Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 7386 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ignatia Marina Sudiarta
"Pemenuhan kebutuhan rompi tahan peluru bagi anggota kepolisian dan TNI masih sangat bergantung dari luar negeri, sehingga harga rompi tahan peluru masih sangat mahal. Hal ini semakin diperburuk dengan tidak adanya literatur mengenai komposisi rompi tahan peluru. Dari sebab itu perlu dikembangkan pemanfaatan serat alam untuk dijadikan komposit tahan peluru, hingga diharapkan dapat menghasilkan material tahan peluru yang kuat, murah dan mudah dibuat. Salah satu serat alam yang memiliki kekuatan cukup baik dan berlimpah di Indonesia adalah serat dari pisang abacca (Musa textilis). Pada penelitian ini yang dibuat adalah pelat komposit saja sebagai salah satu bagian dari rompi tahan peluru. Pelat yang dibuat bertujuan untuk menahan peluru dari senjata tipe I, yaitu revolver .38 dan 22 LR. Komposit ini dibuat dengan metode hand lay up, dengan variasi pada jumlah lapisan anyaman serat pisang abacca, yaitu sebanyak dua lapis, tiga lapis, empat lapis dan lima lapis. Anyaman yang digunakan memiliki sudut orientasi 0_ dan 90_. Pengujian balistik dilakukan dengan menggunakan senjata tipe revolver .38 dari jarak 5 meter. Selain itu, pada pelat yang berhasil menahan peluru revolver .38, dilakukan pla penembakan oleh pistol 9 mm yang merupakan senjata tipe II. Selanjutnya dilakukan analisa terhadap bentuk kerusakan serat, dan dilakukan perhitungan energi balistik yang dapat diserap bahan juga dilakukan estimasi biaya pembuatan pelat yang tahan peluru tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelat komposit dengan empat lapis anyaman serat pisang abacca mampu untuk menahan peluru dari senjata tipe I, yaitu revolver .38. Namun pelat ini tidak mampu menahan peluru dari pistol 9 mm.

The fulfilness of bullet proof vest?s demand for the police and army personal is still dependent on another country. This condition makes the price of bullet proof vest is so expensive. The lack of literature about bullet proof vest composition makes this condition worse. So we must develope the bullet proof composite based on natural fiber, and finally we can make the bullet proof material that are strong, cheap and easy to be made. One kind of natural fiber that strong enough and easy to find in Indonesia is abacca?s fiber. (Musa Textilis) The purpose of this research is to make a composite panels as a part of bullet proof vest. This panels are made to proof the projectiles from the weapons of type I, such as Revolver .38 and 22 LR. This composites are made by hand lay up method, with the variation in layer?s number of abacca?s woven, from two until four layers. The woven?s orientation are 0_ and 90_. The ballistic test use the revolver .38 with 5 meters distance from the target. Beside that, handgun 9 mm, which is clasified as weapon of type II, is also used for the panel that can proof revolver .38. The next steps are analysis about fiber?s deformation, estimation of production cost and calculation of energy absorbtion by target. The results of this research show that the composite panel with four layers of abacca?s woven have capabilities to proof the projectiles from weapons of type I, but still can?t proof the projectiles from weapons of type II."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2007
S49841
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
06/Sap/p
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Asep Handaya Saputra
"Rompi tahan peluru merupakan perlengkapan yang sangat penting bagi TNI dan POLRI untuk meningkatkan keselamatan dan moril personel saat menjalankan tugas. Sementara pemenuhan rompi tahan peluru masih membeli dari luar negeri dengan harga sangat mahal. Hal ini mendorong Balitbang Dephan membuat panel rompi tahan peluru dari keramik dikombinasi dengan kevlar, namun disamping berat panelnya masih tinggi yaitu 9 kg, juga harga kevlar yang sangat mahal dan masih diimport. sehingga, sudah saatnya Indonesia yang kaya akan sumber daya alam memproduksi rompi tahan peluru dari bahan yang mudah didapat, harganya murah, mudah dibuat, kuat dan ramah lingkungan. Bahan yang menjadi perhatian untuk menggantikan serat sintesis adalah serat alam diantaranya serat rami dan serat abacca.
