Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 99607 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Muhammad Adyutatama
""Analisa kegagalan pada water injection tubing dengan ukuran 1 7/8"" dan ketebalan 0.217"" (0,551 cm) dilakukan untuk menyelidiki penyebab kegagalan pada tubing tersebut dan untuk mencari material pengganti material tubing yang gagal tersebut. Sampel material water injection tubing digunakan.pada kondisi operas! down hole dibawah packer dengan temperatur operas! dan tekanan tubing produksinya adalah 264 _F dan 2627 psig. Kegagalan pada sampel disebabkan oleh korosi uniform yang meratayang disertai dengan korosi terlokalisasi. Jenis baja yang digunakan ditentukan dengan hasil pengujian komposisi, tank dan kekerasan yang dibandingkan dengan literatur. Pengaruh kenaikan temperatur terhadap kecepatan korosi diuji dengan pengujian polarisasi. Untuk pengaruh gas CO2 dan pemilihan material pengganti dilakukan dengan pengujian polarisasi menggunakan air injeksi dan air Nad 10000 ppm yang dilakukan pada temperatur 90 _C disertai dengan blowing CO2. Produk korosi diuji dengan EDX (Energy dispersive X-ray spectroscopy) dan XRD (X-ray diffraction). Pengujian lainnya yang dilakukan adalah pengujian resist ivitas dan pengujian komposisi air injeksi. Hasil pengujian menunjukan bahwa material sampel adalah baja API 5CT N80 dengan produk korosi Fe2O3, FeS, dan FeCO3. Penyebab korosi material tersebut adalah adanya komposisi CO2 pada water injection, temperatur operasi yang tinggi (264 _F). Jenis material pengganti tersebut adalah API 5 CT L80-9Cr, API 5CT L-80. dan API 5CT J55. Kecepatan korosi material tersebut menggunakan air injeksi dengan blowing CO2 adalah API 5 CT L80-9Cr (23.095 mpy), API 5CT L-80 (25.051 mpy). dan API 5CT J55 (70,879 mpy} sehingga material API 5 CT L80-9Cr digunakan sebagai material pengganti.""
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2006
S41692
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ali Tisnaya Tirta
"Penelitian ini dilakukan untuk memprediksi pengaruh completion fluid (CF) di dalam sumur minyak terhadap laju korosi pada tubing dengan cara perhitungan indeks korosgfitas yang dikomparasikan dengan metode polarisasi. Data yang dihasilkan dapat digunakan untuk menentukan CF yang baik dan penggunaan material yang tepat, sehingga dapat ditenrukan sistem pengendalian korosi pada rubing yang berada dalam sumur minyak. Sampel air CF yang digunakan sebanyak 3 buah Iain diukur indeks korosifitasnya. Untuk sampel tubing pengukuran laju korosinya dilakukan dengan metode polarisasi, dimana sampel yang diuji terdapat 2 buah yaitu, baja karbon dan baja Cr 13%. Sampel rubing diukur Iaju korosinya terhadap CF CaCl2, spent Polyphospat, campuran CaCl2 dengan Orthopospat, yang pengujiannya dilakukan pada temperatur ruang dan temperatur 90°. Hasil perhitungan indeks korosifiras sampel spent Polyphospar adalah Ll = -4,024 dan R1 = 10, 548; indeks korosifitas sampel CF CaCl2 kedalaman 2000 m adalah LI = 2,083 dan RI = 2,334; indeks korosifitas sampel CF kedalaman 1000 m adalah Ll = 2,159 dan RI = 2,182 Dari pengajian palarisasi baja karban mempunyai ketahanan korosi yang cukup pada Iingkungan CF CaCl2 dengan laju korasi pada temperatur ruang 20 mpy dan 31 mpy pada temperarur 90°, sedangkan pada lingkangan spent Polyphospat kerahanan korosinya buruk dengan laju karosi sebesar 170 mpy dan pada lingkungan campuran CaCl2 dan Orthophospai menunjukkan ketahanan korosi yang dikategorikan tidak dapat diterima akibar laju korosi yang terlalu besar yaitu, 450 mpy. Untuk baja Cr 13% di lingkungan spent Polyphospar mempunyai ketahanan korosi yang baik sekali pada temperatur ruang dengan laja korosi 3-5 mpy, sedangkan pada temperatur 90° ketahanan korosinya baik dengan laju korosi 7-13 mpy dan pada lingkungan CF CaCl 2 ketahanan korosinya luar biasa dengan laju korosi 0,01 - 0,008 mpy, sedangkan untuk lingkungan campuran CaCl2 dan Orthophospat ketahanannya korosinya baik dengan Iaju korosi 10-16 mpy."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2005
S41648
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Imam Abdillah Mas`Ud
"

