Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 115114 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Angela Jessica Stephanie
"Alat perangkap nyamuk berbasis fotokatalisis dalam penelitian ini menggunakan komposit TiO2-Activated Carbon (AC) dengan komposisi 15% AC. Studi yang dilakukan adalah mengenai faktor penarik nyamuk yaitu spektrum panas yang dihasilkan oleh proses rekombinasi serta CO2 dan udara lembab. Pengujian kinerja dilakukan untuk melihat kemampuan menangkap nyamuk yang dikaitkan dengan profil suhu udara di sekitar alat.
Hasil pengujian menunjukkan alat perangkap nyamuk berbasis fotokatalisis terbukti lebih efektif dibandingkan dengan alat perangkap yang hanya menggunakan lampu UV saja atau dialiri CO2 dan udara lembab. Hasil rekombinasi berupa spektrum panas memegang peranan penting dalam penarikan nyamuk ke alat perangkap.

Photocatalytic mosquito trap in this study using composit of TiO2-Activated Carbon (AC) with compositition 15% AC. Study concerns about heat spectrum which is produced by recombination process and CO2 and humid air. The purpose of performance testing is to observe capability of this device in trapping nosquito related to the air temperature profile.
Result shows photocatalytic mosquito trap is more effective than device which only consists of UV light or stream of CO2 and humid air. Recombination outcome, which is heat spectrum, plays important role in attracting mosquitos into the device.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S51742
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Rijal Ali Fikri
"Penggunaan obat nyamuk dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan, sehingga perlu dikembangkan alat perangkap nyamuk yang aman dan ramah lingkungan, yaitu alat perangkap nyamuk berbasis fotokatalisis. Alat perangkap nyamuk berbasis fotokatalisis dalam penelitian ini menggunakan komposit TiO2-Activated Carbon (AC) dengan komposisi tertentu.
Peningkatan kinerja alat perangkap nyamuk berbasis fotokatalisis dilakukan dengan penambahan gas CO2 dari proses fermentasi larutan gula dan dekomposisi NaHCO3.
Pengujian kinerja dilakukan untuk melihat kemampuan menangkap nyamuk yang dikaitkan dengan gas CO2 disekitar alat. Gas CO2 yang optimal diperoleh dari fermentasi 50 g gula.
Hasil pengujian menunjukkan penambahan gas CO2 dari proses fermentasi larutan gula pada alat terbukti lebih efektif 50-80 % dibandingkan dengan alat perangkap nyamuk tanpa CO2. Lokasi pengujian dan cara penempatan alat juga memberikan pengaruh dalam penarikan nyamuk.

The use of mosquito repellant can pose a danger to health, so it is necessary to develop a safe and environmentally friendly mosquito trap, which is photocatalytic mosquito trap. Photocatalytic mosquito trap in this study using composit of TiO2-Activated Carbon (AC) with certain composition.
Enhancement performance of photocatalytic mosquito trap using additional CO2 gas from fermentation sugar and decomposition of NaHCO3. T
he purpose of performance testing is to observe capability of this mosquito trap in trapping mosquito related CO2 gas. Fermentation 50 g sugar is the optimum result.
Result show photocatalytic mosquito trap with CO2 gas from fermentation sugar more effective 50-80% than device without CO2 mosquito trap. Location and placement of testing mosquito trap also give influence in attracting mosquitos into the device.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
S45480
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Catherine
"Alat yang efektif dalam menangkap nyamuk dan mendegradasi polutan udara ruang secara simultan telah dibuat. Pada penelitian ini, variasi yang dilakukan adalah komposisi fotokatalis - adsorben (titanium dioksida - karbon aktif) pada panel. Pengujian kinerja dilakukan untuk melihat kemampuan menangkap nyamuk dari jumlah nyamuk yang terdehidrasi, dan kemampuan mendegradasi polutan udara ruang berupa gas CO dan gas aseltaldehida. Hasil pengujian menunjukkan TiO2 : karbon aktif (85:15% berat) adalah komposisi yang paling optimum dengan peningkatan jumlah nyamuk pada 2 tempat pengujian yang diperoleh hingga 4 - 5 kali dibandingkan dengan TiO2 tanpa penambahan karbon aktif. Komposisi 85:15% berat mampu mendegradasi gas asetaldehida dengan optimal hingga 82%.

