Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 107270 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Selly Aprianna
"Fly ash merupakan limbah hasil pembakaran batubara pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), yang saat ini belum dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk memanfaatkan fly ash agar menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis dan tidak mencemarkan lingkungan. Salah satu pemanfaatannya adalah digunakan sebagai material tambahan pada beton.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kuat tekan beton yang menggunakan fly ash, dimana sampel yang digunakan berasal dari 5 proyek dan hasil bor inti. Beton yang diambil dari 5 proyek tersebut memiliki mutu (fc - ) antara 15 - 45 MPa dengan persentase fly ash berkisar 5-20%. Perawatan benda uji dalam penelitian ini dilakukan dengan 2 perlakuan, yakni perawatan beton sesuai standar dan yang diterapkan di lapangan. Pengujian kuat tekan beton fly ash sampel silinder dilakukan pada hari ke-3, 7, 14, 21, 28, 56, dan 90. Sedangkan untuk pengujian kuat tekan terhadap hasil bor inti dilakukan pada saat beton berumur ke-28, 56, dan 90 hari.
Pada penelitian ini kuat tekan beton yang menggunakan fly ash menunjukkan hasil yang mendekati kekuatan beton normal yang terdapat dalam SNI. Selain itu, nilai kuat tekan beton akan memiliki nilai yang lebih tinggi jika beton dirawat dengan cara standar dibandingkan jika dirawat sesuai dengan yang diterapkan di lapangan. Untuk nilai kuat tekan beton hasil bor inti juga menunjukkan nilai yang tidak berbeda jauh dengan nilai kuat tekan beton silinder sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel hasil bor inti dapat dilakukan dan diterapkan pada kondisi eksisting di lapangan.

Fly ash is a waste of coal combustion results in Steam Power Plant (power plant), which is currently not used optimally. Therefore, there is need efforts to use fly ash to be a valuable economic material and not pollute the environment. One of its utilization is used as additional material on the concrete.
This study aims to determine the compressive strength of concrete using fly ash, where the sample came from five projects and the results of core drilling (coring). Concrete taken from five projects which have the quality (fc') between 15-45 MPa, with percentages of fly ash ranging from 50-20%. Curing of the samples in this study conducted with two treatments, by concrete maintenance standards and like applied in the field. Testing the strength of concrete cylinders samples was done at days 3, 7, 14, 21, 28, 56, and 90. Whereas the compressive strength testing for concrete by results of coring when the concrete at 28, 56, and 90 days.
In this study the compressive strength of concrete using fly ash showed the results of which approximates the strength of normal concrete contained in the Standard. In addition, the value of compressive strength of concrete will have a higher value if the concrete was treated with a standard way than if treated in accordance with the application in the field. To value the strength of concrete coring results also show that the value does not differ much with the value of concrete cylinder compressive strength so it can be concluded that the results of coring samples can be introduced and applied in the existing condition in the field.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
S50603
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Mardiah
"Pada saat ini beton siap pakai sedang marak digunakan pada konstruksi bangunan. Seiring dengan perkembangan teknologi, beton siap pakai juga berkembang menggunakan material fly ash yang dapat digunakan sebagai bahan pereduksi semen. Fly ash merupakan limbah hasil pembakaran batubara pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Selain ekonomis, penggunaan fly ash pada beton siap pakai juga dapat meningkatkan kekuatan beton pada usia lanjut dan menurunkan susut yang terjadi bahkan dapat mengurangi emisi gas CO2 yang dihasilkan dari produksi semen. Namun, berdasarkan pengalaman dilapangan menunjukkan bahwa penggunaan abu terbang banyak menimbulkan keretakan pada beton struktural yang mengindikasikan terjadinya susut beton yang lebih besar dari beton normal. Hal ini berkebalikan dengan pernyataan sebelumya. Beton yang diteliti merupakan beton siap pakai yang menggunakan fly ash. Kekuatan beton yang akan dipakai adalah fc - 10 - 50 MPa dengan persentase fly ash yang digunakan 9% - 20%. Kemudian dilakukan pengujian susut selama lebih kurang 28 hari.
