Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 169670 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ai Cahyati
"ABSTRAK
OSA dapat memperberat komplikasi CAD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan risiko terjadinya OSA pada pasien CAD. Penelitian ini menggunakan rancangan Cross Sectional. Responden berjumlah 161 orang. Pengukuran risiko OSA menggunakan kuesioner. Dari hasil analisis data ditemukan ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin, riwayat keluarga, IMT, hipertensi, diabetes melitus, lingkar leher dan lingkar perut dengan risiko terjadinya OSA, sedangkan umur dan dislipidemia tidak berhubungan. Faktor yang paling berhubungan adalah IMT, Diabetes Melitus dan lingkar perut. Rekomendasi: Deteksi dini risiko terjadinya OSA sangat diperlukan bagi pasien CAD.

ABSTRACT
OSA can give complicated burdens on CAD. This research aimed at indentifying factors which relate to risks of the occurrence of OSA on patients with CAD. This research employed Cross Sectional Design. The total of respondents were 161 respondents. The measurement of OSA risks was conducted using questionnaires. The result of data analyse identified that there is a significant correlation among sex, history of family, IMT, hypertension, Diabetic mellitus, circle of neck and belly with the risks of OSA occurrence, whereas, the age and dislipidemia do not have correlation with the evidence of OSA. The most significant correlated factors are IMT, Diabetic mellitus and the circle of belly. Recommendation reveals that screening on the risks of OSA occurrence is needed for CAD patients."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
T33104
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Riski Satria Perdana
"ABSTRAK
Obstructive sleep apnea (OSA) adalah salah satu dari bentuk gangguan pernapasan saat tidur (sleep disordered breathing) dengan angka prevalensi yang tinggi dan sering tidak terdiagnosis. OSA adalah suatu penyakit yang ditandai dengan peristiwa kolapsnya saluran napas bagian atas secara periodik pada saat tidur yang mengakibatkan apnea, hipoapnea atau. Gejala klinis OSA sering tidak terdeteksi, namun diduga kuat berhubungan dengan berbagai macam komplikasi medis. Data terkini dari beberapa penelitaan mendokumentasikan hubungan antara OSA dan penyakit kardiovasular, seperti hipertensi, penyakit jantung koroner (PJK), gagal jantung, aritmia dan arterosklerosis. PJK merupakan penyebab kematian tertinggi setelah kecelakaan pada usia produktif. Patofisiologi OSA pada kardiovaskular yang sulit dideteksi dapat menyebabkan penatalaksanaan penyakit kardiovaskular menjadi kurang efektif. Keberadaan OSA merupakan prediktor kuat kejadian fatal kardiovaskular pada pasien dengan masalah jantung dan pembuluh darah. peningkatan aktifitas simpatis, aktifasi penanda gangguan metabolik dan penanda inflamasi, dan kerusakan fungsi pembuluh darah, adalah bebarapa mekanisme penyebab yang menjelaskan hubungan antara OSA dan penyakit kardiovaskular. Identifikasi OSA pada PJK menjadi penting untuk menentukan strategi tatalaksana. Keberadaan OSA pada PJK harus betul-betul diperhatikan pada praktek sehari-hari. Berbagai penelitian harus dilakukan untuk mengetahui apakah tatalaksana OSA pada penderita PJK dapat menurunkan morbiditas. Pada penelitian ini, yang melibatkan 62 percontoh, dilaporkan sebanyak 35 (56,5%) percontoh yang semua adalah penderita PJK, juga mempunyai OSA positif berdasarkan pemeriksaan polisomnografi (PSG). Obesitas dan nilai Friedman tounge position menjadi dua faktor risiko bermakna pada OSA dengan PJK. Diketahui keluhan excessive daytime sleepiness adalah keluhan utama yang memiliki hubungan bermakna pada OSA dengan PJK.

