Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 165551 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ekotyas Elastrina A
"Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai hubungan antara psychological capitaldan intention to leave pada perawat. Pengukuran psychological capital menggunakan alat ukur psychological capital questioner (Luthans, Youssef, & Avolio, 2007) dan pengukuran intention to leave menggunakan alat ukur anticipated turnover scale (Atwood, 1985). Partisipan berjumlah 187 orang perawat yang bekerja di rumah sakit umum swasta.
Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara psychological capital dan intention to leave pada perawat (r = -0,169; p = 0.010, signifikan pada L.o.S 0.05). Artinya, semakin tinggi psychological capital yang dimiliki seseorang, maka semakin rendah intention to leave yang dimiliki. Berdasarkan hasil tersebut, psychological capital pada perawat perlu dikembangkan untuk menurunkan intention to leave sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan yang optimal kepada masyarakat.

This research was conducted to find the correlation between psychological capital; and intention to leave among nurses.Psychological capital was measured using a modification instrument named psychological capital questioner (Luthans, Youssef, & Avolio, 2007 ) and intention to leave was measured using a modification instrument named anticipated turnover scale (Atwood, 1985). The participants of this research are 187 nurseswho are working in private hospital.
The main results of this research show that psychological capital has negative correlatio significantly with intention to leave (r = -0.169; p = 0.010, significant at L.o.S 0.05). That is, the higher psychological capital of one?s own, the lower showing intention to leave. Based on these results, psychological capital among nurse need to be developed to reduce intention to leave so they can give the best health service to the people."
Depok: Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Reyna Armelia
"Penelitian ini fokus pada hubungan antara psychological capital dan psychological empowerment pada perawat. Psychological capital adalah suatu perkembangan psikologis yang positif pada individu yang memiliki karakteristik self efficacy, optimism, hope, dan resiliency (Luthans, Youssef, dan Avolio, 2007). Psychological empowerment adalah sebuah konstruk motivasi yang diwujudkan dalam empat kognisi, yaitu meaning, competence, self determination, dan impact (Spreitzer 1995). Penelitian sebelumnya belum banyak yang menjelaskan hubungan antara kedua variabel, khususnya di Indonesia, dan aplikasinya pada perawat. Pengukuran psychological capital menggunakan alat ukur Psychological Capital Questionnaire (PCQ) (Luthans dkk, 2007) dan pengukuran psychological empowerment menggunakan alat ukur Psychological Empowerment Questionnaire (PEQ) (Spreitzer, 1995). Partisipan adalah 176 perawat di Rumah Sakit X yang terpilih secara accidental. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan positif yang signifikan antara psychological capital dengan psyhological empowerment pada perawat (r = 0,546, p = 0,000, signifikan pada L.o.S 0,01). Artinya, semakin tinggi psychological capital yang dimiliki perawat, maka semakin tinggi pula tingkat psychological empowerment pada dirinya. Dengan demikian, manajemen rumah sakit sebaiknya menciptakan iklim kerja yang lebih baik dan lebih kondusif.