Kegagalan sistem perpipaan pada industri minyak bumi dan gas merupakan kondisi yang sangat dihindari dan diantisipasi karena kerugian yang dihasilkan dapat mencapai sangat tinggi. Salah satu penyebab yang mengakibatkan kegagalan sistem perpipaan adalah korosi internal. Korosi internal ini disebabkan oleh kandungan karbon dioksida dan zat-zat yang korosif di dalam minyak bumi dan gas. Untuk mengantisipasi kegagalan yang dapat terjadi, dibutuhkan sistem inspeksi yang optimal sehingga tidak hanya dapat mencegah terjadinya korosi yang mengakibatkan kegagalan sistem perpipaan namun juga overbudgetting akibat inspeksi yang terlalu sering. Risk Based Inspection (RBI) merupakan salah satu metode untuk menentukan sistem inspeksi secara optimal dengan menggunakan pendekatan risiko. Dalam pendekatan penghitungan risiko, simulasi monte carlo dapat digunakan untuk mendekati nilai risiko aktual pada kondisi lapangan dengan jumlah sampel yang sedikit. Dalam simulasi monte carlo ini digunakan dua jenis fungsi laju korosi yang sesuai dengan ASTM G-16 95. Dengan membandingkan jenis fungsi laju korosi linier yang umumnya digunakan dalam penghitungan laju korosi di lapangan dengan fungsi laju korosi non-linier akan menghasilkan pendekatan nilai risiko yang lebih akurat. Dengan pendekatan nilai risiko yang lebih akurat, sistem inspeksi yang dihasilkan dalam akan lebih optimal.

 


Failures in oil and gas piping system are a condition which may occur and resulting in high amount of loses. One of the main causes on pipeline system failure is Internal corrosion. This internal corrosion is occurred due to high content of carbon dioxide gasses and other corrosive substances inside crude oil and natural gasses. Therefore, an optimum inspection scheduling system will be needed not only to intercept the probability of pipeline failures caused by corrosion but also to prevent overbudgeting on excessive inspection scheduling. For this purpose, Risk-Based Inspection (RBI) is used based on API RP 581 document as a standard procedure of analysis. Also, in this paper Monte Carlo simulation will be applied using stochastic iteration to approximate the actual risk value of the pipeline system with limited amount of sample on site. In addition, the non-linear corrosion rate function is used as a comparison to the commonly used linear corrosion rate function based on the ASTM G-16 95 document. The results show non-linear corrosion rate function will generate more accurate approach on approximating the actual risk value and eventually resulting in more efficient inspection scheduling system during the lifetime of the pipe system.

 

"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Joedonowarso Poedjisoenjoto
"Pengendalian korosi pada lambung kapal baja di bawah air laut umumnya dilakukan dengan cara pelapisan cat dan pemasangan zinc-anode. Dalam hal ini telah dilakukan studi tentang efektifitas pengendalian korosi dengan pelapisan cat dan pemasangan zinc-anode.
Pelat baja lambung kapal yang diteliti, sesuai sertifikasi klasifikasi perkapalan yang dilindungi dengan pelapisan cat dan pemasangan zinc-anode, direndam dalam air laut secara alami selama kurang lebih enam bulan. Untuk mengetahui efektifitas pengendalian korosi dilakukan pengamatan dan pengujian material-material yang dipergunakan dengan pengukuran difraksi sinar-X, tes adhesi, tes hardness dan perhitungan laju korosinya.
Setelah dilakukan penelitian diperoleh cara yang cocok dan umur dari metode pengendalian korosi yang sesuai dengan kondisi di lingkungan perairan di Indonesia, yaitu pengendalian korosi yang dikombinasi dengan pengecatan dan pemasangan anoda karbon yang lebih efektif.

