Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 109324 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ahmad Jazuli
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2007
T39845
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Witha Berlian Kesuma Putri
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2008
T39872
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Marisza Afrilyna
"Sampel La0,67Ba0,33Mn1-xTixO3 dengan x = 0; 0,02; 0,04 dan 0,06 dari bahan dasar La2O3, BaCO3, MnCO3, dan TiO2 disentesis dengan menggunakan metode mechanical alloying. Identifikasi fasa dilakukan dengan menggunakan difraksi sinar X dan refinement GSAS diperoleh single phase dengan struktur kristal monoklinik. Pengukuran terhadap nilai resistansi dan magnetoresistansi (MR) sampel diukur menggunakan Four Point Probe (FPP) sedangkan nilai magnetisasi diukur menggunakan permagraph.
Berdasarkan hasil pengukuran pemagraph didapatkan La0,67Ba0,33Mn1-xTixO3 bersifat soft magnetik dan penambahan Ti menurunkan nilai magnetisasi. Berdasarkan hasil pengukuran FPP nilai resistansi meningkat seiring penambahan Ti. Nilai magnetoresistansi sampel pada umumnya mengalami penurunan kecuali pada x= 0,06. Untuk x=0 rasio magnetoresistansi paling besar yaitu -3,437 % pada temperatur ruang. Penambahan Ti menyebabkan rasio ion Mn4+ berkurang tersubtitusi ion Ti4+ terjadi pelemahan interaksi Double Exchange sehingga meningkatkan nilai resistansi dan menurunkan rasio magnetoresistansi.

Perovskite compounds La0,63Ba0,33Mn1-xTixO3 with composition x = 0 ; 0,02 ; 0,04 and 0,06 were made by synthesizing the basic materials La2O3, MnCO3, BaCO3, and TiO2 by mechanical alloying methods. This four basic ingredients are mixed using Vibrating Ball Milling for 10 hours, calcined at 800oC temperature for 10 hours, in compacting, and sintering at 1100oC temperature for 12 hours. Then be indentified by X-Ray difraction phase and GSAS refinement and obtained sample La0,67Ba0,33Mn1-xTixO3 single phase for all composition x, which has monoclinic crystal structure. magnetization measurements were conducted with pemagraph, while the Four Point Probe (FPP) is performed to measure the value of resistance and magnetoresistance (MR) in the sample. Based on the results of measurements obtained pemagraph La0, 67Ba0, 33Mn1- xTixO3 are soft-magnetic and the addition of Ti lowers the value of the magnetization.
Based on the measurement results FPP the resistance value increases with the addition of Ti. Sample magnetoresistance values generally decreased except for x=0,06. For x = 0 the large magnetoresistance ratio is -3.437% at room temperature . The addition of Ti causes Mn4 + ion ratio decreases substituted Ti4+ ions weakening Double Exchange interaction thus increasing resistance and lowering the value of magnetoresistance ratio.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2013
T33751
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Markorijasti
"Sintesa dan karakteristisasi Rasio magneto-resistansi bahan LaMnO3 telah berhasil dilakukan. Bahan LaMnO3 yang dihasilkan memiliki fasa tunggal dengan struktur kristal orthorhombic, space group Pnma (I-62) dan parameter kisi a =5,44145 ± 0.00093 A, b = 7,70625 ± 0.00074 A dan c = 5.53700 ± 0,00098 A, dengan sudut pembentuk kristal α=β=γ=90°, volume satu unit sel V = 232,184 ± 0,069 A3, kerapatan satu unit sel ρ = 6,005833 g/cm3. Kualitas fasa yang dihasilkan cukup baik dengan komposisi unsur La:Mn:O = 22,40% : 19,73% : 59,80%. Dari pengamatan SEM, morfologi permukaan bahan menunjukkan partikelnya berbentuk buat-bulat hampir homogen, dengan distribusi ukuran partikel sebesar 1000 - 3000 nm. Rasio magneto-resistansi terbaik yang dihasilkan adalah 33,30% pada arus 10 mA. Faktor-faktor yang memberi kontribusi keberhasilan penelitian ini antara lain proses milling, kompaksi dan pemanasan ulang, sehingga diperoleh homogenitas campuran, porositas yang minimal dalam pembentukan fasa, pengikatan oksigen, sehingga diperoleh fasa LaMnO3 yang lebih sempurna. Dalam penelitian ini variasi kompaksi dan pemanasan ulang merupakan faktor ekstrinsik yang mempermudah orientasi untuk memperbesar domain magnetik.