ABSTRACT
Obstructive sleep apnoea (OSA) is a form of sleep disordered breathing with a high prevalence rate and is often underdiagnosed. OSA is a disease characterized by periodic upper airway collapse during sleep, which then results in either apnea, hypoapnea or both.OSA commonly undetected but it is strongly associated with variety of medical complications. Recent data from several studies has documented the association between OSA and cardiovascular disorder such as hypertension, coronary artery disease (CAD), heart failure, arrhytmias and atherosclerosis. CAD is the most commonly caused fatal even after accident in middle age. The undetectable cardiovascular complication that lead by OSA can make the management of the cardiovascular disorder became uneffective. The presence of OSA may be a strong predictor of fatal cardiovascular events in patients with cardiovascular disease (CVD). Increased sympathetic drive, activation of metabolic and inflammatory markers, and impaired vascular function are some of the proposed mechanisms that could explain the association between OSA and cardiovascular diseases. Understanding these mechanisms is important for identifying treatment strategies. The presence of OSA should be considered in clinical practice, especially in patients with CVD. Randomized intervention studies are needed to establish whether early identification and treatment of OSA patients reduces cardiovascular morbidity. In this study, that involved 62 CAD patient, 35 (56,5%) had OSA based on PSG examination.Obesity and Friedman tounge position degree are two factors that had asscosiation in OSA with CAD.based on our finding, excessive daytime sleepiness is the major complained that have asscosiation in OSA with CAD.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Irma Surya Anisa
"Pada tahun 2015 Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) menyebabkan kematian rata-rata sekitar 5% di dunia dan jumlah kejadian PPOK di Indonesia rata-rata sebesar 3,7%. Salah satu komplikasi yang dapat dialami oleh pasien PPOK adalah nocturnal hypoxemia yaitu kurangnya asupan oksigen pada waktu malam hari. Keadaan ini akan semakin diperberat jika pasien PPOK juga menderita gangguan tidur berupa Obstructive Sleep Apnea (OSA). OSA adalah gangguan tidur yang disebabkan oleh saluran napas yang tersumbat dan menyebabkan jeda sementara saat napas minimal 10 detik. Ketika PPOK dan OSA terjadi disaat yang bersamaan dapat menyebabkan dua kali lipat kondisi tidak nyaman saat bernapas.
Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan model prediksi risiko terjadinya Obstructive Sleep Apnea (OSA) pada pasien PPOK berdasarkan faktor-faktor yang memengaruhi risiko terjadinya OSA pada pasien PPOK. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer pasien PPOK yang telah terdiagnosis oleh dokter di RSCM dengan mewawancarai menggunakan kuesioner Berlin dan pemeriksaan fisik seperti mengukur lingkar leher dan lingkar pinggang. Sampel yang dipilih menggunakan non-probability sampling dengan metode purposive sampling. Sampel pada penelitian ini adalah pasien PPOK sebanyak 111 pasien.
Metode yang digunakan adalah regresi logistik biner untuk memprediksi model risiko terjadinya OSA pada pasien PPOK. Hasil yang didapatkan untuk faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap risiko terjadinya OSA pada pasien PPOK adalah lingkar pinggang dan Kuesioner CAT 2 (PPOK derajat berat) yang berarti pasien PPOK dengan derajat berat. Pasien PPOK berderajat berat lebih berisiko terkena OSA sebesar 4,39 kali lebih besar dibandingkan pasien PPOK berderajat ringan hingga sedang dan setiap kenaikan 1 cm lingkar pinggang pada pasien berisiko terjadinya OSA. Hasilnya menunjukan bahwa pasien PPOK derajat berat lebih berisiko terjadinya OSA dibandingkan yang tidak. Keakuratan model tersebut dihitung menggunakan tabel klasifikasi pada cut point 0,5, diperoleh tingkat ketepatan klasifikasi sebesar 73,9%.

Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) has caused death of around 5% in the world and 3.7% in Indonesia. One of the complications that can be experienced by patients with COPD is nocturnal hypoxemia, which is the lack of oxygen intake at night. This situation will be more aggravated if patients with COPD also suffer from sleep disorder which is called Obstructive Sleep Apnea (OSA). OSA is a sleep disorder caused by a blocked airway and led to a temporary pause while breathing for at least 10 seconds. When COPD and OSA occur at the same time, it can create double discomfort while breathing.
The purpose of this research is to determine prediction model occurrence OSA risk in COPD patient based on factor affecting the risk of OSA occurring in COPD patients. Data used in this research is primary data from COPD patients who is diagnosed by doctor at RSCM by interviewing them using Berlin questionnaire and physical examination such as measuring the circumference of neck and waist.
