Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 137815 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Asrul Budiadji
"Pada penelitian ini akan dilakukan simulasi untuk membandingkan kinerja protokol tunneling PPTP (Point to Point Tunneling Protocol) dan L2TP (Layer 2 Tunneling Protocol) dengan melakukan transfer data dari network satu ke network yang lain yang dilewatkan melalui tunnel. Trafik yang dilewatkan dalam simulasi ini adalah UDP (User Datagram Protocol), TCP (Transmission Control Protocol) dan RDP (Remote Desktop Protocol). Perbedaan karaketeristik dari trafik-trafik yang dilewatkan dapat membedakan konsumsi bandwidth yang mempengaruhi transfer rate dari masing-masing trafik, oleh karena itu trafiktrafik tersebut dibedakan tingkat prioritasnya dan dibagi menjadi kelas-kelas tertentu.
Sebelum dilewatkan dalam tunnel, data akan mengalami proses enkapsulasi yang mengakibatkan bertambahnya paket header yang akan mengurangi byte payload dari data yang akan dikirimkan sehingga proses pengiriman data melalui tunnel akan memakan waktu lebih lama. Hasil simulasi menunjukkan bahwa nilai throughput pada PPTP lebih besar daripada L2TP, throughput PPTP sebesar 90.68 % dan L2TP sebesar 83.01 % dari bandwidth yang tersedia.

In this study, simulation would be conducted to compare PPTP (Point to Point Tunneling Protocol) and L2TP (layer 2 Tunneling Protocol) performance by carrying data transfer from one network to another passed through the tunnel. The passed traffics in the simulation are UDP (User Datagram Protocol), TCP (Transmission Control Protocol) and RDP (Remote Desktop Protocol). The characters difference from the passed traffic could differ bandwidth consumption that affects transfer rate from each traffics, therefore those traffics are differentiated its priority level and divided into certain classes.
Before the data being passed through the tunnel, the data would experience encapsulation process which results in increased packet header that of course would diminish payload bytes from the sent data so that the process of transfering data through the tunnel would take longer time. The simulations show that PPTP's throughput greater than L2TP's, PPTP gets 90.68 % whereas L2TP gets 83.01 % of available bandwidth.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2009
S51137
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Fadry Secondaru
"Kebutuhan akan perluasan jaringan data/multimedia sekarang ini semakin tinggi. meningkatnya kebutuhan akan proses transfer data/multimedia dari jaringan satu ke jaringan lainnya melalui internet mendorong terpenuhinya kebutuhan pengguna akan efisiensi bandwidth dan tingkat keamanan proses transfer data yang akan dilakukan. Data yang melewati jaringan internet tidak terjamin keamanannya, oleh karenanya dibutuhkan sistem keamanan yang baik yang memungkinkan data yang dikirimkan tidak dapat di akses pengguna lain yang tidak berwenang. Tunneling memberikan solusi keamanan yang baik untuk permasalahan ini, dengan cara membentuk tunnel (terowongan) pada jaringan publik yang menghubungkan antara jaringan satu dengan jaringan yang lain. Tunneling ini tentunya juga akan menggunakan byte payload sebagai paket header, sehingga akan mengurangi kecepatan transfer data.
Pada penelitian kali ini akan dianalisa kinerja tunneling protocol GRE, dan OPENVPN dari sisi proses enkapsulasi, besar throughput, dan perilaku protokol yang dilewatkan didalamnya dengan melakukan simulasi transfer data FTP (File Transfer Protocol), RDP (Remote Desktop Protocol) dan Video Streaming yang dilewatkan melalui IP Tunnel.
Dari percobaan yang dilakukan didapatkan bahwa protokol openVPN pada network tanpa kelas, memiliki kinerja lebih baik dibandingkan dengan tunel GRE dalam hal efisiensi bandwidth hal ini dikarenakan openVPN melakukan kompresi pada paketnya. Penerapan class of service pada tunnel GRE akan mengoptimalkan penggunaan bandwidth menjadi 100%, dari yang sebelumnya tanpa class of service tunnel GRE hanya menggunakan 95% dari total bandwidth yang tersedia.

