Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 65840 dokumen yang sesuai dengan query
cover
T.B. Aat Syafaat
Jakarta: Rajawali, 2008
297.6 AAT p
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Nur `Afifah
"Kenakalan remaja yang marak terjadi, memerlukan penanganan dari pihak keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Sekolah sebagai instansi resmi memiliki peran yang siginifikan dalam menangani kenakalan remaja. Salah satu cara yang sekolah dapat lakukan untuk menangani kenakalan remaja adalah melakukan pendidikan karakter, dimana hal ini dapat menjadi salah satu cara agar para remaja dapat mengurangi kegiatan yang bersifat negatif dan lebih diarahkan pada kegiatan yang bersifat positif. Sistem ketarunaan yang diterapkan di SMKN 61 Jakarta menjadi keunikan dari SMKN 61 Jakarta sendiri dalam melaksanakan pendidikan karakter. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui peran dari ketarunaan SMKN 61 Jakarta dalam mengatasi kenakalan remaja dan faktor pendukung dan penghambat dalam menjalankan pendidikan ketarunaan di SMKN 61 Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian deskriptif. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan adalah dengan wawancara, observasi, dan studi literatur. Adapun peran ketarunaan dalam mengatasi kenakalan remaja yaitu dengan memperkecil kesempatan mereka untuk melakukan kenakalan remaja dengan memperpadat waktu mereka dengan kegiatan positif, menginternalisasi mereka dengan karakter yang harus dimiliki seorang taruna, dan membiasakan mereka melakukan kebiasaan positif. Hal tersebut akhirnya berdampak pada perubahan taruna dan taruni yaitu kenakalan yang mereka lakukan menjadi berkurang dan terdapat perubahan positif lainnya yaitu perubahan sikap, fisik, dan performa akademis.

Juvenile delinquency is rife, requiring treatment from the family, school, and community. Schools as official institutions have a significant role in dealing with juvenile delinquency. One of method that schools can do to deal with juvenile delinquency is character education, it can reduce activities of adolescents that are negative and more directed at positive activities. Ketarunaan system that implemented at SMKN 61 Jakarta is unique from SMKN 61 Jakarta itself in carrying out character education. This research aim the role of the ketarunaan SMKN 61 Jakarta to resolve juvenile delinquency. This research uses a qualitative approach with descriptive research design. The data collection techniques used in this research are in-depth interviews, observation, and literature studies. The results of this research role of ketarunaan to resolve juvenile delinquency is to reduce their chances of juvenile delinquency by tightening their time with positive activities, internalizing them with the character that must be possessed by taruna, and getting them into positive habits. This is make impact on the change in taruna dan taruni, delinquency they do becomes reduced and there are other positive changes that is change of attitude, physical, and academic performance."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Simanjuntak, B.
Bandung: Alumni Bandung, 1979
364.15 SIM l
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Annisa Hana Safitri
"Tugas akhir ini membahas makna ekstralingual atau makna di luar bahasa yang juga memiliki karakteristik kenakalan remaja dari sebuah lagu berjudul “Hier kommt Alex” karya band Die Toten Hosen. Dalam penelitian ini digunakan metode penelitian kualitatif dengan teori jenis makna milik Gustav Blanke, terutama pada jenis makna ekstralingual yang terdiri dari makna referensial, asosiatif, afektif, situatif, etimologis, dan stilistis. Permasalahan yang dibahas adalah kata dan frasa apa saja yang memiliki makna ekstralingual dan mengandung karakteristik kenakalan remaja dalam lirik lagu Hier kommt Alex. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua jenis makna ekstralingual muncul dalam lirik lagu tersebut. Terdapat makna dengan total keseluruhan 55 makna, yaitu sebanyak 20 makna referensial, 11 makna asosiatif, 11 makna afektif, 7 makna situatif, 3 makna etimologis, dan 3 makna stilistis. Makna ekstralingual kata dalam lirik "Hier kommt Alex" tersebut juga dapat mengungkap isu kenakalan remaja. Kenakalan remaja adalah kenakalan yang dilakukan oleh anak berusia 14-18 tahun, baik oleh anak laki-laki maupun perempuan.

