Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 51157 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Eka Ardika Budi Susilo
"ABSTRAK
Sampai saat ini, berkembangnya bidang konstruksi di Indonesia, berbagai
alternatif atau plihan dalam hal bahan konstruksi mulai diperkenalkan dan
digunakan. Salah satu contohnya adalah perkerasan jalan dengan menggunakan
beton poros atau yang lebih dikenal dengan porous concrete for pavement.
Berbeda dengan dengan beton pada umumnya, beton poros ini dirancang dengan
campuran kerikil yang terbatas dan sedikit pasir atau tidak sama sekali. Dengan
kondisi ini, beton poros termasuk beton dengan open graded atau gradasi terbuka.
Dalam penelitian ini, pengujian dilakukan terhadap karakteristik beton poros
dengan menggunakan campuran limbah B3 (molding) maupun tanpa
menggunakan limbah B3 (molding). Karakteristik tersebut meliputi kuat tekan,
kuat lentur, permeabilitas dan porositas. Pengujian leachete yang bertujuan
mengetahui pengaruh limbah terhadap lingkungan pun menjadi pembahasan dalam
tulisan ini.
Pada akhirnya pengujian-pengujian yang dilakukan dalam penelitian ini bertujuan
mengetahui nilai kadar limbah B3 (molding) yang optimum untuk dapat
diaplikasikan sebagai perkerasan. Dari hasil pengujian-pengujian tersebut
didapatkan nilai kadar limbah B3 (molding) yang optimum yaitu 50% yang dapat
diaplikasikan sebagai perkerasan taman.

ABSTRACT
The devolepment of construction fields, heretofore, many alternatives or options in
contruction materials has already been promoted and used. One of them, e.g. road
pavement using pervious concrete, know as porous concrete for pavements.
Despite of other general concrete pervious concrete is constructed by construction
material which contain limited coarse agregat, portland cement, water and less or
without sand. In this condition pervious concrete becomes an open graded
concrete.
In this research, the testing was done to pervious concrete which mixed by or
without B3 waste (molding). The characteristics included presurre test, bending
test, permeability, and perviousity. The leachete testing which purposed knowing
the waste impact to the enviroment become other subject of this research.
The purpose of those testing is to figure out the most optimum result of B3 waste
(molding) which can use as a pavement. And the final results of those testings is
the sample using 50% B3 waste (molding) is the most optimum, can used as a park
pavement."
2007
S35869
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rendy Koestiawan Setiadi
"Beton merupakan salah satu bahan yang banyak digunakan sebagai perkerasan jalan, karena bukan saja memiliki keandalan dalam hal kekuatan, keawetan serta kemudahan pelaksanaannya, tetapi juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Oleh karena itu, dengan perkembangan teknologi beton sekarang ini, dilakukan usaha untuk meningkatkan kinerja beton menjadi lebih efektif dan efisien sebagai bahan perkerasan jalan yaitu dengan cara membuat struktur beton berpori yang memungkinkan aliran permukaan untuk infiltrasi ke dalam tanah. Perkerasan beton berpori merupakan salah satu bentuk pendekatan inovatif yang bersifat unik dalam pengelolaan air hujan dan efektif dalam menanggulangi permasalahan lingkungan serta mendukung pembangunan yang berdasarkan pendekatan ekosistem pada land development dan stormwater management. Peningkatan jumlah penggunaan beton dalam dunia konstruksi akan meningkatkan kebutuhan material beton dan mengakibatkan keterbatasan alam dalam menyediakan material pembentuk beton serta menyebabkan penurunan jumlah sumber alam yang tersedia untuk keperluan pembetonan. Di lain pihak, limbah industri manufaktur dari sisa proses finishing body mobil telah mengalami peningkatan hingga 10 ton/tahun. Permasalahan biaya dan tempat pembuangan limbah tersebut serta kerusakan alam yang dapat diakibatkan oleh pembuangan limbah, mendorong pemanfaatan limbah finishing industri manufaktur sebagai agregat alternatif yang dapat menggantikan sebagian agregat alam di dalam campuran beton. Secara keseluruhan, berdasarkan hasil pengujian permeabilitas, porositas, kuat tekan, kuat lentur dan leachate, maka beton berpori dengan pemanfaatan limbah finishing sebagai pelengkap atau pengganti agregat halus maka hasil optimum dicapai dengan pemanfaatan limbah sebesar 75% dari berat agregat halus. Dari hasil permeabilitas, beton berpori umur 28 hari dengan kandungan limbah 75% memiliki nilai kecepatan meluluskan air yang sangat bagus yaitu 0,378 cm/s dan berhasil meloloskan air sebanyak 83,42%, dapat menahan kuat tekan sebesar 3,243 MPa (umur beton 28 hari), kuat lentur sebesar 0,570 MPa serta pengaruh minimum terhadap lingkungan dengan memperhatikan subgrade soil properties dan kedalaman air tanah.

