Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 141263 dokumen yang sesuai dengan query
cover
cover
Sidauruk, Ferry
"Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan sebuah metode peningkatan proses bisnis, yang disebut Model-based and Integrated Process Improvement(MIPI), yang diciptakan oleh Sola Adesola dan Tim Baines. Meskipun telah banyak dikenalkan metode peningkatan proses bisnis, para praktisi menemukan banyak kendala saat menerapkan metode-metode tersebut. MIPI merupakan sebuah panduan yang holistik, terstruktur dan prosedural untuk meningkatkan proses bisnis. Implementasi MIPI diharapkan dapat memenuhi persyaratan pelanggan, dan juga untuk mencapai efisiensi dan efektifitas bisnis untuk dapat bersaing dalam pasar dewasa ini, yang dinamis dan kompetitif.
Metode MIPI dikembangkan dengan meninjau dan menganalisa metodologi yang telah ada dan memilih kerangka-kerangka yang terdapat pada indikator kinerja kunci (KPI). Dengan penerapan MIPI, industri tidak hanya dapat mengidentifikasi aktifitas yang tidak memberikan nilai tambah pada proses, tetapi juga dapat mensejajarkan pada visi dan misi organisasi. Dengan demikian, para praktisi menerapkan langkah-langkah terstruktur yang konsisten dan efisien saat digunakan dalam peningkatan proses bisnis.
Studi kasus dilaksanakan pada sebuah unit perakitan kartu seluler yang mengidentifikasi kebutuhan bisnis dan masalah-masalah menggunakan diagram Pareto menunjukkan ?barcode tidak terbaca oleh alat pemindai? adalah peringkat teratas (33.41%). Pemetaan proses ?as-is?juga diadakan untuk menggambarkan proses bisnis yang ada. Dengan menggunakan diagram sebab-akibat (Diagram tulang ikan) dan analisa Failure Mode and Effect Analysis (FMEA), dapat diidentifikasi masalah utama adalah ?kurangnya level tinta pada tabung mesin? (angka Risk Priority Number: 125). Rencana tindakan dituangkan ke dalam sebuah matriks, yang disebut Performance Improvement Matrix (PIM) sebagai sebuah roadmap untuk rencana peningkatan proses.
Pada akhir penelitian ini, dilakukan perbandingan sebelum dan sesudah implementasi MIPI pada indikator kinerja operasional, seperti: keluhan pelanggan, volume produksi, produk grade ?A?, produk rework, produk reject, material waste, produktifitas staf, angka kecelakaan kerja, dan ketepatan waktu pengiriman barang.

This research aims to implement a process business improvement methodology, called the Model-based and Integrated Process Improvement (MIPI), created by Sola Adesola and Tim Baines. Although there are many methods have been developed, practitioner still found difficulties when implementing the methods. MIPI shows a holistic, structured and procedural guidance for improving business processes. MIPI implementation is expected not only to meet the customer requirement, but also to run business effectively and efficiently in order to compete in nowadays dynamic and competitive market.
MIPI is developed by reviewing and analysing current methodologies and selecting a few frameworks against key performance indicators. Through implementing MIPI methodology, industry is not only can identify non value added activities in their processes but also can align to its organization vision and mision. Hence, practitioners can have structured steps which are consistent and efficient when improving business process.
The case study was taken on a unit of celuller card assembly which identified business needs and problem areas using Pareto chart shows that ?unreadable barcodes by scanning devices? is the highest rank (33.41%). As-is process mapping was also conducted to capture current business process architecture. Using the Cause and Effect Diagram (Fishbone Diagram) the and Failure Mode and Effect Analysis (FMEA), the organization can identify that ?lack of ink level on the assembly machine? is the main problem (Risk Priority Number : 125). Action plan created in to a matrix, called the Performance Improvement Matrix (PIM) as a roadmap for process improvement plan.