This study focused on correlation between psychological capital and psychological empowerment among nurses. Psychological capital is an individual?s positive psychological state of development and is characterized by self efficacy, optimism, hope, dan resiliency (Luthans, Youssef, dan Avolio, 2007). Psychological empowerment is a motivational construct manifested in four cognitions1 meaning, competence, self-detennination and impact (Spreitzer, 1995). Previous studies haven?t explained the relationship between two variables, especially in Indonesia, and its application among nurses. Psychological capital was measured using a modification instrument named Psychological Capital Questionnaire (PCQ) (Luthans et al, 2007) and psychological empowennent was measured using a modification instrument named Psychological Empowerment Questionnaire (PEQ) (Spreitzer, 1995). The participants of this research are 176 nurses at Hospital X by accidental sampling. The main results of this research show that psychological capital positively correlated significantly with psychological empowerment (r = 0,546, p = 0,000, significant at L.o.S 0,0l). That is, the higher psychological capital of one?s own, the higher showing psychological empowerment. From this result, the hospital is suggested to create better and more condusive work climate for the nurses."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Michael Mikko
"Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan antara psychological capital dan komitmen organisasi pada perawat. Pengukuran psychological capital menggunakan alat ukur psychological capital questionnaire (Luthans, et al., 2007) dan pengukuran komitmen organisasi menggunakan alat ukur Commitment scale items (Allen dan Meyer, 1990). Partisipan berjumlah 175 orang perawat. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan positif yang signifikan antara psychological capital dengan komitmen organisasi pada perawat (r = 0.149; p = 0.050, signifikan pada L.o.S 0.05). Artinya, semakin tinggi psychological capital yang dimiliki oleh seseorang, maka semakin tinggi pula komitmen organisasi yang dimiliki orang tersebut. Selain itu, komponen psychological capital yang memiliki sumbangan paling besar, yaitu self-efficacy. Berdasarkan hal tersebut, seorang perawat perlu ditingkatkan psychological capital-nya terutama komponen self-efficacy sebagai salah satu faktor yang meningkatkan komitmen organisasi.
This research was conducted to find the correlation between psychological capital and organizational commitment among nurses. Psychological Capital was measured using an instrument named psychological capital questionnaire (Luthans, et al., 2007) and organizational commitment was measured using an instrument named commitment scale items (Allen and Meyer, 1990). The participants of this research are 175 nurses. The main results of this research show that psychological capital positively correlated with organizational commitment (r = 0.149; p = 0.050, significant at L.o.S 0.05). which means, the higher psychological capital someone‟s own, showing the higher organizational commitment. Furthermore, the biggest contribution component of psychological capital toward organizational commitment was self-efficacy. Based on these result nurses need to improve the psychological capital especially self-efficacy, as one of factor that increasing organizational commitment."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Agieta Gessy Gupita
"Turnover karyawan merupakan salah satu masalah yang dihadapi oleh setiap perusahaan atau organisasi. Di Indonesia, angka turnover karyawan dapat dikatakan tinggi. Salah satu industri di Indonesia dengan angka turnover karyawan yang tinggi adalah industri perbankan. Turnover intention dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah adanya psychological capital yang dimiliki karyawan. Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan ada atau tidaknya hubungan antara psychological capital dan turnover intention pada karyawan. Responden penelitian ini adalah 135 karyawan Bank Syariah X (n = 135). Pengukuran psychological capital dilakukan dengan menggunakan alat ukur Psychological capital Questionnaire (PCQ) yang dikembangkan oleh Luthans, Youssef dan Avolio (2007), sedangkan turnover intention diukur dengan Turnover intention Scale (TIS-6) yang dikembangkan oleh Bothma dan Roodt (2013). Hasil korelasi Pearson membuktikan bahwa terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara psychological capital dan turnover intention pada karyawan Bank Syariah X (r = -0.43, p < 0.01, one tailed).

Employee turnover is one of the problems faced by every company or organization. In Indonesia, the rate of employee turnover is high. One of the industries in Indonesia which have high rate of employee turnover is banking industry. Turnover intention can be influenced by several factors, one of them is the existence of psychological capital owned by employees. This research was conducted to prove whether or not the relationship between psychological capital and turnover intention among employee. The respondents of this research was 135 employees (n = 135) of Bank Syariah X. The measurement of psychological capital was done by using Psychological capital Questionnaire (PCQ), and turnover intention was measured by Turnover intention Scale (TIS-6). Pearson correlation result proves that there is a negative and significant relationship between psychological capital and turnover intention among employees of Bank Syariah X (r = -0.43, p < 0.01, one tailed)."