Concretes are one of the most popular material that has been used as pavement surfaces, not only because its strength, durability and workability, but also for its high economical value. Therefore, with compilation of concrete technologies, in order to improve concrete performance to be more effective and efficient, qualified structural system of porous pavement are those that reflected in high infiltration rates. Porous pavement are innovative and unique approach in stormwater management, it can improve the environment in vital ways and overbalanced sutainable development based on land development and stormwater management. The increasing of concrete amount in construction will excess demand of concrete materials and result natural source supply deflation. in other side, manufacture industrial waste has extremely increase into number of 10 tons/year. Cost and land problems also environmental damage that caused by waste disposal had encouraged the usage of manufacture industrial waste from finishing process as mixture in fine aggregate material that can replace most of aggregat quantity in concrete. According to the research on several tests, such as permeability,porousity, compressive and flexural strength also leachate test, the optimal result if reached by mixture with 75 % finishing waste addition. From the permeability test, 28 days porous concrete using 75% finishing waste resulted high permeability rate, that is 0,378 cm/s and succeded to infiltrate water approximately to 83,42% , able to resist 3,243 Mpa load and flexural stretng within 0,570 Mpa. It also has minimum impact to environmental issues, with consideration of subgrade soil properties and water table level."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2007
S35772
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Adith Hazaini Rachman
"Industri menghasilkan beberapa produk yang berguna dalam menunjang kegiatan manusia dan produk yang tidak dapat digunakan atau disebut limbah. Beberapa industri menghasilkan limbah hasil produksi dan kegiatan sumber daya manusia berupa limbah cair dan padat. Untuk mengatasi permasalahan limbah tersebut, perlu diadakannya penelitian baik yang bersifat jangka panjang atau jangka pendek tentang pemanfaatan limbah tersebut. Penelitian ini diadakan untuk mencegah limbah tersebut mencemari lingkungan. Analisis yang dilakukan adalah memanfaatkan limbah industri berupa pasir sebagai bahan konstruksi dengan menggunakannya bersamaan dengan pasir dan semen dalam campuran beton dan meneliti pengaruh limbah tersebut terhadap kekuatan beton sehingga didapat beton dengan menggunakan limbah yang berkekuatan sama dengan beton normal dan tidak mencemari lingkungan. Limbah yang digunakan berupa pasir dari proses finisihing dan pencetakan sebagai campuran pasir dan semen pada campuran beton. Pengujian yang dilakukan terhadap beton yang menggunakan pasir limbah adalah pengujian sifat mekanis beton berupa uji tekan dan uji lentur dan pengujian pengaruh limbah terhadap lingkungan berupa uji leachate. Dari hasil penelitian didapat bahwa beton dengan menggunakan limbah memiliki kuat tekan yang lebih rendah dibanding beton normal.