At the end of this research was conducted an operational performances benchmark pertaining before and after implementing MIPI method in the organisation, such as: customer complaint, production volume, grade ?A? product, rework products, rejected products, waste of raw materials, employee productivity, occurance of accident on work, and on time delivery rate.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
T31217
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Agus Wahyudi
"Pemeliharaan adalah kegiatan untuk mempertahankan kondisi suatu aset seperti kondisi ketika aset tersebut diciptakan. Selama ini pemeliharaan selalu menjadi warga kelas dua dalam industri. Bagaimana jika pemeliharaan ini menjadi salah satu proses inti dalam suatu jenis industri? Salah satu jenis industri ini adalah industri penyewaan infrastruktur BTS. PT. X adalah perusahaan yang bergerak dalam industri jenis ini. Untuk dapat bertahan dalam persaingan yang sangat ketat, maka PT. X mau tak mau harus terus menerus memperbaiki layanan pemeliharan yang ditawarkan kepada konsumen. Salah satunya dengan melakukan perbaikan proses bisnis. Perbaikan proses bisnis menjadi bahasan dalam penelitian ini. Penelitian bertujuan untuk mengusulkan perbaikan proses bisnis yang terjadi di departemen maintenance PT.X. Caranya dengan melakukan pemetaan proses bisnis sederhana terhadap proses yang terjadi di maintenance, melakukan analisis, dan mendesain ulang proses menggunakan rekayasa ulang proses bisnis atau atau simplifikasi proses. Penggunaan simplifikasi atau rekayasa ini dilakukan sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Tiga proses utama dalam Departemen maintenance adalah penanganan keluhan pelanggan, pemeliharaan rutin, dan pemeliharaan perbaikan. Melalui pareto chart masalah ditemukan bahwa masalah utama pada proses pemeliharaan perbaikan dan penanganan komplain adalah kehilangan grounding. Kemudian dilakukan desain ulang proses yang ditekankan untuk mengurangi waktu siklus penanganan kecurian grounding pada kedua proses. Hasilnya pada proses pemeliharaan perbaikan terdapat penurunan waktu penyelesaian masalah sampai sebesar 49% dari waktu siklus awal dan pada proses penanganan komplain penurunan mencapai 29% dari waktu siklus awal. Pemeliharaan rutin sendiri tidak memerlukan perbaikan karena mempunyai pencapaian proses yang baik.

Maintenance is an activity to maintain condition of an asset as it was build. For all decades, maintenance is often treated as ?second class citizen? in Industry. How if maintenance become one of the core process in one of industry? We can make sure that only company that provides superior maintenance is left. BTS infrastructure provider is one of this type of industry. PT.X is a company that runs in this type or industry. To survive in the competition, PT. X must improve their maintenance service provide for their customer. One of many ways is with doing business process improvement. Business process improvement is main theme in this research, while the aims is to propose Improvement in Business Process in Maintenance Department of PT.X by conducting business process mapping, analyze that map, and redesign the process using business process reengineering or simplification. The use of this methods (BPR) and simplification is based on company needs. Three main process in Maintenance Department are Complaint Handling, Routine maintenance, and corrective maintenance. According to the pareto chart, the main problem for complaint handling and corrective maintenance is grounding losses. This was the aim of improvement of the two processes. The result is there?s decrease in cycle time of complaint handling process by 29% and reducing corrective maintenance cycle time by 49%. Routine maintenance itself is needn?t any improvement of process because it is good enough in process achievement."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2007
S50272
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jaka Utama
"Peningkatan kualitas secara berkesinambungan adalah hal yang mutlak diperlukan untuk memenangkan persaingan industri. Asuransi sebagai industri jasa harus memberikan kualitas pelayanan yang baik dalam proses klaim kepada klien. Dengan menggunakan metode Lean Six Sigma yang merupakan kombinasi antara metodologi Lean Management dan Six Sigma, proses yang tidak menambah nilai di mata konsumen dapat teridentifikasi, serta variasi dari proses dapat diminimalisasi sehingga mengurangi cacat yang terdapat pada produk yang sampai kepada konsumen, dan biaya karena kualitas yang buruk dapat dikurangi.
Pada penelitian ini, penulis menggunakan metode Lean Six Sigma untuk meningkatkan kualitas proses klaim pada Perusahaan Asuransi PT.X. Sesuai dengan Customer Critical To Quality (CTQ), kecepatan proses merupakan kebutuhan yang paling penting dari proses klaim. Dari data yang telah dikumpulkan atas indikator kinerja proses, penulis beserta tim Six Sigma menganalisa atas akar permasalahan dengan menggunakan alat-alat statistik.
