Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 58270 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Patricia Hanna J.
"Pemanfaatan teknologi sel surya sebagai sumber energi listrik di Indonesia masih belum berkembang baik padahal Indonesia terletak di garis khatulistiwa sehingga mendapat sinar matahari yang melimpah. Hal ini sangat disayangkan mengingat tingkat kebutuhan listrik yang terus meningkat terutama dari konsumen rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknis penggunaan panel sel surya sebagai sumber energi listrik dan tingkat kelayakan untuk diimplementasikan di perumahan tipe menengah. Ada dua jenis sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang ditinjau dalam penelitian ini yaitu sistem PLTS menggunakan baterai dan tanpa baterai. Hasil penelitian menunjukkan untuk saat ini penggunaan sistem PLTS di perumahan untuk memenuhi kebutuhan listriknya tidak menguntungkan secara ekonomis. Hal ini karena tingginya biaya investasi sistem PLTS dibandingkan dengan biaya listrik yang dibeli dari sumber konvensional. Namun analisis sensitivitas yang dilakukan menunjukkan sistem PLTS menjadi layak pada beberapa kondisi.

The utilization of solar cell technology as a source of electrical energy in Indonesia is still not well developed, given the fact that its location is on the equator zone with abundant sunshine. This is being regretted by also considering the increment level of demand for electricity, especially from household consumers. This study aims to determine the technical use of solar power system for sourcing the electrical energy and the feasibility for implementing the system in middle-class residential houses. Two types of solar power system which are being reviewed: stand-alone system and grid connected system. The result shows that installation of the system in a resident may not be economically rewarding due to system investment high cost compared to the electricity cost from conventional system. However, the sensitivity analysis shows the solar power systems are being economically feasible in some conditions."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S1928
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Shafa Tasya Aulia Putri
"Perkembangan teknologi yang terus-menerus membuat penggunaan energi listrik menjadi hal krusial dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Penggunaan energi listrik yang tiada hentinya membuat sumber energi fosil yang terbatas semakin sedikit. Oleh sebab itu, transisi energi berkelanjutan menjadi isu penting untuk menjaga ketersediaan energi di masa mendatang. Pemerintah Indonesia telah menetapkan taget pencapaian bauran energi nasional sebesar 23% pada tahun 2025 dengan tujuan dapat mempercepat transisi energi berkelanjutan. Bentuk upaya untuk mencapai target bauran nasional adalah dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Penelitian ini membahas mengenai penerapan sistem PLTS atap on-grid tanpa baterai pada gedung pabrik PT. CT untuk mengetahui sistem PLTS atap yang optimal dan potensi penggunaan listrik PLN yang lebih efisien. Sistem PLTS atap dengan sudut kemiringan 11°mampu memproduksi energi sebesar 1969890 kWh/tahun, sedangkan sudut kemiringan 15°hanya dapat memproduksi sebesar 1949709 kWh/tahun. Dalam 25 tahun, sistem PLTS atap dengan sudut kemiringan 11° memiliki potensi penghematan sebesar 34,29%, sedangkan sistem PLTS atap dengan sudut kemiringan 15° memiliki potensi penghematan sebesar 33,94%. Dengan perbedaan modal awal sebesar Rp436.792.000,00 diperoleh payback period dari kedua sistem PLTS atap selama 9 tahun. Berdasarkan beberapa faktor tersebut, sistem PLTS atap on-grid tanpa baterai pada PT.CT yang lebih optimal untuk digunakan adalah sistem PLTS atap dengan sudut kemiringan 11°.

