Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 70540 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sri Handayani Syukri
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2004
T39769
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Matra Rizki Pratama
"Pengamatan terhadap perubahan perilaku korosi sumuran material Duplex SAF 2205 yang telah diberikan perlakuan panas dengan tujuan untuk meningkatkan nilai ketangguhan material tersebut telah dilakukan. Pengujian korosi sumuran dilakukan melalui metode Electrochemical Impedance Spectroscopy dan Polarisasi Potentiodynamic pada material yang telah mengalami perlakuan panas pada rentang temperatur 350-550°C dan waktu tahan 10-40 menit dimana sebagian sampel mengalami perlakuan serangan hidrogen.
Berdasarkan pengamatan mikrostruktur, tidak ditemukan terbentuknya fasa sekunder pada sampel sehingga mikrostruktur sampel tidak berubah. Hasil pengujian mekanik menunjukkan proses perlakuan panas pada sampel awal akan meningkatkan kekuatan tarik hingga 10% dan kemampuan elongasi hingga 70%.
Hasil pengujian korosi sumuran terlihat dengan meningkatkan temperatur perlakuan panas dan waktu tahan akan meningkatkan laju korosi, namun tidak terlalu signifikan, dimana juga terjadi perbedaan perilaku korosi sumuran pada sampel yang mengalami serangan hidrogen.

Observation of pitting corosion behaviors in heat-treated Duplex SAF 2205, in order to improve material?s toughness has been investigated. Pitting Corrosion Investigation has been done by using Electrochemical Impedance Spectroscopy and Potentiodynamic Polarization to heat-treated samples with temperature range between 350-550°C and holding time 10-40 minutes, which half of samples underwent hydrogen charging.
Based on microstructure observation, there is no microstructural change because secondary phases were not formed. Mechanical behavior examination shows that tensile strength will increase up to 10% and elongation will increase up to 70% by heat-treating samples. Corrosion pitting examination showed that increasing temperature and holding time of heat treatment will increase corrosion rate insignificantly, where the differences of corrosion rate behaviors were found in hydrogen-charged samples.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
T42523
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Refai Muslih
"Studi tentang laju korosi pada baja tahan karat SUS304 dalam lingkungan air laut buatan yang dipengaruhi oleh tegangan sisa yang diukur menggunakan difraksi sinar-X metode cos- α. Korosi dalam banyak hal tidak dikehendaki. Kualitas dan penampilan benda akan berubah menurun karenanya. Salah satu pemicu korosi adalah tegangan sisa yang ada di permukaan bahan. Penelitian ini menampilkan hubungan antara tegangan sisa permukaan dengan laju korosinya. Pada penelitian ini digunakan baja tahan karat SUS 304 sebagai sampel dan air laut buatan yaitu larutan NaCl 3,5% sebagai elektrolitnya. Komposisi unsur dan fasa dari sampel didapat dengan uji Energy Dispersive Spectroscopy (EDS) dan X-ray Diffraction (XRD). Topografi permukaan sampel diamati dengan mikroskop optik dan Atomic Force Microscope (AFM). Pengukuran tegangan sisa dilakukan pada setiap proses yang dilalui oleh sampel. Sampel uji tarik sebanyak 9 buah dipersiapkan dari pelat setebal 6 mm yang dipotong dengan wirecut. Perlakuan panas untuk menghilangkan tegangan sisa diberikan kepada sampel dengan suhu 600 ℃ selama 1 jam dan didinginkan secara alami. Permukaan sampel dihaluskan dengan amplas sampai grit 2000. Sampel-sampel dikelompokkan menjadi 3 group dan kemudian dilakukan penarikan dengan regangan (strain, ε) sebesar 1%, 2% dan 3% secara berurutan. Tegangan sisa rata-rata pada sampel setelah perlakuan panas adalah -47 MPa. Tegangan total pada sampel yang telah dideformasi 1, 2 dan 3% berturut turut adalah 295, 315 dan 328 MPa. Perendaman sampel di dalam air laut buatan selama 48 jam tidak banyak mengubah karakter permukaanya. Hal ini diperoleh dari data EIS dimana tidak dijumpai adanya semicircle yang utuh dari seluruh sampel yang digunakan. Sirkuit ekivalen yang terdeteksi adalah hambatan elektrolit (R1), constant phase element (CPE) double layer (CPE1) dan lapisan pasif permukaan sampel (CPE2) beserta dengan hambatannya berturut-turut R2 dan R3. Pengukuran potensiodinamik menunjukkan penurunan potensial korosi dari -151 mV menjadi -290mV untuk sampel tanpa deformasi dan terdeformasi 3% secara berurutan. Arus korosi meningkat seiring dengan peningkatan derajat deformasi. Dari data-data hasil eksperimen telah didapat hubungan yang jelas antara laju korosi dengan tegangan sisa permukaan yang diukur dengan metode cos-⍺.