Berdasarkan, pengujian, diketahui bahwa besarnya persentase fly ash terhadap jumlah semen, perbandingan air semen, nilai slump, banyaknya air dari tiap-tiap sampel, dan kondisi luar seperti suhu dan kelembaban sangat mempengaruhi persentase susut beton. Dari penelitian ini diperoleh bahwa beton siap pakai yang menggunakan fly ash dengan persentase terhadap jumlah semen antara 9% - 20% memiliki persentase susut atau strain dari beton yang lebih kecil daripada beton normal pada usia 28 hari yang persentasenya bisa mencapai 0.035% - 0.041%.

Now ready mix concrete is very well known on construction of building. Along with technological development, ready mix concrete was also developed using fly ash material that can be used as ingredients in cement kilns. Fly ash is a coal combustion waste on the Steam Power Plant (Power Plant). Besides economic value, use of fly ash in ready mix concrete can also increase strength in the elderly and reduce shrinkage that occurs, even can reduce CO2 emissions resulting from cement production. However, based on field experience shows that the use of fly ash causes a lot of cracks in structural concrete that indicate the occurrence of concrete shrinkage greater than normal concrete. This contrasts with the previous statement. Concrete under study is a ready mix concrete using fly ash. Concrete strength will be used is fc' 10 MPa - 50 MPa with the percentage of fly ash used in 9% - 20%. Then do the test more or less shrinkage during 28 days.
Based testing, found that the percentages of fly ash on the amount of cement, water cement ratio, slump, amount of water from each sample, and external conditions such as temperature and humidity affect the percentage shrinkage of concrete. From this study found that the ready mix concrete using fly ash with a percentage of total cement between 9% - 20% have a percentage of shrinkage or strain of concrete is smaller than normal concrete at the age of 28 days that the rates can reach 0035% - 0041%.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
S50583
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Achmad Ruby Rubiono Atmoprawiro
"Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi hasil pengujian kuat tekan beton inti dan Ultrasonic Pulse Velocity (UPV) pada sampel Roller Compacted Concrete dan beton konvensional dengan penggunaan Semen Portland Slah (PSC) dan Semen Portland Komposit (PCC) yang akan digunakan dalam proyek bendungan. Hal ini untuk memenuhi kebutuhan data yang sesuai dalam ACI 228.1R-19 terkait adanya data penelitian untuk setiap proyek yang dilakukan. Penelitian ini dilakukan dengan eksperimental laboratorium yang melibatkan uji destruktif (kuat tekan) dan non destruktif (UPV). Penelitian telah mengungkapkan bahwa kuat tekan beton inti dan cepat rambat UPV memiliki korelasi yang tinggi dimana semakin tinggi cepat rambatnya akan memberikan kuat tekan beton inti yang lebih tinggi juga. Persamaan empiris yang didapatkan pada penelitian ini adalah fc’(x) = 1.1665x pada Roller Compacted Concrete, fc’(x) = 6.1484x pada beton konvensional dengan semen PSC, dan fc’(x) = 6.9937x pada beton konvensional dengan semen PCC.

This research was conducted to examine the results of core concrete compressive strength and Ultrasonic Pulse Velocity (UPV) tests on Roller Compacted Concrete samples and conventional concrete using Portland Slah Cement (PSC) and Composite Portland Cement (PCC) which will be used in solidification projects. This is to fulfill the appropriate data requirements in ACI 228.1R-19 regarding the existence of research data for each project carried out. This research was carried out in an experimental laboratory involving destructive (compressive strength) and non-destructive (UPV) tests. Research has revealed that the compressive strength of core concrete and the creep speed of UPV have a high correlation, where the higher the creep speed, the higher the compressive strength of the core concrete too. The empirical equation obtained in this research is fc’(x) = 1.1665x in Roller Compacted Concrete, fc’(x) = 6.1484x in conventional concrete with PSC cement, and fc’(x) = 6.9937x in conventional concrete with cement PCC."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kamil Afrizal
"Pemanfaatan zat aditif sebagai akselerator sebagai campuran beton untuk perbaikan jalan beton merupakan salah satu alternatif yang sering diterapkan dan mudah diperoleh dipasaran. Namun, Akselerator mengandung ion-ion klorida dapat menyebabkan korosi pada baja beton bertulang. Selain itu, industri semen menghasilkan emisi karbon dioksida, komponen terbesar gas rumah kaca.