Industry produce useful product that support human activity and useless product or named waste. Some industry produce liquid waste and solid waste from industry process and human resources activity. In order to accomplish waste problem, it is necessary to have research in long period of time and short period of time about reuse industry waste. This research purposes to prevent the waste pollute the environment. This paper describe the research to reuse industrial waste in sand form as construction material and used together with cement and sand on concrete mixing and the influence of usage the waste to concrete strength as a result conrete with usage the waste has same strength with normal concrete and not pollute the environment. The waste that reuse is waste in sand form from finishing and molding process as cement and sand mixing on conrete mixing. Examination of the test objects in the form of examination of mechanical characteristic test like compressive strength and flexural strength and examination the influence of usage the waste to the environment in the form of examination of leachate test. The result from this research can conlude that conrete with usage of the waste has lower compressive strength than normal concrete."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, [2006;2006;2006, 2006]
S35158
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nonot Arief Herdianto
"Limbah beton yang berasal dari material bongkahan hasil pembongkaran maupun hasil dari sisa benda uji tekan kurang banyak dimanfaatkan. Oleh sebab itu dicoba untuk memanfaatkan limbah beton sebagai agregat halus pada perkerasan jalan tipe LATASTON. Penelitian ini hanya dilakukan di laboratorium dengan bahan limbah beton yang diambil dari hasil pengujian kuat tekan pada Laboratorium Bahan Jurusan Sipil FTUI dengan tujuan yang hendak dicapai adalah mempelajari sifat fisik limbah beton sebagai agregat halus dan memanfaatkannya untuk campuran LATASTON dan membandingkannya dengan campuran LATASTON dengan agregat halus alam.
Penelitian yang dilakukan terdiri dari pemeriksaan aspal, pemeriksaan agregat, dan pembuatan campuran LATASTON dengan agregat kasar 30% dan menggunakan spesifikasi ideal serta uji permeabilitas. Sedangkan metode yang dilakukan adalah Uji Marshall dengan kandungan aspal 6,5% - 12% (interval 0,5%) dan Uji Permeabilitas yang dilakukan pada kadar aspal optimum.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi penurunan kualitas, limbah beton dapat dimanfaatkan untuk agregat halus dalam campuran LATASTON. Walaupun harga per m3 agregat halus lebih murah dibandingkan dengan agregat halus alam, namun biaya konstruksi jalan dengan campuran LATASTON menggunakan agregat halus limbah beton lebih mahal dibanding dengan menggunakan agregat halus alam."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1999
S34919
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Junaidi Abdilah
"Pengembangan ekologi industri dilakukan untuk merubah paradigma industri tradisional menjadi industri yang berwawasan lingkungan. Ekologi industri merupakan sistem yang digunakan untuk mengelola aliran material dan energi dalam suatu kegiatan industri sehingga menghasilkan efisiensi semaksimal mungkin dan menekan hasil samping yang dihasilkan. Tujuan utamanya adalah untuk merubah paradigma lama dengan paradigma baru yang menyatakan bahwa kegiatan industri merupakan kegiatan yang tidak boleh terpisahkan dari alam. Ekologi industri memang merupakan suatu kajian yang masih baru yang menggunakan pendekatan sistem dalam studi-studinya untuk mengintegrasikan antara sistem industri dan alam serta mencari cara-cara untuk mendisain ulang sistem industri tersebut. Ekologi industri ini merupakan salah satu konsep untuk menerapkan pembangunan berkelanjutan. Ekologi industri merupakan multi disiplin ilmu yang membahas masalah sistem industri, aktivitas ekonomi dan hubungannya yang fundamental dengan sistem alam. Salah satu dampak negatif yang dapat membahayakan kebersihan dan kesehatan lingkungan adalah limbah berbahaya dan beracun (B3) yang belum di kelola dengan baik oleh masing-masing industri yang menghasilkannya. Bagi industri penghasil limbah B3, keberadaan industri yang bergerak di bidang pengelolaan limbah B3 sangat membantu dalam hal pengelolaan limbah B3 tersebut baik dalam kegiatan pengangkutan, pengumpulan dan pemanfaatan limbah B3 bagi industri yang membutuhkan. Industri pengelolaan limbah B3 merupakan industri yang memiliki ijin resmi dari Kementrian Lingkungan Hidup di Indonesia, sehingga kegiatan pengelolaan limbah B3 yang dilakukan harus sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku. Selain perannya dalam mengembangkan jaringan eko-industri dalam pemanfaatan limbah B3, keberadaan industri pengelolaan limbah B3 juga memberikan beberapa dampak terhadap aspek sosial seperti membuka lapangan pekerjaan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