The focus of this study is on extralinguistic meaning or meaning outside of language. It also has the characteristics of juvenile delinquency in the song called Hier kommt Alex by the band Die Toten Hosen. This research uses a qualitative research method and Gustav Blanke's theory of meaning types to analyze the meaning, there are referential, associative, affective, situational, etymological, and stylistic meanings. The problem discussed is which words and phrases have an extralinguistic meaning and contain the characteristics of juvenile delinquency in the lyrics. The results of this study show that all types of extralinguistic meaning appear in the song lyrics. There are 55 total meanings, namely 20 referential meanings, 11 associative meanings, 11 affective meanings, 7 situational meanings, 3 etymological meanings, and 3 stylistic meanings. The extralinguistic meaning of the words in the lyrics of "Hier kommt Alex" can also reveal the issue of juvenile delinquency. Juvenile delinquency is delinquency committed by children aged 14-18 years, both boys and girls."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2022
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Pardede, Godeliva Joceline Rechita
"Film adalah salah satu jenis karya sastra yang digunakan sebagai media untuk memberi gambaran fenomena di masyarakat. Remaja merupakan bagian dari kelompok masyarakat yang tidak dapat dipisahkan. Kehidupan remaja di Belanda dituangkan dalam sebuah film berdurasi 100 menit berjudul Wij karya Rene Eller yang dirilis pada tahun 2018. Permasalahan yang dibahas pada penelitian ini adalah penggambaran kenakalan remaja dalam film Wij (2108) dan representasinya di masyarakat Belanda. Tujuan dari penelitian ini untuk memaparkan bentuk-bentuk kenakalan remaja dalam film Wij (2018) serta perbandingan penggambarannya dalam film dengan realita di masyarakat Belanda. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan teori sosiologi sastra Sapardi Djoko Damono serta Wellek dan Warren. Penelitian ini juga menggunakan pendapat dan pemikiran dari beberapa peneliti sosial Belanda antara lain; Van der Laan dalam penelitiannya mengenai penurunan kenakalan remaja di Belanda, serta Grasmeijer yang meneliti mengenai pengaruh keluarga terhadap perilaku antisosial remaja. Berdasarkan analisa yang telah dilakukan, ditemukan bentuk-bentuk kenakalan remaja dalam film Wij (2018)  yaitu; mabuk minuman beralkohol, penganiayaan, prostitusi remaja, dan kejahatan properti. Faktor penyebab kenakalan remaja dalam film Wij (2018) ternyata selaras dengan fakta di masyarakat Belanda. Analisa yang dilakukan membuktikan bahwa film Wij (2018) merepresentasikan kehidupan remaja di masyarakat Belanda. Film sebagai ceriman kehidupan sosial masyarakat tidak hanya menampilakan sisi baik, tetapi juga sisi buruk dalam bentuk kenakalan remaja.

Film is a type of literary work that is used as a medium to convey images of phenomena in society. Teenagers are part of a community that cannot be separated. The life of teenagers in the Netherlands is outlined in a 100 minutes film entitled Wij by Rene Eller which was released in 2018. The research problem is the depiction of juvenile delinquency in the film Wij (2108) and its representation in Dutch society. The aim of this research is to explain the forms of juvenile delinquency in the film Wij (2018) and compare the film with reality in Dutch society. The research method used is descriptive qualitative using the literary sociology theory of Sapardi Djoko Damono and Wellek and Warren. This research also uses the opinions of several Dutch social researchers, including; Van der Laan in his research about the drop of  juvenile delinquency in the Netherlands and Grasmeijer who researched the influence of the family on teenagers’ antisocial behavior. Based on this analysis, forms of juvenile delinquency were found in the film Wij (2018), namely; underage drinking, assault, teenage prostitution, and property crimes. The factors causing juvenile delinquency in the film Wij (2018)  are in line with the facts in Dutch society. The analysis carried out proves that film Wij (2018) is a reflection of Dutch society. Films as a reflection of society not only show the good side, but also the bad side in the form of juvenile delinquency."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2024
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Saifullah Fil Ardhi
"ABSTRAK
Masalah Kenakalan Remaja terus berkembang seiring berkembangnya
waktu.Lemabaga Kesejahteraan Sosial Anak lebih berpotensi meningkatkan
jumlah kenakalan remaja di Indonesia jika tidak di atasi dengan benar.Hanya
sedikit yang dapat mengasuh remaja dengan berkualitas hingga dapat menangani
kenakalan remaja.Penelitian ini mengkaji studi deskriptif pada dua ibu asuh dalam
menangani kenakalan remaja. Pertanyaan penelitian ini adalah ingin melihat
bagaimana peran ibu asuh dalam menangani kenakalan remaja dan apa saja faktor
penghambat peran ibu asuh dalam menangani kenakalan remaja. Hasilnya adalah
ibu asuh menekankan pemenuhan kebutuhan biologis, psikolohis, dan sosiologis
yang baik distertai dengan pola asuh otoritatif terhadap anak.Hambatannya adalah
pengaruh yang besar dari faktor lingkungan dan disertai pergolakan psikologis
remaja yang membuat kontrol diri yang lemah

ABSTRACT
Delinquency problems continue to evolve as the development time. Foster Care
more potentially increase the number of juvenile delinquency in Indonesia, if not
addressed properly. Few are qualified to care for adolescents with juvenile
delinquency to be able to handle. This study examines descriptive study in two
foster mothers in dealing with juvenile delinquency. This research question was to
see how the role of foster mother in addressing juvenile delinquency and what are
the factors inhibiting the foster mother's role in dealing with juvenile delinquency.