Study of the corrosion rate of SUS304 stainless steel in an artificial seawater environment affected by residual stresses measured using X-ray diffraction cos-α method. Corrosion is in most cases undesirable. The quality and appearance of objects will change and decrease because of it. One of the triggers of corrosion is the residual stress on the surface of the material. This research shows the relationship between surface residual stress and corrosion rate. In this study, stainless steel SUS 304 was used as the test object and artificial seawater as electrolyte, namely 3.5% NaCl solution. The elemental composition and phase of the sample were obtained from Energy Dispersive Spectroscopy (EDS) and X-ray Diffraction (XRD) tests. The surface topography of the sample was observed with an optical microscope and Atomic Force Microscope (AFM). Residual stress measurements are carried out at each process that the sample goes through. Nine pieces of tensile test samples were prepared from a 6 mm thick plate which was cut with a wirecut. Heat treatment to remove residual stress was given to the samples at 600 ℃ for 1 hour and naturally cooled. The surface of the sample was ground with sandpaper to 2000 grit. The samples were grouped into 3 groups and then drawn with strains of 1%, 2% and 3% respectively. The average residual stress in the sample after heat treatment is -47 MPa. The total stress in the 1, 2 and 3% deformed samples were 295, 315 and 328 MPa, respectively. The immersion of the sample in artificial seawater for 48 hours did not change the surface character much. It was obtained from the EIS data where there was no intact semicircle of all the samples used. The equivalent circuits detected were the electrolytic resistance (R1), constant phase element (CPE) double layer (CPE1) and the sample surface passive layer (CPE2) along with their respective resistances R2 and R3. Potentiodynamic measurements showed a decrease in corrosion potential from -151 mV to - 290mV for 3% deformed and undeformed samples, respectively. The corrosion current increases as the degree of deformation increases. From the experimental data, a clear relationship has been obtained between the corrosion rate and the surface residual stress as measured by the cos-⍺ method."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Arijanto Salmoen Wargadinata
"Korosi adalah proses alami yang terjadi pada material logam yang berakibat menurunnya kekuatan dari material logam tersebut. Proses korosi yang terjadi secara alami ini sangat sulit dihindari , usaha yang dilakukan hanyalah menghambat laju korosi yang terjadi dengan cara melakukan pencegahannya. Penggunaan pelat baja sebagai pilihan material suatu peralatan teknik, sering didatangkan dari mancanegara mengingat kwalitas /standard dari material tersebut belum diproduksi didalam negeri. Kasus yang dijumpai dilapangan menjelaskan bahwa, didalam gudang penyimpanan Tanjung Periuk didapatkan tidak kurang dari 20 % jumlah import material pelat baja dengan standard JIS G 3101 yang sesuai dokumen penyerta terserang korosi. Penelitian di lakukan terhadap sampel pelat baja JIS G 3101, guna mengetahui sebab terjadinya korosi pada material tersebut dan menjawab sampai sejauh mama pengaruhnya terhadap perubahan kekuatan material pelat baja itu."
Depok: Universitas Indonesia, 1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bambang Hari Suryawan
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2004
T39750
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wara Dyah Pita Rengga
"Unsaturated Polyester Resin (UPR) mempunyai sifat elektrik, kimia, dan mekanik yang baik. UPR dapat dipakai dalam beberapa aplikasi dan digunakan untuk berbagai peralatan, misalnya pipa air, kontainer, tangki penyimpanan, gedung, komponen otomotif, dan lambung kapal. Perilaku Korosi Glass Fiber-Reinforced Plastic (GRP) UPR dalam lingkungan basa, khususnya KOH dan NaOH, perlu diselidiki. UPR yang digunakan adalah Yukalac 150 HRBQTN jenis isophthalatic (UPR-iso). Untuk mengetahui perilaku GRP (UPR-iso) tersebut, spesimen direndam dalam larutan KOH dan NaOH.