The continuous development of technology makes the use of electricity a crucial part of our daily life. The endless consumption of electricity leads to a decrease in limited fossil energy sources. Therefore, sustainable energy transition becomes an important issue to ensure energy availability in the future. The Indonesian government has set a national energy mix target of 23% by 2025 to accelerate the transition to sustainable energy. One effort to achieve this target is by building a Solar Power Plant. This research discusses the implementation of an on-grid rooftop solar power plant system without batteries in the factory building of PT. CT to determine the optimal rooftop solar power plant system and potential for more efficient use of PLN electricity. The rooftop rooftop solar power plant system with an 11° tilt angle can produce energy of 1969890 kWh per year, while the 15° tilt angle can only produce 1949709 kWh per year. In 25 years, the rooftop solar power plant system with an 11° tilt angle has a potential cost savings of 34.29%, while the system with a 15° tilt angle has a potential cost savings of 33.94%. With a difference in initial capital of IDR436,792,000.00, the payback period for both rooftop solar power plant systems is 9 years. Based on these factors, the more optimal on-grid rooftop solar power plant system without batteries to be used in PT.CT is the system with an 11° tilt angle."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fasri Hatomi
"Bertambahnya kebutuhan energi listrik di IKN akan berdampak pula pada bertambahnya penggunaan pembangkit listrik. Pengembangan energi listik kedepannya di IKN diharapkan akan menggunakan lebih banyak energi terbarukan. Untuk dapat menekan penggunaan energi fosil, salah satunya dapat dilakukan dengan memanfaatkan energi surya sebagai sumber energi listrik terbarukan. Pada penelitian ini akan membahas terkait dengan pengembangan energi terbarukan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 50 MW dengan skema KPBU-AP dan IPP di Ibukota Negara (IKN). Dalam menetapkan skema yang sesuai, dilakukan penilaian proyek dengan mempertimbangkan parameter penilaian keuangan yang terdiri dari Net Present value (NPV), Internal rate Return (IRR), dan Payback Period (PP) sebagai dasar dan pertimbangan dalam kelayakan finansial project investasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skema KPBU-AP lebih menguntungkan dari sisi investor dalam hal stabilitas pendapatan dan memperoleh jaminan dari pemerintah sehingga dapat meminimalisir resiko, sementara skema IPP bergantung pada jumlah listrik yang dihasilkan dan dijual yang memiliki potensi ketidakpastian. Dengan parameter yang sudah ditentukan dan regulasi, skema KPBU-AP dapat memberikan keuntungan lebih besar dibandingkan dengan skema IPP dengan menghasilkan nilai IRR sebesar 11,26%, NPV sebesar 163.472 (juta rupiah) dan payback period selama 8 tahun dibandingkan dengan skema IPP diperoleh IRR sebesar 8,61%, NPV sebesar 33.973 (juta rupiah) dan payback period selama 9 tahun.

The increasing demand for electrical energy in the New National Capital (IKN) will lead to a rise in the use of power plants. Future development of electrical energy in IKN is expected to utilize renewable energy sources. To reduce the use of fossil energy, one approach is to harness solar energy as a renewable electrical energy source. This study discusses the development of a 50 MW solar power plant (PLTS) using the PPP-AP and IPP schemes in IKN. In determining the appropriate scheme, a project assessment was conducted by considering financial evaluation parameters including Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), and Payback Period (PP) as the basis and consideration for the business entity. The results show that the KPBU-AP scheme is more advantageous for investors regarding income stability and government guarantees, thereby reducing risks. In contrast, the IPP scheme depends on the amount of electricity generated and sold. With the specified parameters and regulations, the KPBU-AP scheme provides greater benefits compared to the IPP scheme, yielding an IRR of 11.26%, an NPV of 163,472 million rupiahs, and a payback period of 8 years. In contrast, the IPP scheme yields an IRR of 8.61%, an NPV of 33,973 million rupiahs, and a payback period of 9 years."