The result is a foster mother emphasized the biological needs,psychology needs,
and good sociological needs with authoritative parenting on children. The obstacle
is the great influence of environmental factors and psychological upheaval with
teens who make a weak self-control"
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2014
S57526
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rachel Olivia Isabella
"ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk melihat apakah terdapat hubungan antara
konflik orang tua-anak dan kenakalan remaja di Jakarta. Variabel konflik orang
tua-anak diukur dengan alat ukur Parent Environmental Questionnaire dari
Elkins, McGue, & Iacono (1997) yang diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia,
sedangkan variabel kenakalan remaja diukur dengan alat ukur The Self-Report
Delinquency Scale dari Elliott & Ageton (1980) yang telah diadaptasi ke dalam
bahasa Indonesia. Penelitian dilakukan pada 372 remaja laki-laki dan perempuan
di Jakarta berusia 15-17 tahun yang tinggal serumah dengan orangtuanya.
Berdasarkan uji korelasi terdapat hubungan positif yang signifikan antara konflik
orang tua-anak dengan kenakalan remaja dengan koefisien korelasi sebesar
r=0.166, p=0.000, signifikan pada LOS 0.01 (one-tailed). Dari hasil tersebut,
didapatkan berbagai analisis yang akan dijelaskan lebih lanjut.

ABSTRACT
This reserach aims to find the correlation between parent-child conflict
and juvenile delinquency in Jakarta. The parent-child conflict variable is measured
by Parent Environmental Questionnaire from Elkins, McGue, & Iacono (1997)
which has been translated to Indonesian language meanwhile the juvenile
delinquency variable is measured by The Self-Report Delinquency Scale from
Elliott & Ageton (1980) which also has been translated to Indonesian language.
This research is being conducted to 372 adolescents in Jakarta from 15-17 years
old who live under one roof with their parents. Based on the correlation test, there
is a significant positive correlation between parent-child conflict and juvenile
delinquency with r =0.166, p=0.000, significant on LOS 0.01 (one-tailed). Based
on the result, there will be further analyses that will be explained."