An effective device in catching mosquitoes and degrade indoor air pollutants simultaneously has been created. The variation in this research is the composition photocatalyst - adsorbent (titanium dioxide ' activated carbon) in the panel. Performance test has been done to see the ability of device to catch the mosquitoes and to degrade indoor air pollutants (CO and acetaldehyde in gas phase). The results showed that the composition of TiO2 : activated carbon (85:15% weight) is the most optimum by the increases of mosquito numbers in two testing place until 4 - 5 times compared with TiO2 no addition of activated carbon. The composition of 85:15% wt applies the optimum degradation of acetaldehyde gas up to 82%."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
S51685
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Sylvia Yusim
"Alat perangkap nyamuk dengan bentuk unik yang juga berfungsi sebagai alat purifikasi udara ruang telah dirancang di dalam penelitian ini. Secara umum, alat ini terdiri dari lampu UV, panel berbahan aluminium, dan kipas penyedot. Panel aluminium dilapisi dengan kombinasi fotokatalis TiO2 dan adsorben karbon aktif AC melalui metode penyemprotan.
Hasil pengujian kinerja alat dalam menangkap nyamuk menunjukkan bahwa panel yang dilapisi fotokatalis jauh lebih efektif dalam menarik nyamuk dibandingkan panel yang tidak dilapisi fotokatalis. Dalam mendegradasi dua model polutan udara ruang yakni gas toluena dan asetaldehida, panel yang berlapis TiO2-AC lebih efektif dibandingkan dengan panel tanpa karbon aktif. Kombinasi proses yang mengintegrasikan adsorpsi dan fotokatalisis sangat menjanjikan untuk diterapkan pada alat perangkap nyamuk fungsi ganda ini.

Unique mosquito trap device which also have air purifier function has been constructed. Basically, the device consists of UV lamps, aluminum panel, and suction fan. The composite of TiO2 photocatalyst and activated carbon (AC) adsorbent were coated to panel by spray coating method.
Results show that panel coated by photocatalyst is more effective in trap the mosquitoes compare to uncoated panel. Removal of two models of indoor organic pollutant, toluene and acetaldehyde, is also more effective when using TiO2-AC as panel compare to TiO2 panel only.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
S52223
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Haekal Ariq
"ABSTRACT
Nyamuk merupakan vektor beberapa penyakit yang masih menjadi masalah di berbagai daerah Indonesia seperti Malaria, filariasis, dan demam dengue. Salah satu usaha untuk mengurangi penyebaran penyakit tersebut adalah dengan penggunaan perangkap nyamuk dewasa. Namun, efektivitas cara ini cenderung rendah. Salah satu cara untuk meningkatkan efektivitas perangkap adalah dengan mengoptimalkan atraktan, seperti CO­2. Penelitian untuk mengetahui efektivitas atraktan CO2 pada perangkap nyamuk dewasa Sunatrap termodifikasi telah dilakukan pada 27 rumah di Desa Pangkah, Kabupaten Tegal. Sembilan Sunatrap termodifikasi dengan larutan gula dan saccharomyces cerevisiae, gula dan Rhizopus oryzae, serta tanpa atraktan dibagikan ke 27 rumah tersebut untuk kemudian dilhat kemampuan menangkap nyamuknya setelah 7 hari. Hasil penelitian menunjukan spesies nyamuk yang tertangkap yaitu Aedes aegypti dan culex quinquefasciatus. Sunatrap dengan S. cerevisiae berhasil menangkap nyamuk sebanyak 142, Sunatrap dengan R. oryzae menangkap sebanyak 46, dan Sunatrap tanpa atraktan tidak menangkap nyamuk sama sekali. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa karbondioksida dari S. cerevisiae dan karbondioksida dari R. oryzae lebh efektf bandingkan sunatrap termodfiikasi tanpa atraktan (P=0.00), dan karbondioksida dari S. cerevisiae meningkatkan efektivitas Sunatrap termodifikasi secara signifikan dibandingkan R. oryzae (P=0.01).