Akar permasalahan yang teridentifikasi sebagai permasalahan yang paling signifikan adalah jumlah staf klaim yang kurang, tidak adanya pihak yang mengingatkan bengkel untuk segera menerbitkan invoice atas jasa perbaikan, serta staf klaim yang tidak mudah untuk memantau status klaim. Usulan perbaikan yang diajukan berdasarkan analisa tersebut antara lain: penambahan jumlah staf klaim, pembuatan aplikasi berbasis web yang dapat memungkinkan staf klaim memantau status klaim secara rinci, serta monitor secara berkala terhadap proses yang dilakukan oleh bengkel rekanan.

Continuous quality improvement is absolutely required to win in the recent industry competition. Insurance industry as a service industry has to deliver good service quality in claim processing to the insured customers. Using Lean Six Sigma Methodology, which came from the combination of Lean Management and Six Sigma method, Non-Value Adding process can be identified, and the variation of process can be minimized. Therefore, the defect delivered to the customer can be minimized and the cost of poor quality could be reduced.
In this research, the author uses the Lean Six Sigma method to improve the claim process quality in PT X insurance company. Based on Customer Critical To Quality (CTQ), the short duration of processing is the most important need required. And by the data gathered based on the performance indicator, the author and Six Sigma team analyzed the root causes using statistical tools.
The root causes identified as significant causes of long time claim processing are inadequate claim staff quantity, no reminder function for invoice issuance, and the difficulty of claim staff to view the claim?s status. The recommendations proposed based on the analysis are the addition of claim staff, building an web-based application which enables claim department to view the detail of all claims status easily, and the last is monitoring and control periodically to the process done by the repairing shop partner.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2007
S50321
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Zulfikar Fauzi
"ABSTRAK
Formaldehida merupakan senyawa kimia yang digunakan pada industri perekat. PT X merupakan produsen formaldehida di Jawa Timur. Sistem pengendali proses yang digunakan di PT X masih berbasis proportional integral (PI). Pengendali konvensional ini masih memiliki kekurangan. Multivariable model predictive control (MMPC) diajukan untuk meningkatkan kinerja sistem pengendali pada PT X. Model empiris dibuat menggunakan process reaction curve (PRC) dan perhitungan parameter first order plus dead time (FOPDT). Empat manipulated variable (MV) dan empat controlled variable (CV) membentuk 16 model empiris. Perhitungan parameter MMPC, meliputi sample time (T), prediction horizon (P), control horizon (M), dilakukan dengan metode Shridhar dan Cooper (1998) dan dioptimalkan dengan metode fine tuning. Kinerja pengendalian MMPC diuji dengan perubahan set point (SP) dan ketahanan atas gangguan (disturbance rejection). Empat pengendali yang diuji, yaitu pengendali tekanan evaporator (PIC-101), pengendali liquid percent level evaporator (LIC-101), pengendali laju alir steam (FIC-102), dan pengendali suhu udara (TIC-101). Nilai parameter MMPC meliputi T, P, dan M yang optimal berturut turut adalah 3, 62, dan 2. Pengendali MMPC dapat memberikan peningkatan kinerja pengendalian pada uji SP tracking dengan rata rata sebesar 33,24% untuk IAE dan 42,93% untuk ISE. Sedangkan, pada uji disturbance rejection, terdapat peningkatan kinerja dengan rata-rata sebesar 33,48% untuk IAE dan 58,08% untuk ISE.