Penelitian sebelumnya meneliti tentang serat alam rami dengan variasi tiga, empat dan lima lapis dikombinasikan dengan kawat stainless steel, dari uji balistik dapat menahan peluru level I (revolver .38 special), sementara penelitian jenis serat alam yang lain meneliti tentang serat alam abacca dengan dua, tiga dan empat lapis anyaman serat abacca, dan dapat menahan peluru level I namun belum dapat menahan peluru level II (pistol 9mm).
Dalam tesis ini dilakukan penelitian komposit dari serat alam abacca dan epoksi dengan metode hand lay up, dengan variasi lima, tujuh dan sembilan lapis anyaman serat abacca, setelah diuji balistik, ternyata semua dapat menahan peluru level I, tetapi tidak dapat menahan peluru level II. Selanjutnya supaya dapat menahan peluru level II, dibuat komposit dengan menambah satu keramik pada masing-masing komposit lima, tujuh dan sembilan lapis anyaman serat abacca, setelah uji balistik semuanya dapat menahan peluru level II. Disamping panel diatas, satu keramik tanpa serat dan resin diuji balistik dengan level I dan hasilnya keramik hancur, kemudian dua keramik direkat dengan epoksi dan diuji dengan level II, hasilnya keramik hancur. Selanjutnya dilakukan analisa kerusakan serat dan peluru, perhitungan energi balistik dan estimasi biaya pembuatan rompi tahan peluru.
Dari hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa bila digunakan komposit dari serat saja, ataupun hanya dari keramik saja, tidak dapat menahan peluru level II, namun jika digabung antara komposit lima, tujuh dan sembilan lapis anyaman serat abacca dan keramik maka akan dapat menahan peluru level II.

Bullet proof vest is very important for army and police to increase morality and personal safety during carry out of duty. While bullet proof depend vest?s demand still buying from abroad. Because of that, Balitbang Dephan make a research to obtain bullet proof vest panel from ceramic combined with Kevlar. Beside the panel is still heavy at, 9 kg and also using kevlar fiber which is very expensive. Therefore Indonesia must find out alternatives material from natural resource to substitute kevlar fiber. Bullet proof vest from material must be easy to find, strong, easy fabrication and safe. Natural fiber as a candidate of panel materials are ramie and abacca (Musa textiles).
Previous research woven ramie fiber combine with stainless steel filament mesh 16, can proof projectile from refolver .38 (type I). While another natural fiber research is woven abacca fiber with two, three and four layer, have capabilities proof projectiles for type I, but still can?t proof projectile from hand gun 9mm (type II).
This Thesis research composite panels from woven abacca fiber and epoxy with hand lay up method, variation in layer?s number of abacca woven are five, seven and nine layers. After ballistic test, all of those have capabilities proof projectiles type I, but still can?t proof from projectiles type II. The next step, to make material from combine one layer ceramic for every composite in layer?s number of abacca woven are five, seven and nine layers, after ballistic test all of those have capabilities proof projectiles from type II. Beside above panels, both one ceramic ballistic test by type I and two ceramics with resin ballistic test by type II were broken. Fiber?s and projectiles deformation, estimation of production cost and calculation energy absobtion by material composite were analized.
The results show that material able proof the bullet proof type II are five, seven and nine layers of woven abacca combined with ceramic."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
T21253
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Klemens
"Dalam penelitian ini dibuat pelat komposit berbahan dasar serat alami yaitu serat pisang abaca (Musa textilis), yang dipadukan dengan resin epoksi, dan keramik berkekuatan tinggi dengan metode hand lay up. Serat abaca dipilih karena memiliki kekuatan yang tinggi, ketersediannya di Indonesia dan harganya murah. Penelitian ini ditekankan pada peningkatan kekuatan keramik dengan mengganti keramik yang digunakan, sehingga, diharapkan mampu menahan terjangan peluru level IIIA. Bahan dasar keramik yang digunakan memiliki kadar Aluminum Oksida yang tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelat komposit dengan lima lapis anyaman serat pisang abacca dengan ketebalan 11,15mm yang digabungkan dengan satu lapis keramik mampu menahan peluru dari senjata Level IIIA, yaitu submachine gun pada jarak 5m.