The development of industrial ecology is to change the paradigm of traditional industries become pro-environmental industry. Industrial ecology is a system used to manage the flow of material and energy of industrial activity to achieve eficiency of resources consumption and minimum pollution produced. The main goal is to change the old paradigm to a new paradigm which states that industrial activity should not be separated from nature. Industrial ecology is a relatively new study that uses a systems approach in his studies to integrate the industrial and natural systems as well as finding ways to redesign the industrial system. Industrial ecology is one of concept for implementing sustainable development. Industrial ecology is a multi-diciplinary science wich examine the problem of industrial system, economic activity and its relationship to the fundamental natural systems. One of the negative impacts that may harm healthcare and hygiene the environment is hazardous and toxic waste (B3) that not managed properly by each of the industries. To hazardous wastes producer, the existence of industrial that engages in management of hazardous and toxic wastes is very important in terms of the management of hazardous and toxic waste in the transportation activities, collection and utilization hazardous waste for industries that require. Hazardous waste management industry is an industry that has official permission from the Ministry of Environment in Indonesia, so the hazardous waste management activities must be conducted according with applicable regulations. In addition to its role in developing industrial ecology networks in the hazardous waste utilization, hazardous waste management industry presence also gives some impact on social aspects such as creating jobs and providing economic benefits for local communities."
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2014
T39393
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bima Abimayu Ramadhana
"Untuk mendukung kesepakatan Sustainable Development Goals (SDGs), sektor konstruksi dapat melakukan pembangunan berbasis ‘green building’. Beton merupakan material yang sangat dibutuhkan sebagai bahan konstruksi namun menimbulkan dampak negatif pada lingkungan pada prosesnya. Selain itu bahan lain yang menjadi permasalahan lingkungan yaitu plastik. Sifat plastik yang sulit terurai menjadikannya salah satu faktor timbulan sampah. Material tersebut akan lebih baik apabila didaur ulang menjadi salah satu material konstruksi pengganti Natural Aggregat (NA). Pada penelitian ini mengkaji pengaruh penggunaan agregat limbah beton (RCA) sebagai pengganti agregat menengah dan penambahan plastik LDPE pada nilai kuat tekan dari paving block. Pada penelitian ini akan digunakan agregat limbah beton klasifikasi menengah yaitu tertahan saringan No.4, No,8, No.16, dan No. 30 pada seluruh sampel uji paving block. Kemudian dilakukan variasi penambahan plastik sebesar 4%, 6%, 8%, dan 10% dari kadar semen yang digunakan pada tiap sampel. Proses pemadatan dilakukan secara manual dengan alat pemukul besi (compactor). Model sampel paving block yang akan dilakukan kuat tekan dibagi menjadi dua yaitu pengujian balok dan pengujian kubus sesuai SNI 03-0691-1996 dimana paving block tebal 6 cm menjadi 5x5x5 cm dan untuk paving block tebal 10 cm menjadi 9x9x9 cm. Didapatkan hasil bahwa nilai kuat tekan rata-rata tertinggi dari penggunaan RCA dan limbah plastik LDPE pada variasi sampel 6 cm yaitu dengan kadar plastik 6% dari berat semen yang digunakan. Nilai kuat tekan rata-rata sampel kubus 5x5x5 cm yaitu 210.36 kg/cm² dan sampel uji balok 6 cm yaitu 318.34 kg/cm². Sedagkan pada variasi sampel 10 cm yaitu dengan kadar plastik 4% dari berat semen yang digunakan. Nilai kuat tekan sampel kubus 9x9x9 cm yaitu 229.32 kg/cm² dan sampel balok 10 cm 200.89 kg/cm². Sehingga penambahan serbuk limbah plastik yang optimal terdapat pada rentang 4% - 6% dari berat semen yang digunakan.