The synthesis and characterization of magnetoresistance ratio on the material compound of LaMnO3 was successfully carried out. It yielded single phase with orthorombic crystal structure, space group Pnma (I-62) and grid parameter of a = 5.44145 ± 0.00093A, b = 7.70625 ± 0.00074 A and c = 5.53700 ± 0.00098 A, in the angle of crystal shaper α=β=γ= 90°, one unit cell volume V = 232.184± 0,09A3, one unit cell density ρ = 6.005833 g/cm3 The phase quality yielded is sufficiently good in the element composition La : Mn: O = 22.40%: 19.73% : 59.80% respectively. Based on the observation of SEM that the morphologically material indicated a round particles are almost homogeneous, in the distribution of particle size is 1000 - 3000 nm. The best magneto-resistance to be yielded is 33,30% with current I = 10 mA. The factors contributing to successful of this research among other milling process, compact and re-heating, so that it was obtained a compound was homogeneous, a minimal porosities, phase forming, oxygen binding, and thus it was obtained phase of LaMnO3 is more perfected. In this research, that compact variation and reheat are extrinsic factor that is may easily orientation to enlarge magnetic domain."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2008
T21383
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Halimah Arifni
"Paduan senyawa perovskite La0,85Ba0,15Mn1-xTixO3 dengan komposisi x = 0,0; 0,1; 0,15; dan 0,2 dibuat dengan mensintesis bahan dasar La2O3, MnCO3, BaCO3, dan TiO2 dengan metode Mechanical Alloying. Keempat bahan dasar tersebut dicampur dengan menggunakan Planetary Ball Milling selama 25 jam, dikalsinasi dengan suhu 800oC selama 10 jam, dikompaksi, dan di sintering dengan suhu 1200oC selama 12 jam. Kemudian dilakukan identifikasi fase dengan difraksi sinar X dan refinement GSAS dan diperoleh sampel La0,85Ba0,15Mn1-xTixO3 single phase untuk semua komposisi x, yang mempunyai struktur kristal monoklinik. Pengukuran magnetisasi sampel dilakukan dengan phermagraph, sedangkan Four Point Probe (FPP) dilakukan untuk mengukur nilai resistivitas dan magnetoresistansi (MR) pada sampel.
Dari hasil Permagraph didapatkan kurva hyterisis yang menunjukkan bahwa pada saat sampel belum didoping Ti masih bisa termagnetisasi oleh medan magnet eksternal, tetapi setelah didoping Ti sifat magnetnya menjadi paramagnetik yang tidak dapat termagnetisasi. Sedangkan hasil pengukuran dengan FPP menunjukkan bahwa sampel mengalami penurunan resistivitas tetapi setelah mencapai medan magnet tertentu. Nilai rasio magnetoresistansi meningkat seiring dengan semakin besarnya medan magnet eksternal, tetapi menurun dengan bertambahnya doping Ti. Nilai Magnetoristansi terbesar pada saat x = 0 yaitu -3,44%.

Alloy perovskite compounds La0,85Ba0,15Mn1-xTixO3 with composition x = 0,0; 0,1; 0,15; and 0,2 were made by synthesizing the basic materials La2O3, MnCO3, BaCO3, and TiO2 by Mechanical Alloying methods. This four basic ingredients are mixed using Planetary Ball Milling for 25 hours, calcined at 800oC temperature for 10 hours, in compacting, and sintering at 1200oC temperature for 12 hours. Then be indentified by X-Ray difraction phase and GSAS refinement and obtained sample La0,85Ba0,15Mn1-xTixO3 single phase for all composition x, which has monoclinic cristal structure. Magnetization measurements were conducted with phermagraph, while the Four Point Probe (FPP) is performed to measure the value of resistivity and magnetoresistance (MR) in the sample.
From the results obtained Permagraph hyterisis curve which shows that when the Ti doped samples yet still be magnetized by an external magnetic field, but after the Ti doped the magnetic properties paramagnetic that can not be magnetized. While taking the measurements with FPP results indicate that the sample resistivity decreased but at a certain activation field. Magnetoresistance ratio also decreased but very small, with the largest negative magnetoresistance when x = 0 is -3.44%.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2013
T33753
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dudung Abdu Kodir
"Semakin lama waktu milling maka akan diperoleh ukuran butir yang
lebih halus. Hal ini membuktikan bahwa apabila butiran semakin kecil,
maka berakibat luas permukaan kontak antar butir semakin besar yang
berarti pula porous bahan ini semakin kecil sehingga konduktivitas bahan
semakin baik ditandai dengan berkurangnya resistivitas bahan ini.
