Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 133434 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Faris Aljuhdi H R.
"VoIP merupakan suatu mekanisme dalam melakukan pembicaraan telepon dengan melewatkan data pembicaraan melalui internet atau intranet yang menggunakan jaringan IP (Internet Protocol). Perancangan dan implementasi VoIP ini menggunakan transmisi wi-fi dengan standarisasi IEEE 802.11 pada Wireless Local Area Network di jaringan lokal atau Local Community Network. Teknologi VoIP tersebut disebut Voice over Wireless Local Area Network atau VoWLAN. WLAN berbasis IEEE 802.11 awalnya tidak dirancang untuk mendukung lalu lintas paket suara sehingga mengurangi Quality of Service (QoS) dari VoWLAN.
Namun seiring berkembangnya teknologi hal tersebut dapat diminimalisir dengan munculnya spesifikasi baru dari IEEE 802.11 yaitu IEEE 802.11n dengan memiliki fitur-fitur yang meningkatkan kualitas dari pengiriman data suara maupun video. Parameter-parameter yang diukur secara objektif dalam menentukan kualitas tersebut adalah throughput, delay, jitter, dan packet loss serta secara subjektif yaitu dengan MOS (Mean Opinion Score).
Pengukuran dilakukan dengan membandingkan kualitas pada 802.11n dan pendahulunya 802.11g. Dari hasil pengujian nilai delay, jitter, dan packet loss pada 802.11n lebih bagus dibandingkan dengan 802.11g dan sesuai berdasarkan standarisasi ITU-T yaitu pada delay kurang dari 150 ms, jitter kurang dari 30 ms, dan packet loss kurang dari 2%.

VoIP is a mechanism in a telephone conversation with the missed data conversations via the Internet or an intranet network that uses IP (Internet Protocol). This design and implementation of VoIP is using a wi-fi transmission with the IEEE 802.11 standardization on the Wireless Local Area Network in a local network or the Local Community Network. That VoIP technology is called Voice over Wireless Local Area Network or VoWLAN. IEEE 802.11 based on WLAN was not originally designed to support packet voice traffic thereby reducing the Quality of Service (QoS) of VoWLAN.
But with a growing technology that can be mitigated by the emergence of a new specification of IEEE 802.11 is the IEEE 802.11n with features that enhance the quality of voice and video data transmission. The parameters measured objectively in determining quality is the throughput, delay, jitter, and packet loss as well as subjectively by MOS (Mean Opinion Score).
The measurement was done by comparing the quality of 802.11n and the predecessors, 802.11g. From the results of testing the value of delay, jitter, and packet loss on the 802.11n is better than 802.11g and appropriate based on ITU-T standard that is delay less than 150 ms, jitter less than 30 ms, and packet loss less than 2%.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
S51189
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Yudi Methanoxy
"Skripsi ini menguraikan tentang hasil-hasil dari percobaan dan analisa dari implementasi layanan radio streaming pada Local Community Network dengan perangkat 802.11n. Aplikasi tersebut diterapkan pada sebuah server pada jaringan WLAN. Akes aplikasi oleh beberapa klien dilakukan melalui wireless router dengan teknologi nirkabel dengan standart IEEE 802.11 n versi draft 2.0. Dalam ujicoba yang dilakukan, klien mengakses aplikasi secara mandiri dan secara bersamaan untuk menguji skalabilitas dan QoS dari sistim. Berbagai ujicoba dilakukan untuk mengetahui optimalitas kinerja jaringan dengan parameter throughput, delay, packet loss, perhitungan maksimal user serta parameter pengaturan encoder yang digunakan. Dari hasil ujicoba ditemukan bahwa pada jaringan akses nirkabel berbasis IEEE 802.11n, radio streaming dengan pengaturan encoder 128 kbps, memiliki kualitas streaming yang paling baik dibandingkan dengan pengaturan encoder 24 kbps, 48 kbps, dan 96 kbps. Dari hasil pengamatan didapat pula kesimpulan, semakin besar pengaturan encoder-nya semakin besar throughput yang di dapat. Pada pengamatan delay, didapati kesimpulan radio streaming pada Local Community Network sudah dapat dikategorikan memenuhi QoS yang baik dengan rata - rata delay maksimum sebesar 20ms. Limitasi bandwidth dan user harus dilakukan untuk menjaga kualitas dari empat aplikasi secara optimal. Oleh sebab itu Local Community Network dibatasi penggunanya hanya sampai dengan 50 user, maka per user akan mendapat bandwidth sebesar 750 KBps. Diharapkan pembangunan aplikasi serta konten berbasis web dari Radio Streaming serta IP TV, VOIP, dan Web Conference oleh saya beserta rekan tim skripsi saya yang lain menjadi cikal bakal pergerakan Industri IT di Indonesia yang dimulai dari komunitas-komunitas kecil.