To support the Sustainable Development Goals (SDGs) agreement, the construction sector can carry out 'green building' based development. Concrete is a material that is needed as a construction material but harms the environment in the process. In addition, another material that is an environmental problem is plastic. The nature of plastic is difficult to decompose makes it a factor in the generation of waste. The material will be better if it is recycled into one of the construction materials to replace Natural Aggregate (NA). This study examines the effect of using waste concrete aggregate (RCA) as a substitute for intermediate aggregate and the addition of LDPE plastic on the compressive strength of paving blocks. In this study, the aggregate of intermediate classification of concrete waste will be used, namely retained by sieves No.4, No.8, No.16, and No. 30 on all paving block test samples. Then, the addition of plastic was varied by 4%, 6%, 8%, and 10% of the cement content used in each sample. The compaction process is carried out manually with an iron beater (compactor). The paving block sample model that will be subjected to compressive strength is divided into two, namely, beam testing and cube testing according to SNI 03-0691-1996 where 6 cm thick paving blocks become 5x5x5 cm and 10 cm thick paving blocks 9x9x9 cm. It was found that the highest compressive strength value from using RCA and LDPE plastic waste at a sample variation of 6 cm, with a plastic content of 6% of the weight of the cement used. The compressive strength of the 5x5x5 cm cube sample is 210.36 kg/cm² and the 6 cm beam test sample is 318.34 kg/cm². Meanwhile, in the sample variation of 10 cm, with a plastic content of 4% of the weight of the cement used. The compressive strength of the 9 x 9 x 9 cm cube sample is 229.32 kg/cm² and the 10 cm beam sample is 200.89 kg/cm². So that the optimal addition of plastic waste powder is in the range of 4% - 6% of the weight of the cement used."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Erwin Riduan
"Dalam era saat ini, dimana sedang maraknya dilakukan gerakan peduli lingkungan, penambangan besar-besaran mulai diusahakan untuk dikurangi, sehingga perlu dipikirkan pengadaan jenis sumber agregat baru yang dapat diperbaharui dalam pembuatan beton. Limbah beton dan limbah kaca seringkali menjadi sampah dan berpotensi merusak lingkungan karena sifatnya yang sulit terurai. Padahal kedua bahan tersebut mempunyai potensi untuk dimanfaatkan, salah satunya sebagai pengganti agregat dalam beton. Jika hal ini dapat dilakukan selain mengurangi pencemaran juga untuk mengurangi penambangan batuan alam untuk agregat.
Pada penelitian kali ini akan dicoba membuat beton dengan mengunakan limbah beton dan limbah kaca dengan target kekuatan beton yaitu fc - 25 MPa. Agregat kasar yang digunakan berasal dari limbah beton yang mempunyai kekuatan rencana fc - 35 MPa. Agregat tersebut akan diuji apakah memenuhi syarat-syarat untuk dapat digunakan sebagai agregat kasar dalam beton. Pada agregat kaca akan dilakukan pengujian yaitu pengujian X-Ray Flourescent dimana dari hasil pengujian ini akan didapatkan kandungan kimia dalam kaca untuk menetukan jenis kaca yang akan dipakai. Agregat kaca akan digunakan sebagai bahan tambahan (filler) dalam beton. Jumlah kaca yang ditambahkan ke dalam campuran beton adalah sebesar 10 %, 20 %, 30%, 40%, dari volume agregat halus yang dipakai. Sedangkan limbah beton akan seluruhnya dijadikan sebagai agregat kasar. Pengujian yang dilakukan terhadap beton adalah uji tekan,uji kuat tarik belah dan uji kuat tarik lentur.
Dari hasil penelitian didapatkan limbah beton yang akan dipakai memenuhi semua syarat-syarat yang diperlukan untuk dapat digunakan sebagai agregat kasar dalam beton. Penggunaan kembali limbah beton dari beton yang mempunyai kuat tekan rencana fc - 35 MPa sebagai agregat kasar dalam beton dapat menghasilkan beton dengan kuat tekan fc - 25 MPa. Penggunaan kaca sebagai filler dalam beton dapat meningkatkan kuat tekan beton hingga pada kadar tertinggi yang diteliti yaitu 40 %, sedangkan penggunaan limbah kaca sebagai filler dapat meningkatkan kekuatan tarik jika pada beton ditambahkan 40 % kaca, dan untuk kuat lentur beton didapatkan kadar optimum penambahan kaca untuk meningkatkan kekuatan lentur pada kadar 30%.