Jakarta: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fahmi Maulana Yusuf
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2004
TA411
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Guruh Srisadad
"Solar home system merupakan sistem pembangkit listrik tenaga surya yang diaplikasikan pada sebuah rumah tinggal. Dengan menggunakan sebuah inverter jenis GTI atau grid tie inverter, listrik DC yang dihasilkan modul photo volt aic diubah menjadi listrik AC 220V 50Hz yang dapat tersinkronisasi dengan tegangan jala-jala PLN, sehingga jaringan listrik sistem rumah solar dapat terhubung dengan jaringan distribusi PLN. Dengan menghubungkan sistem photo volt aic dan sistem jaringan listrik PLN maka daya yang dihasilkan dapat digunakan untuk menyuplai beban peralatan rumah tangga sekaligus dieksport atau dikirim ke grid PLN. Dengan mempertimbangkan harga jual listrik ke PLN yang bervariatif berdasarkan waktu beban puncak sistem kelistrikan setempat, maka pada perancangan rumah cerdas yang berbasis solar cell ini, dibuat dua mode kerja yaitu mode PV grid connected dan PV back up battery. Pengujian sistem eksport import pada rumah cerdas ini dilakukan dengan memberi beban berupa empat buah lampu pijar dengan daya masing-masing 60 W dan 31 lampu fluorescent dengan daya masing-masing 8W yang diparalel satu persatu. Pengukuran daya diambil pada daya output inverter, daya beban, dan daya yang dikirim ke jaringan listrik PLN.

Solar home system is solar power generation system which is applied to a house. By using a grid tie inverter (GTI), the DC electricity produced by photo volt aic modules is converted into a 220 V 50 Hz AC power that can be synchronized with the voltage with PLN grid electricity, so that solar home systems can be connected to the PLN distribution network. By connecting the photo volt aic system and the PLNg rid, the power that generated by PV can be used to supply the loads of households appliances as well as in export or sent to the PLN grid. By considering the selling price of electricity to PLN which varied according to time of peak load locally electricity system, then the design of smart home-based solar cell were made of two modesi.e. PV grid connected dan PV backupb attery. The export import testing system of the smart house system is done by giving the load of four in can descent bulbs with power 60 Weach of them, and 31 fluorescent lights with 8 Weac of them that connect in paralel one by one. Power measurement is taken at the inverter output power, loadpower, and the power sent to PLN grid."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S1684
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Dody Ervant Kurniawan
"ABSTRAK
Energi dari tenaga surya merupakan salah satu sumber energi alternatif, dengan efisiensi yang masih rendah. Salah satu komponen penting pada sistem pembangkit tenaga surya adalah konverter, berfungsi untuk menaikkan tegangan. Salah satu komponen penting pada konverter penaik tegangan, boost converter, adalah induktor. Penelitian ini membahas pembuatan induktor dengan inti ferit
jenis E yang ada di pasaran dengan kawat enamel, dan mengujinya pada boost converter, untuk melihat karakteristik, serta efisiensi dan tegangan maksimum yang dapat dicapai. Uji coba dilakukan dengan mengubah parameter tegangan, jumlah lilitan, dan frekuensi. Dengan hasil, tegangan keluaran mencapai 232V, dan efisiensi sebesar 97,52% dengan beban lampu 5W/220-240V.

ABSTRACT
The solar power is one of alternative energy source, yet with low efficiency. One of solar power plant?s important component is converter, serves to raise the voltage. Its one of the important component is inductor. This research discussed the making of E-type power inductor using ferrite core available on market, with enamel wire, and see the characteristics on boost converter, as well as the
efficiency and maximum voltage obtained. Tests were performed by doing iterations on voltage, winding amount, and frequency, with the results of output voltage reaches 232V, and efficiency of 97.52% with a lamp (5W/220-240V ) as load."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S1671
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Surya Budi Ariyadi
"Pemerintah Indonesia mencanangkan program penggantian pembangkit listrik lama berbahan bakar fosil dengan pembangkit listrik Energi Terbarukan. Meskipun irradiasi matahari di negara ini baik, pengembangan pembangkit listrik tenaga surya fotovoltaik (PLTS) masih menghadapi hambatan-hambatan. Dalam penelitian ini dilakukan analisa tekno-ekonomi untuk mendapatkan desain PLTS yang optimal menggunakan HOMER Pro dan analisa kelayakan proyek melalui metode Discounted Cash Flow. Hasilnya, desain yang paling optimal adalah sistem tekoneksi jaringan dengan inverter 1 string sebesar 8MW serta opsi penggunaan baterai dan sistem penyimpan energi (BESS) sebesar 22,5 MWh 600V. PLTS tanpa BESS mendapatkan WACC sebesar 8,52%, PI sebesar 1,39, dan IRR sebesar 21,30%. Sedangkan PLTS dengan BESS memerlukan intervensi untuk meningkatkan keekonomian. Intervensi yang diuji dalam penelitian ini adalah pajak karbon, skema lelang kompetitif, pembangunan jalur transmisi, dan penyesuaian tarif. Kombinasi penerapan pajak karbon sebesar USD 3,6 sen/ton CO2e dan penyesuaian tarif minimum +36,15%, menghasilkan keekonomian yang lebih baik dengan IRR sebesar 14,74%. Skema lelang kompetitif dapat meningkatkan kelayakan skenario “dengan BESS” dengan WACC sebesar 1,88%, dan IRR sebesar 5,89%. Meskipun pengembangan PLTS tanpa BESS dapat dilakukan, risiko yang menyebabkan peningkatan modal harus dihindari. Sementara PLTS dengan BESS harus diintervensi untuk menurunkan biaya modal.