This research is to make a composite panel from abaca fiber (Musa textilis), which combine with epoxy resin and ballistic ceramic using hand lay up method. Abaca fiber was chosen because it's cheap and easy to get. This research is consentrated in rising the strength of the ceramic with add more width to it, so, we hope it could absorb level IIIA projectiles. The ceramic used for this research is made from Aluminium Oxide with high concentration. The result of this research show that the composite panel from 5 layers abaca fiber with combined with ceramic could absorb level IIIA projectiles, which is submachine gun in 5m range."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
S51684
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Hesti Ibrahim
"Pengembangan komposit saat ini telah banyak dilakukan, terutama pada bidang militer. Salah satunya adalah komposit aluminium dengan berbagai jenis penguat yang telah berhasil menahan proyektil dengan berbagai ketebalan. Dalam penelitian ini, komposit aluminium balistik yang dipelajari adalah komposit dengan matriks berupa AA 5083 dengan penguat kawat baja karbon tinggi dan adhesif polyurethane sebagai perekat antara matriks dan penguatnya. Komposit divariasikan dengan 3 fraksi volume kawat baja, yaitu 2.5, 5, dan 7.5% dengan kawat baja berdiameter 1.4 mm. Pengujian yang dilakukan meliputi pengujian tarik, impak dan balistik. Sehingga dapat diketahui sifat mekanis, kemampuan penyerapan energi pada komposit dan ketahanan komposit menahan proyektil. Struktur makro pasca uji balistik diamati dengan kamera beresolusi tinggi. Hasil pengujian membuktikan bahwa semakin meningkat jumlah fraksi volume kawat baja yang dipergunakan, semakin baik kemampuan komposit menahan penetrasi balistik. Pengujian menggunakan 2 jenis proyektil, 9 mm menggunakan pistol P2 PINDAD dan 7.62 mm menggunakan senapan laras panjang SPR-1. Harga impak terbesar terdapat pada sampel fraksi volume kawat 7.5% sebesar 0.68 J/mm2. Modulus elastisitas terbaik juga terdapat pada sampel berfraksi volume kawat baja 7.5% sebesar 39.2 GPa. Pada pengujian balistik, sampel dapat menahan laju proyektil pada penggunaan proyektil 9 mm, tetapi pada penggunaan proyektil 7.62 mm, proyektil berhasil menembus sampel. Pada pengamatan struktur makro, terdapat banyak void, sehingga penggunaan adhesif polyurethane tidak berfungsi secara optimum.

