet, age of puppet, class of puppet, and mood of expression of puppet. Therefore, the movement art of the puppet adopts basic wiraga (true or false action in the puppet movement), wirasa (true or false feeling of puppet movement), and wirama (true or false rhythm in the puppet movement). Method in this research will be conducted step by step: collection data (to watch of puppet performance on television, live performance, dialogue with dalang artist), analysis of data, literary research, conclusion and reporting of the research.
This research concludes: puppet movement has of two meanings, large (totality of puppet movement) and narrow (fighting); puppet movement refers to the conventions (norms), oriented by dalang artists (udanegara); basic of puppet movement refers to social class of puppet, age of puppet, class of puppet, and mood of expression of puppet; now, puppet movement becomes more and more creative and dynamic. The development of puppet movement in line with the way of thinking of society that is more improved, critical, and dynamic."
Depok: Lembaga Penelitian Universitas Indonesia, 2004
AJ-Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Suhaji Hadibroto
Semarang: Intra Pustaka Utama, 2004
791.5 SUH b
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Frey, Yvonne Amar
"Most guides to puppetry assume multiple puppeteers, large stage, elaborate props, custom-designed puppets and more. With library staffing and budgets stretched thin, and other curricular commitments for teachers, few have the time or resources to develop full-blown puppet performances."
Chicago: [American Library association, American Library association], 2005
e20436072
eBooks  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Noerlia Sri Farista
"Skripsi ini membahas mengenai nilai hormat dan harmonis yang terdapat pada sebuah lakon wayang yaitu Wahyu Tohjali. Penelitian ini menggunakan metode analisis data pustaka. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori nilai-nilai yang ada pada keluarga Jawa yang dikemukakan oleh Hildred Geertz dan Franz Magnis Suseno. Sikap hormat dan harmonis hendaknya dilakukan oleh setiap individu agar tercipta ketentraman.

This script explain about value of deference and harmonic from one of puppet themes, that is Wahyu Tohjali. This research being used analysis library research method. The theory in this research is value of Javanese family by Hildred Geertz and Franz magnis Suseno. The attitude of respect and harmonic should be have by an individual so that will come peace situation."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2014
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Emerson, Kathryn Anne
Surakarta: ISI Press, 2017
791.5 EME p
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>