This thesis describes the results of experiments and analysis of the implementation of a streaming radio service in the Local Community Network with 802.11n devices. These applications are implemented on a server in the WLAN network. Accessing applications by several clients is running through a wireless router with a wireless technology standard IEEE 802.11 n draft version 2.0. In the test, clients access the applications independently and simultaneously to test the scalability and QoS of the system. Various tests with several parameters carried out to optimize network performance such as throughput, delay, packet loss, the calculation of the maximum user and the encoder setting parameter. From the results of test found that in the wireless access network based on IEEE 802.11n, streaming radio with 128 kbps encoder settings, have the best streaming quality compared with other encoder settings such as 24 kbps, 48 kbps and 96 kbps. From the same could be observed in conclusion, the greater its encoder settings, greater throughput in the can be. On delay observations, streaming radio on the Local Community Network could have been categorized to meet with a good QoS - average maximum delay of 20ms. Limitation of bandwidth and users must be done to maintain the quality of the four applications optimally. Therefore, the Local Community Network is limited to 50 users with only user, then per user will get a bandwidth of 750 KBps. Implementation of application and web-based content from Radio Streaming, IP TV, VoIP, and Web Conference by my teammates and me is expect to build a movement of the IT industry in Indonesia, which started from small communities."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
S51160
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Luqman Muttaqin
"WEB conference merupakan suatu aplikasi yang memberikan layanan komunikasi kepada dua orang atau lebih untuk dapat berinteraksi. Interaksi yang terjadi dalam bentuk video dan audio. Pada skripsi ini melakukan pengukuran dan analisa web conferencing pada suatu jaringan LAN dengan media wireless 802.11n. Pada perancangan ini menggunakan transmisi wireless 802.11n. Quality of Service merupakan hal terpenting yang perlu diperhatikan pada perancangan ini. Hal ini guna memberikan kepuasan pada pengguna dan tidak terjadi kesalahan apabila diterapkan di berbagai bidang. Parameter-parameter yang perlu diperhatikan adalah Delay, Packet Loss Ratio, dan throughput. Cara pengukuran adalah dengan menambahkan jumlah pengguna yang melakukan web conferencing. Hasil yang didapatkan pada saat konferensi lima orang pengguna adalah throughput sebesar 224KBps, delay 30 ms, dan packet-loss yang relatif sedikit.

Web conferencing is an application that allow communication services for two or more persons to be able to interact. Interactions that occur in form of video and audio. In this paper the measurement and analysis of web conferencing on a local area network with 802.11n. In this design 802.11n is use as wireless transmission. Quality of Service is the most important thing in this design. This is to give satisfaction to the user and error does not occur when applied in various network. Parameters that need to be considered is Delay, Packet Loss Ratio, and throughput. Mechanism method is to add the number of users who do web conferencing. The results obtained during the user conference is a five-person registration 224KBps throughput, delay 30 ms, and packet-loss is relatively small."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
S51247
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Aurelio Rahmadian
"Skripsi ini memberikan hasil-hasil percobaan dan analisa dari teknologi IPTV. IPTV adalah sistem yang digunakan untuk mengirimkan data multimedia melalui jaringan berbasis Internet Protocol (IP). Teknologi ini mengubah cara manusia berkomunikasi dengan televisi menjadi lebih interaktif. IPTV merupakan teknologi yang sedang dikembangkan di berbagai negara, termasuk Indonesia, yang dikatakan akan segera mengimplementasikannya. Layanan IPTV ini berada pada Local Community Network (LCN) dimana akan digabungkan dengan beberapa aplikasi lainnya yaitu VoIP, Web Conference, dan Radio Streaming. Digunakan standar 802.11n dengan bandwidth maksimum 300 Mbps untuk membangun jaringan LCN tersebut.