ABSTRACT
Formaldehyde is chemical substances that is used in adhesive industry. PT X is formaldehyde producer in East Java. PT X is using proportional integral based control system. This conventional controller has several weaknesses. Multivariable model predictive control (MMPC) is used to increase the performance of control system at PT X. Empirical model is made with process reaction curve (PRC) followed by first order plus dead time (FOPDT) calculation. Four manipulated variable (MV) and four controlled variable (CV) will construct 16 empirical models. Calculation of MMPC parameter, which include sample time (T), prediction horizon (P), and control horizon (M), is done with Shridhar and Cooper method (1998) and optimized by fine tuning method. Performance of MMPC is tested by set point changes and disturbance rejection. Four controllers tested are evaporator pressure control (PIC-101), liquid percent level control (LIC-101), steam flow control (FIC-102), and air temperature control (TIC-101). The optimized parameter of MMPC which include T, P, and M are 3, 62, and 2 respectively. MMPC Controller can increase controller performance in SP tracking with average number of 33.24% for IAE and 42.93% of ISE. Meanwhile, in disturbance rejection, there is an increase in average of 33.485 for IAE and 58.08% for ISE."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andry Arifin
"Penelitian ini fokus pada permasalahan dalam proses bisnis pembelian di industri jasa konstruksi yang disebabkan oleh harga barang dan/atau jasa tidak kompetitif, barang dan/atau jasa terlambat dibeli dan penawar potensial tidak ikut dalam proses pembelian yang berakar masalah pada proses pembelian yang tidak efektif dan efisien.
Metode yang dipakai dalam penelitian ini ada 2 yaitu Pena Aliran Amar
Fungsi (Cross Functional Flow Chart) untuk memetakan proses bisnis dan Metode Analisa Struktur Proses Bisnis untuk menganalisa hasil perbaikan proses bisnis pembelian tersebut.
Efisien dan Efektif merupakan parameter penilaian proses bisnis
tradisional, pengembangan yang dilakukan oleh Tjaden menghasilkan parameter statik yang dapat dipergunakan untuk mengukur hasil perbaikan proses bisnis. Parameter stalik tersebut adalah efisiensi siklus, tingkat kesederhanaan (Simplicity), tingkat integrasi (integration), dan tingkat fleksibilitas (flexibility).

This thesis focus in describing purchasing business process problems in
construction industry which is caused by not competitive price, procurement delay and potential bidder can not involve in purchasing process. All this problems are caused by in-effective and in-efficient purchasing business process in that industry.
Method which is used in this thesis can be divided in two stages, first by
using cross functional Ilow chart for mapping as-is purchasing business process and the second is using business process structural analysis to analyze the result of purchasing business process improvement.
Efficient and effective is the old parameter to analyze business process.
research by Tjaden has found static parameters which can be used to measure the result of business process improvement. These static parameters are cycles time efficiency. simplicity, integration and flexibility.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2005
T16134
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rini Padhilah
"Peningkatan persaingan dalam industri otomotif mengharuskan setiap perusahaan terus melakukan perbaikan terhadap proses bisnisnya untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas kinerja perusahaan. Aktifitas perbaikan dapat berjalan lancar apabila didukung oleh fasilitas yang memadai, salah satunya adalah fasilitas fisik pabrik. Production Engineering ( PE ) merupakan divisi yang ditugaskan untuk menangani proses pengadaan fasilitas fisik / bangunan di perusahaan otomotif tempat penelitian ini dilakukan.
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Metode dari Adesola dan Baines yang menyatakan bahwa terdapat 7 tahap untuk memperbaiki proses. Karena keterbatasan kewenangan, penelitian dilakukan hanya sampai tahap merancang ulang proses. Perbaikan dilakukan dengan menggunakan pemetaan lalu dilakukan analisa untuk mencari penyebab permasalahan.
Kesimpulannya adalah penyebab keterlambatan karena 63% proyek mengalami keterlambatan pada saat memulai pekerjaan ( project start ). Usulan perbaikan yang diberikan untuk mengurangi dan menghilangkan kelemahan kelemahan proses yang diperoleh dari analisa diagram sebab akibat dan aktifitas yang tidak menambah nilai. Dari hasil perhitungan waktu proses dengan menggunakan Igrafx diperoleh persentase pengurangannya sebesar 35%.

The increasing of competition in automotive industry has forced every company to do a business process improvement in order to achieve higher effective and efficient company process. That improvement will be running well and if supported by appropriate facilities, one of them is plant facilities. Production Engineering (PE) is the division which has a responsibility to ensure of building facility construction in the company where this research done.