This study uses non-probability sampling i.e. purposive sampling method. Sample of this research is 111 patients with COPD. This research uses binary logistic regression to predict model occurrence of OSA risk in COPD patients. This study shows that waist circumference and COPD Assessment Test (CAT) 2 questionnaire (COPD patients with severe degree) are significant factor of OSA on COPD patient. In addition, COPD patients with severe degree are 4.39 times greater risk suffer from OSA than mild to moderate COPD patients and each centimetre increase of waist circumference has higher risk of OSA. Accuracy of our model is estimated using classification table with cut point at 0.5 and its accuracy is 73,9%.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dewi Kartika Suryani
"Latar belakang: Sindrom Down merupakan kelainan kromosom tersering. Anak dengan SD memiliki beberapa faktor risiko terhadap OSA dengan prevalens di berbagai negara yaitu antara 30-60 , dibandingkan 0,7-2 pada populasi umum. Hingga saat ini belum ada data mengenai OSA pada anak sindrom Down di Indonesia. Tujuan: Mengidentifikasi prevalens OSA pada anak sindrom Down dan menganalisis hubungan antara habitual snoring, obesitas, penyakit alergi di saluran napas, hipertrofi tonsil, dan hipertrofi adenoid sebagai faktor risiko OSA pada anak sindrom Down. Metode: Penelitian potong lintang dilakukan pada anak sindrom Down berusia 3-18 tahun yang tergabung dalam Yayasan POTADS. Penelitian dilakukan di Poliklinik Respirologi IKA FKUI RSCM dari bulan Juli 2016 hingga Juli 2017. Penegakkan diagnosis OSA menggunakan nilai batas AHI 3 pada pemeriksaan poligrafi. Faktor-faktor risiko yang dianggap berpengaruh dianalisis secara multivariat. Hasil: Penelitian dilakukan terhadap 42 subjek dengan hasil prevalens OSA pada anak dengan SD sebesar 61,9 . Sebesar 42,9 merupakan OSA derajat ringan, 14,3 OSA sedang, dan 4,8 OSA berat. Pada analisis multivariat didapatkan faktor risiko yang bermakna yaitu habitual snoring p=0,022 dan PR 8,85; IK 1,37-57 dan hipertrofi adenoid p=0,006 dan PR 12,93; IK 2,09-79 . Simpulan: Prevalens OSA pada anak sindrom Down sebesar 61,9 . Faktor risiko yang bermakna yaitu habitual snoring dan hipertrofi adenoid.

Background Down syndrome DS is the most common chromosomal disorder. Children with DS have predisposing factors to OSA with prevalence 30 60 , compared with 0.7 2 in the general child population. Until now there is no data about OSA in DS children in Indonesia. Objective To identify the prevalence of OSA in DS and to analyze the effect of habitual snoring, obesity, airways allergic diseases, tonsillar hypertrophy, and adenoid hypertrophy as risk factor for OSA. Method This is a cross sectional study, held in Respirology Clinic of IKA FKUI RSCM Jakarta from July 2016 to July 2017. Subjects in this study were DS children aged 3 18 years who are members of the Foundation POTADS Parents Association of Children with Down Syndrome . OSA was diagnosed by polygraphy examination with cutoff AHI ge 3. The risk factors that are considered important are then analyzed multivariately. Results OSA prevalance among 42 subject are 61,9 . Degree of OSA are 42.9 mild, 14.3 moderate, and 4.8 severe. In the multivariate analysis, the significant risk factor are habitual snoring p 0,022 and PR 8,85 CI 1,37 57 and adenoid hypertrophy p 0,006 and PR 12,93 CI 2,09 79 . Conclusion Prevalence of OSA in DS children is 61,9 . The significant risk factor are habitual snoring and adenoid hypertrophy."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Astri Hapsari