Composite material has been widely used for military application. Some examples use aluminum based composite reinforce with many kind of material that can with stand penetration with many thickness. This research evaluates ballistic aluminium composite with AA5083 as the base material and reinforce with high carbon wire that is attached with polyurethane adhesive. The composite is varied by the volume friction of the wire of 2.5, 5 and 7.5%. The test include tensile, impact and ballistic testing, to study the mechanical properties and the ability of the composite to absorb energy and withstand the projectile. Ballistic fracture was observed by using high resolution camera. The result showed that the higher the fraction volume of the wire, the better the capability of the composite in holding the projectile. The highest impact value of 0.68 J/mm2 and the highest elastic modulus of 39.2 GPa was achieved by the sample with 7.5% of wire. All sample were not penetrated by 9 mm projectile from P2 gun, but on the other hand all were penetrated by 7.62 mm bullet from SPR-1 gun. Macrostructure observation showed that voids were presents in the sample, indicating that the polyurethane adhesive didn?t well function in the composite."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S152
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Henry Suropati
"Material komposit merupakan salah satu jenis material yang saat ini banyak dikembangkan karena dapat menggabungkan sifat-sifat dari material yang menyusunnya. Dengan keunggulan tersebut, material komposit dapat diaplikasikan pada berbagai bidang, salah satunya untuk aplikasi balistik. Dalam penelitian ini komposit yang dikembangkan adalah komposit laminat yang terdiri dari pelat AA6061 sebagai matriks yang diperkuat dengan kawat baja karbon tinggi berdiameter 1.4 mm yang disusun satu arah dan adhesif polyurethane yang berperan untuk merekatkan fasa matriks dan penguat. Komposit tahan peluru dibuat berdasarkan metode laminasi dengan susunan kawat searah. Karakterisasi yang dilakukan berupa pengujian impak, pengujian balistik, dan pengamatan foto makro pada daerah perforasi. Pengujian balistik dilakukan berdasarkan standar NIJ 0108.01 dengan tipe proyektil berkaliber 9 mm (tipe II) dan 7.62 mm (tipe III).Pada penelitian ini juga membandingkan harga impak dan diameter perforasi antara komposit berpenguat kawat baja 1 mm yang disusun (00/900/00) dengan komposit berpenguat kawat baja 1.4 mm yang disusun satu arah. Hasil pengujian impak menunjukkan bahwa harga impak semakin meningkat seiring dengan peningkatan fraksi volume kawat. Material komposit yang dibuat memiliki ketahanan yang baik terhadap beban impak dari proyektil 9 mm, tetapi ketahanannya rendah terhadap beban impak dari proyektil 7.62 mm. Ketahanan balistik komposit penguat 1.4 mm lebih kuat dibandingkan komposit penguat 1 mm, pada pengujian balistik 7.62 mm (Tipe III NIJ 0108.01) menghasilkan diameter perforasi komposit penguat 1 mm lebih besar dibandingkan dengan komposit penguat 1.4 mm.

Composite materials, is one of the types of materials currently being developed because it can combine the material properties that constitute them. One of the many types of developing composite is aluminum composite. This type of composite can provide good mechanical properties with low weight materials than conventional metallic material. Therefore, the aluminum composite material is very promising for the ballistic applications as bullet-proof material. In this study developed a composite consisting of laminated composite plates as matrix AA6061 reinforced with Unidirectional high carbon steel wire of 1.4 mm-Diameter and polyurethane adhesive that works to strengthen the matrix and reinforce bonding, composite variables is done by varying the volume fraction of wires that 2.5%, 5% and 7,5%. Laminate composites was made by manual lamination method, the arrangement of composite reinforced was unidirectional. The characterization was carried out by impact testing, ballistics testing, and macrograph examination on the perforation area. Ballistic testing conducted in accordance with NIJ 0108.01 standards, and the projectiles type are 9 mm (type II) and 7.62 mm (type III). In this research also compare impact value and perforation diameter between laminated composites reinforced by unidirectional high carbon steel wire of 1.4 mm-diameter with laminated composites reinforced by (00/900/00) high carbon steel wire of 1 mm-diameter The results showed that the higher the volume fraction of the wire, the higher the impact value of the laminate composite. The laminate composite was able to withstand the projectile of 9 mm calibre, but was fail under 7.62 mm projectile. Balistic resistant of composite reinforced by 1.4 mm stronger than composite reinforced by 1 mm, in balistic test with 7.62 mm (Tipe III NIJ 0108.01) produce diameter perforation of composite reinforced by 1 mm has bigger penetration than composite reinforced by 1.4 mm. "
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S869
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Yongky Permana Ramlan
"Tanaman pisang merupakan tanaman khas daerah tropis, yang dapat dijumpai dimana saja dan berbuah tanpa mengenal musim. Sampai saat ini di Indonesia pemanfaatan tanaman pisang ini baru sebatas pembudidayaan buah yang dihasilkan dan hanya beberapa yang memanfatkan selain buahnya, itupun sedikit sekali. Setelah berbuah dan dipanen tanaman pisang ini kemudian ditebang habis unluk ditanami bibit bam. Ratusan "eks" tanaman pisang ini kemudian hanya menjadi limbah buangan belaka.