ABSTRACT
Mosquitoes are vectors to a plethora diseases in Indonesia, such as Malaria, filariasis, and dengue fever. One of the ways to control the spread of the diseases is adult mosquito trap. However, the effectivity of said traps remain low. One of the ways to increase effecivity of the traps is to optimalize the attractant, such as CO2. This study evaluates the effectivity of CO2 attractant with modified sunatrap in 27 houses in Desa Pangkah, Kabupaten Tegal. Nine modified sunatrap with sugar and Saccharomyces cerevisiae solution, sugar and Rhizopus oryzae solution, and without attractant, are given to each of the 27 houses to have their effectivity evaluated after 7 days. Results shows species captured by the traps are Aedes aegypti and Culex quinquefasciatus. Traps with S. cerevisiae captured 142 mosquitoes, traps with R. oryzae captured 46 mosquitoes, while the control trap captured none.  It is concluded that carbondioxide from S. cerevisiae and R. oryzae significantly increases the effectivity of modified sunatrap without attractant (P=0.00) and the use of S. cerevisiae is more effective than the use of R. oryzae (P=0.01). "
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Haekal Ariq
"ABSTRAK
Nyamuk merupakan vektor beberapa penyakit yang masih menjadi masalah di berbagai daerah Indonesia seperti Malaria, filariasis, dan demam dengue. Salah satu usaha untuk mengurangi penyebaran penyakit tersebut adalah dengan penggunaan perangkap nyamuk dewasa. Namun, efektivitas cara ini cenderung rendah. Salah satu cara untuk meningkatkan efektivitas perangkap adalah dengan mengoptimalkan atraktan, seperti CO­2. Penelitian untuk mengetahui efektivitas atraktan CO2 pada perangkap nyamuk dewasa Sunatrap termodifikasi telah dilakukan pada 27 rumah di Desa Pangkah, Kabupaten Tegal. Sembilan Sunatrap termodifikasi dengan larutan gula dan Saccharomyces cerevisiae, gula dan Rhizopus oryzae, serta tanpa atraktan dibagikan ke 27 rumah tersebut untuk kemudian dilhat kemampuan menangkap nyamuknya setelah 7 hari. Hasil penelitian menunjukan spesies nyamuk yang tertangkap yaitu Aedes aegypti dan culex quinquefasciatus. Sunatrap dengan S. cerevisiae berhasil menangkap nyamuk sebanyak 142,  Sunatrap dengan R. oryzae menangkap sebanyak 46, dan Sunatrap tanpa atraktan tidak menangkap nyamuk sama sekali. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa karbondioksida dari S. cerevisiae dan karbondioksida dari R. oryzae lebh efektf bandingkan sunatrap termodfiikasi tanpa atraktan (P=0.00), dan karbondioksida dari S. cerevisiae meningkatkan efektivitas Sunatrap termodifikasi secara signifikan dibandingkan R. oryzae (P=0,01).

ABSTRACT
Mosquitoes are vectors to a plethora diseases in Indonesia, such as Malaria, filariasis, and dengue fever. One of the ways to control the spread of the diseases is adult mosquito trap. However, the effectivity of said traps remain low. One of the ways to increase effecivity of the traps is to optimalize the attractant, such as CO­­2. This study evaluates the effectivity of CO2 attractant with modified sunatrap in 27 houses in Desa Pangkah, Kabupaten Tegal. Nine modified sunatrap with sugar and Saccharomyces cerevisiae solution, sugar and Rhizopus oryzae solution, and without attractant, are given to each of the 27 houses to have their effectivity evaluated after 7 days. Results shows species captured by the traps are Aedes aegypti and Culex quinquefasciatus. Traps with S. cerevisiae captured 142 mosquitoes, traps with R. oryzae captured 46 mosquitoes, while the control trap captured none.  It is concluded that carbondioxide from S. cerevisiae and R. oryzae significantly increases the effectivity of modified sunatrap without attractant (P=0.00) and the use of S. cerevisiae is more effective than the use of R. oryzae (P=0.01)."