Corrosion control in a steel plate hull of a ship is generally done by applying paint coating and zinc anode of the hull. A study on corrosion control effectiveness by applying paint coating and zinc anode has been done.
Observed certified steel plates ship's hull, coated with certain type of paint protection and zinc anode, are submerged in sea water on a period of six month. To obtain effectiveness of the method applied, the materials are observed and tested by using X-ray diffraction, adhesion test, hardness test, and corrosion rate calculation.
It is obtained that a specific method of controlling corrosion in a specific area such as in Indonesian tropic waters should be done effectively by combining the coating and anodic protection.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2001
T5812
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yanni Rosandi Prihatiningsih
"Tangki Fresh water merupakan bagian dari Fresh water system yang berperan penting untuk menyediakan kebutuhan air tawar di unit Produksi gas Terapung (FPU). Melalui metode reverse osmosis (RO) dalam unit Fresh water generation, terjadi proses perubahan air laut menjadi air tawar yang kemudian disimpan dalam tangki fresh water sebelum didistribusikan lebih lanjut ke berbagai sistem. Saat dilakukan pembersihan rutin tangki pada akhir 2022, ditemukan adanya korosi pitting yang menyebar di dasar tangki. Diketahui bahwa korosi tersebut telah mengurangi ketebalan plat hingga 47.5%. Dalam penelitian ini, pendekatan teknis dan praktis dilakukan dalam pemilihan metode perbaikan untuk menghindari korosi berkelanjutan dan antisipasi berulangnya penyebab utama korosi. Perbaikan yang dilakukan dengan mempertimbangkan regulasi Klas, jenis Coating, aturan pemeliharaan dan Keselamatan serta optimasi waktu dan biaya pengerjaan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa kondisi korosi dapat diperbaiki dengan pemilihan produk filler compund yang sesuai dengan spesifikasi coating. Pemilihan dry abrasive blasting media non-metallic recycable sponge sebagai solusi terpilih dengan dampak lingkungan rendah, efek getaran peralatan rendah dan sedikit debu blasting untuk menghindari dampak kesehatan pekerja. Metode coating dilakukan dengan metode airless spray yang efektif. Pada akhir kegiatan dilakukan pengecekan kualitas melalui DFT dan Holiday test. Korosi pada tanki ini merupakan pertama kali di FPU sehingga dengan adanya proyek ini menjadikan pedoman dalam menentukan metode perbaikan tanki yang tepat untuk menghambat laju korosi dan menjaga integritas tanki.