Penentuan ketahanan korosi GRP (UPR-iso) mengacu pada ASTM C 581-94. Dalam penelitian, diamati perubahan hardness, ketebalan, berat, dan retensi Flexural Strength dan retensi Flexural Modulus. Selain itu juga analisis dengan uji FTIR, SEM-EDX.
Dalam penelitian diperlukan pembuatan GRP(UPR-iso), dimana fiberglass yang digunakan adalah E-glass sebanyak 2 lapis dan C-glass sebanyak 2 lapis. Setelah itu laminat tersebut dipotong menjadi spesimen_ Pada tepi samping spesimen dilapisi vinyl ester Spesimen tersebut direndam dalam larutan 10%, 25%, 50% berat KOH dan NaOH pada suhu 50°C. Spesimen direndam dalam tabung reaksi dan dipanaskan pada waterbath. Interval waktu yang digunakan adalah 1, 2, 3, 6, 18, 29, 39 hail.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seat mekanik (hardness, flexural strength, flexural modulus) GRP(UPR-iso) menurun dan sifat fisik (tebal dan berat) meningkat terhadap waktu. Pada lingkungan KOH, semakin besar konsentrasi penurunan sifat mekanik dan penambahan sifat fisik semakin besar. Sedangkan dalam lingkungan NaOH, pads konsentrasi 25%, penurunan seat mekanik dan penambahan seat fisik, lebih tinggi dibandingkan 10% dan 50%. Semakin lama waktu perendaman dan semakin besar konsentrasi, degradasi fisik dan kimia lebih cepat. Pengecualian pada 50% NaOH, mobilitasnya sudah mulai menurun dibandingkan 25% dan 10%, sehingga proses degradasi lambat dan sedikit.
Perbandingan antara penyerangan KOH dan NaOH terhadap GRP(UPR-iso) adalah lebih tinggi NaOH pada konsentrasi 10% dan 25%, sedangkan pada konsentrasi 50% lebih tinggi KOH. Hal ini dikarenakan BM NaK. Semakin besar konsentrasi, pendegradasian semakin cepat. Pengecualian pada 50% NaOH, mobilitasnya sudah menurun jika dibandingkan 50% KOH.
Pada GRP(UPR-iso) terjadi perubahan warna dari merah muda ke kuning/coklat, dan tidak transparan. Pada spesimen yang telah direndam terbentuk lapisan terkorosi pada bagian permukaan (corroded layer forming).
Mekanisme terjadinya korosi pada GRP(UPR-iso) dalam larutan basa adalah degradasi fisik dan degradasi kimia. Degradasi fisik adalah proses absorbsVdifusi larutan basa ke dalam GRP(UPR-iso) dan terjadinya proses osmosis dalam void. Sedangkan degradasi kimia adalah terjadinya berkurang atau hilangnya gugus ester karena reaksi hidrolisis oleh basa menjadi anion karboksilat dan alkohol.

Unsaturated polyester resin (UPR) has good electrical, chemical and mechanical properties. UPR can be used in various applications and equipments, such as water pipes, containers, storage tanks, buildings, automotive components, and ship hulls. The corrosion behavior of glass-fiber reinforced plastic (GRP) UPR in alkaline environment, especially KOH and NaOH, will be observed. The UPR used is Yukalac 150 HRBQTN, an isophthalatic UPR_ The specimens will be submerged in KOH and NaOH solutions to find out about GRP (UPR-iso) corrosion behavior.
ASTM C 581-94 is used to determine the GRP (UPR-iso) corrosion resistance. The observed parameters are changes in hardness, thickness, weight, flexural strength retention, and flexural modulus retention. Additional analysis is done with FTIR, SEM-EDX tests.