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wahid Hartiyoko
"Kebutuhan manusia akan suatu alat pendukung kesehatan atau pencegah penyakit semakin meningkat seiring dengan berkembangnya teknologi. Banyak upaya yang dilakukan untuk mencegah ataupun mengatasi suatu penyakit yang disebabkan oleh hewan, diantaranyanya adalah nyamuk. Pada penelitian ini akan dirancang alat pendeteksi dan pengusir hewan dengan menggunakan sensor yaitu sensor ultrasonik yang dilengkapi dengan rangkaian osilator. Sensor ultrasonik ini mampu menangkap sinyal dengan frekuensi 40 kHz. Jangkauan frekuensi tersebut mampu mendeteksi adanya pergerakan nyamuk yang rata-rata rentang frekuensi pendengaran lebih kecil dari 40 kHz. Alat ini tersusun dari rangkaian penguat, filter dan osilator LC Tipe Colpitts. Rangkaian osilator adalah suatu rangkaian elektronik yang dapat menghasilkan osilasi tanpa diberikan sinyal secara eksternal. Sinyal tersebut timbul karena adanya noise pada setiap komponen yang digunakan. Osilasi tersebut timbul juga karena adanya rangkaian resonator yang menyebabkan sinyal tersebut beresonansi dan amplifier yang menguatkan sinyal tersebut sehingga tidak teredam. Osilator yang digunakan adalah jenis LC dimana rangkaian penyusun resonatornya yaitu induktor dan kapasitor. Dengan mengubah nilai kapasitansi pada resonatornya, maka frekuensi osilasinya akan berubah. Perubahan frekuensi terhadap perubahan nilai komponen kapasitor tersebut akan dijadikan sebagai karakteristik sensor kapasitif Osilator yang digunakan yaitu tipe Colpitts. Dari hasil penelitian, didapat bahwa nyamuk dapat dideteksi pada rentang frekuensi 470,3 Hz dan diusir pada frekuensi sinyal yang dibangkitkan mulai dari 26 kHz.

Human need for a tool to support health or prevention of this disease increases with technological development. Efforts are made to prevent or treat diseases caused by animals, such as the mosquitoes. In this study will be designed detectors and animal repellent by using ultrasonic sensors that are equipped with an oscillator circuit. This ultrasonic sensor is capable of capturing the signal with a frequency of 40 kHz. The frequency range can detect any movement of mosquitoes frequency range of the average hearing loss less than 40 kHz. This device consists of a series of amplifiers, filters and oscillators Colpitts LC type. Oscillator circuit is an electronic circuit that can produce oscillations without external signal is provided. The signal arises because the noise on each component used. These oscillations arise because the series resonator that resonates and causes a signal amplifier that amplifies the signal so it is not damped. Oscillator used is the type of LC in which a series of constituents its resonator are inductors and capacitors. By changing the capacitance value in the resonator, then the oscillation frequency will change. Frequency of changes of changes in component values of capacitors will be used as a characteristic of the oscillator used capacitive sensors Colpitts type. From the study, found that mosquitoes can be detected in the frequency range of 470,3 Hz and expelled at the signal frequency was raised from 26 kHz."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
S42876
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Aditya Setya Budi
"ABSTRAK
Nyamuk Aedes aegypti, vektor utama virus demam berdarah dan demam kuning, adalahspesies antropofilik yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan perkotaan, terutama perumahan. Faktor yang menentukan dalam proliferasi spesies ini adalah suhulingkungan yang memiliki pengaruh langsung pada siklus hidup spesies ini. Di sini disajikanmodel matriks proyeksi populasi untuk menganalisis pengaruh suhu pada populasinyamuk Aedes aegypti. Model ini disusun mengikuti empat tahapan metamorfosis nyamuk,yaitu telur, larva, pupa dan nyamuk dewasa. Satu kumpulan matriks proyeksi populasi satu untuk setiap suhu antara 5 sampai dengan 30 C dibangun dan dimodelkandengan parameter yang merupakan fungsi dari rata-rata suhu harian. Output dari modelmenunjukkan bahwa tahap pupa tidak terjadi pada suhu di bawah 8 C. Tingkat pertumbuhanpopulasi yang dihitung untuk suhu antara 12 sampai dengan 30 C, menghasilkanfungsi naik yang menunjukkan bahwa suhu di atas 12 C merupakan suhu yang cukupbagi pertumbuhan populasi nyamuk. Berdasarkan hasil simulasi menggunakan model ini,diperoleh kesimpulan bahwa untuk mengurangi kelimpahan nyamuk Aedes aegypti haruslahdengan cara menurunkan probabilitas kelangsungan hidup di tahap telur dan larva.