Analisa yang diberikan dilihat dari kualitas trafik yang terjadi dalam menjalankan aplikasi IPTV. Kualitas yang dimaksud dilihat dari bandwidth yang dikonsumsi (throughput), delay, jitter, serta packet loss. Hasil yang didapatkan akan dibandingkan dengan bila menggunakan standar 802.11g untuk menunjukkan kelebihan dari 802.11n.
Dari hasil pengukuran didapatkan bahwa standar 802.11n yang memang merupakan teknologi baru, lebih superior dibandingkan standar 802.11g. Banyaknya packet loss yang terjadi merupakan faktor akan perlunya menggunakan standar 802.11n dalam aplikasi IPTV ini.

This thesis provides experimental results and analysis of IPTV technology. IPTV is a system that is used to transmit multimedia data through a network based on Internet Protocol (IP). This technology is changing the way humans communicate with the television becomes more interactive. IPTV is a technology that is being developed in various countries, including Indonesia, which it says will soon be implemented. IPTV services are located in the Local Community Network (LCN), which will be combined with several other applications of VoIP, Web Conference, and Radio Streams. 802.11n standard with a maximum bandwidth of 300 Mbps used to build the network, LCN.
The analysis provided views of the quality of traffic that occurs when running IPTV applications. Quality is seen from the bandwidth consumed (throughput), delay, jitter, and packet loss. The results obtained will be compared to 802.11g standard to show the advantages of 802.11n.
From the measurement, results showed that the 802.11n standard that is indeed a new technology, more superior than the 802.11g standard. Number of packet loss that occurs is a factor would need to use the 802.11n standard in IPTV applications.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
S51165
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Mar`atul Azizah
"Kebutuhan informasi dan semakin majunya perkembangan teknologi mendorong lahirnya Teknologi Informasi dan Komunikasi yang dapat memberi efektifitas dan efisiensi kerja manusia. Akses internet yang juga mudah dijangkau, kapan saja, dan dimana saja memicu lahirnya integrasi semua teknologi dan aplikasinya. Telepon, e-mail, instant messaging, bahkan video conference, mulai didorong agar dapat saling terintegrasi dan sinkron sehingga berbagai jenis aplikasi dan perangkatnya tersebut dapat diakses dalam satu waktu dan hanya dalam satu perangkat atau aplikasi. Unified Communications sebagai terobosan teknologi baru yang menjawab tantangan global ini diharapkan dapat memberikan layanan tidak hanya di dunia bisnis, namun juga di dunia pendidikan agar lebih meningkatkan efektifitas dan efisiensi sivitas akademika dalam melaksanakan aktivitas kesehariannya. Integrasi dan kemudahan ini bukan lantas tanpa meninggalkan masalah. Aspek keamanan menjadi sangat penting untuk mendukung kualitas layanan. Pada skripsi ini diimplementasikan aplikasi telepon berbasis VoIP dengan skenario pengamanan pada protokol SIP yang berbeda, yaitu tanpa adanya metode keamanan (RTP non-secure), SRTP, dan SSL. Kemudian dianalisa bagimana kinerja dan keamanan pada aplikasi IP Video Telephony sebelum dan sesudah menggunakan metode secure-SIP. Dari hasil uji coba, didapatkan bahwa QoS berupa delay, jitter, packet loss, dan throughput tidak mengalami perubahan yang signifikan dan masih memenuhi standar ITU-T. Nilai delay yang didapatkan sebelum pengamanan SIP sebesar 33,974 ms, sedangkan setelah implementasi secure-SIP naik menjadi 39,964 ms. Untuk nilai jitter dengan dan tanpa menggunakan secure-SIP sekitar 0,6 ms. Tidak ada paket yang hilang, dalam hal ini nilai packet loss sebesar 0%. Sedangkan nilai throughput sekitar 50 paket/detik.