The needs of data/multimedia network expansion nowadays are getting higher. The increase of data/multimedia transfer needs from one network to the other through the Internet encouraged the users' bandwidth efficiency fulfillment and data transfer process security level that is about to be conducted. Data, which passes through the Internet networks are not securely guaranteed, therefore, a thorough security system is needed to enables the sent data could not be accessed by another unauthorized parties. Tunneling provides a good security solution for this problem by forming a tunnel on public network, which connects one network with another. This tunneling would of course use byte payload as a header package, in order to decrease data transfer speed.
On this research, tunneling protocol GRE, and OPENVPN performance would be analyzed from encapsulation process, throughtput and protocol characteristic which pass through inside tunnel by conducting FTP (File Transfer Protocol), RDP (Remote Desktop Protocol) data transfer simulation and Video Streaming passed through IP tunnel.
From the simulation show that openVPN protocol in a network without class of service has better performance than GRE tunnel this because openVPN doing packet compression before sending the packet over tunnel. Implementation class of service in GRE tunnel would optimizing bandwidth consumption become 100% , whereas without class of service GRE tunnel using 95% from available bandwidth.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2009
S51130
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Hari Wibawa
"ABSTRAK
Next Generation Network (NGN) merupakan sebuah sistem yang dirancang untuk mengintegrasikan berbagai macam layanan jaringan. Salah satu model yang dapat menyokong konvergensi pada NGN adalah IP Multimedia Subsystem (IMS). Perkembangan IMS saat ini menjadi salah satu celah bagi pihak-pihak yang tak bertanggung jawab untuk melakukan penyerangan pada keamanan IMS. Maka dari itu, muncullah sebuah pemikiran untuk menciptakan sebuah sistem keamanan pada jaringan IMS dengan menerapkan Protokol PPTP dan L2TP remote access Virtual Private Network.
Kedua protokol tentunya memiliki kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Untuk itu, akan dibandingkan QoS dari kedua protokol tersebut pada jaringan IMS yang melakukan layanan VoIP. Dan akan dilakukan tiga skenario pengujian untuk mengukur QoS tersebut, yaitu pertama tanpa menerapkan VPN, kedua dengan menerapkan VPN PPTP, dan ketiga dengan menerapkan VPN L2TP. Nilai delay pada VPN PPTP lebih baik 4.08% daripada VPN L2TP. Nilai jitter pada VPN PPTP lebih baik 2.06% daripada VPN L2TP. Dan nilai throughput pada VPN PPTP lebih baik 4.07% daripada VPN L2TP.

ABSTRACT
Next Generation Network (NGN) is a system designed to integrate wide range of network services. One of model that can support convergence in NGN is the IP Multimedia Subsystem (IMS). Nowadays, The development of IMS, is being one of the gaps for an unauthorized person to attack on security of IMS. Then it emerges an idea to build a security system on IMS network by implementing PPTP and L2TP Protocol remote access Virtual Network.
Both protocols certainly have weaknesses and strengths of each. Hence, It will compared the QoS of both protocols on the IMS network to VoIP services. And it will be carried out three test scenarios to measure the QoS, the first without implementing a VPN, the second by applying a PPTP VPN, and the third by applying the L2TP VPN. The result of this impelementation is delay value in VPN PPTP 4.08% better than the VPN L2TP. Jitter value in VPN PPTP 2.06% better than the VPN L2TP. And the throughput on the PPTP VPN 4.07% better than the VPN L2TP."