ABSTRACT>/b>
Aedes aegypti, the principal vector of dengue and yellow fever viruses, is an anthropophilicspecies adapted to urban environments, particularly to housing. A decisivefactor in the poliferation of this species is ambient temperature, which has a directinfluence on the vital rate of the species. Here we present a population projection matrixfor analyzing the effect of temperature on the population of Aedes aegypti. The modelis structured following four stages of mosquitos metamorphosis egg, larva, pupa andadult. A set of population projection matrices one for each temperature between 5 and30 C was constructed and modeled with parameters that are function of the averagedaily temperature. The output of the models showed that pupation does not occur attemperatures below 8 C. The populations growth rate was calculated for temperaturesbetween 12 and 30 C, resulting in an increasing function showing that temperaturesabove 12 C are sufficient for population growth. Based on the simulation results usingthis model, it is concluded that to reduce the abundance of the mosquito Aedes aegyptimust be by reducing the probability of survival in the egg and larval stages."
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Panjaitan, Lidya
"Kebutuhan manusia akan suatu alat pendukung kesehatan atau pencegah penyakit semakin meningkat seiring dengan berkembangnya teknologi. Banyak upaya yang dilakukan untuk mencegah ataupun mengatasi suatu penyakit yang disebabkan oleh binatang, diantaranyanya adalah kecoa dan nyamuk. Pada penelitian ini akan dirancang alat pendeteksi dan pengusir binatang dengan menggunakan sensor yaitu sensor ultrasonik yang dilengkapi dengan rangkaian osilator. Sensor ultrasonik ini mampu menangkap sinyal dengan frekuensi 40 kHz. Jangkauan frekuensi tersebut mampu mendeteksi adanya pergerakan kecoa atau nyamuk yang rata-rata rentang frekuensi pendengaran lebih kecil dari 40 kHz. Alat ini tersusun dari rangkaian penguat, filter dan osilator LC Tipe Colpitts. Rangkaian osilator adalah suatu rangkaian elektronik yang dapat menghasilkan osilasi tanpa diberikan sinyal secara eksternal. Sinyal tersebut timbul karena adanya noi se pada setiap komponen yang digunakan. Osilasi tersebut timbul juga karena adanya rangkaian resonator yang menyebabkan sinyal tersebut beresonansi dan amplifier yang menguatkan sinyal tersebut sehingga tidak teredam. Osilator yang digunakan adalah jenis LC dimana rangkaian penyusun resonatornya yaitu induktor dan kapasitor. Dengan mengubah nilai kapasitansi pada resonatornya, maka frekuensi osilasinya akan berubah. Perubahan frekuensi terhadap perubahan nilai komponen kapasitor tersebut akan dijadikan sebagai karakteristik sensor kapasitif Osilator yang digunakan yaitu tipe Colpitts. Dari hasil penelitian, didapat bahwa kecoa dapat dideteksi pada rentang frekuensi 249,1 ± 850 Hz dan pada frekuensi sinyal yang dibangkitkan mulai dari 67,53 kHz dapat mengganggu indera kecoa. Sedangkan untuk nyamuk, didapat bahwa nyamuk dapat dideteksi pada rentang frekuensi 237,9 ± 724 Hz dan diusir pada frekuensi sinyal yang dibangkitkan mulai dari 48,44 kHz.