Salah satu alternatif dalam masalah ini adalah pemanfaatan geopolimer sebagai semen instan. Bahan geopolimer digunakan berprekusor limbah batu bara dan bahan pembentuk porselen yang mudah didapatkan dan mengurangi dampak pencemaran lingkungan. Kedua bahan tersebut digunakan pada penelitian ini yaitu fly ash dan kaolonite. Kekuatan optimum geopolimer diperoleh dengan waktu yang lebih singkat bersamaan dengan proses pengerasan serta pengaruh suhu.
Penelitian ini bertujuan Mengetahui proses sintesis dan teknologi dalam pembuatan semen instan geopolimer dan mengetahui nilai kuat tekan pasta dan beton geopolimer yang paling optimum dalam waktu tersingkat dengan dibandingkan dengan curing suhu ruang dan suhu 60°C. Kuat tekan awal pasta geopolimer dimana kuat tekan di uji pada waktu singkat yaitu 4 jam, 8 jam, dan 1 hari dengan waktu pengerasan yang dibandingkan antara suhu 60°Celcius dan suhu ruang.
Dari penelitian ini didapat kesimpulan, untuk waktu curing yang sama, suhu lebih tinggi menghasilkan kuat tekan yang lebih tinggi. Pada suhu yang sama kuat tekan dari pasta geopolimer meningkat seiring dengan bertambahnya waktu curing khususnya untuk pasta geopolimer berbahan dasar fly ash.

Utilization of additives as an accelerator in concrete mix is often chosen to be an alternative for concrete road repair because it is easy to find. However, the additives contain chloride ions which can cause corrosion of steel reinforced concrete. In addition, the cement industry produces carbon dioxide emissions, the largest component of greenhouse gases.
The other alternative is to use geopolymer as rapid-setting cement. At this study, fly ash and kaolinites are used as a precursor in the geopolymer, these materials are made from coal waste and porcelain-forming material which are easy to find and also able to reduce the effect of pollution. Geopolymer optimum strength obtained with a shorter time along with the hardening process and the influence of temperature.
The aim of this study is to understand the synthetic process and technologies in manufacturing this rapid-setting cement. The other aim is to find the optimum value of compressive strength on geopolymer paste and geopolimer concrete in the short time (4, 8, and 24 hours of hardening) compared to the curing temperature of 60°C and room temperature.
The conclusions of this study are higher temperature, at the same curing time, produce higher value of compressive strength. Longer curing time, at the same temperature, also produce higher value of compressive strength especially on fly ash.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
S50593
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Maulita Nabilla Putri
"Geopolimer merupakan material alternatif yang menarik untuk semen Portland dalam konstruksi modern dengan beberapa keunggulan seperti mengurangi jejak karbon, meningkatkan ketahanan terhadap api, dan bahkan memungkinkan penggunaan limbah industri sebagai prekursor yang dapat mendukung sustainability. Pada dasarnya, sifat mekanis dari geopolimer dapat ditingkatkan dengan mengatur komposisi bahan bakunya menyesuaikan kebutuhan aplikasinya. Dalam studi literatur ini, dilakukan peninjauan terhadap lima literatur utama yang masuk ke kriteria inklusi pemilihan literatur berupa penggunaan prekursor Fly Ash Kelas C, alkali aktivator berupa Natrium Hidroksida (NaOH) dan Natrium Silikat (Na2SiO3) serta diberikannya perlakuan curing berupa suhu ruang dan waktu yang beragam, serta digunakannya bahan baku tambahan yang beragam. Studi literatur ini berfokus kepada sifat mekanis berupa nilai kuat tekan sehingga pengujian yang dilakukan pada setiap literatur yang terpilih dijelaskan data spesifik tentang nilai kuat tekan. Titik optimal dengan nilai kuat tekan geopolimer paling baik berada pada NaOH dengan Molaritas sebesar 8M sebesar 34.04 MPa dengan curing time selama 7 hari. Pada variasi Alkali Aktivator, penggunaan NaOH dan Na2SiO3 bersamaan sebagai alkali aktivator menghasilkan nilai kuat tekan yang lebih baik dibandingkan hanya NaOH saja. Variasi komposisi menunjukkan hasil bahwa PPF membantu geopolimer untuk mendapatkan nilai kuat tekan yang baik dengan kadar paling optimal pada 0,25%. Kemudian pada penambahan Bottom Ash dibutuhkan kadar yang optimal untuk mendapatkan nilai kuat tekan yang baik dalam penambahan BA karena beresiko meningkatkan porositas mortar geopolimer, yang mengurangi kerapatan dan nilai kuat tekan. Serta penambahan fine sand pasir dolomit dibandingkan dengan pencampuran dolomite mixture memberikan hasil nilai kuat tekan yang lebih baik karena didapatkan produk utama berupa X-Ray Amorphous Sodium yang mengandung Aluminosilicate Hydrogel atau bisa disebut sebagai N-A-S-H yang dapat mengikat partikel-partikel di dalam matriks sehingga meningkatkan kekuatan tekan.