"Latar belakang: Pasien celah bibir dan langit-langit (CLP) memiliki karakteristik ukuran maksila dan mandibula yang lebih kecil, posisi maksila dan mandibula yang retrognati, dimensi faring yang lebih kecil, dan posisi tulang hyoid yang lebih inferior. Gangguan pada struktur wajah dan jalan napas ini meningkatkan risiko gangguan napas saat tidur terutama Obstructive Sleep Apnea (OSA). OSA merupakan gangguan tidur berupa episode berulang sumbatan jalan napas baik parsial dan total. OSA pada anak berakibat gangguan perkembangan, gangguan kognitif, kelelahan di siang hari, gangguan perilaku, dan komplikasi kardiovaskular. Walaupun memiliki banyak dampak negatif, OSA pada anak-anak terutama pada pasien CLP kurang menjadi perhatian. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan struktur wajah dan jalan napas secara sefalometri terhadap risiko terjadinya OSA pada pasien CLP. Metode: Sefalometri lateral dari 18 pasien celah bibir dan langit-langit pasca labioplasti dan palatoplasti baik unilateral maupun bilateral dengan usia 6 sampai 8 tahun di poli CLP RSAB Harapan Kita di- tracing. Orang tua atau wali pasien mengisi kuesioner uji tapis OSA Brouillette dan Pediatric Sleep Questionnaire. Hasil tracing dan kuesioner dilakukan uji korelasi Spearman dan Kendall. Hasil: Pasien CLP memiliki dimensi faring yang lebih kecil, maksilomandibular retrognati, ukuran maksila dan mandibular yang pendek, posisi hyoid yang lebih anterior dan adenoid yang besar. Dari kuesioner Brouillette tidak didapatkan risiko OSA pada pasien CLP. Satu pasien CLP memiliki risiko tinggi OSA dari hasil kuesioner PSQ. Semua variabel sefalometri tidak memiliki korelasi bermakna dengan risiko OSA (p>0,05). Kesimpulan: Penelitian ini tidak mendapatkan adanya korelasi antara variabel-variabel sefalometri dengan risiko OSA walaupun hasil analisis sefalometri mendukung terjadinya OSA.

Background: Cleft lip and palate (CLP) patients have characteristic of smaller maxilla and mandible, bimaxillary retruded, smaller pharyngeal dimension, and inferiorly position hyoid. Facial structural and airway abnormalities increase sleep-disordered breathing especially obstructive Sleep Apnea (OSA). OSA is a sleep disturbance characterized by repeated episodes of total or partial upper airway obstruction. OSA in children results in developmental disorders, cognitive impairments, daytime fatigue, behavioral disorders, and cardiovascular complications. Although it has many detrimental effects, OSA in children especially in CLP patients is underrecognized. Objective: This study aims to determine the relationship between cephalometric facial and airway structures and the risk of OSA in CLP patients. Methods: Lateral cephalometry of 18 patients with cleft lip and palate which had undergone labioplasty and palatoplasty according to treatment protocol, both unilateral and bilateral, aged 6 to 8 years in cleft lip and palate clinic, Harapan Kita Hospital were traced. Patient’s parent were asked to fill out Brouillette's questionnaire and the Pediatric Sleep Questionnaire. Spearman and Kendall correlation test were used to asses the colleration cephalometric analysis and questionnaires’ result. Results: CLP patients have smaller pharyngeal dimensions, bimaxillary retruded, shortened maxillary and mandibular length, anteriorly positioned hyoid and relatively large adenoids. Brouillette failed to demonstrate OSA risk in CLP patients. One CLP patient has a high risk of OSA from the results of the PSQ questionnaire. All cephalometric variables did not have a significant correlation with OSA risk (p> 0.05). Conclusion: This study did not show any correlation between cephalometric variables and OSA risk, although the results of cephalometric analysis supported the occurrence of OSA."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Astri Hapsari
"Latar belakang: Pasien celah bibir dan langit-langit (CLP) memiliki karakteristik ukuran maksila dan mandibula yang lebih kecil, posisi maksila dan mandibula yang retrognati, dimensi faring yang lebih kecil, dan posisi tulang hyoid yang lebih inferior. Gangguan pada struktur wajah dan jalan napas ini meningkatkan risiko gangguan napas saat tidur terutama Obstructive Sleep Apnea (OSA). OSA merupakan gangguan tidur berupa episode berulang sumbatan jalan napas baik parsial dan total. OSA pada anak berakibat gangguan perkembangan, gangguan kognitif, kelelahan di siang hari, gangguan perilaku, dan komplikasi kardiovaskular. Walaupun memiliki banyak dampak negatif, OSA pada anak-anak terutama pada pasien CLP kurang menjadi perhatian.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan struktur wajah dan jalan napas secara sefalometri terhadap risiko terjadinya OSA pada pasien CLP.