The fresh water tank is part of the fresh water system which plays an important role in providing fresh water needs in the floating gas production unit (FPU). Through the reverse osmosis (RO) method in the Fresh water generation unit, the process of changing sea water into fresh water occurs which is then stored in a fresh water tank before being distributed further to various systems. During routine cleaning of the tank at the end of 2022, pitting corrosion was found spreading at the bottom of the tank. It is known that the corrosion has reduced the plate thickness by up to 47.5%. In this research, a technical and practical approach was taken in selecting repair methods to avoid continuous corrosion and anticipate the recurrence of the main causes of corrosion. Repairs are carried out taking into account class rules, type of coating, maintenance and safety regulations as well as optimizing work time and costs. From the research results, it is known that corrosion conditions can be improved by selecting filler compound products that comply with coating specifications. Selecting dry abrasive blasting non-metallic recyclable sponge media as the chosen solution with low environmental impact, low equipment vibration effects and little blasting dust to avoid impact on worker health. The coating method is carried out using an effective airless spray method. At the end of the activity, quality checks are carried out through DFT and Holiday tests. Corrosion on this tank is the first time at FPU, so this project provides guidance in determining the appropriate tank repair method to inhibit the rate of corrosion and maintain tank integrity."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Rini Astuti
"Proses korosi adalah peristiwa kerusakan material karena terjadi realest antara material rersebut dengan lingkungannya. Kerugian karena korosi ini antara lain loss of production. Sehingga unruk menghindari terjadinya korosi tadi perlu adanya pencegahan terjadinya reaksi tadi. Pencegahan korosi terhadap pipa yang dipakai sebagai transporlasi hasil minyak bumi antara lain adalah dengan pelapisan cat (epoxy) pada permukaan dalam pipa. Untuk hal lersebut, pertu diteliti efektifitas penggunaan lapisan epoxy untuk merehabilitasi jaringan pipa . Dari penelitian ini diharapkan juga mengetahui pengaruh persiapan permukaan terhadap epoxy pada bagian dalam pipa dalam hal ini diwakili oleh baja karbon rendah (SA 36) serta sifat adhesifitas dan ketahanan korosinya.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa persiapan permukaan dan ketebalan lapisan cat punya peranan penting dalam keberhasilan sistim cat sebagai pelindung korosi dan sifat adhesifitas yang baik. Dalam penelitian ini persiapan permukaan dilakukan dengan sand blasting SA 3.0 dan pickling dengan Hcl 30% dan 20% serta ketebalan lapisan cat sampai dengan 250 pm memberikan hasil yang baik,dimana ketahanan korosi dan adhesi lapisan cat masih memenuhi syarat sebagai lapisan pelindung yang baik. Dan untuk aplikasi jaringan pipa dengan teknik In-Situ ini, persiapan permukaan dan ketebalan lapisan cat harus lebih diperhatikan agar diperoleh umur lapisan cat yang panjang."
Depok: Lembaga Penelitian Universitas Indonesia, 1996
LP-Pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Kristian
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1993
S41103
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Universitas Indonesia, 2009
TA1335
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Aries Saputra
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1999
S47873
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aryo Eko Budiarto
"Korosi adalah degradasi material akibat interaksi dengan lingkungan, dimana menyebabkan material mengalami kegagalan dan kerugian. Salah satu cara yang paling efektif dalam mencegah kerugian akibat korosi pada industri minyak dan gas bumi adalah mengisolir logam dari lingkungannya. Penggunaan inhibitor korosi berbahan alami menjadi salah satu alternatif baru untuk mencapai tujuan tersebut.
Telah dilakukan penelitian dalam mempelajari perilaku inhibisi air rendaman kulit sawo dalam lingkungan air formasi terhadap baja API 5L menggunakan metode kehilangan berat dengan variabel waktu rendaman (3, 6, 9, dan 12 hari) dan konsentrasi inhibitor 30 ml. Penggunaan air rendaman kulit sawo sebagai inhibitor organik didasari oleh adanya kandungan senyawa antioksidan di dalamnya berupa gugus phenolik, yaitu senyawa tannin.
Hasil penelitian menunjukkan hasil yang baik, dimana air rendaman kulit sawo mampu menurunkan laju korosi dengan efisiensi sebesar 80,85% pada hari ke-3 perendaman dan turun sampai 58,30% pada hari ke-12 perendaman. Terbentuknya lapisan tipis tidak kasat mata ferric tannate pada permukaan sampel menunjukkan mekanisme inhibisi inhibitor kulit sawo, dengan mekanisme adsorpsi campuran sebagai cara senyawa tannin melakukan inhibisi.

Corrosion is the degradation of the material due to interaction with the environment, which lead to material failure and loss. One of the most effective ways to prevent losses due to corrosion in the oil and gas industry is to isolate the metal from the environment. The use of corrosion inhibitor made from natural become one of the new alternatives to achieve these objectives.
Has conducted research in the study of behavioral inhibition of sapodilla skin soaking water in connate water environment of the API 5L steel using weight loss method with immersion time variable (3, 6, 9, and 12 days) and the concentration of inhibitor is 30 ml. The use of sapodilla skin water soaking as organic inhibitors based on the content of antioxidant compounds in the form of phenolic group, the tannin compounds.
A good results showed, with sapodilla skin soaking water can reduce the corrosion rate with an efficiency of 80.85% on the 3rd day of immersion and dropped to 58.30% on the 12th day of immersion. The formation of a invisible thin layer of ferric tannate on the surface of the samples showed inhibition mechanism of sapodilla skin inhibitor, with a mixture adsorption mechanism as the way of doing the inhibition from tannin compounds.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
S44724
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>