Geopolymer is an alternative material to Portland cement in modern construction with several advantages such as reducing the carbon footprint, increasing fire resistance, and even enabling the use of industrial waste as precursor that can support sustainability. Basically, the mechanical properties of geopolymers can be improved by adjusting the composition of the raw material to suit the application needs. In this literature study, a review of five main pieces of literature was carried out which were included in the inclusion criteria for literature selection in the form of the use of Class C Fly Ash precursors, Sodium Hydroxide (NaOH) and Sodium Silicate (Na2SiO3) as alkali activator, as well as providing curing treatment in the form of room temperature and various time, as well as the use of various additional raw materials. This literature study focuses on mechanical properties in the form of compressive strength values ​​so that the tests carried out in each selected literature explain specific data regarding compressive strength. The optimal point with the best geopolymer compressive strength is NaOH with a molarity of 8M of 34.04 MPa with a curing time of 7 days. In the Alkali Activator variation, the use of NaOH and Na2SiO3 together as alkali activator produces better compressive strength values ​​than NaOH alone. The variation in composition shows that Polypropylene Fibers helps geopolymer to obtain good compressive strength values ​​with the most optimal content at 0.25%. Then, when adding Bottom Ash, optimal levels are needed to get good compressive strength ​​when adding BA because it risks increasing the porosity of the geopolymer mortar, which reduces the density and compressive strength. The addition of fine dolomite sand compared to mixing dolomite mixture gives better compressive strength results because the main product of dolomite mixture is X-Ray Amorphous Sodium which contains Aluminosilicate Hydrogel or can be called N-A-S-H which can bind the particles in the matrix thereby increasing the strength.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Albertus Giovanni Dewanto
"Roller Compacted Concrete (RCC) telah menjadi material pilihan dalam berbagai aplikasi konstruksi karena keunggulannya dalam hal kekuatan, durabilitas, dan efisiensi biaya. RCC termasuk ke dalam no-slump concrete yang memiliki konsistensi kering dan dipadatkan menggunakan alat berat seperti roller, sehingga memberikan karakteristik unik dibandingkan dengan beton konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara hasil pengujian kuat tekan dan UPV sampel silinder RCC dengan pemanfaatan 60% fly ash dan semen tipe PCC. Metode yang digunakan dalam peneltian ini adalah pengujian destruktif untuk kuat tekan beton dan pengujian non destruktif untuk UPV. Hasil dari penelitian ini adalah nilai kuat tekan sampel RCC yang meningkat seiring pertambahan cepat rambat gelombang. Sampel RCC yang diuji sampai umur 28 hari nilai kuat tekannya 2.84 MPa dan belum memenuhi target kuat tekan fc’ 15 MPa. Dari grafik hubungan kuat tekan dan cepat rambat sampel RCC didapatkan persamaan fc'(v) = 0.3392e^(0.5951v).

Roller Compacted Concrete (RCC) has become the material of choice in various construction applications due to its advantages in terms of strength, durability, and cost efficiency. RCC is classified as no-slump concrete, having a dry consistency and compacted using heavy equipment such as rollers, thus providing unique characteristics compared to conventional concrete. This study aims to determine the correlation between the results of compressive strength and UPV testing of RCC cylinder samples with the utilization of 60% fly ash and PCC type cement. The method used in this research is destructive testing for concrete compressive strength and non-destructive testing for UPV. The result of this research is the compressive strength value of RCC samples which increases as the wave propagation speed increases. RCC samples tested until the age of 28 days the compressive strength value is 2.84 MPa and has not met the target compressive strength fc' 15 MPa. From the graph of the relationship between compressive strength and propagation speed of the RCC sample, the equation is obtained fc'(v) = 0.3392e^(0.5951v)."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wahyu Dwi Cahyadi
"Skripsi ini membahas tentang penggunaan Abu Sekam Padi (RHA) sebagai bahan substitusi perekat semen dan penggunaan Limbah Adukan Beton (CSW) sebagai agregat halus untuk mengurangi penggunaan jumlah pasir pada beton. Penelitian dilakukan dengan membuat mix design dari beton normal fc' 25 MPa dan dikembangkan pada lima variasi campuran dengan jumlah CSW 30%, 40%, 50%, 60% dan 70% dengan penggunaan RHA tetap yaitu 8% dai total pemakaian semen. Sifat mekanis beton yang diuji meliputi: kuat tekan, modulus elastisitas, densitas, permeabilitas.