The GRP (UPR-iso) is created by using 2 layers of E-glass and 2 layers of C-glass, cut into specimens and coated with vinyl ester. The specimens are then submerged in test tubes filled with 10%, 25% and 50% weight KOH and NaOH solutions. The test tubes and the specimens are continuously heated at 50°C using water bath. The observed time intervals are 1, 2, 3, 6, 18, 29 and 39 days.
The results showed that GRP (UPR-iso) mechanical properties (hardness, flexural strength, flexural modulus) weakened the longer it stays in the alkaline solutions while its thickness and weight increased. In KOH solutions, higher concentrations lead to larger weakening of mechanical properties and larger increase in thickness and weight. In NaOH solutions however, it was the 25% solution and not the 50% solution, that exhibited the biggest weakening of mechanical properties and highest increase in thickness and weight. Overall, increasing concentrations and increasing time spent submerged will accelerate the physical and chemical degradation of GRP (UPR-iso). The exception is 50% NaOH solution. At this concentration, the solution's mobility decreased compared to 25% and 10% solutions which slows down the degradation.
When comparing degradations in KOH and NaOH solutions with similar concentration, NaOH caused more degradation at 10% and 25% solutions, white KOH caused more degradations at 50% solution. This is due to Sodium having higher molecular weight than Potassium, thus making Sodium's molarity bigger than Potassium's. Larger alkaline concentrations caused faster degradations with the exception of 50% NaOH solution because of the drop in mobility compared with 50% KOH solution.
Another observed difference is the color change from translucent pink to yellow/brownish. The submerged specimens have corroded layer forming on the surface.
The corrosion mechanism of GRP (UPR-iso) in alkaline solution is by physical and chemical degradation. Physical degradation is the process of absorption/diffusion of alkaline solution into GRP (UPR-iso) and the occurrence of osmosis in the void. While chemical degradation is the decrease or loss of esters because of hydrolysis by alkaline into alcohols and carboxylate anions.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2003
T14719
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Heat traetment fluence to intergrannular corroson succeptibility of stainless stell type 316. Stainless steel was used in nuclear industry as cladding of Liquid Metal Fast Breeder Reactor (LMFBR), which operation temperature above 500oC. According to the theory, resistence of stainless steel type 316 is good enough, but in the high temperature tend to influence by intergranular corrosion.. The sensitization degree of stainless steel type 316 (SS 316) was calculated by potentiostat using potentiodynamic method, and was to observed by scanning electron microscope (SEM)...."
[s.l]: [s.n], 2008
AJ-pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Ahmad Surdakim
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2004
T39742
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Simanjuntak, Sutan LMH
"Electrically plating or electroplating is one method used to beautify looks fine and also to improve the mechanical properties of the metal.
The teksperiment is performed by preparing specimens have been measured with different variations in time for electroplating with a current of 10 amperes at 12 Volts. The results show that the corrosion test specimen electroplating results with the arrest ofO 1889847379 mpy 40 minutes, 30 minutes ofO. 1771731918mpy, 20 minutes by 0.1417385534 mpy, and without coating 0.93298832 mpy. Judging from the results on each specimen corrossion the safest coating coalings with detention is 20 minutes and is the fastest corroded specimens without coating. Hardware test results from each specimen tested showed rising violence in the area coated by electroplating. The test results showed a thick layer on the detention of 40 minutes is the result of sed,memory layers thicker than the initial 30 minutes and 20 minutes."
Universitas HKBP Nonmensen, 2016
050 VISI 24:3 (2016)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Alia Badra Pitaloka
"Fiber Reinforced Plastic (FRP) sudah banyak digunakan di berbagai bidang, seperti konstruksi bangunan, industri perkapalan, dan berbagai saluran pipa (pipeline). Penggunaan FRP sebagai bahan konstruksi di industri seperti tangki penyimpan, pipa, dan lain-lain sudah mulai berkembang. Sebagai bahan yang lebih tahan korosif dibandingkan dengan logam, maka FRP berpotensi untuk dipakai sebagai bahan konstruksi tangki penampung zat-zat kimia korosif, seperti asam nitrat dan hidrogen peroksida, yang pada saat ini masih banyak menggunakan logam.