Depok: Universitas Indonesia, 2016
S63244
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Monika Paramitha
"Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai hubungan antara psychological capital dan in-role performance pada sales promotion girls. Psychological capital merupakan suatu keadaan perkembangan psikologis yang positif pada individu dengan empat karakteristik, yaitu self-efficacy, hope, optimism, dan resiliency (Luthans, Youssef, & Avolio, 2007). In-role performance didefinisikan sebagai perilaku yang dituntut atau diharapkan dan merupakan dasar dari job performance reguler dan yang sedang berjalan (Katz, 1964 dalam Van Dyne & LePine, 1998). Pengukuran psychological capital menggunakan alat ukur Psychological Capital Questionnaire (Luthans, Youssef, & Avolio, 2007) dan pengukuran in-role performance menggunakan kategori in-role performance pada alat ukur Job Performance Questionnaire (Van Dyne & LePine, 1998). Dalam penelitian ini, in-role performance sales promotion girls dinilai oleh atasan langsung mereka. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 221 sales promotion girls dengan masa kerja minimal 1 bulan.
Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan positif yang signifikan antara psychological capital dan in-role performance (r = 0,189; p = 0,005, signifikan pada L.o.S 0.01). Artinya, semakin tinggi psychological capital yang dimiliki seseorang, maka semakin tinggi pula in-role performance yang ditampilkan. Selain itu, komponen psychological capital yang memberikan sumbangan paling besar pada in-role performance yaitu self-efficacy.
This research was conducted to find the correlation between psychological capital and in-role performance among sales promotion girls. Psychological Capital is an individual?s positive psychological state of development and is characterized by self-efficacy, hope, optimism, and resiliency (Luthans, Youssef, & Avolio, 2007). In-role performance is defined as the required or expected behavior and is the basis of regular and ongoing job performance (Katz, 1964 in Van Dyne & LePine, 1998). Psychological capital was measured using a modification instrument named Psychological Capital Questionnaire (Luthans, Youssef, & Avolio, 2007) and in-role performance was measured using the in-role performance category from a modification instrument named Job Performance Scale (Van Dyne & LePine, 1998). Sales promotion girls? in-role performance was rated by their direct supervisor. The participants of this research are 221 sales promotion girls who have at least work in a company for a month.
The main results of this research show that psychological capital is positively correlated significantly with in-role performance (r = .189; p = .005, significant at L.o.S 0.01). That is, the higher psychological capital of one?s own, the higher in-role performance is showed. Furthermore, self-efficacy is the psychological capital?s component that gives the biggest contributions toward in-role performance.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Krisma Adiwibawa
"ABSTRAK
Pilot merupakan pekerjaan dengan tingkat stres yang tinggi. Sebagai orang yang
memiliki tanggung jawab besar terhadap keselamatan penerbangan usaha untuk
mengurangi stres pada pilot perlu dilakukan karena dapat mengganggu kinerja
pilot. Psychological capital (PsyCap), yang terdiri dari self-efficacy, hope,
resiliency, dan optimism ditemukan berhubungan negatif dengan stres kerja
(Avey, Luthans, & Jensen, 2009). Di sisi lain, Cavanaugh, Boswell, Roehling, dan
Boudreau (2000) menemukan ada dua jenis stres kerja, yaitu stres kerja akibat
sumber stres yang menantang (challenge stressor) dan stres kerja akibat sumber
stres yang menghambat (hindrance stressor) yang disebut stres kerja dua dimensi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dan arah hubungan antara
PsyCap dan kedua dimensi dari stres kerja tersebut. Hasil penelitian ini
mendapatkan tidak ada hubungan yang signifikan antara PsyCap dan kedua
dimensi stres kerja. Meskipun demikian, komponen resiliency dari PsyCap
ditemukan memiliki hubungan negatif yang signifikan pada dimensi challenge
dan dimensi hindrance hindrance dari stres kerja

ABSTRACT
Pilot is a job with high stress level. As a personnel who has great responsibility
towards aviation safety, effort to reduce pilots’ stress needs to be done because
it can interfere with the pilots’ performance. Psychological capital (PsyCap),
which consists of self-efficacy, hope, esiliency, and optimism was found
negatively related to job stress (Avey, Luthans, & Jensen, 2009). On the other
hand, Cavanaugh, Boswell, Roehling, and Boudreau (2000) found there are two
types of job stress, stress caused by challenging stressors and stress caused
hindrance stressors, which is called two-dimensional job stress. This study
aimed to investigate the relationship and the direction of the relationship
between PsyCap and two dimensions of the job stress. The results of this study
showed that the relationship between PsyCap and both dimensions of job stress
was non-significant. However, resiliency as one component of PsyCap was
found to have a significant negative relationship with both dimension of job
stress."