Pengujian kuat tekan dilakukan pada umur 3, 7, 14, 21, 28, 56 dan 90 hari terhadap lima benda uji pada setiap umur pengujian. Pada pengujian kuat tekan dan modulus elastisitas nilai optimum terjadi pada campuran dengan jumlah CSW 30%, sedangkan prosentase susut terbesar terjadi pada beton dengan campuran CSW 70%. Dari penelitia ini diharapkan beton dengan campuran RHA dan CSW menghasilkan mutu sesuai yang direncanakan dan dapat diaplikasikan untuk produk paving blok.

The focus of the study is observing the use of Rice Husk Ash (RHA) as a substitute of portland cement and Concrete Sludge Waste (CSW) to reduce of sand in concrete.Refers to the mix design of normal concrete fc' 25 MPa the mechanical properties tested in five variations with a percentage of CSW 30%, 40%, 50%, 60%, 70% and using fixed number 8% of RHA.
The concrete were tested compressive strength, modulus of elasticity, density, and permeability at the age of 3, 7, 14, 21, 28, 56 and 90 days for five specimens at each age of test. From the testing of compressive strength, modulus of elasticity obtained an optimum number of CSW 30%. And teh largest percentage of shrinkage occured in CSW 70%. From the result has been obtained, the concrete with RHA and CSW produce quality as planned and can be applied to block paving products, could be applied to the road pavement.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S42086
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ferdy
"Perubahan iklim telah memicu perkembangan green technology. Geopolimer berbahan dasar abu terbang merupakan material ramah lingkungan yang dapat digunakan sebagai semen instan untuk bahan reparasi jalan beton. Tujuan dari penelitian ini ialah mengetahui kondisi perlakuan temperatur dan waktu curing yang terbaik untuk menghasilkan pasta geopolimer dengan kuat tekan yang optimal.
Dua variabel temperatur dan tiga variabel waktu digunakan dalam penelitian ini untuk ditinjau pengaruhnya terhadap kuat tekan yang dihasilkan oleh pasta geopolimer. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa untuk waktu curing yang sama, temperatur yang lebih tinggi akan menghasilkan kuat tekan yang lebih tinggi. Pada temperatur yang sama kuat tekan dari pasta geopolimer meningkat seiring dengan bertambahnya waktu curing.

Climate change have been develop green technology. Geopolymer fly ash based is categorized as friendly environment material which is used as rapid setting cement for repair material of concrete road. The purpose of this research was aimed to study the best temperature and curing time to produce geopolymer paste with optimum compressive strength.
Two variable of temperature and three variable of time were used in this research to see their effect to compressive strength. The result from this research show that for the same curing time, elevated temperature achieve higher compressive strength. In same temperature, compressive strength from geopolymer paste increase along with curing time.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
S51515
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Farah Dini Sofyani
"Penelitian ini membahas tentang penggunaan Abu Sekam Padi (RHA) sebagai bahan subtitusi perekat semen dan penggunaan Limbah Adukan Beton (CSW) sebagai agregat halus untuk mengurangi penggunaan jumlah pasir pada beton. Penelitian dilakukan dengan membuat mortar dengan lima variasi campuran dengan jumlah CSW 30%, 40%, 50%, 60% dan 70% dengan penggunaan RHA tetap yaitu 8% dari total pemakaian semen. Sifat mekanis beton yang diuji meliputi: kuat tekan, densitas atau kerapatan, absorbsi atau penyerapan air dan uji susut. Pengujian kuat tekan dilakukan pada umur 3, 7, 14, 21, 28, 56 dan 90 hari. Untuk pengujian densitas dan absorbsi dilakukan pada umur 28 hari. Sedangkan untuk pengujian susut dilakukan pada umur 1-28 hari secara terus-menerus. Pada pengujian-pengujian yang sudah dilakukan, nilai optimum terjadi pada campuran dengan jumlah CSW 30%, karena memiliki nilai kuat tekan dan densitas paling tinggi, serta penyerapan air dan penyusutan yang paling rendah. Dari penelitian ini diharapkan mortar dengan campuran RHA dan CSW dapat diaplikasikan untuk pembuatan bahan konstruksi ramah lingkungan.