Metode: Sefalometri lateral dari 18 pasien celah bibir dan langit-langit pasca labioplasti dan palatoplasti baik unilateral maupun bilateral dengan usia 6 sampai 8 tahun di poli CLP RSAB Harapan Kita di-tracing. Orang tua atau wali pasien mengisi kuesioner uji tapis OSA Brouillette dan Pediatric Sleep Questionnaire. Hasil tracing dan kuesioner dilakukan uji korelasi Spearman dan Kendall.
Hasil: Pasien CLP memiliki dimensi faring yang lebih kecil, maksilomandibular retrognati, ukuran maksila dan mandibular yang pendek, posisi hyoid yang lebih anterior dan adenoid yang besar. Dari kuesioner Brouillette tidak didapatkan risiko OSA pada pasien CLP. Satu pasien CLP memiliki risiko tinggi OSA dari hasil kuesioner PSQ. Semua variabel sefalometri tidak memiliki korelasi bermakna dengan risiko OSA (p>0,05).
Kesimpulan: Penelitian ini tidak mendapatkan adanya korelasi antara variabel-variabel sefalometri dengan risiko OSA walaupun hasil analisis sefalometri mendukung terjadinya OSA.

Background: Cleft lip and palate (CLP) patients have characteristic of smaller maxilla and mandible, bimaxillary retruded, smaller pharyngeal dimension, and inferiorly position hyoid. Facial structural and airway abnormalities increase sleep-disordered breathing especially obstructive Sleep Apnea (OSA). OSA is a sleep disturbance characterized by repeated episodes of total or partial upper airway obstruction. OSA in children results in developmental disorders, cognitive impairments, daytime fatigue, behavioral disorders, and cardiovascular complications. Although it has many detrimental effects, OSA in children especially in CLP patients is underrecognized.
Objective: This study aims to determine the relationship between cephalometric facial and airway structures and the risk of OSA in CLP patients.
Methods: Lateral cephalometry of 18 patients with cleft lip and palate which had undergone labioplasty and palatoplasty according to treatment protocol, both unilateral and bilateral, aged 6 to 8 years in cleft lip and palate clinic, Harapan Kita Hospital were traced. Patient’s parent were asked to fill out Brouillette's questionnaire and the Pediatric Sleep Questionnaire. Spearman and Kendall correlation test were used to asses the colleration cephalometric analysis and questionnaires’ result.
Results: CLP patients have smaller pharyngeal dimensions, bimaxillary retruded, shortened maxillary and mandibular length, anteriorly positioned hyoid and relatively large adenoids. Brouillette failed to demonstrate OSA risk in CLP patients. One CLP patient has a high risk of OSA from the results of the PSQ questionnaire. All cephalometric variables did not have a significant correlation with OSA risk (p> 0.05).
Conclusion: This study did not show any correlation between cephalometric variables and OSA risk, although the results of cephalometric analysis supported the occurrence of OSA.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ghea Dwi Apriliana
"Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah di Indonesia. PPOK ditandai oleh hambatan aliran udara di saluran napas yang disebabkan oleh kelainan saluran napas atau kelainan anatomis paru atau kombinasi dari keduanya. Salah satu komplikasi yang dapat terjadi pada penderita PPOK yaitu kurangnya asupan oksigen pada waktu malam hari. Keadaan tersebut akan semakin diperberat apabila penderita PPOK juga menderita gangguan tidur Obstructive Sleep Apnea (OSA). OSA adalah gangguan tidur yang disebabkan penyumbatan saluran napas dan menyebabkan jeda sementara saat napas minimal 10 detik.
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan seleksi fitur Information Gain untuk mencari fitur-fitur yang berpengaruh terhadap risiko terjadinya OSA pada pasien PPOK. Setelah proses seleksi fitur selesai, peneliti menggunakan metode Random Forest untuk mengklasifikasi pasien PPOK yang beresiko tinggi terkena OSA dan yang berisiko rendah terkena OSA. Sampel pada penelitian ini merupakan 111 pasien PPOK yang berada di RS Cipto Mangunkusumo.
Dari hasil penelitian ini, nilai akurasi terbaik didapat saat penggunaan 4 fitur terbaik dari keseluruhan fitur (10% fitur dari keseluruhan fitur) sebesar 85.71% dengan sensitifitas dan spesifisitas berturut-turut sebesar 71.43% dan 92.86%. Fitur yang memiliki rangking terbaik adalah lingkar pinggang.