Information needs and more advanced technological developments led to the establishment of information and communication technology which allowed human to work more effectively and efficiently. Internet access which available in anytime and anywhere, also triggered the integration of all means of technology and its applications. Telephone, e-mail, instant messaging, even video conference, are all begin to be integrated and synchronized so that they all could be accessed all at once, in a single device or application. As a new technological advancement, Unified Communications is expected to not only serve the business world, but also education, to increase the effectiveness and efficiency in conducting their daily activities. But this integration and ease comes with some unfavorable aspect. Security aspect becomes a very important part to support quality of services. This final paper was implemented the IP telephony for VoIP application with security scenario on different SIP protocol: RTP (non-secure), SRTP, and SSL. Then, the the performance and security on IP Video Telephony after and prior to the implementation of secure-SIP method was analyzed. The results show that QoS in forms of delay, jitter, packet loss and throughput, did not reveal significant changes and is still within the standard of ITU-T. Delay measurement prior to the SIP securing is 33,974 ms, whereas after the implementation of secure SIP, it increase to 39,964 ms. As for the jitter measurement, with or without secure-SIP, is approximately 0,6 ms. No packets are lost, so the value of packet loss is 0%. Throughput is about 50 packet/second."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S62658
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mar Atul Azizah
"Kebutuhan informasi dan semakin majunya perkembangan teknologi mendorong lahirnya Teknologi Informasi dan Komunikasi yang dapat memberi efektifitas dan efisiensi kerja manusia. Akses internet yang juga mudah dijangkau, kapan saja, dan dimana saja memicu lahirnya integrasi semua teknologi dan aplikasinya. Telepon, e-mail, instant messaging, bahkan video conference, mulai didorong agar dapat saling terintegrasi dan sinkron sehingga berbagai jenis aplikasi dan coba.
Didapatkan bahwa QoS berupa delay, jitter, packet loss, dan throughput tidak mengalami perubahan yang signifikan dan masih memenuhi standar ITU-T. Nilai delay yang didapatkan sebelum pengamanan SIP sebesar 33,974 ms, sedangkan setelah implementasi secure-SIP naik menjadi 39,964 ms. Untuk nilai jitter dengan dan tanpa menggunakan secure-SIP sekitar 0,6 ms. Tidak ada paket yang hilang, dalam hal ini nilai packet loss sebesar 0%. Sedangkan nilai throughput sekitar 50 paket/detik.

Information needs and more advanced technological developments led to the establishment of information and communication technology which allowed human to work more effectively and efficiently. Internet access which available in anytime and anywhere, also triggered the integration of all means of technology and its applications. Telephone, e-mail, instant messaging, even video conference, are all begin to be integrated and synchronized so that they all could be accessed all at once, in a single device or application. As a new technological advancement, Unified Communications is expected to not only serve the business world, but
also education, to increase the effectiveness and efficiency in conducting their daily activities. But this integration and ease comes with some unfavorable aspect. Security aspect becomes a very important part to support quality of services. This final paper was implemented the IP telephony for VoIP application with security scenario on different SIP protocol: RTP (non-secure), SRTP, and SSL. Then, the the performance and security on IP Video Telephony after and prior to the implementation of secure-SIP method was analyzed.