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S42303
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ardiansyah
"Seiring dengan perkembangan teknologi, banyak layanan multimedia telah dikembangkan di internet Salah satu dari layanan itu adalah IP Video Telephony. Tetapi IP Video Telephony memiliki kelemahan yaitu keamanan yang tidak terjamin. Karena berbasis IP, maka siapapun bisa melakukan penyadapandan perekaman terhadap data IP Video Telephony. Dari sinilah muncul suatu pemikiran tentang bagaimana caranya untuk mengamankan data IP Video Telephony tanpa mengurangi kinerja dari jaringan IP Video Telephony itu sendiri. Salah satu cara adalah dengan menggunakan VPN (Virtual Private Network). VPN sendiri telah diketahui sebagai salah satu metode yang handal dalam menangani masalah keamanan jaringan, terutama untuk pengiriman data penting. Untuk mengimplementasikan pemikiran tersebut maka dibuatlah suatu sistem IP Video Telephony over Remote Access VPN. Kemudian dianalisa bagimana kinerja dan keamanan IP Video Telephony sebelum dan sesudah menggunakan VPN. Apakah voicedan video yang dihasilkan oleh IP Video Telephony over VPN masih memenuhi standar ITU-T berdasarkan delay, jitter dan packet loss dan bernilai baik menurut standar ITU-R 500. Dari pengujian dengan menggunakan codec video H.263 dan H.264 serta codec audio G.711, G.729 dan GSM didapatkan bahwa kinerja (delay, jitter dan packet loss) dengan menggunakan VPN berubah meskipun besarnya tidak signifikan dan masih memenuhi standar. VPN dapat mengamankan data dari ancaman keamanan. Sebelum menggunakan VPN data IP Video Telephony dapat direkam dan dimainkan ulang. Data payloadnya juga dapat ditangkap dan dilihat tetapi setelah menggunakan VPN IP Video Telephonytidak dapat direkam dan data payloadnya tidak terlihat. Bandwith yang diperlukan untuk implementasi IP Video Telephony berkisar 256 kbps untuk sepasang pengguna. Kombinasi IP Video Telephony yang paling baik ialah video codec H.263, audio codec G.729 dengan protokol VPN yang digunakan ialah PPTP VPN karena kinerja yang didapat masih memenuhi standar, data payloadnya aman, penggunaan bandwith efisien, dan nilai pengukuran kualitas subjektif videonya bernilai 4 yang artinya cukup baik.

Currently, IP based technologies are growing faster as well as many multimedia services in the internet. One of them is IP Video Telephony. It becomes more popular in term of the interactivity, scalability, cost efficiency and reachability, however IP Video Telephony has a weakness in the lack of security guarantee because it is based on IP so everyone can tap and record the data of IP Video telephony. One of the ways to protect the data without reducing the performance is by using VPN (Virtual Private Network). VPN is well-known as one of reliable methods in handling the problems of security network, especially to send important data securely. In this final thesis, the IP Video Telephony over Remote Access VPN is implemented. Then, the performance and the security of IP Video Telephony before and after using the VPN is analyzed to know whether the voice and the video transmitted over VPN still meet the standard of ITU-T in term of the delay, jitter, and packet loss and has an adequate value based on the standard of ITU-R 500. The result from the experiment carried out by using codec video H.263 and H.264, and also codec audio G.711, G.729 and GSM shows that the performance (delay, jitter, and packet loss) by using VPN is slightly changed and not quite significant. It shows that the standard performance is still acceptable. VPN can secure the data from any security threat. Before using the VPN, the data of IP Video Telephony can be recorded and replayed. The payload data can be captured and seen. Meanwhile, after using the VPN, the data of IP Video Telephony could not be recorded and the payload data is hidden. The required bandwidth capacity to implement the IP Video Telephony is around 256 kbps for a pair of users. The best audio and video codec combination to implement IP Video Telephony is H.263 video and G.729 audio codec with PPTP VPN Protocol because the performance measurement result still meets the standard, the data payload are secure, the use of bandwidth capacity is efficient, and the measurement value of subjective quality video reaches 4 , which means it is quite good and acceptable."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
S51243
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Yunita Ramanda
"Terminal Peti Kemas merupakan aset yang sangat penting bagi perekonomian Indonesia karena menghubungkan pasar domestik dengan konsumen internasional atau sebaliknya. Hal ini mengakibatkan pentingnya peningkatan produktivitas di terminal peti kemas. Metode alokasi quay crane merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas di terminal peti kemas.
Penelitian ini bertujuan untuk merancang model simulasi visual terminal peti kemas yang dapat digunakan untuk membandingkan metode alokasi quay crane. Pengambilan data dilakukan pada Terminal Peti Kemas JICT yang digunakan sebagai objek penelitian untuk mempelajari keadaan terminal peti kemas secara umum. Metode heuristik yang digunakan untuk menentukan alokasi quay crane adalah Total Work Content Remaining (TWCR) dan Shortest Processing Time (SPT).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode SPT lebih baik dibandingkan metode alokasi TWCR karena dengan menggunakan metode SPT, total waktu pelayanan kapal lebih singkat dibandingkan dengan menggunakan metode TWCR. Demikian juga halnya dengan produktivitas dermaga, dengan menggunakan metode SPT diperoleh produktivitas dermaga yang lebih besar dibandingkan dengan metode alokasi TWCR.