Resistivitas meningkat seiring dengan peningkatan lama
pemanasan. Hal ini disebabkan bahwa tingkat oksidasi bahan semakin
besar dengan lamanya proses pemanasan, yang berarti bahwa
kandungan oksigen pada bahan ini semakin besar.
Sifat resistivitas bahan akan cenderung menurun apabila bahan
tersebut dikenai medan magnet yang terus membesar. Jadi semakin tinggi
medan magnet, resistivitas sample semakin menurun
Secara umum ciri dari sifat positif magnetoresistance adalah resistivitas
bahan semakin meningkat apabila dikenakan medan magnet luar.
Sedangkan negative magnetoresitance adalah perubahan resistivitas
bahan semakin menurun apabila dikenakan medan magnet luar. Sifat
magnetoresistance yang lazim diteliti banyak orang adalah negative
magnetoresistance. Apabila gejala penurunan resistivitas ini cukup besar
maka disebut dengan sifat Giant Magnetoresistance (GMR)"
Depok: Universitas Indonesia, 2006
T20679
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Radias Ependi
"Sampel La0,5Ba0,5Mn1-xTixO3 dengan x = 0 ; 0.05 ; 0.10 dan 0.15 dari bahan dasar La2O3, BaCO3, MnCO3, dan TiO2 disentesis dengan menggunakan metode mechanical alloying. Keempat bahan dasar tersebut dicampur dengan menggunakan Planetary Ball Milling selama 25 jam, dikompaksi, kalsinasi pada suhu 8000C selama 10 jam dan disintering pada suhu 12000C selama 12 jam. Identifikasi fasa dilakukan dengan menggunakan difraksi sinar X dan refinement GSAS dan diperoleh sampel La0,5Ba0,5Mn1-xTixO3 single phase untuk semua komposisi x, yang memiliki struktur kristal Monoklinik. Pengukuran terhadap nilai konduktivitas dan magnetoresistansi (MR) sampel diukur menggunakan Four Point Probe (FPP), sedangkan nilai magnetisasinya diukur menggunakan permagraph.
Berdasarkan hasil pengukuran tersebut disimpulkan bahwa semakin besar doping Ti yang diberikan pada sampel La0,5Ba0,5Mn1-xTixO3 membuat nilai magnetisasi dan konduktivitas sampel semakin menurun. Nilai negatif magnetoresistansi sampel pada umumnya mengalami penurunan. Untuk x = 0.15 nilai negatif magnetoresistansi sampel paling besar yaitu 4,26%. Penurunan nilai magnetisasi dan konduktivitas sampel seiring bertambahnya komposisi x yang diberikan, karena adanya kompetisi exchange interaction yang terjadi pada sistem, yaitu adanya interaksi Double Exchange (DE). Interaksi Double Exchange (DE) terjadi antara ion Mn3+-O-Mn4+ yang saling berdekatan.

La0,5Ba0,5Mn1-xTixO3 sample with concentration x = 0 ; 0.05 ; 0.10 ; and 0.15of La2O3, BaCO3, MnCO3, and TiO2 are synthesized using mechanical alloying. The fourth of basic matter are mixed with using Planetary Ball Milling during 25 hours, compacted, calcinations on 8000C during 10 hours and sinter at 12000C during 12 hours. Phase identification is carried out using X ray diffraction and GSAS refinement, getting La0,5Ba0,5Mn1-xTixO3 which single phase for all x composition, that have Monoklinik crystal structure. Conductivity and magnetoresistance (MR) are measured using Four Point Probe (FPP), while magnetization is measured using permagraph.
From the measurement we get that the bigger Ti doping the more magnetization and conductivity is decreases. For negative magnetoresistance generally is increase, the biggest negative magnetoresistance is 4,26% for x = 0.15. The decreases of magnetization and conductivity sample with increasing composition x is given, due to there were competition exchange interaction in the system, that is interaction Double Exchange (DE). interaction Double Exchange (DE) happened between Mn3+-OMn 4+ ion adjacent to each other.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2013
T33749
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rina Kamila
"Telah dilakukan penelitian pengaruh doping Ag terhadap sifat listrik dan efek magnetoresistansi material La0,8-xAgxCa0,2MnO3 x = 0; 0,05; 0,1; 0,15. Material disintesis dengan metode sol-gel dan disintering pada temperatur 900 oC selama 24 jam. Material lanthanum manganit telah banyak diteliti karena memiliki sifat-sifat yang menarik, baik dalam segi struktural, sifat listrik, serta sifat magnet nya.