Dalam penelitian ini dilakukan pengamatan terhadap korosi glass fiber-reinforced unsaturated polyester resin jenis orto (UPR-fiber glass) dengan gelcoat di dalam larutan asam nitrat (HNO3) 40%, 50%, dan 60% dan hidrogen peroksida (H2O2) 10%, 20%, dan 30%. Perendaman dilakukan pada suhu 50°C. Setelah spesimen direndam di dalam larutan selama waktu tertentu, dilakukan analisis terhadap larutan dan spesimen yang tersisa.
U PR-fiber glass yang telah direndam di dalam larutan asam nitrat dan hidrogen Feroksida mengalami penurunan sifat mekanik, yang meliputi kekerasan (Barcol), flexural strength, dan flexural modulus. Pada awal perendaman terjadi penambahan berat spesimen sampai waktu tertentu dan kemudian mengalami penurunan. Selain itu larutan perendam juga mengalami penurunan konsentrasi. Secara visual, UPR fiber glass mengalami perubahan warna. Di dalam larutan HNO3, sisi UPR-fiber glass dengan gelcoat berubah warna dari biru menjadi hijau muda, sementara sisi U PR-fiber glass tanpa gelcoat berubah dari Bening menjadi kuning. Di dalam larutan H2O2, sisi gelcoat mengalami perubahan warna dari biru menjadi biru muda sampai putih kebiruan sementara pada sisi UPR-fiber glass tanpa gelcoat terlihat garis-garis putih yang tak lain adalah serat galas. Dengan menggunakan SEM, dapat dilihat kerusakan struktur fisik spesimen yang telah direndam di dalam larutan HNO3 dan H2O2.
Dengan menggunakan FT-IR, dapat diperkirakan reaksi yang terjadi pada UPR-fiber glass di dalam HNO3 adalah reaksi hidrolisis gugus ester menjadi karboksitat dan alkohol, reaksi oksidasi gugus alkohol menjadi asam karboksitat dan keton, dan reaksi pembentukan alkil nitrat. Sementara pada UPR-fiber glass di dalam H2O2 dapat diperkirakan terjadi reaksi oksidasi alkohol yang menghasilkan senyawa karboksilat, aldehid dan keton.

Fiber Reinforced Plastics (FRP) has been used in a wide range of applications such as building construction, shipbuilding industries, and various pipelines. The using of FRP as a construction material in industries, such as storage and pipes, has been developing. FRP as a material which has more corrosive resistant than metal, has a potential usage in industrial application, especially in the implementation of FRP for nitric acid and hydrogen peroxide environment.
This research is to observe corrosion behavior of glass fiber-reinforced orthophthalic unsaturated polyester resin with gel coat in nitric acid (HNO3) and hydrogen peroxide (H202). The concentration of HNO3 and H2O2 are [40%, 50%, and 60%] and [10%, 20%, and 30%], respectively, the immersion temperature was 50°C. After the specimens are immersed in the solution for a certain length of time, the analysis of the remaining solution and the specimen was performed.
UPR-fiber glass which has been immersed in the nitric acid and hydrogen peroxide solutions underwent a decrease of mechanical properties. These mechanical properties consist of hardness (Barcol), flexural strength, and flexural modulus. On the beginning of the immersion, the weight specimen was gained for a certain time, and then gradually decreased. The immersion solution concentration was decrease as well. By visual observation, the color of UPR was changed. in nitric acid solution, the side of UPR with gel coat turned from blue into light green. In the same condition, the part of UPR without gel coat changed from colorless into yellow. In hydrogen peroxide solution, the side of UPR with gel coat turned from blue into light blue, and finally into bluish white. While at the other side, the fiberglass in a form of white lines was also seen. Through SEM observation, the deterioration of the specimen's physical structure after immersion in a certain time into the solution can be seen.
From infrared spectra (FTIR), it is expected that the reactions occurred to UPR in the nitric acid solution were a hydrolysis reaction of ester groups into carboxylic and alcohol, oxidation reaction of alcohol group into carboxylic acid and ketone, and the forming of nitric alkyl. Regarding the UPR in a hydrogen peroxide, it is predicted that an oxidation reaction of alcohol resulting in carboxylic, aldehyde, and ketone groups, occurred.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2003
T14716
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>