Chronic obstructive pulmonary disease (COPD) is one of the epidemic diseases in Indonesia. The characters of COPD can be seen from airway abnormalities, anatomical abnormalities of the lungs, or the combination of both. One complication that can occur in patients with COPD is lack of oxygen intake at night. This situation will be further aggravated if COPD patients also suffer from Obstructive Sleep Apnea (OSA). OSA is a sleep disorder caused by airway obstruction, and causes a temporary pause when breathing for at least 10 seconds.
In this study, we used Information Gain feature selection to determine which features that affect the risk of OSA in COPD patients. After the feature selection process was completed, we used the Random Forest Classifier method to classify who has the high risk and who has the low risk of developing OSA in COPD patients. The sample in this study consist of 111 COPD patients with 34 features who hospitalized in Cipto Mangunkusumo Hospital.
From experimental result, the best accuracy are obtained by 4 features (10% of total features) i.e 85.71% with sensitivity and specificity are 71.43% and 92.86% respectively. The feature with highest ranking is waist size.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ignatia Wulandari
"Tujuan: Mengetahui perbedaan tumbuh kembang dentokraniofasial anak umur 9–12 tahun pada kelompok OSA dan normal menggunakan pengukuran sefalometri lateral, serta mengetahui peranan faktor risiko terhadap terjadinya OSA. Metode penelitian: Analisis sefalometri dentokraniofasial dan parameter klinis dari faktor risiko dibandingkan antara 17 subjek OSA (14 laki-laki, 3 perempuan, median 11,92 tahun) dengan 17 subjek kontrol (8 laki-laki, 9 perempuan, median 10,42 tahun). Diagnosis OSA ditegakkan dengan kuesioner Pediatric Sleep Questionnaire (PSQ), pemeriksaan fisik, dan hasil polisomnografi (PSG). Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok OSA dan normal pada hasil kuesioner PSQ dan PSG, pada faktor risiko yang diperiksa melalui pemeriksaan fisik (postur lidah, ukuran tonsil, posisi hioid, lebar faring atas, dan ukuran adenoid) dan parameter skeletal horizontal dalam sefalometri (. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara umur, jenis kelamin, postur kepala, dan parameter vertikal sefalometri antara kelompok OSA dan normal, namun sudut postur kepala dan parameter vertikal pada kelompok OSA lebih besar dari normal secara klinis. Letak tulang hioid, lebar faring atas, posisi lidah, ukuran adenoid, dan ukuran tonsil klinis berperan terhadap terjadinya OSA. Kesimpulan: Parameter skeletal horizontal dan parameter dental yang berbeda signifikan pada penelitian ini dapat menjelaskan efek OSA terhadap pertumbuhan dentrokraniofasial pada usia 9–12 tahun lebih dominan pada arah horizontal dan belum pada arah vertikal. Adenoid berperan sebagai faktor risiko utama dalam terjadinya OSA.

Objectives: This study aimed to compare various cephalometric and risk factors of children with OSA and control. Methods: Dentocraniofacial cephalometric measurements and risk factor clinical parameter were compared between 17 OSA subjects (14 boys, 3 girls, mean age 11,92 years) and 17 control subjects (8 boys, 9 girls, mean age 10,42 years) based on Polysomnography results. Results: The results showed significant differences between the OSA group and the control group on PSQ and PSG result, several risk factors (Friedman Tongue Position, tonsil, hyoid position, upper pharyngeal diameter, adenoid), and cephalometric on horizontal parameters (NAPg, SNB, ANB, and UI-MxP). No significant differences were identified in age, sex, head posture, and cephalometric vertical parameter between OSA group and control. However, head posture angle and all cephalometric vertical parameters in OSA group was higher than control clinically. The location of the hyoid bone, the width of the upper pharynx, the position of the tongue, the size of the adenoids, and the size of the clinical tonsils contribute to the occurrence of OSA. Conclusions: The horizontal skeletal and dental parameter on cephalometric that were significantly different between the OSA and normal groups in this study indicated that the effect of OSA on dentocraniofacial growth and development at the age of 9–12 years was more likely to be dominant in the horizontal direction and not yet in the vertical direction. Adenoids play a role as a major risk factor for OSA on children."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2021
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Pricilla Yani Gunawan
"ABSTRAK
Latar Belakang
Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan faktor risiko stroke yang belum lama
diketahui dan salah satu metode skrining OSA adalah kuesioner STOP-Bang.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi risiko OSA menggunakan
kuesioner STOP-Bang dan melihat hubungannya dengan faktor risiko stroke lain.