Struktur material dikarakterisasi menggunakan Difraksi Sinar-X XRD dan menunjukkan bahwa pada doping x = 0 dan 0,05, material memiliki fase tunggal single phase yaitu fase manganite, sedangkan pada doping x = 0,1 dan 0,15, material terdiri dari fasa campuran, yaitu fasa manganite dan Ag. Scanning Electron Microscopy SEM digunakan untuk observasi morfologi serta menunjukkan kehomogenan material. Dengan doping Ag, ukuran grain boundary dari material membesar.
Hasil karakterisasi dari Electron Dispersive Spectroscopy EDS mengkonfirmasi keberadaan unsur Ag pada material. Karakterisasi menggunakan Cryogenic Magnetometer dilakukan untuk menguji sifat listrik dari material seiring dengan peningkatan doping Ag. Seiring dengan peningkatan konsentrasi doping Ag, resistivitas material mengecil serta temperatur transisi metal-isolator TMI bergeser kearah temperatur ruang. Efek magnetoresistansi menurun saat doping x = 0,05 dan meningkat kembali saat x = 0,1 dan 0,15.

The research about effect of dopant Ag on electrical and magnetoresistance properties of La0,8 xAgxCa0,2MnO3 x 0 0,05 0,1 0,15 has been done. The materials were synthesized via sol gel method, sintered at temperature 900oC for 24 hours. Lanthanum manganite material has been widely investigated because its interesting properties, such as physical, electrical, and magnetic properties.
The structural of the materials were characterized using X Ray Diffraction XRD, show in doping x 0 and 0,05, material has single phase manganite phase, whereas in doping x 0,1 and 0,15, material consists of mixed phases, manganite and Ag phases. Scanning Electron Microscopy SEM was used to observe morphology of the materials and showed homogeneity of the materials. By doping Ag, grain boundary size of the material increase.
Electron Dispersive Spectroscopy EDS result confirmed existence of Ag in the material and the materials having desired composition. Characterization using Cryogenic Magnetometer was used to examined electrical property of the materials with increasing of Ag doping. As the Ag doping concentration increases, resistivity of the material decreases and the metal isolator transition temperature TMI shifts towards room temperature. Magnetoresistance effect decreases when doping x 0,05 and increase again when doping x 0,1 and 0,15.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tesya Komala
"Telah dilakukan penelitian mengenai pengaruh doping Cu terhadap sifat kelistrikan dan efek magnetoresistansi dari La0.7Ba0.1Sr0.2Mn1-xCuxO3 x= 0; 0.05; 0.1; dan 0.15. Hasil karakterisasi XRD menunjukkan bahwa La0.7Ba0.1Sr0.2Mn1-xCuxO3 memiliki fasa tunggal dengan struktur kristal rhombhohedral denganspace group R-3c. Karakterisasi dengan SEM-EDX menunjukkan terjadinya perubahan ukuran grain sampel ketika ada variasi doping Cu serta menunjukkan bahwa Cu berhasil disubsitusikan ke dalam sampel. Data resistivitas sebagai fungsi temperatur menunjukkan bahwa semakin besar doping Cu, nilai resistivitas semakin meningkat dan menggeser temperatur transisi metal-isolator ke temperatur yang lebih rendah. Nilai magnetoresistan yang dihasilkan semakin besar ketika doping Cu semakin besar.

The effect of Cu doping on electrical properties and magnetoresistance La0.7Ba0.1Sr0.2Mn1 xCuxO3 x 0 0.05 0.1 and 0.15 has been studied. The result of XRD characterization confirmed that La0.7Ba0.1Sr0.2Mn1 xCuxO3 are single phased. The structures are rhombohedral with space group R 3c. SEM EDX characterization showed the variations of grain size and it showed that Cu ion has successfully substituted to the samples. The resistivity as a function of temperature showed that Cu doped increase the resistivity and decreased the metal insulator transition temperature. Magnetoresistance effect of samples relatively increased with increase of Cu doping."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>