At present, in which many of natural conservation having been strictly carried out, mining with huge number have already been reduced so that another alternative of supply aggregate needs to be determined according with the necessity of concrete production. Unbreakable material like concrete waste and glasses waste are usually considered raises any damage to the environment. In fact, those material can be recycled and effectively turn into another alternative of aggregate in concrete production. If the idea above would seriously be implemented, there is no wonder if the excess of natural exploration, and pollution on earth could be reduced.
The bottom line of this observation were trying to produced any concrete having pressure strength fc' about 25 MPa by using concrete waste and glasses waste. Coarse aggregate were came from waste concrete that have plan strength fc' 35 MPa. It would passed some qualifying test before having been used as aggregate. To determine which kind of glasses would be used as finer, the glasses would passing an X-Ray Flourescent. It is necessary to find out the content of chemical compound in it. glasses serve as a filler in the new concrete product. The number of percentage of glasses in mixing concrete would be 10 %, 20 %, 30%, 40%, from troughout of fine aggregate volume. Whereas the concrete waste would be used as coarse aggregate thoroughly. In the end, the new concrete product must passed some tests as follow : Compression test, splitting test, and flexible strength test.
From the observation result would be revealed the waste concrete qualified to be used as coarse aggregate in the new concrete product. The new concrete product is expected to has its plan pressure strength magnitude fc' 25 MPa. Fourty percent glasses usage as filler in any concrete production will more generate its pressure strength, waste glasses usage will more generate its tensile strength if using 40 % addition glasses, and 30 percent waste glasses usage is the optimum level to generate it's flexible strength.
"
2008
S35353
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Desrizal
"Limbah hasil industri merupakan persoalan yang penting, karena keberadaannya baik langsung atau tidak langsung mempengaruhi lingkungan. Lalu salah satu penyelesaian dari masalah ini adalah memanfaatkan limbah dari hasil industri. Penelitian ini diadakan untuk mencegah limbah tersebut mencemari lingkungan. Analisis yang dilakukan adalah memanfaatkan limbah industri hasil pencetakan sebagai bahan pengisi dalam campuran aspal dan meneliti pengaruh limbah industri tersebut terhadap stabilitas campuran aspal, sehingga didapat campuran aspal dengan menggunakan limbah industri hasil pencetakan yang memiliki nilai stabilitas yang minimal sama dengan campuran aspal normal dan tidak mencemari lingkungan. Limbah yang digunakan berupa debu dari proses pencetakan sebagai bahan pengisi pada campuran aspal. Pengujian yang dilakukan terhadap campuran aspal berupa tes stabilitas dengan marshall test dan pengujian pengaruh limbah terhadap lingkungan berupa uji leachability test. Dari hasil penelitian didapat bahwa campuran aspal dengan menggunakan limbah memiliki nilai stabilitas yang bervariasi antara lebih besar ataupun dibawah nilai stabilitas campuran aspal normal.

Industrial waste is an important thing, because its appearence direct or indirect influence the environment. Then the solution of this problem is to reuse the industrial waste. This research purposes to prevent the waste soiling the environment. The analysis is to reuse industrial waste from molding process as filler on asphalt mixing and to research the influence of usage the waste to asphalt mixing stability, with the result that asphalt mixing with usage the waste has minimum stability value with normal asphalt mixing and not soiling the environment. The waste that reuse is in ash form from molding process as filler on asphalt mixing. Examination of the asphalt mixing objects in are stability test with marshall test and examination the influence of usage the waste to the environment in the form of examination of leachability test. The result from this research can conlude that asphalt mixing with usage of the waste has stability value higher or lower than lower compressive strength than normal asphalt mixing stability value."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2006
S35178
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sotya Astutiningsih
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2009
01 Ast d
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>