The results show that QoS in forms of delay, jitter, packet loss and throughput, did not reveal significant changes and is still within the standard of ITU-T. Delay measurement prior to the SIP securing is 33,974 ms, whereas after the implementation of secure SIP, it increase to 39,964 ms. As for the jitter measurement, with or without secure-SIP, is approximately 0,6 ms. No packets are lost, so the value of packet loss is 0%. Throughput is about 50 packet/second
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Kamila
"Implementasi layanan 3G di Indonesia memerlukan sebuah jaminan kualitas layanan bagi para pelanggannya yang di dalam istilah telekomunikasi biasa dikenal dengan sebutan QoS (Quality of Service). Salah satu cara pengukuran Nilai QoS adalah drive test, yaitu sebuah metode pengukuran trafik yang dilakukan dari satu wilayah ke wilayah lain dengan cara berpindah tempat atau mobile baik menggunakan kendaraan atau berjalan kaki. Drive test ini dianggap dapat mewakili data QoS dari sisi pelanggan. Wilayah pengukuran drive test yang dipilih adalah wilayah DKI Jakarta sebagai daerah utama implementasi layanan jaringan 3G dan dikhususkan pada daerah segitiga emas untuk jaringan 3G Telkomsel. Hasil pengukuran drive test tersebut kemudian dianalisa dengan menggunakan metode DOE (Design of Experiments) untuk desain Two-Factor fixed Effect Model. DOE ini mempunyai kemampuan untuk mengolah sedikit data untuk menghasilkan suatu kesimpulan yang sah dan objektif. Keluaran dari penghitungan DOE adalah uji nilai QoS. Dengan mengacu kepada parameter QoS yang telah ditetapkan oleh 3GPP, maka proses selanjutnya adalah membandingkan antara hasil analisa DOE untuk pengukuran QoS wilayah DKI Jakarta dengan QoS Standar operator. Hasil perbandingan tersebut menggambarkan tingkat baik atau buruknya QoS 3G Telkomsel wilayah DKI Jakarta. Dan dengan menggunakan DOE, hasil yang diperoleh lebih akurat walaupun menggunakan jumlah sampel yang lebih sedikit.

3G services in Indonesia need a quality guarantee for its customers. The guarantee of quality in telecommunication network is known by QoS (Quality of Service). One of methods to measure QoS value on user side is a drive test. Drive test is a traffic measurement method where data is collected by mobile activities, i.e. driving or walking from one area to other area. Before collecting the data, first of all we have to determine specific area and network to be measured. In this writing DKI Jakarta has been chosen as measurement area since it is a major area for 3G implementation. For the measured network, Telkomsel 3G network has been chosen. The next step is to analize drive test data using DOE (Design of Experiments) method for Two-Fixed Effect Model. DOE is capable to analyze a few experiments to produce a valid and an objective result. DOE output is a QoS verification where the final process is taken by comparing QoS measurement in DKI Jakarta with operator standard. The result of this experiment is a QoS 3G level in DKI Jakarta. Even using a few data, the DOE output is more acurate than output of reguler process."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2007
T40805
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Raihan
"Pada tahun 2035 diperkirakan aka nada 305 juta penduduk di Indonesia. Selain itu, pada tahun 2021 jumlah smart-phone diperkirakan akan mencapai 8 milyar dan jumlah alat yang dapat berkomunikasi secara machine-to-machine (M2M) mencapai 13 milyar. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya trafik data global sebesar 48.27 exabytes. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah terobosan agar operator seluler tetap dapat memenuhi kebutuhan traffic data namun tetap memperhatikan CAPEX/OPEX mereka. Untuk mencapai keseimbangan diantara keduanya, terdapat fitur yang dapat digunakan, yaitu fitur network slicing. Network slicing menggunakan prinsip virtualisasi yang menyebabkan sebuah jaringan fisik dapat terbagi menjadi beberapa jaringan virtual. Penelitian ini membahas tentang fitur network slicing dengan metode multiple-choice knapsack problem pada macro cell jaringan 5G yang diterapkan pada modulasi 16-QAM dan QPSK. Berdasarkan pengujian didapatkan bahwa modulasi QPSK lebih cocok untuk digunakan karena memiliki nilai bit error rate (BER) yang jauh lebih rendah dan nilai throughput yang sedikit lebih tinggi dibandingkan modulasi 16-QAM. Selain itu, nilai delay rata-rata yang dihasilkan oleh modulasi QPSK bernilai lebih rendah dibandingkan modulasi 16-QAM.