Container terminals are an absolutely critical asset to Indonesia's economy because container terminal provide a vital link between domestic market to international costumer and vice - versa. Therefore, importance role of container terminal resulting productivity is critical in container terminal. Allocation quay crane problem is one of the factors that can affect productivity at container terminal.
This paper aims to design a visual simulation model of container terminal which can be used to compare the methods of quay crane allocation. Data collection was conducted at JITC Container Terminal which is used as an object for studying container terminal condition. Heuristic method that is used to determine quay crane allocation are Total Work Content Remaining (TWCR) and Shortest Processing Time (SPT).
The results showed that Shortest Processing Time (SPT) method better than Total Remaining Work Content (TWCR) because total service time using SPT method less than using TWCR method. Moreover, Shortest Processing Time (SPT) method provides greater berth productivity than Total Work Content Remaining (TWCR) method.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
T34872
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aryadi Prakoso
"Dalam era globalisasi saat ini, kemudahan akses terhadap informasi merupakan salah satu kunci untuk dapat bersaing dan memenangkan kompetisi,.Karena dengan adanya informasi yang cepat dan akurat dapat meningkatkan kinerja suatu organisasi atau instansi yang menggunakan sistem tersebut. Salah satu system informasi tersebut adalah VPN.VPN atau Virtual Private Network adalah suatu jaringan private yang mempergunakan sarana jaringan komunikasi publik (dalam hal ini Internet) dengan memakai tunnelling protocol dan prosedur pengamanan. Dengan memakai jaringan publik, dalam hal ini Internet, maka biaya pengembangan yang dikeluarkan akan jauh relatif lebih murah daripada harus membangun sebuah jaringan leased line sendiri. Namun, pemakaian Internet sebagai sarana jaringan publik juga menmpunyai resiko sendiri karena Internet terbuka untuk umum maka masalah kerahasiaan dan authentifikasi atas data yang dikirim pun juga terbuka. Oleh karena itu, VPN menjaminnya dengan suatu protocol untuk enkripsi data.

Newdays, simple accessibility to get information is one of the greatest key to win the competition, because with this information which fast and accurate can improve performance of organization when we use this system. One of the information system is VPN. VPN as known as Virtual Private network is a private network That using public network communication, in this case was the internet using tunneling protocol and security procedure. Choosing public network communication had several benefit such as lower cost system for development rather than we created own leased lined network. In other hands, choosing this network have their own risk, cause this network basically is an open network system. This make the secret and authentication problem of sending data also open. Base on this fact VPN play role to guarantee data encryption with some kind protocol."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2009
S51422
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Akmal
"Perpindahan data yang besar dan semakin cepat belakangan ini menuntut perangkat peralatan IT (information technology) bekerja pada performa yang tinggi. Performa suatu perangkat IT yang tinggi juga akan membuat panas yang dihasilkan perangkat IT ke lingkungan sekitar semakin tinggi. Selain itu, hal tersebut juga membuat konsumsi energi pada perangkat IT semakin tinggi akibat panas yang dihasilkan serta membuat beban kerja sistem pendingin perangkat IT meningkat. Suhu dan aliran udara di dalam ruangan data center merupakan salah satu komponen keamanan pada data center yang harus diperhatikan. Standar optimal ruangan data center yang direkomendasikan menurut standar ASHRAE (2011) yaitu antara 18-27 oC. Tujuan dari penelitian ini untuk mensimulasikan pola aliran temperatur dan aliran kecepatan udara di dalam ruangan data center kemudian dilakukan anlisa mengenai performa pendinginan rak. Penelitian ini, ruang server akan disimulasikan menggunakan software CFD dengan bantuan aplikasi CAD untuk menggambarkan geometri dan ANSYS 16.2 untuk melakukan simulasi perpindahan panas dan aliran udara di dalam ruangan. Ruangan server diketahui menggunakan raised floor air conditioner dengan temperatur inlet udara sebesar 16-17 oC dan kecepatan aliran udara ke ruangan 2.65 m/s. Berdasarkan hasil simulasi didapatkan gambaran mengenai temperatur udara ketika meninggalkan rak mencapai 27 oC dan temperatur total di dalam ruangan sebesar 23 oC. Kemudian dilakukan layout ulang dari rak dan didapati nilai RCI rata-rata pada rak initial mencapai 90.83% sementara pada layout baru sebesar 95.75%. Nilai SHI layout initial rata-rata sebesar 0.353 sementara pada layout baru sebesar 0.306.