The method that will be used for business process improvement in this project is Adesola and Baines methods. Based on this method, there are seven main steps to improve any process. Due to the role/responsible limitation, this project only done until re-designs the process step. Improvement is done by using mapping process and then analyzing process to find the root of problems.
After doing overall project, we can conclude that the delay in completion of supplying of building material happened since 63% delay of projects start. Improvement suggestion for this process are reduce and eliminate the weakness of process that found from caused and effect diagram and non value added analyze. By using calculation Igrafx software, the percentage reducing of cycle time after improvement is about 35%.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia;, 2009
S52322
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Sultan Shiddiqi Salman
"ABSTRAK
Formaldehida merupakan senyawa kimia yang populer dengan banyak kegunaan, dengan jumlah kebutuhan yang cenderung terus bertambah. PT X merupakan salah satu produsen formaldehida yang masih memiliki permasalahan terkait kapasitas produksinya. PT X masih menggunakan pengendali Proportional-Integral (PI) yang masih mempunyai ruang untuk peningkatan produksinya. Model Predictive Control (MPC) digunakan untuk mengoptimalisasikan parameter pengendalian proses produksi formaldehida di PT X. Model empiris dibuat untuk diterapkan pada pengendali MPC berdasarkan Process Reaction Curve (PRC) dengan menggunakan pendekatan First Order Plus Dead Time (FOPDT). Kinerja pengendali diuji menggunakan set point (SP) tracking dan disturbance rejection. Ada empat pengendali yang diuji, yaitu pengendali laju alir steam (FIC-102), pengendali temperatur udara (TIC-101), pengendali level evaporator (LIC-101), dan pengendali tekanan evaporator (PIC-101). Didapatkan hasil model empirik FOPDT untuk masing-masing pengendali, dengan nilai parameter pengendalian Prediction Horizon (P), Control Horizon (M), dan Sampling Time (T) yang optimal secara berurutan: (1, 2, dan 1) pada FIC-102, (62, 21, dan 1) pada TIC-101, (50, 10, dan 6) pada PIC-101, dan (70, 21, dan13) untuk LIC-101. Terjadi perbaikan kinerja berdasarkan uji perubahan nilai set point baik dihitung melalui IAE maupun ISE sebesar 26,9% dan 8,03% untuk FIC-102, 15,37% dan 32,51% untuk TIC-101, 13,37% dan 25,9% pada PIC-101, serta 23,35% dan 6,71% pada LIC-101. Pada uji disturbance rejection juga terjadi perbaikan kinerja baik dihitung melalui IAE maupun ISE sebesar 96,4% dam 99.74% untuk FIC-102, 13,37% dan 25,9% untuk TIC-101, 54,25% dan 76,67% pada PIC-101, serta 15,96% dan 4,4% pada LIC-101.

ABSTRACT
Formaldehyde is a chemical compound known for its many uses, with the increase of its demand. PT X is one of the producers of formaldehyde that has problems related to its production capacity. PT X right now still uses Proportional-Integral (PI) that still have rooms of improvements. Model Predictive Control (MPC) is used to optimize the process control parameters of formaldehyde production in PT X. The empirical model is made for the MPC based on the Process Reaction Curve (PRC) using First Order Plus Dead Time (FOPDT). The control performance is tested using set point (SP) tracking and disturbance rejection. There are four controls that were tested, which are steam flow control (FIC-102), air temperature control (TIC-101), evaporator level control (LIC-101), and evaporator pressure control (PIC-101). Thus, the results of the empirical FOPDT model for each control is obtained, with the value of Prediction Horizon (P), Control Horizon (M), and Sampling Time (T) parameters are optimal and its value respectively are: (1, 2, and 1) for FIC-102 , (62, 21, and 1) for TIC-101, (50, 10, and 6) for PIC-101, and (70, 21, and 13) for LIC-101. The performance improvement based on the set point change test calculated through the IAE and ISE are 26.9% and 8.03% for FIC-102, 15.37% and 32.51% for TIC-101, 13.37% and 25, 9% for PIC-101, and 23.35% and 6.71% for LIC-101. Based on the disturbance rejection test it is also improvements on the performance both calculated through the IAE and ISE of 96.4% and 99.74% for FIC-102, 13.37% and 25.9% for TIC-101, 54.25% and 76.67% for PIC-101, and 15,96% and 4.4% on the LIC-101."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nurhayati