In 2035 it is estimated that there will be 305 million people in Indonesia. In addition, in 2021 the number of smart phones is expected to reach 8 billion and the number of machines that can communicate machine-to-machine (M2M) reaches 13 billion. This can lead to global data traffic of 48.27 exabytes. Therefore, a breakthrough is needed so that cellular operators can still meet data traffic needs but still pay attention to their CAPEX/OPEX. To achieve a balance between the two, there are features that can be used, namely the network slicing feature. Network slicing uses the principle of virtualization which causes a physical network to be divided into several virtual networks. This study discusses the features of network slicing with the multiple-choice knapsack problem method in the macro cell 5G network that is applied to 16-QAM and QPSK modulation. Based on the experiment it was found that the QPSK modulation was more suitable because it had a much lower bit error rate (BER) value and a slightly higher throughput value than the 16-QAM modulation. In addition, the average delay value generated by QPSK modulation is lower than 16-QAM modulation."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhamad Fauzan Chamim Fasas
"WLAN merupakan suatu jaringan nirkabel yang dimana akses sangat mudah diimplementasikan serta melakukan akses. Perlu adanya Protokol keamanan untukmencegah akses yang tidak diinginkan. Protokol keamanan mengenkripsi paketdata serta melakukan authentication tambahan. Hal tersebut mengakibatkanprotokol keamanan mempengaruhi performance dari suatu jaringan. Testbeddilakukan untuk mengetahui secara kuantitatif dan komprehensif seberapa besarpengaruh protokol keamanan yang ada pada WLAN terhadap performancejaringan. Pengukuran kinerja jaringan yang digunakan yaitu throughput.
Dari hasil tersebut maka dapat ditentukan penggunaan protokol keamanan yang palingoptimal baik dalam segi kinerja jaringan maupun keamanan. Selain itu juga padapenelitian ini juga mencari pengaruh panjang paket serta protokol transportasiterhadap kinerja jaringan WLAN yang menjalankan protokol keamanan.
Hasil menunjukan bahwa penggunaan captive portal merupakan solusi yang terbaikdengan rata-rata pengaruh terhadap kinerja jaringan dibawah 1. Penggunaan WPA2E dapat menjadi solusi lain dengan tingkat keamanan yang tinggi. WPA2E mempengaruhi kinerja WLAN dengan memiliki rata-rata pengaruh terhadap kinerja jaringan sebesar 7.57 untuk TCP dan 6.03 untuk UDP yang memiliki nilai lebihbaik jika dibandingkan dengan protokol keamanan lainnya. Penggunaan WPA dengan enkripsi AES dapat menjadi alternatif jika pada jaringan tidak dapat tersediaRADIUS server.
Penggunaan WPA mempengaruhi kinerja WLAN denganmemiliki rata-rata pengaruh terhadap kinerja WLAN sebesar 5.75 untuk TCP dan7.39 untuk UDP. Pada TCP seluruh panjang paket mempengaruhi kinerja WLANyang menjalankan protokol keamanan dengan rata-rata perbedaan pada masingmasing500, 1000, 1500, dan 2000 bytes masing-masing sebesar 9.27 , 7.01 ,5,96 , 7,94 . Pada UDP hanya panjang paket 500 bytes yang mempengaruhiWLAN jaringan sebesar 24.36. Untuk panjang paket 1000, 1500 dan 2000 tidakterlalu mempengaruhi kinerja WLAN. Pengaruhnya yaitu sebesar masing-masing1.13 , 2.40 , dan 0.47.

WLAN is a wireless network where access is very easy to implement and access.Security protocols are required to prevent unauthorized access. The securityprotocol encrypts the data packets as well as performs additional authentication.This results in the security protocol affecting the performance of a network. Test bed is done to find out quantitatively and comprehensively how much influence ofsecurity protocol that exist on WLAN to network performance. Measurement ofnetwork performance used is throughput.