Metode
Studi secara potong lintang. Sebanyak 202 subjek berusia ≥ 35 tahun non stroke,
dari lima wilayah Jakarta bulan April hingga Juni 2013, diwawancara tentang
kuesioner STOP-Bang dan faktor resiko vaskular lain, kemudian dianalisa.
Hasil
Sebanyak 100 subjek (49.5%) memiliki risiko tinggi OSA, dimana 70%
diantaranya adalah pria dan risiko meningkat seiring dengan peningkatan usia.
Item pertanyaan dengan nilai estimasi kemungkinan risiko paling tinggi adalah
lingkar leher (p=0.000, OR 23.5; 95%CI 5.5-101.5), diikuti dengan berhenti
bernapas saat tidur (p=0.000, OR 22.9; 95%CI 6.8-77.4), mendengkur (p=0.000,
OR 19.1; 95%CI 9.3-38.9), jenis kelamin (p=0.000, OR 5.9; 95%CI 3.2-10.8),
kelelahan di siang hari (p=0.000, OR 4.3; 95%CI 2.4-7.7), usia (p=0.000, OR 4.1;
95%CI 2.3-7.3) dan riwayat pengobatan tekanan darah (p=0.000, OR 3.9; 95%CI
1.9-8). Item indeks massa tubuh tidak dapat dianalisa. Faktor-faktor risiko stroke
lain berhubungan dengan risiko tinggi OSA dengan kontribusi secara berturutan
dari yang paling tinggi adalah aritmia (p=0.000, OR 9.5; 95%CI 2.1-42.6),
diabetes melitus (p=0.000, OR 4.5; 95%CI 1.9-11), merokok (p=0.000, OR 3.7;
95%CI 1.9-6.9), hipertensi (p=0.000, OR 3.6; 95%CI 2-6.5), obesitas sentral
(p=0.002, OR 2.6; 95%CI 1.4-4.7), dan dislipidemia (p=0.046, OR 2.1; 95%CI 1-
4.1).
Kesimpulan
Semua item pertanyaan kuesioner, kecuali indeks massa tubuh, menunjukkan
perbedaan yang bermakna antara risiko tinggi dan risiko rendah OSA. Faktor
risiko stroke lain yang memiliki estimasi risiko OSA dari yang paling tinggi
adalah aritmia, diikuti dengan diabetes melitus, merokok, hipertensi, obesitas
sentral, dan dislipidemia

ABSTRACT
Background
Obstructive Sleep Apnea (OSA) is one of the recent stroke risk factor to be
discovered. One screening method is the STOP-Bang questionnaire. The purpose
of this study is to know the prevalence of high risk OSA using the STOP-Bang
questionnaire and analyze its correlation to other stroke risk factors.
Methods
As much as 202 subjects age ≥ 35 years old who never had a stroke, were
analysed cross sectionally, from five regions of Jakarta, between April 2013 until
June 2013. Each subject was interviewed using the STOP-Bang questionnaire,
and other stroke risk factors, and then analysed
Results
As much as 100 subjects (49.5%) had high risk OSA, whereas 70% of them were
male and the risk of developing OSA increases with age. Questionnaire’s item
with the highest odds ratio were neck circumference (p=0.000, OR 23.5; 95%CI
5.5-101.5), followed by observed of not breathing(p=0.000, OR 22.9; 95%CI 6.8-
77.4), snoring (p=0.000, OR 19.1; 95%CI 9.3-38.9), sex (p=0.000, OR 5.9;
95%CI 3.2-10.8), daytime sleepiness (p=0.000, OR 4.3; 95%CI 2.4-7.7), age
(p=0.000, OR 4.1; 95%CI 2.3-7.3) and history of hypertensive treatment
(p=0.000, OR 3.9; 95%CI 1.9-8). Body mass index could not be analysed. Other
stroke risk factors that correlate with high risk OSA from the greatest likelihood
were arrhytmia (p=0.000, OR 9.5; 95%CI 2.1-42.6), diabetes melitus (p=0.000,
OR 4.5; 95%CI 1.9-11), smoking (p=0.000, OR 3.7; 95%CI 1.9-6.9),
hypertension (p=0.000, OR 3.6; 95%CI 2-6.5), central obesity (p=0.002, OR 2.6;
95%CI 1.4-4.7), and dyslipidemia (p=0.046, OR 2.1; 95%CI 1-4.1).
