Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
"Naskah ini memuat wulang atau ajaran mengenai bagaimana manusia hidup di dunia dengan segala usaha dan contoh-contoh tindakan yang seharusnya dilakukan. Wulang atau ajaran ini mengandung kebaikan, dengan suatu pola masalah moral atau etika masyarakat Jawa pada masa itu, disertai pula buah hasil dari tindakan atau tingkah laku yang baik itu. Naskah ini terdiri dari dua jilid, pertama memakai kode FSUI/PW.172 dan kedua memakai kode FSUI/PW.173; tiap-tiap jilid tersebut terdiri dari 54 bagian, yang satu dengan lainnya sambung-menyambung, masing-masing bagian terdiri dari 19 halaman. Penulisan naskah ini dilakukan hanya separuh lembar (=kertas) pada sebelah kiri, sedangkan di sebelah kanan dipergunakan sebagai catatan pengganti (pembetulan). Naskah ini diperoleh Pigeaud (?) pada tanggal 3 Mei 1940. Tidak ditemukan keterangan apa pun mengenai penulisan maupun penyalinan naskah ini."
[Place of publication not identified]: [publisher not identified], [date of publication not identified]
PW.172-NR 522a
Naskah Universitas Indonesia Library
"Naskah ini merupakan sambungan (kelanjutan) dari naskah PW.172, dan diperoleh Pigeaud (?) pada tanggal 3 Mei 1940. keterangan selengkapnya, lihat deskripsi naskah PW. 172 tersebut."
[Place of publication not identified]: [publisher not identified], [date of publication not identified]
PW.173-NR 522b
Naskah Universitas Indonesia Library
Renny Risthya
"Penelitian ini mengangkat sebuah ungkapan yang dijadikan sebagai pengetahuan budaya oleh masyarakat. Konsep ngundhuh wohing pakarti bukan hanya mengacu pada hasil namun juga berkaitan dengan religiusitas, oleh karena itu menarik untuk diteliti. Untuk itu perlu adanya pembuktian dengan menggunakan analisis teks dalam teks yang berjudul Paramayoga, sehingga dapat memperkuat bahwa konsep karma merupakan cermin dalam segala tindakan masyarakat Jawa. Analisis teks difokuskan pada data yang berupa wacana, kemudian dipilah antara wohing (hasil) dan pakarti (tindakan). Untuk dapat memilah maka diperlukan pemaknaan secara semantis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 35 wacana yang menunjukkan adanya konsep karma (kausalitas). Pesan-pesan yang ditemukan pun terbagi menjadi 6 yaitu, hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan pribadi, hubungan antar personal, hubungan dengan kekuasaan, hubungan dalam pekerjaan, hubungan dalam kompetisi, yang kesemuanya masih relevan untuk diterapkan pada masa kini.
This thesis discusses about Javanese expression that are still exist until now as one of the local genius. The Concept of Ngundhuh Wohing Pakarti is not merely refers to a simple cause and effect relation, but also refers to the spirituality of the people who believe in the concept. This thesis is a research that proven that the concept of karma do exist in Javanese people daily life, through their personal and also social action. A discourse analysis method is being used in revealing the concept of Ngundhuh Wohing Pakarti in Paramayoga Manuscript. Furthermore, to classified the discourses into two parts that are reflect to the meaning of wohing (result/effect) and pakarti (action), a semantic explanation is a being used.The result of this research reveals that there are 35 discourses that carry the concept of karma (causality). This research also discover 6 types of causality relation in Paramayoga Manuscript that are related to the concept of Ngundhuh Wohing Pakarti. There are: causality relation between man and God, causality relation beetwen ourselves, causality relation between other people, and also causality relation that are exist in a work society and a competition. All of that causality relation that are mentioned still can be found in our daily life, so the concept is still relevant until now."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2012
S1696
UI - Skripsi Open Universitas Indonesia Library
Bagas Rizkinanda
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tema dan amanat atau pesan moral dalam bentuk ungkapan Jawa berbunyi Ngundhuh Wohing Pakarti yang terdapat dalam novel Dahuru Ing Loji Kepencil. Ngundhuh Wohing Pakarti adalah ungkapan Jawa yang memiliki makna memetik hasil perbuatan. Metode yang dilakukan untuk mengetahuinya adalah metode deskriptif-analitis dengan terlebih dahulu menentukan unsur-unsur intrinsik pembangun cerita seperti alur, tokoh dan penokohan, latar, tema, dan amanat. Setelah diketahui unsur-unsur tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa cerita novel Dahuru Ing Loji Kepencil memiliki pesan moral yang sesuai dengan ungkapan Jawa Ngundhuh Wohing Pakarti yang artinya memetik hasil perbuatan.
Study aims to determine the theme and mandate or moral messages in the form of Javanese phrase reads Ngundhuh Wohing Pakarti contained in Dahuru Ing Loji Kepencil novel. Ngundhuh Wohing Pakarti is a Javanese phrase meaning reap the rewards of behaviour. The method is performed to find out is descriptive analytic method by first determining the intrinsic elements builders stories like plot, character and characterization, setting, theme, and mandate. Having in mind these elements, it can be concluded that the Dahuru Ing Loji Kepencil novel has a moral message that matches the Javanese phrase Ngundhuh Wohing Pakarti meaning reap the rewards of behaviour."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2016
S66451
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library