Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ondjaki
Lisboa: Caminho, 2004
POR 869.53 OND q
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Saramago, Jose
Lisboa: Caminho, 2006
POR 869.52 SAR n
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Lourenco, Eduardo
Lisboa: Gradiva, 2007
R 196.9 LOU a
Buku Referensi  Universitas Indonesia Library
cover
Adeline Clarissa
"Latar Belakang : Penambahan fluor ke dalam proses PILP memiliki potensi meningkatkan remineralisasi intrafibril dan ekstrafibril kolagen dentin. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan fluor dalam proses PILP terhadap remineralisasi intrafibril dan ekstrafibril kolagen dentin. Metode : 8 sampel blok dentin dibagi ke dalam 4 kelompok: Kelompok 1 demineralized dentin sebagai kontrol, kelompok 2 demineralized dentin disimpan dalam larutan remineralisasi PILP yang ditambahkan fluor 5 ppm, kelompok 3 demineralized dentin disimpan dalam larutan remineralisasi PILP yang ditambahkan fluor 25 ppm, kelompok 4 demineralized dentin disimpan dalam larutan remineralisasi PILP tanpa fluor (0 ppm) Kemudian seluruh sampel disimpan dalam shaking incubator pada suhu 37°C selama 14 hari. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan dengan TEM/SAED untuk melihat remineralisasi intrafibril dan ekstrafibril kolagen dentin dan kristalinitas kristal yang dihasilkan. Hasil : Terjadi remineralisasi intrafibril dan ekstrafibril kolagen dentin pada kelompok perlakuan 2, 3, dan 4. Remineralisasi intrafibril dan ekstrafibril terlihat paling padat pada kelompok 2. Terdapat perbedaan kristalinitas kristal di antara kelompok 1, 2, 3, dan 4. Kesimpulan: Penambahan fluor 5 ppm ke dalam proses PILP menghasilkan remineralisasi intrafibril dan ekstrafibril kolagen dentin. Remineralisasi yang dihasilkan berupa kristal apatit dengan tingkat kristalinitas yang padat.

Background: Fluoride addition into PILP process has the potential to increase intrafibrillar and extrafibrillar dentin collagen remineralization. Objective: This research aim to evaluate the influence of fluoride addition into PILP process towards intrafibrillar and extrafibrillar dentin collagen remineralization. Methods: 8 dentin blocks were divided into 4 sample groups. Group 1 (demineralized dentin) as control group, group 2 is demineralized dentin that were soaked in PILP process with 5 ppm fluoride addition, group 3 is demineralized dentin that were soaked in PILP process with 25 ppm fluoride addition, and group 4 is demineralized dentin that were soaked in PILP process with no fluor (0 ppm) addition. All of the samples were incubated in shaking incubator at 37o C for 14 days. Result: Intrafibrillar and extrafibrillar dentin collagen remineralization occurred in group 2, 3, and 4. The most dense intrafibrillar and extrafibrillar dentin collagen remineralization was seen in group 2. There are differences of crystal's crystallinity between group 1, 2, 3, and 4. Conclusion: 5 ppm fluoride addition into PILP process produced intrafibrillar and extrafibrillar dentin collagen remineralization. The remineralization were consisted by high-density apatite crystals."
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2019
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Qurrotainun, Mardiyyah Ahmad
"Pendahuluan: Salah satu faktor virulensi utama yang mempengaruhi perubahan Candida albicans(C. albicans) dari flora komensal menjadi patogen adalah pembentukan biofilm. Pada biofilm fase maturasi, C. albicansmenjadi lebih resisten terhadap agen antifungal. Telah dibuktikan efek inhibisi ekstrak etanol temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) terhadap pertumbuhan biofilm C. albicans.
Tujuan: Menganalisis gambaran TEM sel C. albicans ATCC 10231pada biofilm fase maturasi yang terinhibisi ekstrak etanol temulawak (EET).
Metode: Penelitian ini dibagi dua kelompok yaitu kelompok perlakuan dan tanpa perlakuan. Sebanyak 100μL suspensi C. albicans ATCC 10231dalam 96-well-plate diinkubasi selama 1.5 jam pada 370C,kemudian diaspirasi dan dibilas menggunakan PBS. Pada kelompok perlakuan dipapar 100μLEET dengan konsentrasi KHBM50(35%), sedangkan kelompok tanpa perlakuan tidak dipapar EET. Kedua kelompok di inkubasi kembali hingga 48 jam, kemudian dipindahkan ke Eppendorf tube untuk difiksasi dalam 2.5% glutaraldehyde dan dilakukan pemeriksaan TEM. Kontrol positif dipapar nystatin oral suspension.
Hasil: Pemeriksaan TEM pada kelompok perlakuan, sel C. albicansATCC 10231 pada biofilm fase maturasi yang terpapar ekstrak etanol temulawak terlihat perubahan gambaran ultrastruktur yang berupa perubahan bentuk sel, penebalan dinding sel, pembesaran vakuola, dan iregularitas sitoplasma berikut organel-organel di dalamnya seperti disorganisasi pada nukleus, mitokondria, dan retikulum endoplasma. Sedangkan pada kelompok tanpa perlakuan menunjukan gambaran sel C. albicans ATCC 10231 normal.
Kesimpulan: Pemeriksaan TEM dapat menunjukkan perubahan sel C. albicans ATCC 10231 pada biofilm fase maturasi yang terinhibisi ekstrak etanol temulawak.