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2014
S57454
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Paramita Noor Yanti
"ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan menguji hubungan antara perceived organizational support dan psychological capital pada karyawan PT. XYZ yang sedang melakukan perubahan organisasi. Partisipan penelitian adalah 135 karyawan PT. XYZ. Perceived organizational support diukur dengan Survey of Perceived Organizational Support yang dikembangkan Eisenberger, et. al. (1986). Psychological capital diukur dengan Psychological Capital Questionnaire yang dikembangkan Luthans, Youssef, dan Avolio (2007). Hasil menunjukkan adanya hubungan positif signifikan antara perceived organizational support dengan psychological capital (r=0,466, p<0,01). Hasil mengimplikasikan bahwa akan lebih baik bila PT. XYZ lebih memperhatikan kebijakan terkait sumber daya, kondisi pekerjaan, dan memberikan pelatihan untuk pekerjaan yang terkena dampak perubahan organisasi.

ABSTRACT
This study examined the relationship between perceived organizational support and psychological capital on PT. XYZ employees during organizational change. Participants were 135 PT. XYZ employees. Perceived organizational support was measured by Survey of Perceived Organizational Support developed by Eisenberger, et. al. (1986). Psychological capital was measured by Psychological Capital Questionnaire developed by Luthans, Youssef, and Avolio (2007). Result showed a significant positive relationship between perceived organizational support and psychological capital (r=0,466, p<0,01). Result implicates that it will be better if PT. XYZ pay more attention to their resources policy, job condition, and provide training for jobs affected by organizational change."
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2014
S53581
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Agung K. Rahayu; Silverius Yoseph Soeharso; Aisyah
"Sebuah survei sebagaimana dikutip oleh salah satu perusahaan multi nasional di Indonesia, menyebutkan bahwa 60% dari generasi dewasa muda Indonesia melakukan turnover dalam kurun waktu tiga tahun bekerja. Perilaku turnover diawali dengan adanya intention yang menjadi turnover intention, hal penting sebagai prediktor yang kuat terhadap turnover. Berdasarkan penelitian terdahulu, terdapat hubungan negatif yang signifikan antara psychological capital dan turnover intention. Dengan adanya pengetahuan, pendapat, dan pandangan individu, terhadap turnover intention dapat dipengaruhi oleh occupational future time perspective yang merupakan aspek gambaran subjektif individu, di mana hal ini dapat mempengaruhi pilihan dan tindakan seseorang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh psychological capital dan occupational future time perspective terhadap turnover intention pada karyawan dewasa muda. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Sampel dari penelitian ini adalah sebanyak 146 responden, yaitu 48% laki-laki dan 52% perempuan. Analisis menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan pada psychological capital dan occupational future time perspective secara bersama-sama terhadap turnover intention. Saran praktis bagi perusahaan-perusahaan, dapat lebih mengembangkan psychological capital karyawannya agar dapat memfasilitasi motivasi dan intensi tingkah laku untuk mencapai performance yang lebih baik yang akan berdampak baik pada perusahaan juga."
Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Pancasila, 2016
150 MS 7:2 (2016)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Dini Rahmawati
"ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepuasan citra
tubuh dan psychological well-being pada wanita usia dewasa madya. Di usia
dewasa madya, wanita mengalami perubahan fisik yang dapat mempengaruhi
kepuasan citra tubuhnya (Koch, Mansfield, Thurau, dan Carey, 2005). Walaupun
ketidakpuasan terhadap citra tubuh dapat mempengaruhi psychological well-being
secara negatif (Cash & Pruzinsky, 2002), wanita memiliki kegiatan-kegiatan
lainnya yang lebih diutamakannya yang bisa memperkaya hidupnya (Lachman,
2004). Penelitian kuantitatif ini dilakukan pada 61 wanita berusia dewasa madya
antara usia 40 hingga 64 yang berdomisili di Jabodetabek. Kepuasan citra tubuh
diukur dengan Multidimensional Body-Self Relations Questionnaire (MBSRQ),
sedangkan psychological well-being diukur dengan Psychological Well-Being
Scales (SPWB). Kesimpulan yang diperoleh adalah kepuasan citra tubuh
berhubungan positif secara signifikan dengan psychological well-being (r = 0,289;
p = 0,028, signifikan pada L.o.S. 0,05).

ABSTRACT
This study is aimed to investigate the correlation between body image
satisfaction and psychological well-being of middle-aged women. During midlife,
women experience physical changes that affect their body image satisfaction
(Koch, Mansfield, Thurau, dan Carey, 2005). Although body image dissatisfaction
can negatively affect psychological well-being (Cash & Pruzinsky, 2002), women
have other activities that have become their priorities that will further enrich their
lives (Lachman, 2004). This is a quantitative study of 61 middle-aged women
between the age of 40 and 64 who are living in Jabodetabek. Body image
satisfaction is measured using Multidimensional Body-Self Relations
Questionnaire (MBSRQ), whereas psychological well-being is measured using
Psychological Well-Being Scales (SPWB). This study concludes that there is a
significant positive correlation between body image satisfaction and psychological
well-being (r = 0,289; p = 0,028, significant at L.o.S. 0,05)."
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2014
S53660
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Alisha Fitrianti Nur
"Penelitian ini membahas tentang hubungan antara psychological well-being dan harapan pada ibu dari anak dengan gangguan autisme. Responden penelitian ini merupakan 44 ibu dari anak dengan gangguan autisme. Dengan melakukan pengukuran menggunakan Ryff’s Scales of Psychological Well-Being dan The Adult Trait Hope Scale, didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara psychological well-being dan harapan pada ibu dari anak dengan gangguan autisme (r = .633; n = 44; p < 0,01, one-tailed).Artinya, semakin tinggi psychological well-being ibu, maka semakin tinggi pula harapan ibu terhadap masa depan anaknya yang mengalami gangguan autisme. Terdapat empat dari enam dimensi psychological well-being yang berkorelasi positif dan signifikan dengan harapan, yaitu self-acceptance, positive relation with others, autonomy, dan environmental mastery. Sedangkan kedua komponen harapan, agency dan pathways,berkorelasi positif dan signifikan dengan psychological well-being. Agar mendapat penjelasan yang lebih komprehensif mengenai psychological wellbeing dan harapan pada ibu dari anak dengan gangguan autisme, perlu dilakukan penelitian lanjutan menggunakan pendekatan kualitatif.

The focus of the study is to examine the relationship between psychological well-being and hope among mothers of children with autism. The respondents of this study were 44 Indonesian mothers of children with autism. Measured by Ryff‘s Scales of Psychological Well-Being and The Adult Trait Hope Scale, this study obtain a significant, positive relationship between psychological well-being and hope(r = .633; n = 44; p < 0,01, one-tailed). It indicates that the higher mothers‘ psychological well-being, the higher their hope to their child‘s future, and vice versa. Next, there are four out of six dimension of psychological wellbeing that have significant, positive relationship to hope, they are selfacceptance, positive relation with others, autonomy, and environmental mastery. On the other hand, both components of hope, agency and pathways, also have significant, positive relationship to psychological well-being. In order to obtain a more comprehensive explanation of the psychological well-being and hope in mothers of children with autism, further research needs to be done using a qualitative approach."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2013
S52591
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>