Human need for a tool to support health or prevention of this disease increases with technological development. Efforts are made to prevent or treat diseases caused by animals, such as the cockroaches and mosquitoes. In this study will be designed detectors and animal repellent by using ultrasonic sensors that are equipped with an oscillator circuit. This ultrasonic sensor is capable of capturing the signal with a frequency of 40 kHz. The frequency range can detect any movement of cockroaches or mosquitoes frequency range of the average hearing loss less than 40 kHz. This device consists of a series of amplifiers, filters and oscillators Colpitts LC type. Oscillator circuit is an electronic circuit that can produce oscillations without external signal is provided. The signal arises because the noise on each component used. These oscillations arise because the series resonator that resonates and causes a signal amplifier that amplifies the signal so it is not damped. Oscillator used is the type of LC in which a series of constituents its resonator are inductors and capacitors. By changing the capacitance value in the resonator, then the oscillation frequency will change. Frequency of changes of changes in component values of capacitors will be used as a characteristic of the oscillator used capacitive sensors Colpitts type. From the study, found that cockroaches can be detected in the frequency range of 249.1 to 850 Hz and the frequency signal generated from the 67.53 kHz may interfere with the sense of cockroaches. As for mosquitoes, found that mosquitoes can be detected in the frequency range of 237.9 to 724 Hz and expelled at the signal frequency was raised from 48.44 kHz. "
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2011
S905
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ibrohim Hanifa
"ABSTRAK
Dalam penelitian ini telah dirancang instrumentasi yang diharapkan mampu mendeteksi keberadaan nyamuk kemudian mengusirnya secara otomatis. Rancangan yang dibuat terdiri dari tiga buah sub-rangkaian yang terdiri dari rangkaian receier, controller, dan transmitter. Rangkaian receiver yang dipergunakan untuk mendeteksi keberadaan nyamuk tersusun atas rangkaian microphone sebagai sensor suara, band pass filter sebagai penyaring frekuensi, dan amplifier sebagai penguat. Selanjutnya rangkain transmitter yang digunakan sebagai pengusir nyamuk terdiri dari rangkaian osilator kristal sebagai penghasil frekuensi osilasi yang stabil dan buzzer sebagai aktuator yang merubah besaran listrik menjadi besaran fisika berupa suara. Kemudian dibutuhkan rangkaian controller sebagai pengendali yang mengendalikan kerja alat agar dapat berfungsi secara otomatis, terdiri dari rangkaian komparator sebagai pembanding tegangan dan relay sebagai saklar listrik yang bertugas menjadi saklar osilator dengan catu daya. Alat ini akan bekerja menghasilkan frekuensi 39 kHz saat bagian receiver mendapatkan frekuensi pada rentang 300 ndash; 700 kHz. Alat ini diharapkan dapa menjadi solusi yang efektif dalam mengusir nyamuk di masa depan.

ABSTRAK
In this research has been designed instrumentation that is expected to detect the presence of mosquitoes and then drive it automatically. This designed instrumentation is consisted of three sub circuits with a series of each receivers, controllers, and transmitters. The series of receivers, that will be used to detect the presence of mosquitoes, composed of microphone series as sound sensors, band pass filters as frequency filters, and amplifiers as amplifiers. Furthermore, a series of transmitters, as mosquito repellent, consisted of crystal oscillator circuit as a stable oscillation frequency generator and buzzer as an actuator that converts electrical quantities into physical quantities of sound. Then, the controller circuit is needed to control the work of the tool in order to function automatically. it consisted of a comparator voltage circuit and relay as an electrical switch in charge of an oscillator switch with a power supply. This tool will work to generate frequency 39 kHz when the receiver gets frequency in the range 300 700 kHz. This tool is expected to be an effective solution in expelling mosquitoes in the future. "
2017
S67090
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>