The Government of Indonesian launched programs of old fossil fuel-based power plants replacement with Renewable Energy power plant. Despite abundant solar irradiance in the country, solar photovoltaic (PV) power plant (Solar PV) development is facing interfering barriers. This research carried out techno-economic analysis of Solar PV design to obtain the most optimum design by using HOMER Pro and exercise project feasibility through Discounted Cash Flow method. The result shows that the most optimum technical design is grid-connected equipped with 1 string inverter of 8MW and optional Battery and Energy Storage System (BESS) of 22.5 MWh 600V. Without BESS Solar PV earned WACC of 8.52%, PI of 1.39, and IRR of 21.30%. While the development of solar PV power plant with BESS requires several interventions to enhance the economic. Some tested intervention i.e. carbon tax, competitive auction scheme, transmission line development, and tariff adjustment. A combination of Carbon Tax implementation of cents USD 3,6/ton CO2e and tariffs adjustment of minimum +36,15%, results in higher economic with IRR of 14.74%. A competitive auction scheme could enhance the feasibility level of “with BESS” scenario with WACC of 1.88%, and IRR of 5.89%. Despite of solar PV power plant without BESS development is feasible, some risks which lead to capital increasement should be avoided. While solar PV power plant with BESS development should be intervened by some measures to lower the capital cost."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Clarissa Stellavania
"Mengikuti perkembangan industri kendaraan listrik di Indonesia, PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) telah menyediakan 52 unit bus listrik untuk beroperasi dengan suplai listrik yang disediakan oleh PLN seluruhnya. Sayangnya, 86,95% dari total produksi listrik di Indonesia pada tahun 2020 berasal dari bahan bakar fosil. Untuk mengatasi permasalahan emisi gas rumah kaca dan cadangan energi fosil yang menipis, Kementerian ESDM mencanangkan Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang menargetkan pencapaian EBT sebesar 23% pada tahun 2025. Sayangnya, pemenuhan target tersebut masih cukup jauh dengan pemanfaatan energi surya sebagai PLTS di Indonesia masih sangat kecil, yaitu sekitar 0,2 GW dari potensi yang mencapai lebih dari 200 GW. Implementasi yang minim ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti kebutuhan lahan dan kebutuhan modal. Salah satu solusi terhadap permasalahan ini adalah pemasangan PLTS pada kendaraan listrik. Hasil analisis teknis didukung oleh hasil perhitungan ekonomi dan analisis risiko dengan metode Monte Carlo menunjukkan bahwa pemasangan PLTS pada bus listrik Transjakarta dengan modul monocrystalline layak untuk dilaksanakan. Kelayakan investasi menghasilkan Net Present Value sebesar Rp54.777.292, Internal Rate of Return sebesar 13,02%, Payback Period sebesar 6,41 tahun, dan Profitability Index sebesar 1,47 untuk menghasilkan daya 12,275 MWh/tahun dengan derajat keyakinan parameter NPV, IRR, PBP, dan PI > 50%.