Introduction: One of main virulence factor that influence the alteration of Candida albicans (C. albicans) from commensal flora into pathogenic flora is biofilm formation. At the maturation phase, C. albicans ismore resistant to antifungal agent. It has been proven that there is an inhibition effect of Javanese turmeric (Curcuma xanthorrhiza Roxb) on the growth of C. albicans biofilm.
Objective: To analyze the TEM image of C. albicans cell on the maturation phase of biofilm inhibit by Javanese turmeric ethanol extract.
Method: This research divided into two groups, there were treated group and untreated group. A 100μLC. albicans ATCC 10231 suspension on a 96-well-plate incubated for 1.5 hour at 370C, and then aspirated and washed by phosphate buffer saline (PBS). The treated group was exposed to 100μL Javanese turmeric ethanol extract as MBIC50 concentration (35%), while the untreated group was not exposed to Javanese turmeric ethanol extract. Both groups were incubated until 48 h, and then moved into the Eppendorf tube and fixed with glutaraldehyde 2.5% to examine using TEM. The positive control was exposed to nystatin oral suspension.
Result: Compared to the negative control, C. albicans cell on biofilm maturation phase treated by Javanese turmeric extract ethanol extract shows the alteration on the its ultra structure. The alteration showed in shape, the thickness of cell wall, the enlargement of vacuole, and irregularity of cytoplasm include the organelles in it such as disorganization on nucleus, cytoplasm, and endoplasmic reticulum.
Conclusion: TEM examination showed the alteration of C. albicans ATCC 10231 cell on maturation phase biofilm inhibited by Javanese turmeric ethanol extract.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Allesandra Fitri Aryani
"Pendahuluan: Perubahan sistem pertahanan pejamu atau kondisi rongga mulut dapat menyebabkan infeksi Candida albicans (C. albicans) yang disebut kandidiasis oral. Xanthorrhizol adalah komponen aktif Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) yang memiliki efek antijamur. Gambar Scanning Electron Microscope (SEM) sel C. albicans yang terpapar xanthorrhizol menunjukkan penonjolan sitoplasma dan adhesi antar sel. Tidak diketahui bagaimana perubahan ultrastruktural pada sel C. albicans. Tujuan: Menggunakan TEM untuk menganalisis perubahan ultrastruktur sel C. albicans pada biofilm fase pematangan pasca-inhibisi dengan Ekstrak Etanol Temulawak (EET). Metode: Biofilm C. albicans ATCC 10231 yang ditumbuhkan pada kawat selama 1,5 jam dihambat dengan 25% EET selama 48 jam. Kelompok kontrol positif tidak diberi nistatin sedangkan kelompok kontrol negatif tidak diberi apa-apa. Sampel difiksasi dengan 2,5% glutaraldehid, didehidrasi dengan etanol, dan dibenamkan dalam resin spurr sebelum diamati dengan TEM. Hasil: Terlihat distorsi dinding sel, membran plasma, dan organel serta invaginasi membran plasma. Kesimpulan: Penghambatan biofilm C. albicans ATCC 10231 oleh 25% EET menyebabkan kerusakan pada ultrastruktur sel C. albicans ATCC 10231.

Changes of hosts defense system or oral condition causing infection of Candida albicans (C. albicans) is called oral candidiasis. Xanthorrhizol is an active component of javanese turmeric (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) which has antifungal effect. C. albicans cells Scanning Electron Microscope (SEM) image exposed to xanthorrhizol showed cytoplasm protrusion and clumping. The ultrastructure changes inside the C. albicans cell is not known yet. Objective: Using TEM to analyse the ultrastructure image of C. albicans ATCC 10231 cells in maturation phase of biofilm inhibited by 25% EET. Methods: C. albicans ATCC 10231 biofilm which had been cultured on wire for 1.5 hours was inhibited by 25% EET. Group of positive control was exposed by nystatin whereas group of negative control was exposed to nothing. Sampel was being fixated with glutaraldehyde 2.5%, dehydrathed by ethanol, and embedded inside spurrs resin before being observed with TEM. Results: Cell wall, plasma membrane, and organelles distortion, along with plasma membrane invagination. Conclusion: C. albicans ATCC 10231 biofilm inhibition with 25% EET caused damages in C. albicans ATCC 10231 cells ultrastructure."
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library