Conclusions
All of the questionnaire items, except body mass index, revealed significant
difference between high risk and low risk OSA. Other stroke risk factors from the
greatest likelihood to coincide with high risk OSA were arrhtmia, diabetes
mellitus, smoking, hypertension, central obesity, and dyslipidemia"
2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
I Putu Gede Panca Wiadnyana
"Latar belakang: Profesi pengemudi taksi merupakan profesi yang unik, lingkungan kerja luas, jam kerja panjang, sistem pcnggajian yang fluktuatif, dan risiko kecelakaan di jalan raya. Pada PT X 60% kccelakaan dikarenakan mengantuk. Salah satu penyebab kondisi mengantuk adalah adanya kemungkinan obstructive sleep apnea (OSA). Bcbcrapa faktor risiko kemungkinan OSA seperti kegemukan dan hipertensi dijumpai pada pengemudi PT X.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional pada pengemudi taksi X Mampang Jakana Selatan, pada bulan November»Desember 2008. Pengumpulan dilakukan dengan pengisian Kuesioner Berlin, dan pemeriksaan fisik (tekanan darah, bcrat, badan, tinggi badan, dan lingkar leher) pada 280 orang pengemudi.
Hasil: Jumlah responden sebanyak 280 orang, didapatkan 70 orang (25%) kemungkinan OSA. Kemungkinan OSA pada pengemudi dipcngaruhi olch bcbcrapa faktor yaitu: IMT 325 (acyusred OR 4.29, p <0.001, 95% Cl 2.04 - 9.05) riwayat keluarga mendengkur (aafiusled OR 2,34, p <0.00l, 95% Cl 1.45 - 3.78), lingkar leher 3 40 cm (afyusred OR 3.37, p 0.002, 95% Cl 1.58 - 7.19), umur 3 36 tahun (argusted OR 2.47, p 0.027, 95% CI I.ll - 5.48) dan jadwal keija tinggi (ac§usted OR 3.07, p 0.0l6, 95% Cl L23 - 7.66).
Kesimpulan: Didapat prevalensi kemungkinan OSA pada pengemudi Taksi X sebesar 25%. Kemungkinan OSA pada pcngcmudi Taksi X dipengaruhi oleh faktor indeks massa tubuh 325, riwayat keluarga mendengkur, Iingkar leher 540 cm, umur 336 tahun serta jadwal kerjatinggi.

Background: Taxi Driver is an unique profession because of the wide environment, the long hours working duration, the fluctuation wages, and the accidental risks. About 60% taxi's accidents in Company X were caused by sleepy conditions. Sleepy conditions may be caused by obstructive sleep apnea (OSA). Some factors that increase the prevalence of suspected OSA, like obesity and hypertension were founded among the taxi drivers in this company.
Method: This study was conducted with cross sectional design. The data was collected from November until December 2008 in Mampang, Jakarta Selatan. Data collection used Berlin's Questionnaire and Physical examinations (blood pressure, weight, height, neck circumference) to 280 drivers.
Result: This research showed that there are 25%, it?s mean 70 respondents from 280 respondents have OSA prevalence. Prevalence of OSA among taxi?s drivers is caused by several factors. The factors are Body Mass index (BMI) 3 25 (adjusted OR 4.29, p < 0.00l, 95% Cl 2.04 - 9.05), snoring historical in family (adjusted OR 2.34, p < 0.001 , 95% CI 1.45 - 3.78), neck circumference 3 40 cm (adjusted OR 3.37, p 0.002, 95% CI 1.58 - 7.l9), age 2 36 years old (adjusted OR 2.47, p 0.027, 95% Cl 1.ll - 5.48) and high work schedule (adjusted OR 3.07, p 0.0l6, 95% Cl 1.23 - 7.66).
Conclusion: This research has founded that there are 25%, it?s mean 70 respondents from 280 respondents have suspected OSA. Prevalence of suspected OSA among taxi?s drivers is caused by BMI 2 25, snoring historical in family, neck circumference 5 40 cm, age 3 36 years old and high work schedule.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2008
T32302
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>