"Gas alam mentah ada di reservoir pada suhu dan tekanan tertentu. Dalam rangka untuk memenuhi spesifikasi kontrak penjualan gas (sales gas), komposisi gas alam menjadi faktor yang mempengaruhi kualitas gas alam. Kadar air dalam gas hasil produksi harus memenuhi spesifikasi pada kontrak yaitu tidak boleh melebihi 10 lb/MMSCF. Gas alam yang ada di Lapangan S masih mengandung banyak kadar air yaitu 13-36 lb/MMSCF; bahkan ada yang sampai 220 lb/MMSCF. Oleh karena itu, perlu dilakukan penurunan kadar air. Pada penelitian ini dilakukan simulasi dehidrasi gas menggunakan Tri Ethylene Glycol (TEG) untuk memperoleh kadar air yang sesuai dengan spesifikasi penjualan gas. Parameter yang dipakai yaitu dengan memvariasi TEG feed, variasi fraksi mol feed gas dan variasi laju alir (flow rate). Kondisi operasi yang sesuai yang menghasilkan kadar air yaitu 7,5 lb/MMSCF dengan laju reaksi pada feed gas 100 MMSCFD, temperatur feed gas 125˚F dan tekanan 200 Psia yang berarti terpenuhinya spesifikasi kontrak penjualan gas sehingga selain meningkatkan nilai jual gas, produsen terhindar dari kerugian. TEG yang digunakan pada simulasi proses dehidrasi tersebut 71,26 Liter/hari.

Raw natural gas in the reservoir at a certain temperature and pressure. In order to meet the specifications of the gas sales contracts (sales gas), the composition of natural gas into the factors that affect the quality of natural gas. The water content in the gas production must meet the specifications of the contract which may not exceed 10 lb/ MMSCF. Natural gas in field "S" have to consist water content of 13-36 lb/ MMSCF and until to 220 lb / MMSCF. Because of that to decrease the water content. The focus of this study is to simulated gas dehydration using Tri Ethylene Glycol (TEG) to obtain the water content in accordance with the specifications of gas sales. The parameters used are by varying TEG feed, feed mole fraction variation and variation of gas flow rate. In order to treat feed gas 100 MMSCFD until containing water until 7,5 lb/MMSCFD, temperature and pressure for feed gas must be maintained at 125 degF and 200 Psia and TEG to be injected into the system is 71.26 liters/day.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2015
T43095
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Adriento Ario Seto
"Di dalam melakukan suatu proses distribusi, maka di akan ada banyak resiko-resiko yang dapat menghambat proses distribusi tersebut. Resiko-resiko tersebut dapat berasal dari luar maupun dari dalam perusahaan. Dengan merencanakan proses bisnis dan manajemen resiko yang baik dalam distribusi maka resiko-resiko tersebut dapat ditekan seminimal mungkin sehingga memperkecil kemungkinan kerugian bagi perusahaan. Pada penelitian ini dilakukan pemetaan proses bisnis pada proses distribusi Demajors. Setelah itu dilakukan identifikasi dan analisis resiko untuk mengetahui resiko-resiko yang dapat muncul selama proses distribusi.
Hasil identifikasi dan analisis resiko tersebut kemudian menjadi bahan pertimbangan untuk memperbaiki proses bisnis distribusi Demajors demi memperkecil resiko. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa dengan melakukan perbaikan proses bisnis distribusi dengan metode pengukuran resiko ini dapat memperkecil resiko-resiko yang dapat muncul selama proses distribusi CD di Demajors.

In a distribution process there will be a lot of risks that could interfere the distribution process. The source of those risks can be from outside or inside the company. With business process planning and risk management those risks could be minimized so the loss could be prevented also. In this research, there will be a business process mapping of distribution process in demajors. Then, there will be an identification and risk analysis to know the risks along the distribution process.
The output of risk identification and risk analysis will be the input for business process improvement to minimize risks of Demajors's distribution activity. For conclusion, business process improvement with risk assessment methodology could minimize the risks along Demajors distribution process.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
S50340
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>