Penelitian ini ditujukan untuk memanfaatkan limbah "eks" tanaman pisang tadi sebagai bahan serat untuk pembuatan kornposit. Yang kemudian akan dimanfaatkan sebagai bahan interior otomotif.
Penelitian dimulai dengan meneliti serat dari beberapa jenis (spesies) tanaman pisang yang ada di tanah air ini, kemudian serat yang terbaik dibuat komposit dan kemudian diteliti kembali karakteristik mekanik dan kelayakannya sebagai bahan interior otumotif Penelitian pendahuluan - Pembuatan (fabrikasi) - Penelitian kembali bukanlah jalan yang singkat rnengingat penelitian ini mengambil tempat yang jauh dan terpencil kemudian berpindah ke tengah kota serta banyaknya faktor teknik dan non teknik yang dihadapi.
Analisa atau diskusi dilakukan dengan membandingkan hasil penelitian dengan standard yang digunakan dan dengan hitungan-hitungan mikromekanik komposit (rumus campuran Tsai)."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1996
S36666
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dendy Wahyu Nugroho
"Pembangunan kapal telah rnelaiui berbagai macam perubahan, dimana material baru atau variasi dari yang ada membuat teknik baru menjadi praktis dan memungkinkan. Sejak diperkenalkannya komposit berpenguat serat secara cepat untuk memperoleh informasi dan metode penggunaan dari material baro tersebut. Suksesnya komposit berpenguat serat (FRC) menjadi material terpopuler dalam industry pembangunan kapal disebabkan oleh beberapa keuntungan yang dimilikinya jika dibandingkan dengan material lainnya.
Melihat banyaknya keuntungan yang ditawarkan dari penggunaan material FRC pada pembangunan kapal, maka alangkah baiknya jika materiaJ tersebut juga digunakan dalam pembuatan kapa! nelayan maupun kapai angkut tradisional di Indonesia. Narnun karena jenis serat sintetis yang umumnya: digunakan sebagai bahan dari komposit berpenguat serat pada pembangunan kapal harganya relatif leblh mahal jika digunakan dalam pembangunan kapal nelayan dan kapal angkut tradisional, maka dalam peneHtian ini akan dicoba untuk menggunakan senlt alam yang dinilai lebih ekonomis dan memiliki sifat yang tidak jauh berbeda dari serat yang biasanya digunakan dalam industry pembangunan kapal.
Namun sebelum disosialisasikan kepada pemakainya, diperlukan analisa tegangan dan regangan terhadap lamina material FRC untuk memperoleh desain bentuk dan struktur geometri laminat yang optimum agar mampu menahan beban aplikasi yang akan diterimanya. Untuk memperoleh data sekunder dan pengujian laboratorium untuk memperoleh data dari objek penelitian secara langsung. Setelah menganalisa data yang diperoleh dari penelitian, kita dapat menentukan apakah serat alam dapat digunakan sebagai material alternatif dalam pembanguan kapal."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2000
S37204
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Asep Handaya Saputra
"Selama ini untuk memenuhi kebutuhan rompi anti peluru Indonesia mengimpor dari luar negri. Penelitian dibeberapa negara penghasil rompi anti peluru seperti Amerika Serikat, Belanda, Korea Selatan dan Prancis tentang pembuatan rompi anti peluru sifatnya tidak dipublikasikan karena menyangkut sistem pertahanan dan keamanan yang sangat rahasia. Sehingga sulit untuk mengetahui jenis material yang digunakan, cara pembuatan dan komposisi material penyusunnya. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negri dilakukan penelitian internal oleh Balitbang DepHan RI untuk pembuatan rompi anti peluru dengan bahan dasar keramik. Kelemahan penggunaan keramik sebagai rompi anti peluru adalah sifatnya yang dapat mengabsorbsi air sehingga dapat menurunkan sifat mekaniknya. Selain itu proses pabrikasinya cukup sulit karena menggunakan hydoulic press untuk penekanannya. Untuk itu dilakukan penelitian ini menggunaan material komposit yang terdiri dari kevlar®29 produksi DuPont, sebagai reinforcement material komposit anti peluru dipilih mengingat karakteristik fisikal kevlar® yang sangat baik. Sifatnya yang kuat, ringan, tahan terhadap panas sampai dengan suhu 400°C, stabil secara kimia dan fleksibel sangat mendukung untuk penggunaannya sebagai bahan dasar penyusun komposit material anti peluru."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Midia Fujiani
"Selama ini untuk memenuhi kebutuhan rompi anti peluru Indonesia mengimpor dari luar negri. Penelitian dibeberapa negara penghasil rompi anti peluru seperti Amerika Serikat, Belanda, Korea Selatan dan Prancis tentang pembuatan rompi anti peluru sifatnya tidak dipublikasikan karena menyangkut sistem pertahanan dan keamanan yang sangat rahasia. Sehingga sulit untuk mengetahui jenis material yang digunakan, cara pembuatan dan komposisi material penyusunnya. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negri dilakukan penelitian internal oleh Balitbang DepHan RI untuk pembuatan rompi anti peluru dengan bahan dasar keramik. Kelemahan penggunaan keramik sebagai rompi anti peluru adalah sifatnya yang dapat mengabsorbsi air sehingga dapat menurunkan sifat mekaniknya. Selain itu proses pabrikasinya cukup sulit karena menggunakan hydoulic press untuk penekanannya.
Untuk itu dilakukan penelitian ini menggunaan material komposit yang terdiri dari kevlar_29 produksi DuPont, sebagai reinforcement material komposit anti peluru dipilih mengingat karakteristik fisikal kevlar_ yang sangat baik. Sifatnya yang kuat, ringan, tahan terhadap panas sampai dengan suhu 400_C, stabil secara kimia dan fleksibel sangat mendukung untuk penggunaannya sebagai bahan dasar penyusun komposit material anti peluru. Pemilihan jenis matriks dengan komposisi yang tepat harus dilakukan untuk melihat kinerja kevlar_ untuk membentuk material komposit yang memiliki sifat tahan perluru. Matriks penyusun komposit adalah resin dengan jenis epoksi resin tipe Epi Bis epoksi dan fiber kevlar_29 jenis cut fiber dengan panjang 10mm. Komposisi matriks penyusun komposit terdiri dari 5%,10% dan 15% berat fiber dalam komposit.
Metode pembuatan dilakukan dengan teknik penaburan fiber yang kemudian dilaminasi secara kontinyu dengan sistem resin. Hasil uji laboratorium yaitu uji kekerasan dengan Hardness Barcol Tester memberikan hasil kurang yang informatif secara keseluruhan dan keseragaman kekerasan dalam komposit. Selain itu pengujian utama untuk melihat kinerja anti peluru adalah uji balistik dengan menggunakan standard batasan uji balistik untuk rompi tipe I, yaitu pengujian dengan Revolver hand gun 38 Special. Pada tahap awal ini uji balistik yang dilakukan sebatas uji tembak sederhana yang tidak mengikuti standard pengujian. Pengujian balistik dilakukan pada dua sisi yaitu tengah dan tepi untuk setiap sampel. Hasil uji balistik menunjukkan dari tiga jenis variasi komposisi sampel, salah satu dari dua sampel dengan komposisi 15% yang ditembak pada bagian tengah tidak tembus peluru, hanya terjadi deformasi pada permukaan. Namun tembakan lainnya pada komposisi sampel yang lain tembus peluru."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2006
S49586
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>