The focus of this study is observing the use of Rice Husk Ash (RHA) as a subtitute of portland cement and Concrete Sludge Waste (CSW) to reduce of sand in concrete. Five compotitions are made in this study with precentages of CSW are 30%, 40%, 50%, 60% and 70% and fixed amount 8% of RHA. The concrete were tested in compressive strength test at the age of 3, 7, 14, 21, 28, 56 and 90 days. Density test and absorption test at the age of 28 days. And Shrinkage test at the age of 1-28 days. From the result of those tests obtained an optimum number of CSW 30% because has the biggest compressive strength and density, thelowestabsorption and percentage of shrinkage. From the result has been obtained, the concrete with RHA and CSW could be applied to building material."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
S57865
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Marchin Alfredo
"Penggunaan beton sebagai bahan konstruksi bangunan di Indonesia semakin meningkat, khususnya pada industri beton siap pakai (Ready Mix Concrete). Salah satu masalah yang timbul dalam industri beton siap pakai, adalah mengumpulkan dan membuang sisa beton yang dihasilkan dari pencucian truk pengaduk beton setelah memproduksi dan mengirimkan campuran beton ke lokasi konstruksi. Atas dasar hal tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui sifat fisik dan mekanis dari beton yang mengandung limbah adukan beton siap pakai (Concrete Sludge Waste) atau disebut juga CSW yang juga ditmbahkan dengan abu sekam padi (Rice Husk Ash) atau disebut juga RHA.
Fungsi RHA dan CSW adalah sebagai bahan pengganti sebagian dari semen dan agregat halus. Sifat fisik dan mekanis yang akan diuji yaitu meliputi kuat tekan beton, modulus elastisitas dengan PUNDIT, permeabilitas, dan densitas. Berdasarkan dari hasil pengujian didapat kuat tekan yang optimum yaitu pada komposisi campuran 92% semen, 8% RHA, 70% pasir, dan 30% CSW sebesar 32,12 MPa pada umur 28 hari. Demikian juga pada pengujian karateristik beton keras lainnya seperti modulus elastisitas menggunakan PUNDIT didapat sebesar 32.133,33 MPa, penetrasi pada pengujian permeabilitas sebesar 19,67 mm, dan untuk densitas sebesar 2,056 g/cm3. Dari hasil pengujian tersebut menurut SNI untuk beton non struktural, dapat digunakan seperti paving blok, kanstin, pelataran parkir dan beton non struktural lainnya.

Using of concrete as construction materials in Indonesia is increasing, especially in ready mix concrete industry (Ready Mix Concrete). One of the problems that arise in the ready mix concrete industry, is to collect and dispose of the rest resulting from washing concrete mixer truck concrete after the concrete mix, produce and deliver to construction sites. On the basis of this, the purpose of this study was to determine the physical and mechanical properties of concrete containing waste slurry ready mix concrete (Concrete Sludge Waste) or collectively, CSW is also ditmbahkan with rice husk ash (Rice Husk Ash) or also known as RHA.
RHA and CSW function is as a partial replacement of cement and fine aggregate. Physical and mechanical properties to be tested that include concrete compressive strength, modulus of elasticity with the Pundit, permeability, and density. Based on test results obtained from the optimum compressive strength is the composition of the mixture of 92% cement, 8% RHA, 70% sand and 30% CSW of 32.12 MPa at 28 days. Similarly, the test characteristics of concrete such as modulus of elasticity of the other hard to come by using a Pundit 32133.33 MPa, penetration testing on the permeability of 19.67 mm, and for the density of 2.056 g/cm3. From the results of such testing according to SNI for non-structural concrete, can be used as paving blocks, canstine, parking lot and other non-structural concrete.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S42331
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>