As Indonesia's electric vehicle market grew, PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) provided 52 electric bus units that run solely on PLN power. However, fossil fuels contributed to 86.95% of Indonesia's entire electricity output in 2020. In fact, 2.3% of the world's total greenhouse gas emissions came from Indonesia, where 1.24 gigatons of carbon dioxide were emitted. The Ministry of Energy and Mineral Resources proposed the National Energy Policy (KEN), which aims to reach a 23% share of renewable energy by 2025, in order to address the issues of greenhouse gas emissions and the dwindling amount of fossil fuel reserves. Unfortunately, this objective is still a long way off. One example is the relatively low adoption of solar energy as solar power plant in Indonesia, which currently at about 0.2 GW out of a potential of over 200 GW. There are a few reasons for this minimum implementation, including capital and land requirements. A potential solution to solve this issue is to install rooftop solar power systems on top of electric buses. The results of the technical analysis supported by the results of economic calculations and risk analysis with the Monte Carlo method show that the installation of PLTS on Transjakarta electric buses with monocrystalline modules is feasible to implement. The investment feasibility resulted in a Net Present Value of IDR 54,777,292, an Internal Rate of Return of 13.02%, a Payback Period of 6.41 years, and a Profitability Index of 1.47 to produce 12.275 MWh/year of power with a degree of confidence in the NPV, IRR, PBP, and PI parameters > 50%."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nadyanti Larasati
"Saat ini energi baru dan terbarukan sedang dalam masa pengkajian agar penggunaannya dapat lebih meluas di waktu yang akan datang. Salah satu sumber energi baru dan terbarukan yang umum digunakan adalah energi surya melalui teknologi sel surya yang dapat mengonversikan energi surya menjadi energi listrik dan kemudian menjadi salah satu komponen yang menyusun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Penggunaan PLTS dapat diinterkoneksikan dengan jaringan distribusi pada sistem tenaga listrik, baik itu jaringan tegangan menengah maupun jaringan tegangan rendah. Pada skripsi ini dilakukan studi interkoneksi PLTS kapasitas 3 MWp dengan sistem jaringan tegangan menengah (JTM) 20 kV Kota X. Studi interkoneksi yang dilakukan terdiri dari studi aliran daya dan studi gangguan hubung singkat menggunakan perangkat lunak ETAP 12.6.0. Hasil dari studi aliran daya menunjukkan level tegangan tiap bus mengalami kenaikan sebesar 0,293%-0,926% setelah dilakukan interkoneksi dengan sistem PLTS, dengan nilai yang masih sesuai standar SPLN 1:1978 yaitu sebesar 90% hingga 105%. Selain itu, hasil dari studi gangguan hubung singkat menunjukkan nilai arus gangguan hubung singkat tiga fasa mengalami perubahan nilai yang tidak terlalu signifikan, yaitu kenaikan dengan nilai 1-37 A dan penurunan 1-5 A, dengan nilai yang masih sesuai standar pengenal komponen proteksi sebesar 25 kA.

Currently, renewable energy is under review so that its use can be more widespread in the future. One of the renewable energy sources that are commonly used is solar energy through solar cell technology that can convert solar energy into electrical energy and then becomes one of the components that makes up the solar power plant. The use of solar power plant can be interconnected with distribution networks in electric power systems, both medium voltage networks and low voltage networks. In this study a 3 MWp capacity of solar power plant was conducted with the medium voltage network system of X City. This interconnection study consisted of power flow and short circuit studies using ETAP 12.6.0 software. The results of the power flow study show the voltage level of each bus has increased by 0.293%-0.926% after interconnection with solar power plant system, with a value that still matches the SPLN 1:1978 standard of 90% to 105%. In addition, the results of short circuit study show the value of the three phase short circuit fault current experienced a change in value that is not too significant, with an increase of 1-37 A and a decrease of 1-5 A, with a value that is still according to the protection component rating standard of 25 kA."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Howell, John R.
New York : McGraw-Hill, 1982.
621.47 HOW s
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>