From these results can be determined theuse of the most optimal security protocols both in terms of network performanceand security. In addition, this study also looks for the effect of packet length andtransport protocol on the performance of WLAN networks running securityprotocols.
The results show that the use of captive portal is the best solution withaverage influence on network performance below 1 . The use of WPA2E can beanother solution with a high level of security. WPA2E affects WLAN performanceby having an average impact on network performance of 7.57 for TCP and 6.03 for UDP which has better value when compared to other security protocols. The useof WPA with AES encryption can be an alternative if on the network can not beavailable RADIUS server.
The use of WPA affects WLAN performance by havingan average effect on WLAN performance of 5.75 for TCP and 7.39 for UDP.In TCP, the entire packet length affects the performance of WLANs runningsecurity protocols with average differences of 500, 1000, 1500, and 2000 bytes eachat 9.27 , 7.01 , 5.96 , 7.94 . At UDP only packet length of 500 bytes thataffects network WLAN of 24.36 . For 1000, 1500 and 2000 packet lengths do notsignificantly affect WLAN performance. Its influence is equal to 1.13 , 2.40 ,and 0.47 respectively.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2017
S67295
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Agus Awaludin
"Infrastruktur layanan telekomunikasi pada Fixed Network maupun pada Mobile Network, berevolusi dari jaringan berbasis infrastruktur Switched Circuit Network (SCN) ke jaringan Packet Switch Network (PSN). Pada Packet Switch Network interkoneksi dibangun bersifat Connectionless, menggunakan kanal komunikasi yang digunakan secara bersama (Shared) serta pengelolaan alokasi kanal komunikasi untuk layanan dilakukan dengan menggunakan mekanisme Statistical Multiplexing. Layanan telekomunikasi yang bersifat realtime kurang baik diadopsi pada Packet Switch Network, hal ini adanya kemungkinan Queuing Delay dan Packet Drop yang disebabkan karakteristik dari Statistical Multiplexing. Statistical Multiplexing adalah mekanisme paket forwarding yang menggunakan metode Buffer dan Scheduling dalam meneruskan trafik dari satu network ke network lainnya. Pada tesis ini di rancang dan dikembangkan penerapan manajemen trafik dengan mekanisme berbasis per-flow dengan memanfaatkan infrastruktur switch berbasis SIP untuk mengontrol penerapan kebijakan trafik pada jaringan berbasis paket yang dibangun mengacu pada fungsi arsitektur Policy Based Admission Control yang didefinisikan oleh IETF. Hasil uji coba menunjukan keberhasilan penerapan QoS dengan pengkondisian Throughput layanan jaringan berdasarkan profil pengguna. Metode tanpa umpan balik antara Call Session Control Function (CSCF) dan Decission Point (PDP) memiliki kinerja yang mendekati CSCF umumnya, namun pada skenario ini terjadi perbedaan waktu yang cukup berarti antara penyelesaian waktu pemrosesan SIP Signalling dan penerapan QoS di sisi Policy Enforcement Point (PEP).

Next generation of fixed network and Mobile network telecommunication infrastructure and services is evolved from Switched Circuit Network (SCN) based to Packet Switched Network (PSN) based. Within Packet Switched Network interconnection of communication services is built in a connectionless environtment , using a shared communication channel and adopt a statistical multiplexing mechanism for forwarding traffic between network. Real time communication services is not smoothly adopted by this type of forwarding mechanism because the queuing delay and packet drop characteristic of statistical multiplexing. This thesis implement per-flow traffic basis management by utilizing SIP based softswitch to control the enforcement of traffic policy on a packet network infrastructure that adopt IETF's Policy Based Admission Control architecture. The successfulness of offered solution is obeserved in the distribution condition of allocated bandwidth for VoIP traffic compared to other traffic. The experiments show the successful application of throughput conditioning based on SIP user profiles. The performance issue of SIP signalling is addressed by a no feedback scenario between Call Signalling Control Function (CSCF) and Policy Enforcement Point (PEP) but there is a significant difference of completion time on SIP processing and QoS Enforcement."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
T31814
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>