The large and faster data transfer nowdays, requires IT equipment devices to work at high performance. The performance of a high IT device will also make the heat generated by IT devices to the surrounding environment higher. In addition, this also makes energy consumption in IT devices higher due to the heat generated and makes the cooling system workload of IT devices increase. Temperature and air flow in a data center room is one of the security components in the data center that must be considered. The optimal standard for data center rooms that are recommended according to ASHRAE (2011) standards is between 18-27 oC. The purpose of this study is to simulate the pattern of temperature distribution and air velocity flow in the data center room including cooling performance analysis. In this research, a data center room simulated using CFD software with the help of CAD applications to describe geometry and ANSYS 16.2 to simulate heat transfer and air flow in the room. The server room is known to use raised floor air conditioner with an air inlet temperature of 16-17 oC and air flow velocity to room 2.65 m/s. Based on the simulation results, the air temperature when increasing the rack reaches 27 oC and the total server room temperature is 23 oC. Then the re-layout of the rack has been done and it was found that the average RCI value on the existing rack reached 90.83% while the new layout was 95.75%. The average SHI value of existing rack is 0.353 while in the new layout it is 0.306."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2019
T52919
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Lukman Hakim
Depok: Universitas Indonesia, 2001
TA2982
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Dessy Aryani
"Kinerja sualu organisasi dapat dinilai dengan melakukan evaluasi terhadap indikator kinerja yang telah ditentukan melalui pendekatan struktur/input, prosra, dan output. Penelitian ini adalah untuk mengukur kinerja kualitas layanan terhadap 15 RSUD Kelas D PEMDA DKI Jakarta tahun 2016 yang meliputi aspek input; jumlah SDM, anggaran, sarana prasarana, dan standar prosedur yang ada, aspek proses ; tingkat efisiensi dan pelaksanaan standar prosedur, dan aspek output: rasio pendapatan terhadap biaya operasional, BOR, dan kepuasan pasien. Melode paielitian yang digunakan adalah kuantitatif dan kualitatif terhadap 6 informan. Data primer iambil meialui wawancara mendalam dengan menggunakan kuesioner, sedangkan data sekunder diambil dari laporan Dinkes DKI Jakarta dan monev Bappeda. Penelitian ini menunjukan bahwa jumlah SDM masih belum mencukupi lerutama jumlah apoteker dan lenaga non-kesehatan. Sarana prasarana juga belum sepenuhnya lerpenuhi. Metode berupa standar pisedur sudah disediakan dan pelaksanaarmya sudah dilakukan, terutama dikarenakan sedang dilakukan proses akreditasi RS oleh KARS. Tingkat efisiensi anggaran masih belum tercapai di seluruh rumah sakit. Pada aspek output berupa rasio pendapatan terhadap biaya operasional dan BOR masih kurang baik sedangkan kepuasan pasien terhadap seluruh rumah sakit sudah baik.

The performance of an organization can be assessed by evaluating the predetermined perfbrmarice indicators through structural approaches/inputs, processes, and outputs. This research is to measure service quality performance to 15 local government DKI Jakarta class D hospitals in 2016 covering input aspect: number of human resources, budget, infrastructure and standard process. process aspect: efficiency level and standard procedure implementation, and output aspect: The ratio of income to operating costs, BOR and patient satisfaction. The research method used is quantitative and qualitative to. Primary data was taken through in-depth interviews using questionnaires to 6 informants, while secondary data were taken from Dinkes DKIJakarta and Bappeda monev reports. This study shows that the number of human resources is still not sufficient, especially the number of pharmacists and non-health workers. Facilities have not been fully met. The method of standard procedure has been provided and the implementation has been done, mainly due to the process of accreditation of hospitals by KARS. 'Ihe level ofbudget efficiency has not been achieved in all hospitals. In the output aspect of the ratio of income to operational costs and BOR is still not good while patient satisfaction to all hospitals is good. "
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2017
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>