2016
S66470
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Atealira Kansa Adiba
"Kenakalan remaja merupakan masalah yang masih marak terjadi di Indonesia dengan 1.235 remaja telah terlibat dalam beberapa kasus kejahatan di awal tahun 2025 (Pusiknas, 2025). Masalah ini juga lebih rentan terjadi pada anak tanpa pengasuhan yang stabil, seperti anak di panti sosial asuhan anak dan berisiko pada munculnya kriminalitas, perilaku bermasalah, hingga sanksi sosial bagi mereka. Pekerja sosial di panti pun menjadi pihak yang bertanggung jawab untuk memastikan mereka tidak lagi melakukan kenakalan remaja dan dapat menjalani masa remajanya dengan optimal. Dalam penangananya, penting juga bagi pekerja sosial untuk mengaplikasikan nilai dan prinsip pekerjaan sosial agar pelayanan yang diberikan lebih efektif dan berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bentuk pengaplikasian nilai dan prinsip pekerjaan sosial oleh pekerja sosial dalam menangani masalah kenakalan remaja pada anak asuh di Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama 2 serta dilema etis yang hadir di dalamnya berdasarkan konsep nilai pekerjaan sosial berdasarkan kode etik pekerja sosial di Indonesia, yaitu perilaku dan integritas pribadi, kewajiban pekerja sosial profesional terhadap klien, rekan sejawat, lembaga yang mempekerjakannya, profesi pekerjaan sosial, dan masyarakat, konsep prinsip pekerjaan sosial berupa penerimaan, komunikasi, individualisasi, partisipasi, kerahasiaan, dan kesadaran diri petugas, serta konsep dilema etis pekerja sosial untuk menganalisis pengaplikasian nilai dan prinsip pada suatu studi kasus mengenai kenakalan remaja di panti sosial asuhan anak. Penelitian kualitatif deskriptif ini mengumpulkan data melalui wawancara semi-terstruktur pada 3 pekerja sosial dan 4 anak asuh. Pekerja sosial diminta untuk menjelaskan aplikasi nilai dan prinsip dalam merespon kasus kenakalan remaja yang disajikan oleh peneliti. Penelitian ini menemukan bahwa pekerja sosial telah mengaplikasikan hampir seluruh nilai dan prinsip pekerjaan sosial. Aplikasi nilai dan prinsip ini berimplikasi pada proses intervensi yang selalu memprioritaskan anak, terstruktur, profesional, dan berkelanjutan, tetapi masih terdapat dilema etis yang harus dihadapi. Disimpulkan bahwa pekerja sosial memiliki pemahaman dan kesadaran yang tinggi mengenai pentingnya mengaplikasikan nilai dan prinsip pekerjaan sosial dalam penanganan masalah klien, walaupun dilema etis masih belum dapat dihindari. Saran diberikan kepada pekerja sosial dan pihak panti untuk mengaplikasikan aspek nilai keilmuan dan penelitian yang belum teraplikasikan dan melakukan berbagai upaya advokasi kebijakan dan anggaran untuk mengatasi dilema etis, serta kepada penelitian selanjutnya untuk memperluas cakupan fokus mengenai pengaplikasian nilai dan prinsip pekerjaan sosial pada masalah sosial lainnya, serta memperdalam penelitian mengenai dilema etis bagi pekerja sosial.

Juvenile delinquency is a problem that is still widespread in Indonesia, with 1,235 teenagers involved in several criminal cases in early 2025 (Pusiknas, 2025). This issue is also more likely to occur among children without stable care, such as those in child care institutions, and puts them at risk of criminal behavior, problematic conduct, and social sanctions. Social workers in child care institutions are the ones responsible for ensuring that they are no longer commit juvenile delinquency and can live their teenage years optimally. In handling it, it is also important for social workers to apply the values and principles of social work so that the services provided are more effective and have a better quality. This study aims to describe the form of application of social work values and principles by social workers in handling the problem of juvenile delinquency in foster children at the Putra Utama 2 child care institution and the the ethical dilemmas that arise in the process based on the concept of social work values based on the code of ethics of social workers in Indonesia, namely personal behavior and integrity, the obligations of professional social workers to clients, colleagues, institutions that employ them, the social work profession, and society, the concept of principles of social work in the form of acceptance, communication, individualization, participation, confidentiality, and worker self-awareness, and also the concept of ethical dilemmas in social work to analyze the application of values and principles in a case study of juvenile delinquency in a child care institution. This descriptive qualitative research collected data through semi-structured interviews with 3 social workers and 4 foster children, and social workers were asked to explain the application of values and principles in responding to cases of juvenile delinquency presented by researchers. This study found that social workers have applied almost all social work values and principles in responding to the cases presented. The application of these values and principles has implications for the intervention process that always prioritizes children, is structured, professional, and sustainable, but there are still ethical dilemmas that must be faced. It is concluded that social workers have a high understanding and awareness of the importance of applying social work values and principles in handling client problems, although ethical dilemmas cannot be avoided. Suggestions are given to social workers and the institutions to apply scientific knowledge and research values that have not been applied and to make various policy and budget advocacy efforts to overcome ethical dilemmas, as well as to further research to expand the scope of focus on the application of social work values and principles to other social problems, and to deepen research on ethical dilemmas faced by social workers."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Arnold, William R.
Boston: Houghton Mifflin, 1983
364.36 Arn j
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>